Latest News

Showing posts with label Sejarah Orang Kudus. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Orang Kudus. Show all posts

Tuesday, July 3, 2018

St. Elisabet dari Portugal: Cermin Kesederhanaan dan Ketaatan

Hari ini adalah hari pesta St. Elisabet dari Portugal. Dua hal yang dapat kita pelajari dari dirinya yang juga merupakan tema bacaan pada hari ini. Satu, Tuhan menginginkan kebenaran dan keadilan yang terbungkus di dalam kesederhanaan. Kedua, setiap hal ada waktunya yang telah ditentukan oleh Tuhan sendiri.

St. Elisabet adalah seorang putri bangsawan yang menikah dengan raja Portugal. Ia merupakan moyang dari raja-raja di daerah sekitar. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat kesederhanaan dan belas kasihnya. Ia tetap membantu orang miskin, meringankan penderitaan orang lain, walaupun sempat menjadi topik percakapan dan sumber niat buruk bagi komunitas kerajaannya. Ia beberapa kali menjadi sarana perdamaian bagi 2 pihak yang hampir berperang, termasuk antara suami dan anaknya sendiri. Sungguh, ia adalah teladan di dalam kesederhanaan namun tetap menjunjung kebenaran dan keadilan, sama seperti yang difirmankan Tuhan kepada Amos pada bacaan pertama, dimana Tuhan merendahkan perkumpulan raya dan kurban persembahan yang diadakan oleh orang yang hatinya tidak tertuju padaNya.

Dalam bacaan Injil kita mendengar bahwa roh-roh jahat bertanya pada Yesus apakah Ia akan menyiksa mereka �sebelum waktunya.� Secara tersirat kita dapat menyimpulkan bahwa mereka tahu bahwa ada waktu tertentu yang telah direncanakan Tuhan bagi mereka, dan tentunya bagi kita juga. St. Elisabet menjalani hidupnya dengan waktu yang direncanakan Tuhan. Ia dengan sabar tetap melaksanakan kebaikan hatinya di saat ia menjadi ratu. Ia berperan aktif di dalam kerajaan suaminya sebagai negosiator dan mediator. Ia menjadi teladan bagi keluarganya sehingga suaminya bertobat dari lakunya yang jahat. Dan ketika suaminya meninggal, ia melepaskan seluruh privilesenya dan masuk ke biara, sebagaimana yang telah lama diimpikannya.

-------------------------
Bacaan Liturgi 04 Juli 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa XIII
PF S. Elisabet dari Portugal
Bacaan Pertama: Am 5:14-15.21-24
Bacaan Injil: Mat 8:28-34

Tuesday, May 1, 2018

Beranikah Kita Memperjuangkan Kebenaran?

Hari ini kita akan berbicara tentang keberanian mengungkapkan kebenaran. St. Paulus dan St. Barnabas di dalam bacaan pertama menunjukkan keberanian mereka menentang banyak umat Yahudi yang percaya Kristus namun tetap menitikberatkan sunat sebagai kriteria utama keselamatan. Mereka berdua berjuang sampai ke Yerusalem untuk mempertahankan pendapat mereka itu. Hasilnya adalah kita semua yang kini membaca tulisan ini, menikmati hasil dari perjuangan mereka, yaitu dimana iman pada Yesus berada di atas ketaatan pada sunat.

Hari ini juga kita merayakan Perayaan Wajib St. Athanasius, uskup dan pujangga agung Gereja. Ia pernah disebut �Athanasius melawan dunia� karena kesohorannya mempertahankan ajaran bahwa keselamatan hanya berasal dalam Yesus Kristus. Ia diperhadapkan pada tuduhan-tuduhan dari pihak Yahudi dan kafir, bahwa inkarnasi dan penyaliban Anak Allah tidak pantas dan mengurangi martabat-Nya. Namun, dengan tegas ia mengatakan bahwa "dunia yang diciptakan melalui Dia hanya dapat dipulihkan oleh Dia". Pemulihan ini tidak bisa terjadi, kecuali melalui salib. Ia juga terkenal sebagai lawan tangguh ajaran sesat Arianisme yang mengajarkan bahwa seseorang yang datang kepada kita yaitu, Kristus Yesus bukanlah Tuhan yang sesungguhnya melainkan makhluk yang diciptakan oleh Allah. Athanasius-lah yang memperjuangkan bahwa Kristus Yesus sungguh Allah.

Di masa kini pun kita terus menerus ditantang untuk memperjuangkan kebenaran di dalam nama Yesus. Perjuangan itu mungkin akan membawa kita menjadi kurang disukai oleh teman-teman kita bahkan di dalam gereja sendiri. Perjuangan kita mungkin membuat kita dijuluki �perusuh� karena kita mengambil posisi yang berbeda dengan para pemimpin kita, termasuk pemimpin gereja. Namun selama kita memperjuangkan kebenaran dengan hati tulus, rendah hati dan membungkusnya di dalam doa dan iman, maka perjuangan kita takkan sia-sia. Hasilnya mungkin tidak dapat kita lihat dalam sisa usia kita, namun seperti Yesus katakan di dalam InjilNya: �Barangsiapa tinggal di dalam Aku, ia berbuah banyak.� Selamat memperjuangkan kebenaran.


---------------------------
Bacaan Liturgi 02 Mei 2018
Hari Biasa Pekan Paskah V
PW S. Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: Kis 15:1-6

Bacaan Injil: Yoh 15:1-8

Tuesday, April 24, 2018

St. Markus, Sang Singa yang Kuat

Santo Markus adalah salah satu dari 4 penulis Injil. Injilnya diyakini adalah yang paling tua dan menjadi salah satu sumber dari kedua Injil lainnya yaitu Matius dan Lukas. St.Markus digambarkan seekor singa. Richard Burridge dalam bukunya Empat Injil, Satu Yesus menggambarkan gaya menulis St. Markus seperti seekor singa yang berlari cepat menuju mangsanya, menjelajah padang yang luas dan memiliki kekuatan serta kecepatan yang mengagumkan. Demikianlah kita merasa bila kita membaca Injil Markus dengan komplit maka kita pun akan merasa bahwa kisah-kisah Yesus diceritakan secara singkat, menjelajah banyak  aspek, namun mengena pada sasaran.

St. Markus sungguh-sungguh menghayati pesan Yesus yang terakhir kepada pada murid-murid yaitu �Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.� Urgensi dari pesan ini sungguh tampak kepada bagaimana Markus menuliskan Injilnya. Ia mewartakan yang penting-penting. Dalam setiap pewartaannya ia menegaskan bahwa pesan itu harus dilaksanakan dengan cepat. Ia juga menegaskan bahwa sama seperti singa yang harus cepat menerkam mangsanya, yaitu memberitakan Injil ke seluruh dunia dan ke segala makhluk, kita pun dipersenjatai dengan kekuatan mengusir setan, berbicara dalam bahasa baru, minum racun namun tidak celaka dan kuasa menyembuhkan orang sakit.

Demikianlah kita perlu menangkap pesan-pesan ini dalam kehidupan kita. Marilah kita mewartakan Kristus� sekarang juga, di tempat ini juga, dengan kuasa yang telah dipercayakan kepada kita. Jangan sampai ketika Ia datang untuk kedua kalinya, Ia menemukan ada bagian dunia yang belum tersentuh oleh kabar gembiraNya.


-------------------------
Bacaan Liturgi 25 April 2018
Pesta St. Markus, Penulis Injil
Bacaan 1: 1Ptr 5:6b-14

Injil: Mrk 16:15-20

Tuesday, January 30, 2018

Kesombongan yang Menjauhkan Rahmat

Kesombongan selalu membuat rahmat Tuhan jauh daripada kita. Raja Daud mengadakan sensus karena kesombongannya sendiri. Kegiatan sensus itu sendiri sebenarnya tidak menyebabkan dosa, karena Musa juga melakukan sensus atas perintah Allah. Namun Daud memiliki keinginan sendiri, yaitu untuk membandingkan dirinya sendiri sebagai raja atas sekian banyak orang, jauh lebih banyak daripada suku-suku lain di sekitarnya. Oleh sebab itulah ia kemudian merasa bersalah dan akhirnya Allah menyebabkan tulah bagi bangsa Israel, yaitu sampar.

Kesombongan pulalah yang telah membuat orang-orang di tempat asal Yesus tidak mengalami mukjizat sebanyak tempat lain yang dikunjungi Yesus. Kesombongan bahwa tidak mungkin seorang anak tukang kayu, anak Maria, dan yang saudara-saudaranya mereka kenal sebagai orang yang biasa-biasa saja, dapat menciptakan mukjizat seperti yang mereka telah dengar. Kesombongan itu membuat rahmat yang dibawa oleh Yesus tidak bekerja pada mereka.

Marilah kita merenungkan diri kita sendiri? Adakah kesombongan kita telah menjauhkan kita dari rahmat Tuhan? Adakah kita berpikir bahwa hal itu tidak mungkin karena  si pembawa rahmat adalah orang berdosa, orang yang kurang pintar dan kurang suci dibandingkan kita? Adakah kesombongan kita telah membuat mukjizat Tuhan tidak nyata, karena kita berpikir mukjizat itu seharusnya cukup besar untuk dilihat banyak orang, atau cukup signifikan dalam merubah hidup kita? Semoga kita mampu untuk mengalahkan kesombongan, melihat rahmat Tuhan dalam hal-hal kecil dalam hidup kita, yang dibawa oleh setiap orang yang bersentuhan dengan kehidupan kita. Karena Tuhan kita yang maha besar, mampu memberikan rahmatNya melalui setiap perkara dan setiap orang.

-----------------
Bacaan Liturgi 31 Januari 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa IV
PW S. Yohanes Bosko, Imam
Bacaan Pertama: 2Sam 24:2.9-17

Bacaan Injil: Mrk 6:1-6

Tuesday, January 23, 2018

St. Fransiskus dari Sales: Ambillah Hatiku Tuhan

Tiap tanggal 24 Januari Gereja memperingati salah satu orang kudusnya, yaitu St. Fransiskus dari Sales. Ia adalah uskup di Geneva, Swiss. Sebagai seorang uskup, ia tetap memperhatikan perkembangan iman umatnya. Banyak orang bertobat bukan karena kepintarannya sebagai uskup tetapi karena kebaikan hatinya. Fransiskus menulis: �Jika ada sesuatu yang lebih mulia dari pada kelemahlembutan dan kerendahan hati, tentunya Tuhan sudah mengajarkannya kepada kita. Tuhan justru mengajarkan dua hal kepada kita yakni kelemahlembutan dan kerendahan hati�.

Ia pernah menulis sebuah doa yang bagus yang menunjukkan bagaimana Ia memiliki devosi kepada Hati Kudus Yesus: �O, Juruselamat kita akan mengambil hati kita dan menggantikannya dengan Hati-Nya sendiri. Namun, bukankah dengan demikian membuat hati kita sepenuhnya menjadi Hati-Nya � milik Hati-Nya secara murni dan tak dapat diubah? O semoga Yesus kita yang manis melakukan ini! Aku menyebabkan timbulnya pikiran Yesus untuk melakukan ini oleh Hati-Nya dan oleh kasih yang ada dalam Hati-Nya itu, yaitu kasih di atas segala kasih. Seandainya Dia tidak melakukannya (tetapi tanpa ragu Dia akan melakukannya karena kita minta kepada-Nya), maka sedikitnya Dia tidak akan dapat mencegah kita untuk mengambil Hati-Nya, karena Dia masih mempunyai dada-Nya yang terbuka untuk ini; dan apabila kita harus merobek dada kita sendiri untuk menaruh Hati-Nya di dalamnya dan bukan hati kita, tidakkah kita akan melakukannya? Semoga Nama-Nya yang Kudus selamanya dipuji.�

Dengan doa ini marilah kita merenungkan bacaan pertama, di mana Raja Daud ingin membuat rumah bagi Allah. Kita pun seharusnya ingin membuat rumah bagi Allah. Namun rumah yang Allah inginkan bukanlah dari kayu aras, melainkan dalam hati kita. Allah sendiri pun berfirman kepada Natan: �Tidak pernah Aku diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman.� Apa artinya? Allah selalu mengembara bersama pengembaraan kita, bahkan sampai sekarang. Maka marilah kita bersama dengan St. Fransiskus dari Sales, menyerahkan hati kita untuk digantikan dengan Hati Kudus Yesus, agar Allah mempunyai kediaman di dalam hati kita selama-lamanya.

-----------------------
Bacaan Liturgi 24 Januari 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa III
PW S. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: 2Sam 7:4-17

Bacaan Injil: Mrk 4:1-20

Tuesday, November 28, 2017

Kesaksian Terkuat terjadi pada Saat Kesesakan

Dari dalam penjara, Ahok terus bersaksi kepada para pengunjungnya, bahkan tetap memberikan berbagai bantuan dengan berbagai cara. Karenanya, balai kota tetap penuh dengan bunga saat Jarot harus menyerahkan tampuk pemerintahan DKI Jakarta.  Thomas Byles, adalah seorang pastor yang ikut dalam perjalanan kapal Titanic, dan tetap tinggal di kapal itu sampai tenggelam untuk menyelamatkan nyawa penumpang lainnya yang juga tak bisa melarikan diri. Maximilian dari Kolbe menggantikan salah seorang napi untuk dihukum mati agar napi itu bisa bertemu kembali dengan keluarganya paska perang. Di Afrika, pengikut Kristus makin banyak walaupun mereka terus menerus dikejar dan dianiaya. Dari keempat contoh di atas kita dapat mengambil kesimpulan: Kesaksian paling kuat terjadi pada saat Kesesakan.

Yesus sudah memperingatkan murid-muridNya bahwa suatu hari mereka akan dianiaya, dan pada saat itulah kesempatan datang untuk mereka bersaksi bagiNya. Dan kita tahu dari pelajaran sejarah gereja, itulah yang terjadi kepada para murid-murid Yesus. Petrus disalib terbalik, Yohanes direbus dan lain-lain. Bacaan pertama juga menggambarkan masa kesesakan bagi bangsa Israel termasuk Daniel. Bayangkan bila ada orang-orang tidak percaya Tuhan yang masuk ke gereja dan mengambil barang-barang suci. Pastilah umat gereja itu juga mengalami siksaan dan aniaya, paling tidak dalam hal ketakutan dan kengerian. Namun Daniel dengan berani mengkritik raja dan bersaksi mengenai Allah yang menggenggam nafas kita. Perikop ini tidak menceritakan apa yang terjadi pada Belsyazar, namun kita tahu bahwa apa yang dinubuatkan Daniel terjadi, yaitu Babilon direbut oleh Persia, dan Belsyazar sendiri mati terbunuh.

Mari kita merenungkan bagaimana bila kita nanti dihadapkan pada situasi tersebut? Apakah kita akan menolak Yesus sebagai Tuhan ketika pilihannya adalah dianiaya? Ataukah kita tetap setia sampai mati sehingga janji Tuhan boleh genap yaitu: kita boleh memperoleh hidup? Mari kita terus berdoa bahwa ketika saatnya tiba nanti kita boleh terus setia pada janji itu.


--------------------------
Bacaan Liturgi 29 November 2017
Rabu Pekan Biasa XXXIV
Bacaan Pertama: Dan 5:1-6.13-14.16-17.23-28
Bacaan Injil: Luk 21:12-19

Tuesday, October 3, 2017

Bertahan untuk Tidak Menoleh ke Belakang

St. Fransiskus Asisi adalah seorang suci yang terkenal dengan kedisiplinannya untuk meninggalkan dunia materi untuk menemukan Tuhan dalam kehidupannya. Ia bisa berhari-hari tidak makan, selalu misa, merenungi Tuhan. Ia memberikan segala sesuatu yang dimiliki kepada orang miskin, memilih yang terburuk, dan berkata-kata dengan lembut. Ia mengakui segala dosanya di hadapan imam dan di hadapan saudara-saudaranya untuk melatih kerendah-hatian. Ia memandang hubungannya dengan Yesus adalah yang paling berharga, dan yang lainnya menjadi tidak berharga.

Apakah artinya kita tidak perlu menguburkan orangtua kita, tidak perlu melayani keluarga kita, tidak perlu belajar dan bekerja dengan rajin, demi panggilan melayani di gereja? Jelas TIDAK. St. Fransiskus di dalam keinginannya untuk berpuasa, pernah memperhatikan bahwa salah satu saudaranya tidak mampu mengikutinya untuk berpuasa dan pingsan. Panggilan untuk menunjukkan kasih Yesus menjadi lebih penting bagi St. Fransiskus daripada ketaatannya berpuasa. Maka ia pun makan bersama dengan saudaranya itu, agar ia tidak malu makan sendiri.

Hal yang menarik di belakang kita, seperti yang dikatakan Yesus ("Setiap orang yang siap untuk membajak,  tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." - Luk 9:57-62), bisa muncul dalam berbagai hal: rumah, keluarga, jabatan, materi, cita-cita, hobi dan sebagainya, bahkan komitmen untuk berpuasa. Nehemia (Neh 2:1-8) memiliki zona nyaman karena jabatannya yang dekat dengan raja. Namun Nehemia dan St. Fransiskus mampu untuk mendobrak zona nyaman mereka demi kepatuhan mereka pada Allah. Apa yang menjadi zona nyaman kita? Apa yang paling sulit kita tinggalkan dan apa yang membuat kita paling sedih bila kita kehilangan? Mampukah kita, ketika dipanggil untuk mengikuti Kristus, meninggalkan semuanya itu?

Thursday, September 28, 2017

Pesta St. Mikael, Gabriel, Rafael, Malaikat Agung

Hari ini adalah hari pesta para malaikat agung. Ada tiga malaikat agung yang terkenal. Pertama adalah Mikael, sang penghulu malaikat yang disebut pada Daniel 12:1, Yudas 1:9 dan Wahyu 12:7. Kedua adalah Gabriel, sang pembawa kabar sukacita pada Bunda Maria. Ketiga adalah Rafael, sang pelindung perjalanan, yang mendampingi Tobia dalam perjalanannya yang diakhiri dengan kesejahteraan keluarga. Mengapa kita memestakan mereka?

Pertama-tama agar kita mengingat bahwa Yesus, sang Anak Manusia, mengatasi segala malaikat. Di dalam Injil dituliskan bahwa malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia (Yoh 1:51). Artinya para malaikat menyembah dan menuruti perintah-perintahNya. Kedua, kita diingatkan bahwa Allah telah menciptakan beratus ribu malaikat untuk melayaniNya, dan Ia juga telah memberikan beratus ribu malaikat kepada kita untuk membantu kita dalam peperangan rohani, agar kita nanti masuk ke dalam kerajaan yang takkan binasa (Dan 7:14). Ketiga, agar kita mengingat bahwa kepada Anak Manusialah diserahkan kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja di dalam kerajaan yang kekal dan tak binasa.

Mari kita saat ini merenungkan betapa Allah yang mahakuasa mampu untuk menciptakan beratus ribu malaikat untuk melayaniNya, sebenarnya tidak membutuhkan pelayanan kita lagi. Sebaliknya kitalah yang butuh untuk melayaniNya. Dan dalam perjuangan pelayanan kita itu, kita dibantu olehNya melalui para malaikat.
----------------------------
Renungan Harian Jumat, 29 Sept 2017
Pesta St. Mikael, Gabriel, Rafael, Malaikat Agung
Bacaan 1: Dan 7:9-10, 13-14
Injil: Yoh 1:47-51

Tuesday, September 26, 2017

Meninggalkan Tuhan untuk Tuhan

Dimanakah Tuhan dapat ditemukan? Belakangan ini rasanya umat hanya menemukan Tuhan di tempat tidur, di ruang berdoa, di gereja dan di bank. Kok begitu? Soalnya sulit mendapatkan orang yang merespon ketika ditawari untuk berkarya untuk orang lain, bahkan ketika itu untuk umat gereja sendiri. Orang sekarang lebih suka berdoa pribadi dan mentransfer uang ke rekening ketimbang berlelah-lelah mencari domba yang hilang atau berkontak dengan umat agama lain untuk menjalin hubungan baik dan saling pengertian. Padahal makin kita menutup diri, rasa takut dan cemas makin merajalela, frustrasi dan keraguan makin membludak.

Bacaan pertama sangat relevan dengan kondisi umat Katolik yang saat ini minoritas di negara Indonesia. Bangsa Israel saat itu pun merupakan bangsa jajahan, minoritas, budak. Akan tetapi kasih Allah tidak habis-habisnya bagi mereka. Mereka dicintai oleh bangsa penjajah, bahkan mendapat kesempatan untuk mendirikan rumah Allah. Bangunan-bangunan gereja dimana kita berkumpul sekarang adalah juga hasil cinta Allah kepada para pejuang Katolik di masa lampau. Bangunan ini tidak didirikan hanya dengan mengirimkan uang, melainkan melalui negosiasi dan diskusi yang menghasilkan kasih dari umat yang mayoritas. Di dalam era yang rawan intoleransi ini seharusnya kita belajar lagi dari sesepuh-sesepuh kita yang percaya akan kasih setia Allah untuk melindungi umatNya.

Lebih lagi dalam bacaan Injil, Yesus memberikan �tenaga� dan �kuasa� pada para muridNya untuk mewartakan tanpa modal duniawi (tongkat, bekal, roti, uang). Tenaga dan kuasa yang sama juga diberikanNya pada kita untuk mewartakan Injil di sekeliling kita yang penuh dengan masyarakat yang tidak kenal dan percaya Kristus, serta mereka yang telah hilang dari persekutuan jemaat kita.


Hari ini pula adalah hari peringatan wajib St. Vinsensius de Paul, yang spiritualitasnya mendorong terbentuknya yayasan Vincentius yang menaungi beberapa panti asuhan di Jakarta. St. Vinsensius pernah menasihati suster-suster Puteri Kasih demikian: �Bila Suster terpaksa meninggalkan doa untuk melayani orang miskin, jangan cemas, karena itu berarti meninggalkan Tuhan untuk berjumpa lagi dengan Tuhan dalam diri orang miskin�. Ungkapan terakhir ini dapat diringkas: �Meninggalkan Tuhan untuk Tuhan.� Mari kita meninggalkan Tuhan yang kita temui di ruang pribadi kita, dan bertemu dengan Tuhan di masyarakat.


-----------
Rabu, 27 September 2017
PW S. Vinsensius de Paul, Imam
Rabu pekan biasa XXV
Bacaan 1: Ezr 9:5-9

Bacaan Injil: Luk 9:1-6

Tuesday, September 12, 2017

Si Mulut Emas

St. Yohanes Krisostomus adalah salah satu bapa gereja yang dihormati karena khotbah-khotbahnya, sampai-sampai ia dijuluki si Mulut Emas. Ia sangat disukai di Antiokhia, namun dipaksa untuk menerima jabatan uskup Konstatinopel yang membuatnya berada dalam posisi berbahaya. Sebagai seorang Uskup Agung, St. Yohanes  mengasihi semua orang dan berusaha merangkul semua kalangan. Walau demikian ia tidak pernah kehilangan ketegasannya. Ia tidak pernah ragu untuk menegur mereka yang berbuat salah;  bahkan ratu sekalipun.  Sebuah tegurannya kepada Ratu  Eudoxia, istri dari Kaisar Arcadius, karena gaya hidup yang amat mewah dan sangat boros membuat ratu membencinya. Ratu lalu bekerjasama dengan orang-orang yang memusuhi sang uskup agung sehingga ia kemudian dijatuhi hukuman pengasingan dan diusir dari Konstantinopel pada tahun 403 dan sekali lagi pada tahun 407. Dalam perjalanannya menuju ke tempat pembuangan kedua, ia wafat karena sakit.

St. Yohanes Krisostomus sungguh mempraktekkan ajaran St. Paulus dalam bacaan pertama yaitu �Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi,� serta selalu memperhatikan Sabda Bahagia Yesus sendiri dalam bacaan Injil. Ini semua tampak dari caranya yang tak pernah gentar dalam menghadapi bahaya, melainkan terus berkhotbah dan  membenahi praktek-praktek tak benar.

Mari kita teladani cara hidup St. Yohanes Krisostomus yang selalu takut pada Tuhan dan tidak takut pada dunia.


--------------
Rabu, 13 September 2017
Peringatan Wajib: St. Yohanes Krisostomos
Bacaan 1: Kol. 3:1-11
MT: Mzm. 145:2-3,10-11,12-13ab
Bacaan Injil; Luk. 6:20-26

warna liturgi: Putih

Tuesday, July 25, 2017

St. Anna & St. Yoakim, Teladan Kesetiaan dan Harapan

Anna dan Yoakim adalah orangtua kandung Santa Perawan Maria. Keduanya dikenal sebagai keturunan raja Daud yang setia menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya serta dengan ikhlas mengasihi dan mengabdi Allah dan sesamanya. Oleh karena itu keduanya layak di hadapan Allah untuk turut serta dalam karya keselamatan Allah. Dalam buku-buku umat Kristen abad ke-2, nama ibu Anna sangat harum. Sejak perkawinannya dengan Yoakim, Anna tak henti-hentinya mengharapkan karunia Tuhan berupa seorang anak. Setiap tahun, Anna bersama Yoakim suaminya berziarah ke Bait Allah Yerusalem untuk berdoa. Ia berjanji, kalau Tuhan menganugerahkan anak kepadanya, maka anak itu akan dipersembahkan kembali kepada Tuhan. Pada suatu hari malaekat Tuhan mengunjungi Anna yang sudah lanjut usia itu membawa warta gembira ini: �Tuhan berkenan mendengarkan doa ibu! Ibu akan melahirkan seorang anak perempuan, yang akan membawa suka cita besar bagi seluruh dunia!� Setelah genap waktunya, lahirlah seorang anak wanita yang manis, Maria. Kelahiran Maria menyemarakkan bahkan menyucikan kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Ibu Anna dihormati sebagai pelindung kaum ibu, khususnya yang sedang hamil dan sibuk mengurus keluarganya. Orang-orang Yunani mendirikan sebuah basilika khusus di Konstantinopel pada tahun 550 untuk menghormati ibu Anna. Nama Yoakim dan Anna sungguh sesuai dengan maksud pilihan Allah. Yoakim berarti �Persiapan bagi Tuhan�, sedangkan Anna berarti �Rahmat atau Karunia�.

Apa yang dapat dipetik dari kisah hidup Santa Anna dan Santo Yoakim? Bahwa kesetiaan dan harapan mereka kepada Tuhan tidak berkesudahan. Bukan kekayaan dan jabatan yang membuat mereka dikenal sepanjang masa dan di seluruh dunia. Melainkan bahwa Allah telah menjawab kesetiaan dan harapan mereka dengan berlimpah-limpah. Kita juga percaya bahwa mereka �menularkan� kesetiaan dan harapan itu kepada putri mereka, Maria, sehingga Maria mampu menjawab dengan penuh iman: �Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.� Sungguh benar kata Yesus bin Sirakh, bahwa inilah warisan yang terbesar yang dapat diberikan kepada semua orang di dunia ini sepanjang segala masa.


Kita hidup pada era keselamatan, di mana harapan telah diberikan kepada kita secara berlimpah melalui kebangkitan Yesus. Era ini dinanti oleh nenek moyang kita dengan penuh iman dan harapan, namun mereka belum menikmatinya. Kita pun dituntut kesetiaan dan harapan sampai masa Yesus datang untuk kedua kalinya. Mampukah kita setia kepadaNya? Akankah Ia menemukan kita masih setia padaNya ketika Ia datang?

--------------------------
Bacaan Liturgi 26 Juli 2017
Rabu Pekan Biasa XVI
PW S. Yoakim dan Ana, Orangtua SP Maria
Bacaan Pertama: Sir 44:1.10-15
Bacaan Injil: Mat 13:16-17


Tuesday, June 27, 2017

St. Ireneus: Keselamatan bagi Semua Orang

Santo Ireneus hidup pada masa ajaran Gnostik merajalela. Gnostisisme mengajarkan bahwa keselamatan hanya dapat diraih dengan mempelajari ajaran-ajaran rahasia khusus; bahwa kaum Gnostik itulah orang-orang rohani yang lebih unggul daripada orang-orang Kristen biasa. St. Ireneus menjadi tokoh Gereja yang sangat penting di dalam menangkal ajaran sesat ini. St. Ireneus menulis dalam suatu karyanya: �Segera setelah seseorang terpikat oleh Gnostik, orang tersebut akan menjadi sombong dan merasa dirinya begitu penting, ia akan berjalan mengangkat dada dengan gaya seekor ayam jantan. Tetapi orang-orang Kristen seharusnya menerima anugerah Allah dengan rendah hati, dan tidak mengandalkan kegiatan-kegiatan intelektualnya yang akan membuat ia sombong.� Betapa hal ini tepat menandai peringatan Yesus: �Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu... dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.�
Allah telah menjanjikan keselamatan bagi kita, sama seperti Ia telah menjanjikan Abraham bangsa yang besar sebagai keturunannya. Di depan Abraham, Allah telah mengangkat sumpah dengan cara yang diketahu Abraham, yaitu berjalan di tengah-tengah potongan-potongan kurban. Di depan kita, Allah telah mengangkat sumpah dengan korban PutraNya sendiri bahwa keselamatan akan datang untuk kita semua.       Bagaimana ajaran keselamatan ini diteruskan? Melalui para rasulNya yang dipimpin oleh Petrus, sebagaimana ditunjuk oleh Yesus sendiri: �gembalakanlah domba-dombaKu.� Karenanya, St. Ireneus berpegang pada ajaran-ajaran yang hanya disampaikan para rasul Kristus, dan hanya inilah satu-satunya dasar keyakinan dan para uskup yang merupakan pelindung iman Kristen adalah penerus para rasul.
Demikianlah di Gereja Katolik dikenal 3 sumber ajaran, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Suci, dan ketiganya terbuka bagi seluruh umat. Mari kita terus menggali ketiga sumber ajaran keselamatan ini terus menerus, karena ini akan membawa kita makin dekat dan mengenal keselamatan yang ditawarkan kepada kita.  


-------------------
Rabu Biasa, 28 Juni 2017
Peringatan St. Ireneus, Uskup & Martir
Bacaan 1 : Kej 15:1-12, 17-18
Injil : Mat 7:15-20

Aloysius Gonzaga: Hidup yang Bersumber dari Doa dan Komuni

Hari ini kita ingin belajar dari St. Aloysius Gonzaga, yang walaupun masih muda namun menjadi teladan kita untuk berdoa dan berbuat baik. Aloysius baru berusia 12 tahun ketika ia menerima komuni pertamanya. Setelah  menerima komuni pertamanya dari Kardinal Carolus Borromeus, Aloysius  selalu rindu menerima komuni, berpuasa tiga hari seminggu, bermeditasi pagi dan sore, serta menghadiri Misa setiap hari. Komuni menjadi pusat hidupnya. Ia membagi hari-harinya dalam satu minggu menjadi dua; yang pertama, untuk mengucap syukur atas Komuni Suci yang telah diterimanya terakhir kali, dan yang kedua, untuk menyiapkan dirinya bagi penerimaan Komuni Suci mendatang.
Dalam usianya yang ke-17, ia masuk novisiat Jesuit. Ketika terjadi wabah dan kelaparan, Aloysius mengumpulkan dana dengan mengemis, merawat orang-orang sakit, mengangkut orang-orang yang hampir mati di jalan raya, membawanya ke rumah sakit, memandikan mereka dan memberi mereka makan serta mempersiapkan mereka untuk penerimaan sakramen-sakramen. Tertular oleh penyakit menular itu, kesehatan Aloysius memudar, dan akhirnya ia meninggal pada tanggal 21 Juni setelah menerima Sakramen Bekal Suci pada usia ke-23.

Bagi Aloysius, doa menjadi sangat penting bagi semua pengetahuan. Aloysius mempunyai empat devosi khusus: (1) devosi kepada Sakramen Maha Kudus, (2) devosi yang ditujukan untuk Sengsara Kristus, (3) devosi kepada Bunda Maria, dan (4) devosi kepada para malaikat. Dari santo muda ini kita belajar tentang doa dan puasa yang berbuah, sebagaimana yang telah diajarkan pada bacaan hari ini. Aloysius tidak berdoa dan melakukan semua itu untuk dilihat orang, melainkan karena ia telah menerima Tubuh Kristus. Ia sungguh percaya bahwa kata-kata penginjil Matius: �...kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.�


---------------------
Rabu Biasa, 21 Juni 2017
Peringatan St. Aloysius Gonzaga
Bacaan 1 : 2 Kor 9:6-11
Injil : Mat 6:1-6, 16-18

Thursday, May 25, 2017

Mariana de Paredes dari Quito dan Paulus di Korintus

Mariana de Paredes dari Quito adalah putri  seorang bangsawan Ekuador. Sejak kecil ia ditinggal mati orangtuanya dan hidup bersama saudaranya. Yang menarik dari Mariana adalah minatnya yang besar pada hal-hal rohani dan hidup bakti pada Tuhan dan karena itu ia juga mendapat kesempata n untuk menerima komuni suci pada usia dini.   Niatnya mulia, yaitu ingin membentuk perkumpulan untuk mempertobatkan bangsa Jepang yag masih belum menjadi Katolik, walaupun sayangnya gagal. 

Namun baginya kegagalan adalah hanya masalah perbedaan rencananya dengan rencana Allah.
Semangat kemiskinan,  mati raga dan hidup dlm doa kemudian dijalaninya. Hari-hari dan waktu hidupnya hanya dipakai untuk Kristus. Demi mengalami itu semua ia seringkali merantai dirinya tanpa makan, hanya tidur sehari  dalam 3 jam saja. Dan ia sering juga mendapat hinaan atas apa yang dibuatnya itu.  Rupanya itu sebab Allah melimpahkan padanya karunia meramal dan melakukan mujizat.

Pada suatu saat, gempa dahsyat serta wabah menular melanda daerah Quito. Mariana memberikan  dirinya bagi Tuhan demi keselamatan  Quito.  Rupanya doanya diterima dan Maria jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia dalam usia 25 tahun. Karena kesalehan  hidupnya ia diberi gelar Bunga lili dari Quito dan mendapat gelar kudus pada tahun 1950.

Apa yg dilakukan Mariana berbeda dgn apa yg dilakukan Paulus di Korintus (Kis 25:13-21). Paulus sering mendapat ancaman dan intimidasi. Firman Tuhan yang sampai pada Paulus dalam penglihatannya merupakan sumber kekuatan dalam menjalankan hari-harinya.

Paulus dan Mariana memiliki pendekatan dengan Allah yang berbeda. Paulus lebih banyak melakukan semua perjuangannya dengan menunggu Kristus berbicara padanya. Sementara Mariana berinisiatif langsung dgn tindak lakunya. Namun walau berbeda mereka memiliki kesamaan yaitu sama-sama dipilih Tuhan  untuk menyatakan Kebenaran tentang Kristus.

Dalam hidup, kita sebagai orang Kristen juga sama-sama dipanggil Tuhan, namun cara-caranya berbeda.. ada yang langsung digerakkan oleh Tuhan , ada yg berkehendak bebas berinisiatif melakukannya. Mengapa demikian?  Ya, karena pada dasarnya kita semua dipilih Allah. Panggilan itu melekat kuat dalam diri kita sejak kita lahir. Tinggal kita mau atau tidak untuk menjalankannya. 
Sama spt Paulus mungkin  dalam melaksanakan karya panggilan tersebut, kita mengalami berbagai tekanan dan intimidasi, baik yang jelas maupun tersamar. Hal itu sering mengecilkan dan menyurutkan hati dan akhirnya lebih baik memilih diam menyembunyikan jati diri dan kekristenan kita. Seperti Paulus dan Mariana marilah kita yakin pada Allah yang menjaga dan melindungi kita. Jerih payah Paulus menjadi contoh bahwa apa yg ia lakukan bukan kesia-siaan karena terbukti akhirnya daerah Korintus menjadi salah satu gereja yang kuat. Demikian juga Mariana, pengorbanannya memberikan pemulihan kota Quito. Allah menjaga dan membuahkan apa yang kita sampaikan dan lakukan. Tak akan ada yg sia-sia sampai nanti waktunya tiba.

 --------------
Jumat, 26 Mei 2017
Jumat Pekan Paskah VI
Peringatan Wajib S. Filipus Neri, Imam
Bacaan 1: Kis 18:9-18
Bacaan Injil: Yoh 16:20-23a

Tuesday, May 2, 2017

Membangkitkan Iman


Mari kita merenungkan kata Percaya. Bagaimana menjadi percaya. Dalam bacaan pertama Rasul Paulus mengetengahkan bahwa kita percaya karena 4 hal:
(1) karena hal tersebut (kedatangan, wafat dan kebangkitan) sudah dituliskan dalam Kitab Suci berabad-abad sebelumya
(2) karena melihat (Yesus yang menampakkan diri) kepada pemimpin murid (Kefas)
(3) karena melihat (Yesus yang menampakkan diri) kepada teman-teman sendiri, yaitu para murid
(4) karena telah ada sejumlah besar saksi yang melihat Yesus yang bangkit.

Sementara itu Yesus juga berbicara mengenai hal percaya. Dalam bacaan Injil Ia menekankan percaya bahwa Bapa di dalamNya dan Dia di dalam Bapa dengan 2 cara:
(1) setelah hidup bersama-sama dengan Yesus
(2) karena pekerjaan-pekerjaan yang dilakukanNya.

Dari sini kita dapat menimba pemahaman bahwa ketika kita ingin mewartakan Yesus yang kita imani dan berada di dalam kita, maka ada beberapa cara yang dapat kita lakukan:
(1) menerangkan Kitab Suci
(2) berharap bahwa Yesus menampakkan diri sendiri kepada orang tersebut atau orang yang dipercayai olehnya atau kepada teman-temannya
(3) berharap bahwa Yesus menampakkan diri pada sejumlah besar orang, seperti foto-foto yang sering menampakkan awan bergambar Yesus
(4) hidup bersama�sama orang itu dan melakukan pekerjaan yang mencerminkan Yesus yang hidup dalam kita.

Mari kita mewartakan rasa percaya kita pada Yesus pada semua orang yang kita temui.


----------------------
Rabu, 3 Mei 2017
Pesta S. Filipus dan Yakobus, Rasul
Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-8
MT: Mzm 19:2-3.4-5
Bacaan Injil: Yoh 14:6-14

Thursday, April 20, 2017

Iman Mencari Pengertian

Iman Mencari Pengertian (Fides Quaerens Intellectum). Ini adalah karya St. Anselmus yang hari ini kita rayakan. Ia juga berpegang pada moto St. Augustinus: �Saya percaya agar dapat mengerti.� Tema ini sangatlah cocok dengan bacaan pada hari ini ketika orang-orang Saduki yang tidak percaya pada kebangkitan, marah kepada para rasul yang mengajarkan bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Ketidakpercayaan orang Saduki membuat mereka tidak mampu memahami kebangkitan Yesus, padahal mereka pasti telah mendengar kubur kosong dan kesaksian orang-orang yang telah melihat Yesus dalam tubuh kemuliaanNya. 

Bandingkan hal ini dengan para rasul di pantai danau Tiberias. Mereka tadinya pun ragu bahwa Yesus sudah bangkit. Namun ketika Yesus membuat mereka berhasil menangkap ikan banyak, mereka langsung tahu bahwa �itu Tuhan.� Mereka percaya walaupun belum mengerti bagaimana Yesus bangkit. Para Rasul yang percaya itu baru �mengerti� jauh setelah Yesus naik ke surga, dan akhirnya mereka mampu bersaksi di depan sidang sebagaimana dikisahkan di Kisah Para Rasul. 

Proses yang sama terjadi pada kita sampai sekarang ini. Banyak orang berusaha mengerti keAllahan dan kebangkitan Yesus. Mereka meneliti kain kafan dari Turin. Mereka meneliti kubur kosong. Mereka meneliti berbagai kemungkinan yang ada. Bisa jadi kita merupakan dua org  yg sedang meneliti  keberadaan Yesus . Pribadi  yang pertama percaya Yesus dan yang kedua tidak. Keduanya melakukan  penelitian yang sama. Yg terjadi yang pertama makin kuat imannya, sementara yg kedua berusaha mencari penjelasan lain yang masuk di akal dan tdk pernah membiarkan imannya bekerja. 
Pengetahuan tidak mampu memberikan pengertian. Hanya iman yang memberikan pengertian.

Karena itu dalam mencari Dia, selalu jadikanlah Dia sebagai batu penjuru supaya apa yg tak terbatas dan sulit dipahami akal manusia yang terbatas,  menjadi  iman yang sederhana dan mudah dipahami  yaitu dengan percaya penuh.
-----------------------------------
Jumat, 21 April 2017
Pw. St. Anselmus
Bacaan 1: Kis 4:1-12
Injil: Yoh 21: 1- 14

Monday, September 27, 2010

Meneladan FX menjadi Pewarta Injil


Fransiskus Xaverius, yang harinya kita peringati pada 3 Desember, dikaruniai otak yang cerdas. Ia masuk ke Universitas Paris dan dalam usia ke-28 sudah menjadi profesor. Dengan ortu yang kaya, sebenarnya FX bisa menjadi tokoh terkemuka di Paris. Tapi kata FX: "Apa gunanya manusia mendapatkan seluruh dunia, jika kehilangan jiwanya?" Pertanyaan ini mengusi hati FX dan pada suatu saat ia menyerah dan bergabung di Serikat Jesus.

Tahun 1541, FX bersama dua rekan Portugis diutus ke Goa, India. Di tempat baru ini ia segera memulai karya misi dan bergerak menyusuri India Selatan dan Sri Langka. Puluhan ribu orang bertobat. Tahun 1545, FX pergi ke Malaka untuk mencari kapal yang dapat membawanya ke Makasar. Dia mendengar bahwa daerah Makasar mau ditobatkan asal seorang imam diutus ke sana. Tapi di Malaka selama 3 bulan, FX berhasil mempertobatkan banyak orang dan memelihara ahklak penduduk di sana.

Hari pertama di tahun 1546 ketika akhirnya FX mendapat kapal ke Ambon, ia mencatat: "para pelaut meminta seluruh waktuku dari pagi sampai malam, terus menerus mendengarkan pengakuan dosa, mengunjungi orang sakit, memberik sakramen dan penghiburan rohani, dan sering pula berkhotbah... Saya menulis lapran ini supaya kamu tahu, betapa kamu dibutuhkan disini. Memang saya sadar bahwa kamu diperlukan di India juga, tapi pulau-pulau ini sangat membutuhkan pertolongan yang lebih besar lagi... "

FX mempermandikan kira-kira 1000 orang Ambon dan mempersiapkan kedatangan imam-imam baru, lalu ia menuju Ternate. Di Ternate ia mengajarkan lagu Aku Percaya, Bapa Kami,Salam Maria, Kesepuluh Perintah Allah, dll. Dan ia disukai baik oleh orang Portugis yang sedang berada di tempat itu, maupun orang-orang pribumi.

Setelah FX mengatur pengganti-penggantinya, ia kembali ke Malaka lalu menuju Jepang. Ia bekerja dua tahun di Jepang dengan hasil yang menggembirakan. Kemudian ia mengalihkan perhatian ke Tiongkok di mana ia akhirnya meninggal karena sakit sebelum sempat mewartakan injil di negara itu. Ia baru berusia 46 tahun. Jenazahnya diantarkan ke Goa dan dimakamkan di sana sampai sekarang.

FX dinyatakan sebagai pelindung Gereja di tanah misi. Lambangnya adalah seorang imam yang berkhotbah berapi-api dengan membawa salib.

FX adalah seorang pewarta Injil yang sungguh-sungguh mengamalkan perintah Tuhan Yesus: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk - Mrk 16:16

Sudahkah kita menjadi pewarta Injil, meneladan FX? Tidak perlu sampai India, cukup kepada teman-teman kita saja. Beranikah kita membuka mulut dan mengucapkan Yesus mengasihiku dan mengasihimu.

Recent Post