Latest News

Showing posts with label Yohanes. Show all posts
Showing posts with label Yohanes. Show all posts

Tuesday, May 8, 2018

Siapakah Allah yang Kamu Sembah?

Belakangan ini muncul trend pacaran dengan orang yang dikenal lewat sosmed seperti Facebook. Trend ini juga menyambar teman saya. Ia kenal dengan seorang lelaki berkebangsaan Amerika yang mengaku pebisnis sukses. Setelah beberapa lama chatting lewat medsos, si lelaki akhirnya mengatakan akan mengunjungi Indonesia dan melamarnya. Ketika akhirnya bertemu dan berkenalan secara langsung barulah teman saya mengetahui bahwa lelaki itu penipu dan ingin memperalatnya supaya bisa beroleh kewarganegaraan Indonesia.





Kita tentu pernah mendengar pepatah: tak kenal maka tak sayang. Demikianlah banyak orang puas dengan menyembah Allah yang tak dikenal. Mereka takut pada Allah yang mereka ciptakan dalam pikiran mereka sendiri. Demikianlah latar belakang yang ditemui Paulus dulu, bahkan yang kita temui pada saat ini. Kalau kita bertanya: �Siapakah Allah yang kamu sembah?� apa kira-kira jawaban orang? Dapatkah mereka menjelaskan dengan penuh iman Allah mereka?

Demikianlah kita tiap saat harus berdoa agar Roh Kudus selalu memberitakan kepada kita tentang Allah yang kita sembah. Kaa-kata tidak cukup untuk mendeskripsikan Allah. Tetapi bila Roh Kudus bersabda, maka kita memahami dan makin dekat dengan Allah.


-----------------------

Bacaan Liturgi 09 Mei 2018
Hari Biasa Pekan Paskah VI
Bacaan Pertama: Kis 17:15.22-18:1
Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

Tuesday, May 1, 2018

Beranikah Kita Memperjuangkan Kebenaran?

Hari ini kita akan berbicara tentang keberanian mengungkapkan kebenaran. St. Paulus dan St. Barnabas di dalam bacaan pertama menunjukkan keberanian mereka menentang banyak umat Yahudi yang percaya Kristus namun tetap menitikberatkan sunat sebagai kriteria utama keselamatan. Mereka berdua berjuang sampai ke Yerusalem untuk mempertahankan pendapat mereka itu. Hasilnya adalah kita semua yang kini membaca tulisan ini, menikmati hasil dari perjuangan mereka, yaitu dimana iman pada Yesus berada di atas ketaatan pada sunat.

Hari ini juga kita merayakan Perayaan Wajib St. Athanasius, uskup dan pujangga agung Gereja. Ia pernah disebut �Athanasius melawan dunia� karena kesohorannya mempertahankan ajaran bahwa keselamatan hanya berasal dalam Yesus Kristus. Ia diperhadapkan pada tuduhan-tuduhan dari pihak Yahudi dan kafir, bahwa inkarnasi dan penyaliban Anak Allah tidak pantas dan mengurangi martabat-Nya. Namun, dengan tegas ia mengatakan bahwa "dunia yang diciptakan melalui Dia hanya dapat dipulihkan oleh Dia". Pemulihan ini tidak bisa terjadi, kecuali melalui salib. Ia juga terkenal sebagai lawan tangguh ajaran sesat Arianisme yang mengajarkan bahwa seseorang yang datang kepada kita yaitu, Kristus Yesus bukanlah Tuhan yang sesungguhnya melainkan makhluk yang diciptakan oleh Allah. Athanasius-lah yang memperjuangkan bahwa Kristus Yesus sungguh Allah.

Di masa kini pun kita terus menerus ditantang untuk memperjuangkan kebenaran di dalam nama Yesus. Perjuangan itu mungkin akan membawa kita menjadi kurang disukai oleh teman-teman kita bahkan di dalam gereja sendiri. Perjuangan kita mungkin membuat kita dijuluki �perusuh� karena kita mengambil posisi yang berbeda dengan para pemimpin kita, termasuk pemimpin gereja. Namun selama kita memperjuangkan kebenaran dengan hati tulus, rendah hati dan membungkusnya di dalam doa dan iman, maka perjuangan kita takkan sia-sia. Hasilnya mungkin tidak dapat kita lihat dalam sisa usia kita, namun seperti Yesus katakan di dalam InjilNya: �Barangsiapa tinggal di dalam Aku, ia berbuah banyak.� Selamat memperjuangkan kebenaran.


---------------------------
Bacaan Liturgi 02 Mei 2018
Hari Biasa Pekan Paskah V
PW S. Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: Kis 15:1-6

Bacaan Injil: Yoh 15:1-8

Tuesday, April 17, 2018

Ekaristi, Sungguh Roti Kehidupan

Akulah roti hidup, kata Yesus. Seringkali kita mengabaikan betapa dahsyatnya kata-kata itu, dan bagaimana kata-kata itu sungguh nyata di dalam Ekaristi. Banyak kesaksian orang-orang kudus yang tidak dapat menyambut komuni karena keadaannya, memohon dengan sangat pada Allah, dan menyambutnya dari tangan Malaikat. Rosalie Put misalnya, seorang biarawati, jatuh sakit di umur 17 tahun dan terbaring di tempat tidurnya selama 25 tahun. Ia sangat menderita dan tidak dapat menghadiri Misa Kudus. Maka, seorang Malaikat Agung akan datang tiap malam untuk memberi dia Komuni Kudus. Kehadiran Malaikat ini ditandai oleh bunyi sebuah lonceng kecil dan kadang dapat didengar orang lain.

Seorang kudus lainnya, St. Nicholas dari Flue memohon pada Tuhan agar dia diijinkan hidup tanpa makan dan minum. Permohonan ini dikabulkan. Selama 20 tahun ia hidup di sebuah kamar kecil dari kayu, hanya hidup dari makan Komuni Kudus. Para penduduk mengagumi kesuciannya dan nasihatnya yang membawa perdamaian di antara kota-kota yang berperang.

Ekaristi adalah sungguh-sungguh Roti Hidup. Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan lapar dan haus lagi, dan akan beroleh hidup yang kekal. Mari kita pada masa Paskah ini merenungkan, sekuat apakah iman kita pada 1 kalimat itu: Akulah Roti Hidup.

----------------
Bacaan Liturgi, 18 April 2018
Hari Biasa Pekan Paskah III
Bacaan 1: Kis 8:1b-8

Injil: Yoh 6:35-40

Tuesday, April 10, 2018

Di Mana dan Kapan Kita Memberitakan Yesus?

Dimanakah tempat yang tepat untuk memberitakan Injil? Kapankah saat yang tepat untuk menyerukan Nama Yesus? Mungkin banyak orang bertanya-tanya tentang hal ini, sama seperti saya, terutama yang tinggal di komunitas yang majemuk dengan mayoritas non Kristiani, dan sebagian masyarakatnya mulai menunjukkan sikap bermusuhan dengan umat Kristiani. Dengan terpaksa walaupun harus menelan ludah kuatir, saya terpaksa menjawab: di mana-mana dan setiap saat, walaupun itu berarti mendekatkan saya pada kehidupan yang tidak enak, kematian yang menyakitkan, kehilangan yang memedihkan.

Bacaan pertama memberikan kita contoh bahwa para rasul dimasukkan ke dalam penjara kota karena iri hati orang-orang Saduki. Namun Malaikat datang, membebaskan mereka secara ajaib tanpa merusakkan pintu penjara, dan membawa mereka ke Bait Allah supaya mereka kembali bisa mengajar tentang Yesus. Pada akhirnya toh mereka ditangkap lagi, disiksa sampai mati kecuali Yohanes yang berhasil mati tua walaupun sempat disiksa. Injil mengingatkan kita bahwa orang yang percaya padaNya takkan binasa, walaupun dibunuh dan mati di mata dunia.

Kita juga dikuatkan dengan kesaksian para kudus yang hidup tidak lama dari masa kehidupan kita sekarang. St. Maximillian dari Kolbe yang menyerahkan dirinya untuk menggantikan salah satu terpenjara zaman Nazi (1941), dan tetap menghibur teman-teman satu sel yang dihukum mati dengan kabar gembira Tuhan. Pastur Beda Chang wafat sebagai martir (1951) karena ia terus merayakan misa di negara China yang melarang kegiatan religius apapun. Luisa Guidotti Mistrali wafat tahun 1979 setelah sebuah peluru menembus lehernya karena ia terus melaksanakan misi dan karya penyembuhannya di Zimbabwe yang sedang perang saudara. Beranikah kita seperti mereka, membela iman kita tanpa menyerang? Mari kita di masa Paskah ini dikuatkan bahwa orang dapat menyiksa dan membunuh badan kita, namun tak bisa mengambil jiwa kita, karena kita milikNya. Semoga dengan iman ini, kita dapat berdiri tegak menghadapi orang-orang yang ingin menjauhkan kita dari Yesus yang termanis.

-----------------
Bacaan Liturgi, 11 April 2018
PW S. Stanislaus, Uskup dan Martir
Hari Biasa Pekan Paskah II
Bacaan 1: Kis 5:17 - 26

Injil: Yoh 3:16 - 21

Tuesday, March 20, 2018

Berdoa kepada Malaikat Pelindung

Beato Gerardus Cagnoli adalah seorang yang sangat suci sering kali terlihat didampingi oleh para malaikat. Pada suatu Hari Raya Paskah, juru masak biara jatuh sakit, maka pastor kepala meminta Beato Gerardus untuk menyiapkan makan siang. Beato taat walau tidak tahu bagaimana caranya. Ia berdoa saat itu juga. Waktu makan siang, api kompor pun belum dinyalakan. Pastor kepala menegurnya, tapi Beato berkata �Bapa, jangan kuatir, para saudara akan mendapatkan makanan!� Tiba-tiba datanglah seorang Malaikat dengan wujud pemuda rupawan menyiapkan berbagai makanan di atas meja lalu menghilang. Para saudara berkata bahwa mereka tidak pernah makan makanan selezat itu.

Malaikat pelindung adalah malaikat yang ditugaskan untuk menjaga kita secara khusus, sementara ribuan bahkan jutaan malaikat sebenarnya ditugaskan untuk menjaga umat manusia. Namun sering kali kita tidak tahu keberadaannya dan mungkin juga tidak peduli. Buku Malaikat dan Iblis di Balik Orang Kudus memberikan gambaran tentang penampakan-penampakan dan pengalaman orang-orang kudus tentang para Malaikat dan bagaimana mereka membantu kita dalam peperangan melawan Iblis.

Bacaan pada hari ini juga bercerita tentang penampakan Malaikat yang disaksikan Raja Nebukadnezar sedang melindungi hamba-hamba Allah: Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Malaikat, yang dikatakan rupanya seperti anak dewa, diutus Allah karena teman-teman Daniel itu hanya percaya kepada Allah. Demikian pula Yesus mengajar supaya kita tetap dalam firmanNya, agar kita menjadi anak-anak merdeka. Api atau Iblis, takkan mampu membuat kita terpenjara lagi. Maka marilah dalam masa Prapaskah ini kita merenungkan apakah kita sungguh-sungguh telah percaya pada firmanNya?

--------------------
Bacaan Liturgi Rabu, 21 Maret 2018
Hari Biasa Pekan Prapaskah V
Dan 3:14-20.24-25.28
Yoh 8:31-42

Tuesday, March 13, 2018

Menjadi Penggerak Perubahan

Greg Smith adalah seorang pemuda yang bekerja di Goldman Sachs (GS),
sebuah firma finansial terkemuka di Amerika. Ia sangat bangga dengan pekerjaan
dan tempatnya bekerja. Baginya, budaya yang dipelihara di GS sangat mulia,
di mana kepentingan klien dijunjung, kode etik dipelihara, kesejahteraan pegawai
diperhatikan. Budaya itu menjadi pembeda dibandingkan firma-firma lainnya di
negara itu sampai- Suatu hari terjadilah krisis di dunia finansial global.
Pada gelombang krisis pertama, GS adalah salah satu yang bertahan.
Namun sesuatu berubah: banyak orang dipecat, yang bertahan harus terus
membuktikan diri termasuk para bos. Saat itu semua orang menjadi tidak
peduli dengan sesamanya, mereka tidak peduli dengan kliennya, yang
penting bagaimana mendapatkan lebih banyak uang. Reputasi hancur,
dan orang-orang idealis seperti dirinya terjepit.  Hal itu makin diperparah
dengan munculnya gelombang krisis kedua yang membuat GS terpaksa
menerima bantuan pemerintah dan digabung dengan firma lain.

Akhirnya Greg keluar dari GS, menulis suatu editorial yang sangat kontroversial
dan membuka wawasan orang di luar dunia finansial. Isi dari editorial tersebut
adalah buruknya sistem kerja di dunia finansial, bagaimana seharusnya dan
ajakan yang tulus untuk memperbaiki sistem tersebut. Berdasarkan editorial itu,
dunia finansial dipaksa oleh pemerintah dan publik untuk mengubah cara
kerjanya. Orang-orang yang dahulu beranggapan situasi itu normal,
menjadi bergerak untuk menuju pembaharuan.

Satu orang, satu kelompok, dapat menjadi penggerak perubahan.
Demikianlah yang direncanakan Allah bagi bangsa Israel. Bangsa Israel
selalu dibimbing, dilindungi, diberi kesuburan, agar bangsa-bangsa lain
dapat melihat keselamatan yang terpancar. Dan ketika bangsa Israel
gagal mencerminkan keselamatan dari Allah, gagal untuk taat kepada
suara firman Allah, Yesus datang sebagai suara yang menegaskan
keselamatan itu. Dan siapa yang mendengar dan percaya akan suara
Yesus itu akan diselamatkan. Mari kita mendengar dan percaya kepada
pesan-pesan Yesus dan menjadi pewarta keselamatan bagi orang lain.

------------------
Bacaan Liturgi Rabu, 14 Maret 2018
Hari Biasa Pekan Prapaskah IV
Yes 49: 8 - 15
Yoh 5: 17 - 30

Tuesday, March 6, 2018

Menjadi Suara Keselamatan

Greg Smith adalah seorang pemuda yang bekerja di Goldman Sachs (GS),
sebuah firma finansial terkemuka di Amerika. Ia sangat bangga dengan
pekerjaan dan tempatnya bekerja. Baginya, budaya yang dipelihara di GS
sangat mulia, di mana kepentingan klien dijunjung, kode etik dipelihara,
kesejahteraan pegawai diperhatikan. Budaya itu menjadi pembeda
dibandingkan firma-firma lainnya di negara itu sampai- Suatu hari
terjadilah krisis di dunia finansial global. Pada gelombang krisis pertama,
GS adalah salah satu yang bertahan. Namun sesuatu berubah: banyak
orang dipecat, yang bertahan harus terus membuktikan diri termasuk para
bos. Saat itu semua orang menjadi tidak peduli dengan sesamanya,
mereka tidak peduli dengan kliennya, yang penting bagaimana mendapatkan
lebih banyak uang. Reputasi hancur, dan orang-orang idealis seperti dirinya
terjepit.  Hal itu makin diperparah dengan munculnya gelombang krisis kedua
yang membuat GS terpaksa menerima bantuan pemerintah dan digabung
dengan firma lain.

Akhirnya Greg keluar dari GS, menulis suatu editorial yang sangat
kontroversial dan membuka wawasan orang di luar dunia finansial.
Isi dari editorial tersebut adalah buruknya sistem kerja di dunia finansial,
bagaimana seharusnya dan ajakan yang tulus untuk memperbaiki
sistem tersebut. Berdasarkan editorial itu, dunia finansial dipaksa
oleh pemerintah dan publik untuk mengubah cara kerjanya. Orang-
orang yang dahulu beranggapan situasi itu normal, menjadi bergerak
untuk menuju pembaharuan.

Satu orang, satu kelompok, dapat menjadi penggerak perubahan.
Demikianlah yang direncanakan Allah bagi bangsa Israel. Bangsa
Israel selalu dibimbing, dilindungi, diberi kesuburan, agar bangsa-bangsa
lain dapat melihat keselamatan yang terpancar. Dan ketika bangsa Israel
gagal mencerminkan keselamatan dari Allah, gagal untuk taat kepada
suara firman Allah, Yesus datang sebagai suara yang menegaskan
keselamatan itu. Dan siapa yang mendengar dan percaya akan suara
Yesus itu akan diselamatkan. Mari kita mendengar dan percaya kepada
pesan-pesan Yesus dan menjadi pewarta keselamatan bagi orang lain.

---------------------------
Bacaan Liturgi Rabu, 14 Maret 2018
Yes 49: 8 - 15
Yoh 5: 17 - 30

Thursday, January 4, 2018

Memiliki Hati yang Benar Seperti Natanael

Kedua bacaan hari ini ingin mengetengahkan bahwa hati yang benar dapat melihat segala hal dalam keadaan yang sebenarnya. Natanael dipuji Yesus sebagai yang tidak memiliki kepalsuan di dalamnya. Natanael langsung menyatakan bahwa Yesus Anak Allah, Raja Israel. Apakah Natanael perlu melihat mujizat yang diadakan Yesus? Tidak. Ia hanya disapa oleh Yesus, dan hatinya yang benar langsung melihat kebenaran yang disajikan di depannya.


Bacaan pertama pun mengetengahkan hal yang sama ketika Yohanes mengatakan: �jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian penuh iman untuk mendekati Allah.� Terkadang kita melakukan sesuatu yang tidak benar, dan hati kita membuat kita merasa bersalah. Perasaan bersalah, tidak berani mengungkapkan diri kita yang sebenarnya di hadapan Allah adalah akibat dari dosa. Oleh sebab itu kita selalu didorong untuk menyatakan dosa-dosa kita di depan imam, supaya hati kita selalu di dalam kebenaran.

Mari kita merenungkan apakah ada hal-hal yang mengganggu hati kita ketika kita menyerahkan diri padaNya? Apakah ada hal-hal yang membuat kita segan untuk menyampaikan pengakuan dosa di depan imam? Apakah ada hal-hal yang ingin kita sembunyikan bahkan dari diri kita sendiri? Apakah ada yang membuat kita tidak berani menatap mata orang lain atau berdiri di depan Yang Maha Benar dengan penuh iman? Bila ya, maka marilah kita akukan segala dosa-dosa kita dan membuat hati kita kembali benar seperti Natanael.

-------------------------
Bacaan Liturgi 05 Januari 2018
Hari Biasa Masa Natal
Bacaan Pertama: 1Yoh 3:11-21

Bacaan Injil: Yoh 1:43-51

Tuesday, January 2, 2018

Orang Benar Lahir Dari Kristus

Seseorang pernah bertanya: �Apakah nenek moyangku yang meninggal tanpa mengenal Kristus akan memiliki harapan menuju surga? Dia orang yang sangat baik.� Jawabku padanya adalah seperti pada surat Yohanes, yaitu �setiap orang yang berbuat kebenaran lahir dari pada-Nya [Kristus].� Artinya kita percaya bahwa Kristus telah menyelamatkan bukan hanya orang yang mengenal Dia secara sadar, namun mengenal apa yang dibawanya, yaitu kebenaran. Kita percaya Yesus akan menyelamatkan semua orang benar dan berusaha hidup benar sepanjang usianya.

Lalu orang lain yang mendengar pembahasan ini bertanya: �Kalau demikian apa gunanya kita percaya pada Kristus kalau toh kita akan diselamatkan juga.� Yohanes telah menyadari pertanyaan-pertanyaan ini sejak masa Gereja Perdana,oleh karena itu ia menulis: �Setiap orang yang menaruh pengharapan ini kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia suci adanya.� Apakah sungguh kita mampu untuk berbuat kebenaran sepanjang hidup kita, padahal kita tahu godaan dunia begitu besarnya? Mungkin kita mampu berbuat benar beberapa kali�. Tapi mampukah kita secara terus menerus berbuat benar dan karenanya beroleh keselamatan? Oleh karena itu kita memerlukan perantara yang mampu menyucikan diri dan dari kesucian itu memperoleh kekuatan untuk berbuat kebenaran. Orang yang berharap pada Kristus setiap saat disucikan kembali, walaupun ia sempat berbuat tidak benar.

Kemudian orang ketiga bertanya lagi: �Kalau demikian, maka tidak masalah bila kita berbuat dosa, karena toh kita punya pengharapan kepadanya.� Kembali Yohanes telah mengunci jawaban pertanyaan ini di dalam suratnya. �setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Kristus.� Jelas dalam suratnya ini Yohanes mengecam orang-orang yang merasa tenang karena memiliki pengharapan akan Kristus namun terus berbuat dosa. Ini membuat kita ingat pada sebuah ayat: �Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.�

Ketika Yesus membaptis dengan Roh Kudus, sebagaimana dinyatakan dalam kesaksian Yohanes Pembaptis, Ia  datang untuk membebaskan kita dari dosa, membaptis kita dengan Roh Kudus. Selanjutnya terserah kita apakah kita tetap akan mengikat diri pada jerat dosa atau tidak. Karena setiap orang yang tetap berada dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi. Mari kita pada tahun yang baru ini berjuang untuk terus mempertahankan kesucian kita dalam pengharapan kita akan Dia yang suci.

-------------------------
Bacaan Liturgi 03 Januari 2018
Hari Biasa Masa Natal
Bacaan Pertama: 1Yoh 2:29-3:6

Bacaan Injil: Yoh 1:29-34

Tuesday, December 26, 2017

Kubur Kosong, Hoax atau Fakta?

Hoax adalah istilah yang sedang beken di media sosial. Hoax artinya kabar yang menyimpang dari realitas. Misalnya ada orang yang dikabarkan jatuh ke gunung berapi yang sedang meletup-letup, ternyata realitasnya adalah orang tersebut jatuh ke danau. Orang yang membuat kabar hoax bisa bertujuan untuk memfitnah orang lain, mengacaukan situasi atau sekedar bersenang-senang. Penerima kabar hoax seringkali melihat hoax itu sebagai kabar yang sebenarnya tanpa melihat bukti yang ada, langsung percaya kepadanya dan mewartakannya kepada orang lain. Akhirnya hoax itu menjadi viral -- sebuah istilah yang berarti dikabarkan kepada banyak orang -- dan menjadi suatu kepercayaan bersama. Bersama-sama, orang yang percaya pada hoax itu adalah suatu komunitas sendiri, yaitu terpisah dari mereka yang tidak percaya.

Bacaan Injil menjelaskan proses untuk menjadi percaya. Apa yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi percaya? Kita bisa melihat ini di dalam proses hoax menjadi viral. Seseorang hanya perlu melihat suatu kabar di media sosial dan percaya. Tapi latar belakang kepercayaan itu adalah prasangka dan pemahaman yang telah dibangun sebelumnya. Misalnya, apakah ada orang yang beriman kepada Yesus, melihat video bahwa Yesus membunuh orang, akan percaya begitu saja? Demikian juga kita melihat proses ini pada bacaan Injil. Maria dan kedua murid sama-sama melihat kubur kosong, tapi hanya �murid yang lain� melihat dan percaya. Bagaimana murid yang lain itu langsung percaya? Karena sebelumnya Yesus sudah membukakan pemikiran tentang apa yang akan terjadi kepadaNya. Mengingat hal tersebut, maka murid itu langsung percaya.

Bacaan pertama dimulai dengan kata-kata yang menjelaskan bahwa apa yang dituliskan para penulis bukan hoax. Para penulis telah melihatnya sendiri, merabanya sendiri, yaitu Firman yang Hidup. Mereka berharap bahwa tulisan itu akan menjadi viral lewat pemberitaan semua orang, dan pada akhirnya menjadi suatu persekutuan, yaitu persekutuan orang-orang yang beriman kepada Firman yang Hidup dan kepada hidup yang kekal. Mari kita bersekutu pada orang-orang yang percaya pada Yesus, bukan pada komunitas yang percaya hoax-hoax.


-----------------------
Bacaan Liturgi 27 Desember 2017
Pesta S. Yohanes, Rasul dan Pengarang Injil
Bacaan Pertama: 1Yoh 1:1-4

Bacaan Injil: Yoh 20:2-8

Thursday, September 28, 2017

Pesta St. Mikael, Gabriel, Rafael, Malaikat Agung

Hari ini adalah hari pesta para malaikat agung. Ada tiga malaikat agung yang terkenal. Pertama adalah Mikael, sang penghulu malaikat yang disebut pada Daniel 12:1, Yudas 1:9 dan Wahyu 12:7. Kedua adalah Gabriel, sang pembawa kabar sukacita pada Bunda Maria. Ketiga adalah Rafael, sang pelindung perjalanan, yang mendampingi Tobia dalam perjalanannya yang diakhiri dengan kesejahteraan keluarga. Mengapa kita memestakan mereka?

Pertama-tama agar kita mengingat bahwa Yesus, sang Anak Manusia, mengatasi segala malaikat. Di dalam Injil dituliskan bahwa malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia (Yoh 1:51). Artinya para malaikat menyembah dan menuruti perintah-perintahNya. Kedua, kita diingatkan bahwa Allah telah menciptakan beratus ribu malaikat untuk melayaniNya, dan Ia juga telah memberikan beratus ribu malaikat kepada kita untuk membantu kita dalam peperangan rohani, agar kita nanti masuk ke dalam kerajaan yang takkan binasa (Dan 7:14). Ketiga, agar kita mengingat bahwa kepada Anak Manusialah diserahkan kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja di dalam kerajaan yang kekal dan tak binasa.

Mari kita saat ini merenungkan betapa Allah yang mahakuasa mampu untuk menciptakan beratus ribu malaikat untuk melayaniNya, sebenarnya tidak membutuhkan pelayanan kita lagi. Sebaliknya kitalah yang butuh untuk melayaniNya. Dan dalam perjuangan pelayanan kita itu, kita dibantu olehNya melalui para malaikat.
----------------------------
Renungan Harian Jumat, 29 Sept 2017
Pesta St. Mikael, Gabriel, Rafael, Malaikat Agung
Bacaan 1: Dan 7:9-10, 13-14
Injil: Yoh 1:47-51

Thursday, June 1, 2017

Jujur.... lah padaKu

Ada 4 mahasiswa telat ikut ujian. Krn bingung kesiangan, mrk kompak sepakat saat memberi alasan sama saat dosen bertanya, dengan harapan dosen percaya dan berbaik hati dan mereka diberi kesempatan ujian susulan. Demikian kata mereka:
Mahasiswa A: pak, maaf kami terlambat
Mahasiswa B: iy pak, kami berempat naik angkot yangsama dan bannya meletus
Mahasiswa C: kami kasihan dengan sopir tersebut, jadi kami bantu dia pasang ban baru.
Mahasiswa D: oleh karena itu kami mohon kebaikan dan kemurahhatian bapak agar kami diperbolehkan ujian susulan.

Dosen berpikir sejenak, dan akhirnya keempatnya diijinkan ikut ujian tapi dalam 4 ruang yang berbeda. Ahhh mungkin biar kita tidak nyontek pikir mahasiswa itu.  Soal pertama dengan bobot nilai 10, dapat mereka kerjakan dengan senyum gembira. Tetapi... untuk soal nomor 2 dengan bobot nilai 90  membuat mereka keringat dingin bercucuran, karena soal kedua begitu jelas menguji kejujuran mereka:
"Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus?".

Sebagai orang yang pertama kali mendengar cerita ini, mungkin anda tertawa atau tersenyum mendengar cerita ini. Tetapi sesungguhnya pertanyaan tentang kejujuran sering kita hadapi juga. Demikian juga Simon Petrus, mengalami hal yang sama ketika kejujurannya dipertanyakan Yesus yang notabene adalah gurunya sendiri. Mahasiswa-mahasiswa tadi memang tidak diragukan mereka paham ilmu yang diajarkan oleh sang dosen. Tapi soal kejujuran sang dosen meragukannya. Dosen tadi mungkin sekedar mengira-ngira bahwa mahasiswanya tidak jujur, tetapi dalam kisah Yoh 21: 15-19 Yesus bukan lagi mengira-ngira, Ia sungguh tahu apa yang ada di hati Simon, sampai akhirnya Simon menyadari makna pertanyaan Yesus tersebut.

Mengapa Yesus perlu bertanya sampai berulang-ulang kepada Simon "Apakah engkau mengasihi Aku?� Bukankah Simon Petrus adalah seorang murid beriman yang mengasihi Yesus? Yang waktu malam perjamuan sebelum Yesus ditangkap dengan berani berikrar "Tuhan aku bersedia masuk penjara atau mati bersama Engkau?" dan waktu Yesus ditangkap, ia berani memotong telinga hamba Imam besar? Apakah masih ada yang kurang dalam dirinya? Adakah yang salah dengan penghayatan akan iman dan kasihnya?

Ya, Yesus melihat apa yang dilakukan Simon bukanlah pemahaman kasih yang sesungguhnya, karena dalam diri sang murid ada harapan-harapan yang juga sering kita tiru tanpa sadar, yaitu nama besar, kepopuleran, selalu jadi yg utama, kesombongan, ingin menonjol. Yesus tidak suka itu semua karena semua itu adalah sumber kesombongan, sumber kehancuran seorang pelayan Tuhan. Dan itu terbukti sampai ketika ayam jago berkokok menyadarkan dia kembali.
Pertanyaan pada Simon adalah upaya pembaharuan iman dan kasih muridnya tersebut sebagai dasar motivasi mengasihi yang benar.

Bila kita amati baik-baik motivasi yang keliru yang dipandang Yesus sebagai batu sandungan pelayanannya adalah:

1. Sikap pamrih tentang siapa yang terbesar yang dilontarkan murid-muridNya yang dengan lantang mengatakan "Aku bersedia masuk penjara dan mati bersama Engkau" sebagai pembuktian. Kalimat itu dalam bayangannya akan membuka peluang tempat dan kedudukan. Itu tak disukai Yesus.

2. Kasih yang dilakukan karena prestise, demi gengsi, martabat, nama baik. Yesus sudah tahu, bahwa sejak saat Simon Petrus mengatakan "Biarpun semua org terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.�  Padahal semua akhirnya terbukti ketika dia menyangkal sebelum ayam berkokok.

 "Simon  anak Yohanes, apakah Engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka?
Ini adalah pertanyaan yang mengarah supaya Petrus melepaskan penonjolan dirinya di antara murid lainnya, untuk kembali pada pembaharuan iman kasihnya.

Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi aku? (Tanpa kalimat: "lebih dr pd mereka ini?), dengan cara lebih lunak Yesus bertanya. Dan itu menyadarkan Petrus, menyengat dia untuk lebih rendah hati.   Kehalusan kata telah merobek kesombongannya.

 Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Pertanyaan ke-3 meminta kejujurannya bahwa iman dan kasih adalah 2 hal yang harus dipertanggungjawabkan karena kelak akan menerima konsekwensinya. Meluruskan motivasi dan kesadaran akan pelayanannya. Dan akhirnya ia berani menjawab: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau".  Sikap baru yang rendah hati yang juga harus dimiliki oleh kita semua sebagai pelayan Tuhan, sebagai teladan penggembalaan. Sikap yang penuh kasih, jujur setia dalam iman kasih pelayanan.

Tuhan memberkati.
-----------------
Yoh 21: 15-19
Kis 25: 13-21

Thursday, May 25, 2017

Mariana de Paredes dari Quito dan Paulus di Korintus

Mariana de Paredes dari Quito adalah putri  seorang bangsawan Ekuador. Sejak kecil ia ditinggal mati orangtuanya dan hidup bersama saudaranya. Yang menarik dari Mariana adalah minatnya yang besar pada hal-hal rohani dan hidup bakti pada Tuhan dan karena itu ia juga mendapat kesempata n untuk menerima komuni suci pada usia dini.   Niatnya mulia, yaitu ingin membentuk perkumpulan untuk mempertobatkan bangsa Jepang yag masih belum menjadi Katolik, walaupun sayangnya gagal. 

Namun baginya kegagalan adalah hanya masalah perbedaan rencananya dengan rencana Allah.
Semangat kemiskinan,  mati raga dan hidup dlm doa kemudian dijalaninya. Hari-hari dan waktu hidupnya hanya dipakai untuk Kristus. Demi mengalami itu semua ia seringkali merantai dirinya tanpa makan, hanya tidur sehari  dalam 3 jam saja. Dan ia sering juga mendapat hinaan atas apa yang dibuatnya itu.  Rupanya itu sebab Allah melimpahkan padanya karunia meramal dan melakukan mujizat.

Pada suatu saat, gempa dahsyat serta wabah menular melanda daerah Quito. Mariana memberikan  dirinya bagi Tuhan demi keselamatan  Quito.  Rupanya doanya diterima dan Maria jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia dalam usia 25 tahun. Karena kesalehan  hidupnya ia diberi gelar Bunga lili dari Quito dan mendapat gelar kudus pada tahun 1950.

Apa yg dilakukan Mariana berbeda dgn apa yg dilakukan Paulus di Korintus (Kis 25:13-21). Paulus sering mendapat ancaman dan intimidasi. Firman Tuhan yang sampai pada Paulus dalam penglihatannya merupakan sumber kekuatan dalam menjalankan hari-harinya.

Paulus dan Mariana memiliki pendekatan dengan Allah yang berbeda. Paulus lebih banyak melakukan semua perjuangannya dengan menunggu Kristus berbicara padanya. Sementara Mariana berinisiatif langsung dgn tindak lakunya. Namun walau berbeda mereka memiliki kesamaan yaitu sama-sama dipilih Tuhan  untuk menyatakan Kebenaran tentang Kristus.

Dalam hidup, kita sebagai orang Kristen juga sama-sama dipanggil Tuhan, namun cara-caranya berbeda.. ada yang langsung digerakkan oleh Tuhan , ada yg berkehendak bebas berinisiatif melakukannya. Mengapa demikian?  Ya, karena pada dasarnya kita semua dipilih Allah. Panggilan itu melekat kuat dalam diri kita sejak kita lahir. Tinggal kita mau atau tidak untuk menjalankannya. 
Sama spt Paulus mungkin  dalam melaksanakan karya panggilan tersebut, kita mengalami berbagai tekanan dan intimidasi, baik yang jelas maupun tersamar. Hal itu sering mengecilkan dan menyurutkan hati dan akhirnya lebih baik memilih diam menyembunyikan jati diri dan kekristenan kita. Seperti Paulus dan Mariana marilah kita yakin pada Allah yang menjaga dan melindungi kita. Jerih payah Paulus menjadi contoh bahwa apa yg ia lakukan bukan kesia-siaan karena terbukti akhirnya daerah Korintus menjadi salah satu gereja yang kuat. Demikian juga Mariana, pengorbanannya memberikan pemulihan kota Quito. Allah menjaga dan membuahkan apa yang kita sampaikan dan lakukan. Tak akan ada yg sia-sia sampai nanti waktunya tiba.

 --------------
Jumat, 26 Mei 2017
Jumat Pekan Paskah VI
Peringatan Wajib S. Filipus Neri, Imam
Bacaan 1: Kis 18:9-18
Bacaan Injil: Yoh 16:20-23a

Tuesday, May 23, 2017

Nasihat yang Jitu

Sepasang suami istri sedang mengadakan perjalanan dengan menunggang keledai mereka. Di tengah jalan seseorang berteriak: �lihat 2 orang tua itu, tega sekali mereka menunggangi keledai itu berdua. Kan berat untuk si keledai.� Maka si istri turun dan membiarkan si suami di atas keledai. Tak berapa lama mereka bertemu orang yang berkata, �lihat suami bodoh, enak saja dia menunggang keledai sementara istrinya disuruh jalan kaki.� Maka kedua suami istri itu bertukar tempat.  Baru berjalan sebentar, ada orang lain lagi berteriak, �tega sekali istri itu membiarkan suami yang sudah bekerja mencari nafkah masih harus jalan kaki.� Mendengar itu maka si suami pun turun dan keduanya meneruskan dengan berjalan kaki sambil menggiring si keledai. Namun tak lama beberapa orang mengetawai mereka sambil berkata: �bodoh sekali orang-orang tua itu, punya keledai tapi tak ditunggangi.�

Mendengarkan dan memberikan nasihat itu susah-susah gampang. Orang keras hati tidak akan mendengarkan nasihat dan memilih jalan yang sudah direncanakannya sendiri. Sementara orang yang rendah diri selalu mendengarkan nasihat dan kemudian bingung mana nasihat yang baik dan yang kurang baik. Sementara pemberi nasihat sering juga memberikan nasihat yang umumnya baik tapi tanpa melihat situasi unik dari si penerima nasihat. Pemberi nasihat juga tidak imun terhadap pengalaman dan ketakutannya sendiri. Lalu bagaimana  nasihat yang baik, yang tidak hanya seperti kata pepatah: �masuk kuping kiri keluar kuping kanan.�

Nasihat kadang cukup dinyatakan sekali dan sudah efektif. Namun ada nasihat- nasihat yang harus berkali-kali dikumandangkan agar efeknya terasa. Tapi nasihat paling jitu apabila diberikan bilamana diberikan bersamaan dengan roh kebenaran. Lihat contoh Paulus. Dia memberikan nasihat agar menyembah Allah yang dikenal dan yang berkuasa. Walaupun dari sisi kita yang percaya nasihat itu sangat jitu dan tak sulit dilaksanakan, toh sedikit saja yang mengikutinya. Dan lihatnya Yesus yang memiliki banyak amanat namun mempercayakan penyampaiannya kepada Roh Kebenaran. Berefleksi dari kedua bacaan ini kita perlu belajar bahwa ketika hendak menyampaikan nasihat pada siapapun, baiklah kita awali dengan doa pribadi agar Roh Kudus menyertai kata-kata nasihat tersebut.



----------------------
Rabu, 24 Mei 2017
Bacaan Pertama: Kis 17:15.22-18:1
Mazmur: Mzm 148:1-2.11-12b.12c-14a.14bcd
Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

Thursday, May 18, 2017

Kenaikan Pangkat dari Kristus

Sewaktu bertemu dengan seorang pastor Indonesia yang bertugas di Taiwan, kami mendapatkan kisah-kisah mengharukan dari para tenaga kerja Indonesia (TKI) di sana. Beberapa memang ada yang memilukan seperti kasus penyiksaan oleh majikannya. Namun ada beberapa TKI yang beruntung mendapatkan majikan yang sangat baik. Begitu baiknya, ketika majikan itu akhirnya meninggal, ia meninggalkan sebagian hartanya bagi si TKI yang telah membantunya selama ini. Para TKI ini kemudian bisa pulang ke Indonesia dan membuka usaha di sini. Seorang hamba yang menjadi sahabat, itulah para TKI.


Apakah sang TKI mengetahui bahwa mereka telah menjadi sahabat terbaik sang majikan di saat-saat akhir hidupnya? Tidak. Karenanya banyak dari mereka merasa terkejut mendapatkan harta warisan tersebut. Namun orang Kristen mengetahui dengan pasti bahwa mereka telah dinaikkan martabatnya oleh Kristus menjadi sahabatNya. Bukan lagi hamba, melainkan sahabat. Artinya kita mendapat bagian dalam kesukacitaanNya, dalam warisanNya, dalam kekuasaanNya.


Apakah �kenaikan pangkat� disebabkan oleh kerja keras para TKI, atau oleh kebaikan hati sang majikan? Tentu karena kebaikan hati sang majikan.  Demikian pula perlu kita sadari bahwa hanya karena kebaikan hati Allah-lah, kita boleh menjadi sahabat Kristus. Ini yang perlu kita syukuri. Salah satu bentuk dari syukur itu adalah dengan tidak memberatkan orang lain dengan beban yang tidak perlu, sebagaimana yang disebutkan di dalam bacaan Kisah Para Rasul. Para rasul mensyukuri rahmat �kenaikan pangkat� menjadi sahabat Kristus, dan karenanya mereka tidak menanggungkan lebih banyak beban kepada orang-orang Antiokhia, yaitu mereka yang tidak lahir sebagai orang Yahudi. Mari kita syukuri rahmat �kenaikan pangkat� kita dan selalu berusaha untuk tidak pernah memberikan beban bagi orang lain. 

-------------------------
Jumat, 19 Mei 2017
Bacaan 1              : Kis 15: 22-31
Bacaan Injil         : Yoh 15: 12-17

Sahabat Sejati


Di abad 5 SM hidup 2 sahabat sejak kecil dan tak terpisahkan, Damon dan Phytias. Setelah dewasa, berlayarlah mereka  ke Italia daerah Siracusa. Tak disangka, suatu saat Phytias menyinggung penguasa Dionisius I yang diktator. Maka ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati karena dianggap menghina. Damon mendengar kabar itu dan bersegeralah ia untuk memohon keringanan hukuman bagi sahabatnya, tetapi sia-sia.

Suatu hari tercetuslah kesedihan Phytias yang ingin berpamitan dengan ibunya. Damon pun kembali menghadap pemerintah memohon untuk menggantikan posisi sementara supaya Phytias bisa pamit dengan ibunya. Sebagai jaminan, maka Damon dipenjara. Bila Phytias tidak kembali pada waktunya, Damonlah yang akan dieksekusi.

Tapi sayang, setelah Phytias menemui ibunya, ia dirampok dan disiksa kemudian diikat. Phytias tidak merasakan lukanya. Ia hanya ingat pada janjinya pada Damon. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan diri dan melompat ke sungai. Ia berenang sekuat tenaga dan akhirnya sampai ke tempat Damon dipenjara.
Di Siracusa, Dionisius I, terus mencemooh kebodohan Damon. Katanya, Phytias pasti sudah melupakannya, dan Damon akan mati sia-sia. Damon tetap teguh, ia yakin sahabatnya pasti akan memegang janjinya.

Hari mulai gelap dan eksekusi akan segera dilaksanakan.  Damon dibawa dan akan dieksekusi di depan ratusan orang yang mencemooh dan mentertawakan dia. Tiba-tiba Phytias datang dengan tubuh penuh luka dan peluh. Lalu ia menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan dua sahabat itu pun berpelukan.

Dionisius I yang tiran itu mendengar juga dan tersentuh hatinya akan persahabatan itu. Ia tak percaya kalau tidak melihat dengan mata sendiri bahwa ada orang yang rela mati bagi sahabatnya. Saking terharunya, ia membebaskan kedua sahabat ini dari eksekusi karena mereka telah menunjukkan sesuatu yang sulit didapat di dunia: Persahabatan Sejati.


Seorang Dionisius bisa luluh karena persahabatan 2 orang manusia. Kenapa?  Karena mencari sahabat sejati semakin sulit, apalagi masa kini. Tetapi tawaran persahabatan sejati yang diberikan Yesus pada muridNya juga ditawarkanNya pada kita. Bayangkan Tuhan kita menawarkan persahabatan. Bahkan kita bisa mengklaim bahwa Yesus adalah sahabat sejati yang juga telah menyerahkan nyawaNya bagi kita, sebagai tindakan tertinggi dari kasih setiaNya pada kita.

Kata,"Kita bukan lagi hamba melainkan sahabat", adalah petunjuk bahwa orang yang percaya bukan lagi manusia rendahan. Kita memiliki posisi yang setara, yang sama. Dan kesetaraan itu makin dikuatkan Kristus dengan pemberian hak untuk tahu segala sesuatu yang telah Kristus dengar dari BapaNya. Ini membuat kita dilimpahi Roh Kudus untuk bisa memahami dan bertanggung jawab akan kehidupan yang dilimpahkan Allah bagi kita dan memahami Yesus sebagai sahabat sejati.


Kita adalah pilihan Kristus. Ini adalah anugerah besar. Bukan karena kepintaran, kegagahan, kekayaan, namun semata karena kita dipilih Kristus. Bukan kita yang memilih Dia, tapi Dia yang memilih kita. Maka kita harus menghasilkan buah limpah dalam rupa kesaksian hidup yang nyata, seperti Phytias dan Damon terhadap Dionisius I.
--------------------
Jumat, 19 Mei 2017
Bacaan 1: Kis 15:22-31
Bacaan Injil: Yoh 15: 15b

Tuesday, May 16, 2017

Melekat pada Sumber, Berbuah Banyak dan Aneka

Pernahkah anda makan masakan khas provinsi tertentu, misalnya sate Madura atau rica-rica Manado? Bagaimana rasanya? Satu restoran berbeda rasa dengan restoran lainnya, yang satu lebih manis yang lain lebih gurih. Ada yang memilih memakai bahan tertentu, ada yang menggantikannya dengan lainnya. Tapi kekhasannya tetap ada, gudeg dengan nangka mudanya dan rica-rica dengan kepedasannya. Tapi cobalah makan makanan tersebut di tempat yang jauh, misalnya di Belanda. Tentu rasanya berbeda jauh  walaupun penyajiannya kurang lebih sama, dimana sate adalah daging ditusuk dan diberi bumbu sementara rica adalah lauk dengan banyak cabai.


Kenapa begitu? Makanan yang dekat dengan sumbernya memiliki banyak variasi tapi tidak kehilangan ciri khasnya. Koki di pusat makanan itu memahami ciri khas itu sehingga tidak kuatir bereksperimen dengan rasa lainnya. Sementara  koki di Belanda hanya belajar dari resep-resep yang ada atau dari youtube, tapi tidak memahami rasa-rasa apa saja yang tidak boleh hilang dari masakan itu. Hasilnya, mereka tidak mampu berkreasi terlalu jauh karena kuatir makanan mereka tidak lagi disebut Sate Madura atau Rica Manado.

Sama dengan orang Farisi di bacaan pertama. Ia tidak melekat kepada sumber kehidupan yaitu Yesus. Ia kuatir kehilangan kekhasan yang akan membuatnya masuk ke Kerajaan Surga. Oleh karenanya ia hanya bertahan kepada apa yang telah diketahuinya: hukum Taurat dan kewajiban bersunat. Sementara Paulus dan Barnabas adalah orang-orang yang melekat pada Yesus seperti ranting anggur dan pokoknya. Mereka tidak kuatir tentang hal-hal teknis itu. Fokus mereka adalah pewartaan kabar sukacita di mana pun mereka berada. Demikianlah kita perlu seperti Paulus dan Barnabas, melekat erat pada sang Pokok Anggur sejati, agar kita tidak kuatir pada hal-hal tambahan, melainkan fokus pada yang utama: Kerajaan Allah bagi seluruh manusia.



-------------------
Rabu, 17 Mei 2017
Rabu Pekan Paskah V
Bacaan Pertama:Kis 15:1-6
Mazmur: Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5
Bacaan Injil: Yoh 15:1-8

Thursday, May 11, 2017

Mendapat Peta Jalan yang Benar

Kalau kita melakukan perjalanan ke tempat yang belum kita kenal, maka kita akan mencari sebanyak-banyaknya petunjuk yang bisa mengarahkan kita untuk bisa sampai pada akhirnya ke tempat tujuan kita itu. Jika salah-salah petunjuk, kita bisa tersesat bahkan bisa semakin jauh sampai tempat tujuan.

Demikian pula tujuan hidup kita pada akhirnya yaitu untuk bisa sampai pada Rumah Bapa di surga. Itulah tujuan perjalanan hidup rohani kita. Sama seperti ketika kita mencari jalan untuk bisa menemukan tempat tujuan kita yang belum kita kenal itu, maka kita perlu mencari sebanyak-banyaknya petunjuk jalan. Maka, untuk sampai ke rumah Bapa di surga, kita juga harus mencari petunjuk sebanyak-banyaknya, dan kitab suci adalah sumber penunjuk jalan kita, sebagai kompas kita sehingga kita mendapat petunjuk dalam melakukan perbuatan  hal-hal yg dibenarkan oleh Bapa, sebagai pembuka jalan.


Benar kata pepatah, banyak jalan menuju Roma ketika kita mencari jalan dan alamat di dunia, tetapi untuk bisa sampai kepada kehidupan kekal, hanyalah melalui Tuhan Yesus sendiri. Karena dengan tegas Yesus mengatakan bahwa, hanya Dialah jalan kebenaran dan hidup untuk bisa sampai ke rumah Bapa di surga. Jadi, berhati-hatilah dalam mencari  jalan hidup yang benar. Tuhan memberkati.
--------------------------
Sabtu, 12 Mei 2017
Sabtu Pekan Biasa
Bacaan 1: Kis 13: 26-33
Bacaan Injil: Yoh 14: 6

Recent Post