Latest News

Showing posts with label Ibrani. Show all posts
Showing posts with label Ibrani. Show all posts

Thursday, February 2, 2017

Iman yang Lahir dari Penderitaan akan Makin Memahami Allah


Surat kepada orang Ibrani ini ditulis pada masa-masa penganiayaan terhadap pengikut-pengikut Yesus. Surat ini dibuat untuk menjadi semacam panduan supaya tetap tegar dalam masa-masa penganiayaan. Walaupun siksaan berat secara fisik lebih terlihat, namun sesungguhnya bagi mereka siksaan rohani lebih terasa.

Pertanyaan mereka dan mungkin pertanyaan kita sekarang ini adalah apakah Allah membiarkan kita dianiaya? Atau apakah dalam penganiayaan itu Allah tetap setia memelihara kita Para pengikut Kristus ingin suatu kepastian, apakah kehadiran Tuhan tetap ada? Bagaimana bisa?

Ketika Allah memberi iman pada seseorang, maka Ia tidak hanya memberikan iman yang seadanya, melainkan iman yang punya kualitas yang mampu membawa seseorang semakin percaya kepadaNya. Iman yang hidup, yang membuat kita makin tidak mau dikalahkan oleh kondisi kelemahan kita. Iman Kristiani adalah iman yang selalu bergumul untuk memahami cara kerja Tuhan. Seperti kata Rasul Paulus: �Justru dalam kelemahanku, kuasaMu menjadi nyata.� Hal ini bukan berarti lantas kita tidak pernah mengeluh atau kecewa, dan bukan berarti tidak pernah merasa putus asa. Tapi iman dan pengalaman akan penderitaan membuat kita semakin tahu alasan untuk kita tidak berputus asa.

Jangan kita menuntut Allah untuk mengerti kita, karena Allah kita maha mengerti. Tapi kita yang harus mengerti Allah. Pergumulan sejati membuat manusia semakin mengerti Allah dan semakin menghormati Allah.

Ada suatu upacara pendewasaan di Afrika bagi seorang anak lelaki yang akil balik. Ia harus menjalankan ritual di mana tangannya 10 kali dimasukkan ke dalam sarung tangan penuh berisi semut-semut berbisa selama beberapa menit. Gigitannya tidak mematikan, tapi sakitnya luar biasa dan membuat otot tangan lumpuh beberapa hari. Selama belum mencapai target, ia belum bisa dikatakan dewasa. Walaupun seluruh proses tersebut sangat berat dan menakutkan, tapi ia tetap menjalaninya, patuh dan sekuat tenaga melewati ketakutan dan kesakitan. Kenapa?  Karena ia tahu tujuannya, yaitu untuk menjadi orang yang diterima kedewasaannya, pendapatnya dan kehormatannya sehingga hidup selanjutnya akan menjadi mulus jalannya. Apakah ia ditinggalkan oleh keluarganya? Tidak, karena selama pendewasaan itu ia disemangati, dibantu dalam masa-masa sulitnya, dirawat ketika badannya meriang dan kaku agar ia jangan sakit dan mati.

Begitulah kita, karena kita juga tahu tujuan dan alasan Tuhan dalam mendewasakan iman kita. Begitulah Tuhan kita yang setia merawat dan menjaga kita agar jangan sampai jatuh dalam kematian abadi. Pengalaman iman akan penderitaan, cobaan dan dalam kelemahan membuat kita dewasa dalam iman sebagai jalan mulus menuju padaNya. Maka milikilah kualitas iman yang kuat seperti Yohanes Pembaptis yang tegar sekalipun nyawa taruhannya.

Surat kepada orang Ibrani ini ditulis pada masa-masa penganiayaan terhadap pengikut-pengikut Yesus. Surat ini dibuat untuk menjadi semacam panduan supaya tetap tegar dalam masa-masa penganiayaan. Walaupun siksaan berat secara fisik lebih terlihat, namun sesungguhnya bagi mereka siksaan rohani lebih terasa.

Pertanyaan mereka dan mungkin pertanyaan kita sekarang ini adalah apakah Allah membiarkan kita dianiaya? Atau apakah dalam penganiayaan itu Allah tetap setia memelihara kita Para pengikut Kristus ingin suatu kepastian, apakah kehadiran Tuhan tetap ada? Bagaimana bisa?

Ketika Allah memberi iman pada seseorang, maka Ia tidak hanya memberikan iman yang seadanya, melainkan iman yang punya kualitas yang mampu membawa seseorang semakin percaya kepadaNya. Iman yang hidup, yang membuat kita makin tidak mau dikalahkan oleh kondisi kelemahan kita. Iman Kristiani adalah iman yang selalu bergumul untuk memahami cara kerja Tuhan. Seperti kata Rasul Paulus: �Justru dalam kelemahanku, kuasaMu menjadi nyata.� Hal ini bukan berarti lantas kita tidak pernah mengeluh atau kecewa, dan bukan berarti tidak pernah merasa putus asa. Tapi iman dan pengalaman akan penderitaan membuat kita semakin tahu alasan untuk kita tidak berputus asa.

Jangan kita menuntut Allah untuk mengerti kita, karena Allah kita maha mengerti. Tapi kita yang harus mengerti Allah. Pergumulan sejati membuat manusia semakin mengerti Allah dan semakin menghormati Allah.

Ada suatu upacara pendewasaan di Afrika bagi seorang anak lelaki yang akil balik. Ia harus menjalankan ritual di mana tangannya 10 kali dimasukkan ke dalam sarung tangan penuh berisi semut-semut berbisa selama beberapa menit. Gigitannya tidak mematikan, tapi sakitnya luar biasa dan membuat otot tangan lumpuh beberapa hari. Selama belum mencapai target, ia belum bisa dikatakan dewasa. Walaupun seluruh proses tersebut sangat berat dan menakutkan, tapi ia tetap menjalaninya, patuh dan sekuat tenaga melewati ketakutan dan kesakitan. Kenapa?  Karena ia tahu tujuannya, yaitu untuk menjadi orang yang diterima kedewasaannya, pendapatnya dan kehormatannya sehingga hidup selanjutnya akan menjadi mulus jalannya. Apakah ia ditinggalkan oleh keluarganya? Tidak, karena selama pendewasaan itu ia disemangati, dibantu dalam masa-masa sulitnya, dirawat ketika badannya meriang dan kaku agar ia jangan sakit dan mati.

Begitulah kita, karena kita juga tahu tujuan dan alasan Tuhan dalam mendewasakan iman kita. Begitulah Tuhan kita yang setia merawat dan menjaga kita agar jangan sampai jatuh dalam kematian abadi. Pengalaman iman akan penderitaan, cobaan dan dalam kelemahan membuat kita dewasa dalam iman sebagai jalan mulus menuju padaNya. Maka milikilah kualitas iman yang kuat seperti Yohanes Pembaptis yang tegar sekalipun nyawa taruhannya.

-----------------------------------
Jumat, 3 Februari 2017
Hari Biasa
Bacaan 1: Ibrani 13:1-8
Injil: Markus 6:14 � 29


Tuesday, January 31, 2017

Mantapkan Hati Sampai Tujuan Akhir

Maharani Wu, kaisar wanita satu-satunya di China, lahir dari keluarga jelata. Ia mendapat perhatian dari seorang pejabat istana yang memasukkannya ke harem di mana ia kemudian terpilih menjadi istri kaisar. Suaminya meninggal dalam usia yang cukup muda, sementara putranya belum cukup umur untuk memimpin. Oleh karena itu ia, yang sudah bekerja keras selama suaminya masih hidup, terpilih menjadi kaisar sementara menunggu putranya cukup umur.

Maharani Wu tidak seperti wanita-wanita lain di harem istana. Setiap hari ia membekali diri dengan kegiatan olahraga di bawah terik matahari, dan belajar di malam hari. Karenanya ketika ia mulai menempati posisinya sebagai maharani (istri utama kaisar), ia tidak mengalami kesulitan. Berkat disiplin diri yang kuat, dan tekadnya yang teguh untuk melampaui berbagai rintangan, ia berhasil mencapai posisi tertinggi di negara itu. Tapi di dalam keluarganya sendiri, kerja kerasnya  diremehkan. Ibu dan saudarinya berusaha mengambil kesempatan dari posisinya, keponakannya ingin merebut posisinya, sementara sepupunya berusaha meracuni dia. Semua itu tak membuatnya patah hati, melainkan makin tegar dan mantap, baik sebagai manusia maupun sebagai penguasa.

Apakah kita sudah mengalami kemantapan hati seperti Maharani Wu untuk mencapai posisi di Kerajaan Allah? Apakah kita bangkit dari teguran Allah dan menjadi orang yang lebih baik? Apakah kita disiplin pada diri kita sendiri? Dan apakah kita mampu untuk tegar, walaupun orang-orang rumah mencela kita? Semuanya itu diberikan Allah agar kita memurnikan diri, sehingga layak mendapat tempat di Kerajaan abadi itu.
---------------------------
Rabu, 1 Februari 2017
Hari Biasa (H)
Bacaan 1: Ibr 12:4 � 7, 11 � 15
MT: Mzm 103: 1-2, 13-14, 17-18a
Bacaan Injil: Mrk 6: 1 � 6


Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak." Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.  (Ibr 12:4-7,11-15)

Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah namaNya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya! Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu. Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilanNya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjianNya dan yang ingat untuk melakukan titahNya.  (Mzm 103:1-2,13-14,17-18)

Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asalNya, sedang murid-muridNya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperolehNya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepadaNya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tanganNya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudaraNya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya." Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tanganNya atas mereka. a) Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.  b) Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.  (Mrk 6:1-6)

Thursday, January 26, 2017

Mulai Dari Yang Kecil

Kerajaan Kristus di dunia dimulai dari yang kecil, mulai dari rasul yang berjumlah 12, lalu kian dari kian bertambah dari sekecil biji sesawi lama-lama bertambah besar dan menjadi pohon rindang. Dari gereja kecil lalu tumbuh dan berkembang dan akhirnya banyak jiwa-jiwa berlindung di dalamnya.

Gereja adalah mujizat karya Allah. Apabila kita sekedar mengandalkan kemanusiaan kita, maka gereja tidak akan bertahan lama. Allahlah yang menjamin kita untuk bertahan dan semakin berkembang. Cara Allah seringkali merupakan suatu kejutan. Tetapi iman, harapan, kasih dan penyerahan diri sepenuhnya pada Allah membuat kita semakin kokoh dan kuat.

Yesus mengambil perumpamaan  petani yang kaya menebar benih menanti hasil. Itulah gambaran Kerajaan Allah. Setiap saat kita ditugaskan menabur benih. Masing-masing kita mempunyai tugas mewartakan kasih dan Kerajaan Allah. Nanti Allah sendiri yang akan merahmatinya sehingga benih kasih yang kita taburkan membuahkan tuaian yang banyak.  Jadi jangan takut, karena kita semua ada dalam rahmatNya.
---------------
Jumat, 27 Januari 2017
Bacaan 1: Ibr 10: 32 - 39
Bacaan Injil: Mrk 4: 26-34

Tuesday, January 17, 2017

Menjadi Umat Hukum Allah yang Bebas

Hukum tentang Hari Sabat adalah salah satu hukum yang diberikan Allah kepada Bangsa Israel melalui Musa di Gunung Tabor. Inti awal dari hukum ini adalah manusia mempersembahkan 1 hari itu khusus bagi Allah. Hari itu juga dapat digunakan manusia untuk merenungkan kembali keenam hari yang telah berlalu, agar manusia mendapat kesegaran baru untuk melangkah maju dalam berbagai tantangan hidup.



Tapi ahli-ahli dan imam-imam telah membuat berbagai tafsir terhadap aturan ini sehingga menjadi sangat mengekang: �tidak boleh berjalan lebih dari  mil!�; �tidak boleh mematikan atau menyalakan api!�; �tidak boleh menenun 2 ikat ataupun membuka tenunan 2 ikat�; �tidak boleh mengikat atau membuka ikatan� dan berbagai aturan lainnya. Dan ancaman dari kelalaian ini adalah maut. Karenanya hari Sabat tidak lagi menjadi hari yang beristirahat dan syukur, melainkan hari yang menakutkan dan harus waspada. Karena itu Yesus mendobrak aturan-aturan manusia ini dengan kuasanya sebagai imam menurut peraturan Melkisedek, yaitu kebenaran dan damai sejahtera.


Lalu bagaimana kita menanggapi dobrakan Yesus ini? Hari Minggu seharusnya menjadi hari yang membebaskan. Tapi seringkali kita mengikat diri sendiri: �harus ke Gereja�; �harus jalan bersama keluarga�; �harus menghabiskan waktu sama teman yang melelahkan.� Bagaimana kalau kita dobrak pandangan kita menjadi: �Aku mau ke Gereja�; �Aku mau membahagiakan keluargaku�; �Aku mau memperhatikan temanku�. Maka, Yesus akan menjadi raja yang mendamaikan hidup kita.

--------------------
Rabu, 18 Januari 2017
Hari Biasa (H)
Bacaan 1: Ibr 7:1-3, 15-17
MT:Mzm 110:1,2,3,4
Bacaan Injil: Mrk 3:1- 6

Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya. Dan hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain menurut cara Melkisedek, yang menjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa. Sebab tentang Dia diberi kesaksian: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."  (Ibr 7:1-3,15-17)

Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun. TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek."  (Mzm 110:1-4)

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Kemudian kataNya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekelilingNya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.  (Mrk 3:1-6) 

Thursday, January 12, 2017

Merespon dengan Iman

Pernahkah mengalami suatu kejadian yang disaksikan oleh 2 orang namun respon keduanya berbeda? Suatu saat aku dan temanku melihat seorang ibu tua yang sedang berdiri di tepi jalan yang ramai dan melihat ke seberang. Kami menduga ibu itu ingin menyeberang namun takut tertabrak karena banyaknya kendaraan yang berseliweran. Sebagai anak muda yang hendak membantu, kami menghampiri ibu itu dan menawarkan bantuan menyeberangkan. Ibu itu menolak, lalu berusaha menghindari kami. Kami pikir ia malu, dan kami menawarkan lagi jasa kami dan ditolak lagi. Ketika kami masih berusaha meyakinkan si ibu agar mau menyeberang dengan kami, ibu itu membentak: �Saya masih bisa nyebrang sendiri!� Dengan kaget kami meninggalkan ibu itu sendiri.

Setelah jauh dari ibu itu, saya tertawa dan bilang pada teman saya bahwa seharusnya kita bertanya dulu pada si ibu apakah ia mau disebrangkan atau tidak. Saya menganggap kejadian itu lucu sekali. Tak diduga, wajah teman saya merah padam dan dengan marahnya ia mengutuk si ibu agar tertabrak ketika menyebrang. Ternyata teman saya merasa ibu itu sangat sombong dan menyinggung perasaannya.

Inilah yang dihadapi oleh setiap kejadian. Respon yang berbeda karena dilihat dengan sudut pandang berbeda dan pengalaman yang berbeda. Perbedaan respon itu bisa sangat besar dan tak disangka-sangka. Ini pulalah yang dihadapi Yesus ketika Ia mengampuni dosa dan menyembuhkan si lumpuh. Ada 2 macam orang yang sama-sama melihat kejadian tersebut namun punya respon yang berbeda. Yang pertama adalah yang langsung mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan. Yang kedua adalah mereka yang melihat tapi menyangkal ketuhanan Yesus dengan alasan penghujatan, karya setan, dan sebagainya. Jenis yang manakah kita?


----------------
Jumat, 13 Januari 2017
Ibr 4:1-5, 11
Mzm 78:3,4bc,6c-7,8
Mrk 2:1-12

Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentianNya masih berlaku. Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya. Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan: "Sehingga Aku bersumpah dalam murkaKu: Mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu," sekalipun pekerjaanNya sudah selesai sejak dunia dijadikan. Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: "Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaanNya." Dan dalam nas itu kita baca: "Mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu." Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.  (Ibr 4:1-5,11)

Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatanNya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukanNya. supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintahNya; dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.  (Mzm 78:3-4,6-8)

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepadaNya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepadaNya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atasNya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anakKu, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hatiNya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" � berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu �: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."  (Mrk 2:1-12)

Wednesday, January 11, 2017

Perjanjian yang Lebih Sempurna

Pertama kali saya membaca bacaan di surat kepada orang Ibrani ini, saya bingung. Paulus menyatakan bahwa Allah membuat perjanjian baru dimana perjanjian yang sebelumnya akan usang. Padahal perjanjian pertama itu pun dibuat oleh Allah dengan tanda darah (lihat di Kitab Kejadian) dan harusnya berlangsung untuk selama-lamanya. Lalu mengapa perlu ada perjanjian kedua yang lebih sempurna? Sebagai orang ekonomi, saya ingin menganalogikan hal ini dengan perjanjian utang piutang yang kini banyak berkembang di dunia ekonomi.



Perusahaan A membutuhkan uang dan ia meminjam kepada Investor B. Dalam perjalanannya, Perusahaan A kesulitan membayar utang dan bunganya karena bisnisnya tidak berjalan dengan baik. Dalam situasi ini, Investor B sebenarnya boleh menuntut Investor A secara hukum, dan dapat membangkrutkan Investor A. Tapi Investor B melihat penundaan pembayaran ini bukan dikarenakan kurangnya itikad baik Perusahaan A, melainkan karena ketidakmampuannya. Oleh karena itu Investor B memilih untuk membantu Investor A. Caranya adalah dengan memperbarui perjanjian, dimana Investor B memasukkan orangnya yang kompeten ke dalam Perusahaan A untuk membantu bisnisnya. Pada akhirnya Investor B menyelamatkan investasinya sekaligus menghindarkan pemilik dan karyawan Perusahaan A dari kebangkrutan.

Hal ini pun dilakukan oleh Allah. Ia melihat ketidaksetiaan bangsa Israel dan Ia tidak menghukum mereka dengan adil, yang berarti maut bagi mereka. Allah memasukkan Yesus ke dalam dunia dan hukumNya ke dalam hati kita agar kita menjadi �kompeten� untuk setia kepada Allah. Hal ini ditegaskan lagi dalam Bacaan Injil ketika Yesus memanggil mereka yang dikehendakiNya, dan keduabelas itu datang kepadaNya. Demikianlah kita juga, yang telah memiliki hukum Allah dalam hati kita, akan datang ketika Ia memanggil kita.



----------------
Jumat, 20 Januari 2017
Bacaan 1: Ibr 8:6-13
MT: Mzm 85:8,10-11, 13-4
Bacaan Injil: Mrk 3:13-19

Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi. Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua. Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: "Sesungguhnya, akan datang waktunya," demikianlah firman Tuhan, "Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjianKu, dan Aku menolak mereka," demikian firman Tuhan. "Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu," demikianlah firman Tuhan. "Aku akan menaruh hukumKu dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku. Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka." Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya. (Ibr 8:6-13)

Perlihatkanlah kepada kami kasih setiaMu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari padaMu! Sesungguhnya keselamatan dari padaNya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapanNya, dan akan membuat jejak kakiNya menjadi jalan. (Mzm 85:8,10-11,13-14)

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendakiNya dan merekapun datang kepadaNya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutusNya memberitakan Injil dan diberiNya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkanNya itu ialah: Simon, yang diberiNya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberiNya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.  (Mrk 3:13-19)

Tuesday, January 10, 2017

Tuhan yang Mau Berbelarasa

Konon ada seorang gadis bersedih karena ditinggalkan oleh pemuda yang dicintainya. Selama bertahun-tahun ia mencari pemuda itu yang kabarnya sedang belajar untuk menjadi pemain pedang besar. Pemuda itu pun mencintainya, namun tekadnya bulat untuk mengutamakan cita-citanya untuk menjadi yang terbaik. Suatu ketika seorang pendeta bijaksana datang padanya dan menasihatinya agar melupakan saja pemuda itu. Si gadis berpikir: �tak ada bedanya ini (nasihat tersebut) dengan udara kosong, karena si pendeta tidak pernah jatuh cinta. Tak mungkin bagi orangyang tidak pernah jatuh cinta memahami apa yang dirasakannya.� � Musashi karya Eiji Yoshikawa.

 lagitampakn hilang dan kita tanfat asli yang tak akan hilang, benih Ilahi pun takkan hilang dan kita tana lalu anak-anak, yang
Sering kali orang yang sedang berada di lembah kesengsaraan dan dukacita tidak mau menerima nasihat dari orang yang tidak pernah mengalaminya. Bahkan bagi mereka adalah satu penghinaan bila orang yang tak pernah mengalaminya berusaha memahami apa yang sedang dirasakannya. Untuk itulah Yesus datang sebagai manusia. Ia ingin mengalami kesakitan agar orang percaya ketika ia menyembuhkan. Ia berhasil mengalahkan kesempatan untuk sombong ketika semua orang mencarinya, agar murid-muridNya belajar rendah hati. Ia mementingkan mewartakan Injil di atas segala hal kepada semua orang, supaya kita pun mengikuti teladan itu.


Yesus tahu bahkan sebelum Ia dilahirkan, bahwa Ia akan sengsara. Tapi karena Ia mengasihani kita semua yang tidak punya teladan dan ketakutan seperti domba tak punya gembala, maka Ia mau turun ke dunia, agar kita semua percaya padaNya dan mengikutiNya.  

-----------------------------
Rabu, 11 Januari 2017
Hari Biasa  (H)
Bacaan 1: Ibr 2:14-18
MT: Mzm 105:1-2,3-4,6-7,8-9
Bacaan Injil: Mrk 1:29-39

Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. (Ibr 2:14-18)

Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah namaNya, perkenalkanlah perbuatanNya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagiNya, bermazmurlah bagiNya, percakapkanlah segala perbuatanNya yang ajaib! Bermegahlah di dalam namaNya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu! hai anak cucu Abraham, hambaNya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihanNya! Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukumanNya. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjianNya, firman yang diperintahkanNya kepada seribu angkatan, yang diikatNya dengan Abraham, dan akan sumpahNya kepada Ishak;  (Mzm 105:1-4,6-9)

Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." JawabNya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Recent Post