Latest News

Showing posts with label Lukas. Show all posts
Showing posts with label Lukas. Show all posts

Tuesday, April 3, 2018

Hati Penuh Syukur

Henri Nouwen dalam bukunya Hati Penuh Syukur merenungkan kisah perjalanan ke Emaus yang hari ini kita dengar lewat Bacaan Injil. Ia membaginya menjadi 5 bagian yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari manusia. Pertama-tama kita datang dengan rasa kehilangan, sama seperti kedua murid yang kehilangan guru, harapan dan tujuan hidup mereka. Kita pun sering merasa kehilangan waktu, teman, keluarga, kebebasan, atau apa saja. Dengan hati hancur diremukkan oleh kehilangan, kita datang ke hadapan Allah.

Lalu kita bertemu seorang asing yang membuat hati kita mulai berkobar-kobar. Yesus menampakkan diri di hadapan kedua murid, dan mulailah mereka menceritakan rasa itu. Demikianlah kita mengungkapkan diri kita dan hati kita yang hancur kepada Allah melalui Tuhan Kasihanilah Kami. Sebagaimana Yesus harus diundang ke dalam rumah kedua murid agar mereka nantinya dapat �melihat� siapa Yesus, demikian pula kita mengungkapkan undangan kita didalam Aku Percaya. Bila orang asing yang luar biasa tak kita undang ke dalam rumah kita, maka ia tetap menjadi orang asing. Tapi begitu kita makan bersama, maka jadilah ia �seorang dari kita�, atau sering dikatakan orang Palembang �wong kito galo.�

Ketika kita makan bersama, mulailah diri �orang asing� itu nampak menjadi Yesus. Kita pun akan mengetahui secara jelas bahwa �itu Tuhan� pada saat hosti diangkat. Dan ketika kedua orang murid itu menyambut roti dari Yesus, Yesus hilang dari pandangan mereka. Yesus di dalam Ekaristi secara ajaib menghilang dari pandangan kita sekaligus menyatu di dalam kita, dan menjadikan kita seperti dia. Sejak itu, maka kita pun diutus menjadi Dia di dalam kehidupan sehari-hari seperti Petrus dan Yohanes yang bersaksi tentang Yesus. Sebagaimana Yesus berkuasa dalam DiriNya sendiri, kita pun menjadi berkuasa karena Yesus ada di dalam diri kita. Maka bila kita percaya sungguh, maka seperti Petrus dan Yohanes, kuasa-kuasa termasuk kuasa penyembuhan dapat terjadi. Mari kita bersukacita dan memuji Allah karena kuasaNya yang begitu besar yang dipercayakanNya pada kita.

-------------------
Bacaan Liturgi, 4 April 2018
PF S. Isidorus, Uskup dan Pujangga Gereja
Hari Rabu dalam Oktaf Paskah
Bacaan 1: Kis 3:1-10

Injil: Luk 24:13-35

Tuesday, February 20, 2018

Tanda Apa yang Kamu Minta?

Seorang pemburu yang tidak terlalu berani, sedang mencari jejak seekor singa. Dia lalu bertemu dengan seorang penebang kayu di dalam hutan dan dia pun bertanya kepada penebang itu jika saja ia melihat adanya tanda-tanda jejak sang Singa atau tahu di mana singa tersebut bersarang. "Saya tahu," kata penebang kayu itu, "sekaligus saya bisa menunjukkan dan memperlihatkan kamu dimana Singa itu berada sekarang." Sang Pemburu berubah menjadi sangat pucat hingga giginya berbunyi karena gemetaran akibat rasa takut. Ia pun menjawab, "Tidak, terima kasih, saya tidak meminta semua itu, saya hanya mencari jejak kakinya, dan bukan singanya."

Fabel Aesop itu serupa dengan cerita orang-orang jaman Yesus. Mereka selalu meminta bukti, bukti bahwa Yesus adalah benar-benar Tuhan. Padahal mereka tidak sadar, apabila Yesus sungguh sudah datang di dalam kemuliaanNya, maka mereka tidak akan selamat. Kalau Yesus dalam seluruh kemuliaanNya muncul, maka mereka takkan sanggup menatapNya, sama dengan Saulus yang tak sanggup melihat cahaya ilahi Yesus hingga ia menjadi buta.


Karena itu janganlah meminta bukti dan tanda pada Allah, melainkan segeralah bertobat dan meninggalkan jalan yang lama. Mari kita mempergunakan Sakramen Tobat yang telah disediakan Yesus bagi kita sebagai sarana pertobatan dan menjalani hari-hari dengan penuh sesal sekaligus harapan. 


-------------------
Bacaan Liturgi 21 Februari 2018
Hari Biasa Pekan Prapaskah I
PF S. Petrus Damianus, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: Yun 3:1-10
Bacaan Injil: Luk 11:29-32

Thursday, January 25, 2018

Bagaimana Mewariskan Iman Kita?

Mewariskan iman adalah sesuatu yang sulit, bahkan dari orang tua kepada anak-anaknya. Oleh sebab itu Rasul Paulus selalu mendoakan Timotius yang memperoleh imannya dari nenek dan ibunya. Ia pun sangat bersyukur atas nenek dan ibu Timotius yang telah mewariskan iman yang baik kepada Timotius.

Yesus pun ketika mengutus murid-muridNya tahu bahwa iman sulit untuk diwariskan.Oleh karena itu Ia mengutus mereka berdua-dua agar saling membantu. Oleh karena itu Ia mengutur mereka tanpa apa-apa, supaya mereka membuka diri mereka sendiri dan buka dompet mereka. Oleh karena itu Ia mengutus mereka agar jangan berpindah-pindah rumah, agar orang merasa nyaman dan membuka hati bagi iman yang akan diwariskan. Mewariskan iman membutuhkan keterbukaan hati dari si pewaris dan si penerima. Walaupun lebih mudah warisan tersebut dilakukan di dalam keluarga, namun Allah tetap memungkinkan warisan tersebut terjadi di luar garis kekeluargaan.

Tapi bagaimana mewariskan iman? Tampaknya proses mewariskan iman membutuhkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Proses itu juga membutuhkan kesediaan untuk menderita bagi Injil-Nya. Lainnya tidak dikatakan lagi baik oleh Rasul Paulus maupun oleh Yesus. Tapi beranikah kita untuk melalui proses tersebut, membuka hati, melepas segalanya, dan mengobarkan roh yang ada pada kita semua berkat penumpangan tangan. Mari bersama-sama mewariskan iman.

------------------------------------------------
Bacaan Liturgi 26 Januari 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa III
PW S. Timotius dan Titus, Uskup
Bacaan Pertama: 2Tim 1:1-8

Bacaan Injil: Luk 10:1-9

Friday, December 22, 2017

Kelahiran yang Membawa Sukacita

Hari ini kedua bacaan bercerita tentang kelahiran yang dinanti-nantikan. Kelahiran yang pertama, yaitu kelahiran Samuel telah dinantikan lama oleh ibunya yang sudah tua. Kelahirannya disambut dengan sukacita sebab kelahirannya membawa kebebasan kepada ibunya dari rasa hina dan malu.

Kelahiran kedua yaitu kelahiran Yesus oleh Bunda Maria juga merupakan kelahiran yang dinanti-nantikan. Tapi penantian itu bukan oleh ibunya yang tentu tidak menduga bahwa ialah yang akan mengandung, melainkan dinantikan oleh seluruh Bangsa Israel. Kelahirannya diharapkan akan menghapus noda malu dan hina yang diderita oleh Bangsa Israel yang saat itu sedang dijajah Bangsa Romawi.

Setiap kelahiran adalah rahmat dari Allah, dan tiap kelahiran seharusnya mendatangkan sukacita dan pembebasan. Namun masih banyak kelahiran-kelahiran yang tidak diharapkan" di dunia  ini, kelahiran-kelahiran yang tidak dinantikan, tidak membebaskan dan dirasa tidak mendatangkan rahmat bagi orang-orang disekitarnya. Karenanya kini makin maraklah kasus-kasus aborsi, pembunuhan dan penyiksaan anak, bahkan bunuh diri.

Maka marilah kita berdoa bagi anak-anak yang sendirian dan kesepian di dunia ini, yang keberadaannya terasa tidak menyukakan hati orang-orang di sekitarnya. Ingatlah bahwa anak-anak itu mungkin adalah saya dan anda atau mungkin juga orang terdekat kita. Semoga hati kita terbuka bagi anak-anak ini dan tangan kita terulur pada mereka supaya mereka tahu, mereka dinanti dan mereka adalah rahmat Allah sendiri, dan melalui mereka  Allah menganugerahi rahmat dan sukacita.

--------------------
Bacaan Liturgi Jumat, 22 Desember 2017
Hari Biasa Khusus Adven
Bacaan 1: 1 Sam 1:24-28
Luk 1:46-56

Tuesday, December 19, 2017

Misa Mitoni dan Pertanda Sebuah Janji

Sepasang suami istri yang sudah menikah lebih dari 3 tahun akhirnya menantikan hadirnya seorang putri. Untuk merayakannya, mereka mengadakan misa mitoni (nujuh bulanan). Sukacita keluarga, bukan hanya calon orangtua namun juga seluruh keluarga besar, sangatlah terasa dalam perayaan itu. Sukacita itupun ditularkan oleh keluarga besar kepada seluruh undangan. Setelah misa, pasutri itu sharing bagaimana mereka berusaha untuk mendapatkan anak, dan akhirnya kabar gembira didapat setelah mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP). Setelah menerima kabar itu, kedua suami istri terus melayani di paroki secara intensif sebagai ungkapan syukur atas titipan Allah, walaupun banyak saran agar sang istri beristirahat cukup supaya kondisi pada persalinan kuat dan sehat. Mereka memandang bahwa kabar gembira yang muncul pada saat penutupan KEP itu adalah pertanda bahwa Allah memberkati kehamilan tersebut dan akan melindungi anak yang dikandung sampai persalinan dan sampai dewasa.

Dari perasaan syukur yang dirasakan di dalam misa itu, kita bisa membayangkan sukacita yang terjadi dalam hati Maria, walaupun mungkin sukacita itu diiringi dengan kekuatiran. Sukacita itu masih ditambah oleh kabar bahwa saudarinya Elizabeth pun juga sedang mengandung. Maria memandang pertanda-pertanda itu sebagai bukti janji Allah padanya, yaitu bahwa anak yang akan dilahirkannya adalah Anak Allah. Karenanya pertanda ini menjadi kekuatan bagi Maria untuk kuat menerima kondisinya yang kita tahu mungkin berbahaya pada jaman itu.

Sebaliknya raja Ahas tidak mau meminta pertanda, walaupun Allah sudah menawarkannya. Kenapa ia tidak mau memintanya? Dari alasan yang diberikannya, kita dapat menduga karena raja takut mencobai Allah. Namun bila membaca ayat sebelumnya, kita dapat mengambil kesimpulan lain, yaitu bahwa raja sebenarnya tidak percaya pada janji Allah, yaitu bahwa serangan raja Israel tidak akan mengalahkannya. Pertanda Allah menjadi tidak berarti ketika kita tidak mempercayai Allah dan janji-janjiNya. Oleh karena itu marilah kita jeli melihat pertanda-pertanda yang datangnya dari Allah supaya kita terus kuat di dalam menghadapi situasi kehidupan, karena kita percaya akan janji Allah akan kehidupan kekal yang datang dalam perantaraan Yesus.


---------------------
Bacaan Liturgi 20 Desember 2017
Masa Adven 20 Desember
Bacaan Pertama: Yes 7:10-14

Bacaan Injil: Luk 1:26-38

Friday, December 8, 2017

Terjadilah Padaku Menurut Perkataanmu

Hari ini adalah Hari St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa. Mengapa Gereja Katolik sampai pada kesimpulan bahwa St. Maria harus dikandung tanpa dosa? Bukankah cukup Yesusnya saja yang tanpa dosa? Dogma ini muncul relatif baru, yaitu 1.854 tahun setelah Yesus hidup, sehingga banyak orang non Katolik mengira bahwa dogma ini adalah �buatan� Gereja Katolik semata. Namun hal ini didukung oleh Kitab Suci, yaitu oleh salam dari Malaikat Gabriel: �Salam hai engkau yang dikaruniai� (Luk 1:28). Kata �dikaruniai� dalam bahasa Yunaninya adalah �kecharitomene� yang mengacu pada kata kerja �dikaruniai secara sempurna�, atau keadaan yang berseberangan dengan dosa.


Apakah dengan keadaan tanpa dosa itu lalu kita berpikir: wah pantas saja Bunda Maria begitu suci�. ia sudah tanpa dosa sejak awalnya�? Benarkah keadaan tanpa dosa membuat manusia mudah untuk menghindari dosa? Tidak. Ingatlah akan dosa pertama, yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Adam dan Hawa pun pada awalnya tak berdosa dan hidup di dalam dunia yang masih tidak ternoda dosa. Namun karena ketidaksetiaan mereka, mereka menjadi berdosa. Oleh sebab itu luar biasalah jawaban Bunda Maria: �terjadilah padaku menurut perkataanmu� karena jawaban itu menunjukkan kesetiaan yang luar biasa pada Allah.


Demikianlah pada hari ini kita perlu meneladan Bunda Maria di dalam kesetiaan kita terhadap panggilan hidup kita masing-masing. Apalagi kini kita tahu bahwa di dalam Kristus, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya, sama seperti Bunda Maria.

---------------------
Bacaan Liturgi, Jumat, 8 Desember 2017
HR St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda
Bacaan 1: Kej 3:9-15, 20
Bacaan 2: Ef 1:3-6,11-12
Injil: Luk 1:26-38

Thursday, November 30, 2017

Kerajaan Allah Sudah Dekat, Jagalah Kekudusanmu

Kalau kita ingat kemarin kisah politik Bapak Basuki - Djarot  dengan Bapak Anies Baswedan- Sandiaga Uno, bagaimana mereka berjuang demi kemenangan kursi gubernur. Segala cara dilakukan baik yang curang maupun yang santun ataupun apa adanya secara jujur. Kita pun berharap bahwa siapapun yang menang, akan membuat hari-hari ke depan menjadi lebih baik. Dan kalaupun andalan kita kalah, namun kita tetap berperan sebagai pelakon dan pemain menuju masa depan yang lebih baik. Kita sebagai para pelaku yang sadar ataupun tidak, polah tingkah kita turut ambil bagian di dalamnya.

Demikianlah yang dijanjikan pada bacaan kitab Daniel dan Injil pada hari ini. Kerajaan Allah sudah dekat. Kerajaan Allah yang akan memerintah seluruh kehidupan kita dengan damai dan sukacita sudah hampir datang. Tapi kita tidak dapat menunggu Kerajaan Allah itu dengan tenang-tenang saja. Dalam kehidupan sehari-hari kita ini, kita semua sebagai pelaku dan pelakon kehidupan, yang berjuang untuk cita-cita itu.

Soal baik dan buruk yang kita buat perlu dipikirkan baik-baik. Bisa saja angan-angan yang manis , sesungguhnya jerat buat hidup kita sendiri.Kita sebagai pelaku kehidupan, perlu berjuang mengalahkan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh Allah. Yesuslah guru kita yang memberi teladan mengalahkan keinginan-keinginan duniawi melalui karya keselamatan, penderitaan dan pengorbanannya yang berakhir di kayu salib. Ia melakukan pemusnahan total terhadap dosa, dan secara sempurna menjadi raja atas segala raja bertahta dan berdaulat untuk selamanya.

Kitab Daniel mengajarkan kita, bahwa kekudusan akan diadu dengan tantangan dan penganiayaan. Namun Daniel mengatakan melalui penglihatannya bahwa, semakin kita yakin akan kuasa dan kebesaranNya sebagai Raja atas segala raja, maka kita bersama Roh Kudus akan menjadi pemimpin dalam kehidupan kita sendiri sehari-hari. Tuhan sendiri yang akan memimpin  iman kita pd ketaatan sampai mati. Biarlah nanti sampai saat kerajaanNya hadir kedua kalinya , kita bisa memetik buah-buahnya. Mari kita berharap bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, mari kita menyambutnya dengan perbuatan-perbuatan baik kita.

----------------------------------
Jumat, 1 Desember 2017
Jumat Pekan Biasa XXXIV
Bacaan 1: Dan 7: 2- 14
Mazmur: T. Dan 3:75 - 81
Injil: Luk 21: 29 - 33

Tuesday, November 28, 2017

Kesaksian Terkuat terjadi pada Saat Kesesakan

Dari dalam penjara, Ahok terus bersaksi kepada para pengunjungnya, bahkan tetap memberikan berbagai bantuan dengan berbagai cara. Karenanya, balai kota tetap penuh dengan bunga saat Jarot harus menyerahkan tampuk pemerintahan DKI Jakarta.  Thomas Byles, adalah seorang pastor yang ikut dalam perjalanan kapal Titanic, dan tetap tinggal di kapal itu sampai tenggelam untuk menyelamatkan nyawa penumpang lainnya yang juga tak bisa melarikan diri. Maximilian dari Kolbe menggantikan salah seorang napi untuk dihukum mati agar napi itu bisa bertemu kembali dengan keluarganya paska perang. Di Afrika, pengikut Kristus makin banyak walaupun mereka terus menerus dikejar dan dianiaya. Dari keempat contoh di atas kita dapat mengambil kesimpulan: Kesaksian paling kuat terjadi pada saat Kesesakan.

Yesus sudah memperingatkan murid-muridNya bahwa suatu hari mereka akan dianiaya, dan pada saat itulah kesempatan datang untuk mereka bersaksi bagiNya. Dan kita tahu dari pelajaran sejarah gereja, itulah yang terjadi kepada para murid-murid Yesus. Petrus disalib terbalik, Yohanes direbus dan lain-lain. Bacaan pertama juga menggambarkan masa kesesakan bagi bangsa Israel termasuk Daniel. Bayangkan bila ada orang-orang tidak percaya Tuhan yang masuk ke gereja dan mengambil barang-barang suci. Pastilah umat gereja itu juga mengalami siksaan dan aniaya, paling tidak dalam hal ketakutan dan kengerian. Namun Daniel dengan berani mengkritik raja dan bersaksi mengenai Allah yang menggenggam nafas kita. Perikop ini tidak menceritakan apa yang terjadi pada Belsyazar, namun kita tahu bahwa apa yang dinubuatkan Daniel terjadi, yaitu Babilon direbut oleh Persia, dan Belsyazar sendiri mati terbunuh.

Mari kita merenungkan bagaimana bila kita nanti dihadapkan pada situasi tersebut? Apakah kita akan menolak Yesus sebagai Tuhan ketika pilihannya adalah dianiaya? Ataukah kita tetap setia sampai mati sehingga janji Tuhan boleh genap yaitu: kita boleh memperoleh hidup? Mari kita terus berdoa bahwa ketika saatnya tiba nanti kita boleh terus setia pada janji itu.


--------------------------
Bacaan Liturgi 29 November 2017
Rabu Pekan Biasa XXXIV
Bacaan Pertama: Dan 5:1-6.13-14.16-17.23-28
Bacaan Injil: Luk 21:12-19

Tuesday, November 21, 2017

Diri Kita Berarti, Jangan Binasakan

Kebinasaan. Semua manusia takut binasa. Binasa bukan hanya berarti mati secara fisik, namun juga hidup tanpa arti. Orang yang ingin bunuh diri karena merasa hidupnya tak memiliki arti lagi. Sementara orang takut mati karena kuatir setelah kematiannya ia takkan dikenang lagi. Sekian puluh remaja di Amerika Serikat bunuh diri karena merasa mereka �tak terlihat� oleh teman-temannya. Sekian puluh remaja di Jepang bunuh diri karena merasa mereka �tak mampu� menanggung beban yang diberikan kepadanya.

Tapi orang yang beriman pada Tuhan tidak pernah takut binasa. Lihat kisah pada bacaan pertama, seorang ibu dan 7 orang anaknya yang diancam kematian dalam sengsara. Mereka tidak takut mati, tapi juga tidak takut hidup bila berhasil selamat. Mereka percaya bahwa dalam kematian maupun dalam kehidupan, Allah memelihara mereka. Mereka percaya bahwa Allah yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada, tentu tidak akan mengembalikan mereka kepada keadaan �tidak ada� atau �tanpa arti� lagi.

Lihat pula perumpamaan Yesus. Siapakah yang membuat dirinya tanpa arti? Hamba yang mendapatkan 1 mina. Dialah yang membuat dirinya tanpa arti. Tuannya memberikan suatu arti padanya, yaitu mempercayakan 1 mina. Namun ia tak mampu melihat hal ini, dan memilih untuk menyia-nyiakan arti yang diberikan kepadanya. Hukumannya adalah kebinasaannya.

Kita yang percaya pada Allah tahu bahwa kita punya arti di hadapanNya, dan dengan demikian akan berusaha untuk memelihara arti diri kita itu selama hidup kita sampai ajal menjelang. Kasihanilah mereka yang tidak percaya pada Allah karena mereka akan merasa bahwa arti hidup mereka adalah 0 (nil).

-----------------------

Bacaan Liturgi 22 November 2017
Rabu Pekan Biasa XXXIII
PW S. Sesilia, Perawan dan Martir
Bacaan Pertama: 2Mak 7:1.20-31
Bacaan Injil: Luk 19:11-28

Tuesday, November 14, 2017

Syukur: Langkah Awal Kebahagiaan

Bersyukur. Bila kita tidak punya jabatan, apa yang harus kita syukuri? Bila kita berkuasa, apa yang harus kita syukuri? Banyak orang menjawab bahwa bila kita tidak punya jabatan maka hanya sedikit yang kita perlu syukuri, dan sebaliknya banyak yang kita harus syukuri ketika kita hidup berkuasa. Sebaliknya penulis Kitab Kebijaksanaan mengingatkan bahwa ketika kita yang tidak menepati hukum namun tidak punya jabatan maka ada banyak belas kasih sehingga kita tidak dihukum. Sebaliknya ketika kita berkuasa, maka akan disiksa dengan kejam. Patutkah kita tidak mensyukuri hal tersebut, yaitu terhindar dari amarah Tuhan yang hebat ketika kita tidak berkuasa?

Tapi hanya sedikit yang punya rasa syukur. Lihat saja kesepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus. Berapa yang datang kembali dan berterimakasih? Hanya 1 orang dan ia adalah orang asing. Artinya ia tidak mengenal Allah. Berapa banyak orang yang kita kenal di gereja, memiliki rasa syukur kepada Allah? Bagaimana mereka mewujudkan syukur itu di dalam kehidupannya dan pelayanannya? Mampukah mereka mengungkapkan itu secara terus terang seperti orang Samaria yang kembali itu?

Syukur adalah langkah awal menuju kebahagiaan. Orang yang penuh syukur adalah orang yang berbahagia. Mari kita bersyukur di dalam setiap keadaan yang kita hadapi.


------------------------

Bacaan Liturgi 15 November 2017
Rabu Pekan Biasa XXXII
PF S. Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: Keb 6:2-11
Bacaan Injil: Luk 17:11-19

Thursday, November 9, 2017

Bermisi Seperti Paulus


Paulus memberitakan kabar sukacita kepada orang-orang non-Yahudi. Ia bangga bisa melayani orang-orang di luar Yahudi. Seringkali ia memuji  kelebihan dan keistimewaan jemaat Roma, dan itu membuat ia mampu mengambil hati jemaat Roma.

Sebaliknya, orang-orang Yahudi kala itu justru meremehkan orang-orang non-Yahudi. Tetapi Paulus tidak peduli. Sebaliknya ia berbangga hati, justru karena ia bisa  berkarya bagi Tuhan di tempat yang berbeda.

Boleh dibilang tidak nyaman. Tapi bagi Paulus ia justru puas jika bisa melayani di luar zona nyamannya. Ia mau bermisi keluar,  sehingga ia banyak juga melakukan misi perjalanan ke daerah-daerah baru di wilayah kaum kafir.

Kadang tanpa kita sadari, kita memiliki kebanggaan semu akan status gereja dan pelayanan kita.  Bertahan di tempat yg di dalamnya kita merasa akrab, aman, berhasil, bisa berbangga dll.  Namun kita lupa akan panggilan Tuhan yang sesungguhnya, yaitu bermisi keluar, melebarkan sayap dr zona nyaman  kita, berani menerima tantangan baru, bukan melayani disitu-situ saja tanpa perkembangan.

Banyak dari kita  pandai, berintelektualitas tinggi, berpotensi baik tapi takut melayani. Takut menjadi terbebani.

Di tahun-tahun belakangan ini Gereja Katolik banyak berbicara tentang Pancasila. Di situ kita berbicara tentang keberagaman, keadilan, kemanusiaan . Ada banyak tantangan baru, baik dalam komunitas, luar komunitas,  bahkan lintas agama , budaya dan kelompok.

Pertanyaannya; " Beranikah kamu dan saya, juga kita semua sebagai seorang Katolik, keluar dr zona nyaman kita dan menyambut tantangan baru itu dalam berkarya dengan membawa panji-panji yang sama dengan Paulus, yaitu Kristus .

Pewartaan kita akan diterima dunia kalau kita mampu mewujudkan kepedulian sosial yang tinggi pada sesama. Dan semoga, dengan penyertaan Tuhan, pewartaan itu akan membuahkan pertobatan di dunia. Selamat berkarya.

----------------------
Bacaan 10 Nov 2017
Roma 15:14-21
Injil Lukas 16: 1-18

Tuesday, November 7, 2017

A House in the Sky (Rumah Di Atas Langit)

Di dalam bukunya, A House in the Sky, Amanda LIndhout bercerita tentang kisahnya diculik oleh pemberontak Somalia yang kemudian menuntut tebusan. Ia ditawan sampai 16 bulan. Di dalam masa penawanannya itu, ia dengan keras berusaha untuk  melihat para penawannya sebagai manusia yang baik, terutama kepada para tentara yang masih remaja. Ia mendengarkan cerita tentara itu tentang kekasihnya. Ia mendengarkan bagaimana para tentara itu berusaha untuk belajar berkomunikasi dalam bahasa inggris. Ia mendengarkan cita-cita beberapa tentara itu untuk membantu keluarganya. Upayanya itu berhasil membuat hatinya tetap lembut dan baik paska penawanannya sehingga ia mampu untuk membentuk suatu organisasi nirlaba untuk membantu penduduk Somalia.

Inilah yang dituntut oleh Yesus: melepaskan diri dari segala miliknya dan menjadi murid Yesus. Amanda telah berhasil melepaskan diri dari kebencian kepada penawan bahkan pemerkosanya. Ia telah berhasil melepaskan diri dari hartanya bahkan tubuhnya sendiri. Ini bukan proses yang mudah karena beberapa tahun setelahnya ia masih mengalami mimpi buruk, sebagaimana diakuinya sendiri. Namun proses yang sulit ini tidak menghalanginya untuk mengasihi orang lain.

Mampukah kita untuk melakukan hal yang sama? Mampukah kita menjawab tantangan Yesus untuk melepaskan diri dari segala miliknya, bahkan nyawanya sendiri, untuk mengasihi orang lain seperti Ia telah mengasihi kita?


-------------------
Bacaan Liturgi 08 November 2017
Rabu Pekan Biasa XXXI
Bacaan Pertama: Rom 13:8-10
Bacaan Injil: Luk 14:25-33

Thursday, November 2, 2017

Taat Hukum Tanpa Kasih adalah Mati

Sewaktu saya masih duduk di SMA, saya ingin sekali tinggal di Singapura. Karena menurut saya negara itu sangat tertib hukum. Orang yang buang sampah sembarangan akan didenda, menyeberang jalan sembarangan akan ditilang. Saya juga ingin tinggal di negara barat seperti Swedia, karena menurut saya orang-orangnya tepat waktu serta tertib di dalam antrian. Kedua negara ini sangat berbeda dengan Indonesia yang kita tahu fleksibel dalam hal-hal di atas. Suatu hari saya sedang di Swedia pada pagi hari di musim dingin, toko-toko belum buka, dan kebelet pipis. Saya mengetuk pintu salah satu toko dan melihat ada seorang pegawai di sana yang menolak membukakan pintu walaupun alasan saya adalah mau pinjam toilet. Untungnya saya menemukan toilet umum agak jauh dari situ dan terhindar dari rasa malu. Tak lama kemudian saya mendengar teman saya berkata bahwa "betapa menyenangkannya di Brazil, ketika orang terkadang tidak tepat waktu karena terlalu menikmati sekitarnya."

Apa yang saya pelajari dari situ? Betul bahwa sungguh menyenangkan bahwa hukum itu ada untuk mengatur hidup sehari-hari dan interaksi antar orang. Namun hukum yang terlalu ketat akan mengekang hidup dan membuat hidup itu sendiri tak bernilai. Kita membuat hukum agar hidup menjadi lebih menyenangkan dan bisa dihargai secara bersama-sama. Tentu tidak enak kalau semua orang egois dan mengklaim setiap rumah adalah rumahnya sendiri, dan pasanganku adalah pasanganmu juga. Ini adalah chaos. Tetapi kita membuat hukum agar kita bisa saling menghargai orang lain lalu menikmati hidup bersama-sama dengan mereka.

Tapi orang Israel memandang hukum adalah demi hukum. Rasul Paulus menyatakan bahwa ia sangat bersedih karena saudara-saudaranya bangsa Israel telah menerima hukum dari Allah. Namun bila kita terus membaca beberapa ayat setelah perikop tersebut, kita tahu bahwa menurut Paulus, bangsa Israel "sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu." (Rm 9:31). Yesus pun menegur hal yang sama ketika Ia hendak menyembuhkan orang di hari Sabat. Ia berkata: "Siapakah di antara kalian yang anak atau lembunya terperosok ke dalam sumur,
tidak segera menarik ke luar, meskipun pada hari Sabat?" Dan tidak seorangpun membantahnya.

Apa yang hendak diajarkan Yesus? Hukum Sabat adalah penting, mungkin salah satu hukum paling penting di kalangan Bangsa Israel. Namun hukum itu sendiri bukanlah yang terpenting. Yang paling penting adalah berbuat baik setiap hari, terutama di hari Sabat, supaya hidup dan relasi kita dengan Allah menjadi makin baik.



-----------------------
Bacaan Liturgi 03 November 2017
Jumat Pekan Biasa XXX
PF S. Martinus de Porres, Biarawan
Bacaan Pertama: Rom 9:1-5

Bacaan Injil: Luk 14:1-6

Tuesday, October 31, 2017

Kita Semua Memiliki Arti Hidup

Kebinasaan. Semua manusia takut binasa. Binasa bukan hanya berarti mati secara fisik, namun juga hidup tanpa arti. Orang yang ingin bunuh diri karena merasa hidupnya tak memiliki arti lagi. Sementara orang takut mati karena kuatir setelah kematiannya ia takkan dikenang lagi. Sekian puluh remaja di Amerika Serikat bunuh diri karena merasa mereka �tak terlihat� oleh teman-temannya. Sekian puluh remaja di Jepang bunuh diri karena merasa mereka �tak mampu� menanggung beban yang diberikan kepadanya.

Tapi orang yang beriman pada Tuhan tidak pernah takut binasa. Lihat kisah pada bacaan pertama, seorang ibu dan 7 orang anaknya yang diancam kematian dalam sengsara. Mereka tidak takut mati, tapi juga tidak takut hidup bila berhasil selamat. Mereka percaya bahwa dalam kematian maupun dalam kehidupan, Allah memelihara mereka. Mereka percaya bahwa Allah yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada, tentu tidak akan mengembalikan mereka kepada keadaan �tidak ada� atau �tanpa arti� lagi.

Lihat pula perumpamaan Yesus. Siapakah yang membuat dirinya tanpa arti? Hamba yang mendapatkan 1 mina. Dialah yang membuat dirinya tanpa arti. Tuannya memberikan suatu arti padanya, yaitu mempercayakan 1 mina. Namun ia tak mampu melihat hal ini, dan memilih untuk menyia-nyiakan arti yang diberikan kepadanya. Hukumannya adalah kebinasaannya.

Kita yang percaya pada Allah tahu bahwa kita punya arti di hadapanNya, dan dengan demikian akan berusaha untuk memelihara arti diri kita itu selama hidup kita sampai ajal menjelang. Kasihanilah mereka yang tidak percaya pada Allah karena mereka akan merasa bahwa arti hidup mereka adalah 0.
-------------------------
Bacaan Liturgi 22 November 2017
Rabu Pekan Biasa XXXIII
PW S. Sesilia, Perawan dan Martir
Bacaan Pertama: 2Mak 7:1.20-31
Bacaan Injil: Luk 19:11-28

Thursday, October 26, 2017

Mari Peduli

Seorang anak kecil ditunjukkan sebuah disket (tempat penyimpanan data komputer yang sudah lama tidak terpakai). �Menurut kamu, ini apa?� Tanya ayahnya. Jawab anak itu: �Oh, wow, keren sekali, itu cetakan 3D dari icon Save di komputer....� Anak itu tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu bahwa dahulu disket itu adalah bagian penting dari permainan komputer yang kini dengan mudah diperolehnya lewat smartphone yang ringan.


Ketidakpedulian merupakan dosa yang hendak ditegur oleh Tuhan pada hari ini. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menyatakan bahwa ia tahu dan mau melakukan apa yang baik, namun anggota-anggota tubuhnya yang lain melakukan apa yang ia tahu jahat. Yesus menegur orang banyak yang tahu melihat tanda-tanda alam, namun tidak mau berdamai dengan lawannya di tengah jalan menuju hakim.

Perjuangan melawan dosa adalah perjuangan untuk peduli. Kita melihat orang jatuh dan kita tahu bahwa kita harus menolongnya. Namun hanya kepedulian yang mampu untuk mendorong kita untuk sungguh-sungguh berjalan ke arah orang itu, mengangkat tubuhnya dan merawat lukanya. Kita tahu teman kita sedang bermusuhan dan kita tahu bahwa bermusuhan itu tidak baik. Namun hanya kepedulian yang mampu memberanikan kita untuk mempertemukan keduanya dan menyelesaikan masalahnya.

Tahun ini kita diajak merefleksikan sila kedua Pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Di dalam tahun ini kita terus menerus diajar peduli kepada orang-orang di sekitar kita. Bagaimanakah sikap kita sudah berubah sejak awal tahun? Apakah kita sudah makin peduli kepada anggota keluarga kita? Teman-teman kita? Orang susah di sekitar kita? Dengan kegiatan Gereja dan komunitas kita? Mari peduli.


----------------------
Renungan Jumat, 27 Oktober 2017
Rm 7:18 � 25a
Luk 12:54 � 59

Wednesday, October 25, 2017

Jadi Hamba yang Melakukan Tugas

Seorang pegawai keuangan baru saja dicurigai melakukan pencurian uang perusahaan, dan tugas-tugasnya diberikan kepada saya. Mendapatkan tugas mendadak ini saya merasakan betapa banyak tantangan yang diberikan�. Bukan dalam hal pekerjaan itu sendiri, namun dalam hal menolak keinginan untuk �nilep�. Apalagi pekerjaan itu ditumpahkan ketika saya sendiri sedang merasakan kebutuhan akan uang yang cukup besar. Awal-awalnya saya terpikir untuk �nilep� uang parkir. Untunglah peristiwa demi peristiwa yang kemudian terjadi membuka saya kepada kesadaran bahwa yang kecil lama-lama akan menjadi besar.

Pegawai yang dicurigai mencuri di atas ternyata awalnya �hanya� nilep uang-uang kecil seperti tips, parkir, dan sebagainya. Setelah beberapa kali melakukannya dan tidak ketahuan, maka ia makin berani untuk melakukannya dengan jumlah yang lebih besar. Setelah bertahun-tahun melakukannya, maka ia pun telah mengambil uang jutaan rupiah dan akhirnya ketahuan.

Demikian pula apa yang disampaikan oleh Yesus. Hamba yang diangkat menjadi pengawas memiliki tantangan yang lebih besar daripada hamba pekerja. Pada saat itu konteksnya adalah kekuasaan� hamba pengawas memiliki kekuasaan lebih dibandingkan hamba pekerja. Tantangannya adalah untuk tidak menggunakan kekuasaan dengan semena-mena, dalam arti memukuli hamba-hamba pekerja. Pada saat ini konteks yang aktual adalah kekuasaan maupun kekayaan. Pada contoh di atas, konteks yang berlaku adalah konteks keuangan, yaitu menggunakan kepercayaan dan kuasa yang telah diberikan kepadanya untuk melakukan penyelewengan keuangan.

Demikianlah apa yang dikatakan oleh Yesus selalu up-to-date, yaitu bahwa �Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya, ketika tuan itu datang.� Mari kita berdoa dan bersiaga agar ketika Yesus datang, kita siap dengan hati yang tulus dan jiwa yang murni.

---------------
Bacaan Liturgi 25 Oktober 2017
Rabu Pekan Biasa XXIX
Bacaan Pertama: Rom 6:12-18
Bacaan Injil: Luk 12:39-48

Tuesday, October 24, 2017

Mendirikan Tembok Penjaga terhadap Dosa

Bali adalah pulau yang masih sarat dengan kepercayaan mistis. Walaupun penduduk Bali mayoritas beragama Hindu, namun ada banyak yang dapat dipelajari dari mereka. Terutama tentang bagaimana mereka meyakini para dewa dan bagaimana mereka membuat struktur kehidupan yang sangat dekat dengan para dewa yang mereka sembah. Tiap hari tak terkecuali, mereka memberi sesajen berupa bunga kepada patung-patung dewa dengan pakaian yang pantas (harus menggunakan kain Bali). Tiap tahunnya ada begitu banyak hari raya yang dimaksudkan untuk menguduskan bumi dan segala isinya.



Dan yang paling menakjubkan adalah bagaimana mereka mendekatkan hubungan itu di dalam rumah mereka. Arsitektur Bali berfokus pada 5 aspek, yaitu:
  • Sistem ventilasi yang baik. Pada rumah Bali, jendela besar selalu digunakan untuk sirkulasi udara dan sering dibuat pula ruang di antara atap dan dinding bangunan untuk menyatukan manusia dan alam.
  • Fondasi yang kokoh. Berdasarkan pada filosofi Tri Loka, tubuh manusia mirip dengan rumah, maka dibuatlah fondasi dengan dasar yang kuat, seperti kaki bagi manusia, fondasi yang kuat pada sebuah rumah akan memberikan kekuatan.
  • Sebuah halaman besar. Berdasarkan konsep yang selaras dengan alam, rumah khas Bali harus memiliki halaman yang luas untuk berkomunikasi dengan alam sekitarnya.
  • Tembok penjaga. Tembok tinggi yang melindungi rumah dari pandangan orang luar, memberikan privasi dan perlindungan dari orang lain, serta untuk menangkal ilmu hitam dan roh-roh jahat agar tidak masuk ke dalam rumah.
  • Pura untuk sembahyang.Di setiap rumah ada sebuah pura, untuk bersembahyang kepada para dewa.

Bagaimana kita umat Kristiani mencontoh kesatuan umat Hindu dan dewanya? Bagaimana kita dapat menyatukan diri kita, keluarga kita dan Tuhan yang kita sembah di manapun kita berada, dan terutama di dalam rumah kita? Bila kita melihat Tuhan di manapun kita berada, maka kita takkan menjadi hamba-hamba yang jahat sehingga tuannya membunuhnya (Luk 12:39-48). Sebaliknya kita akan terus berjaga-jaga seperti tembok penjaga di rumah Bali, sehingga tidak menjadi hamba dosa lagi (Rom 6:12-18).

Thursday, October 19, 2017

Kasih yang Menimbulkan Ketaatan

Keselamatan diperoleh Abraham karena ia taat kepada Allah. Taat kepada Allah karena iman takut akan Allah. Takut akan Allah membuat tindakan dan perbuatannya untuk tidak menyimpang dari kehendak Allah.

Allah sebagai Allah yang menghukum, amat kuat dalam Perjanjian Lama. Penyimpangan akan kehendak Allah membawa konsekwensi pada hukuman. Mata Allah memandang segala tindakan Abraham, artinya: Allah masa Abraham melihat, dan akan segera bertindak atas suatu kesalahan. Sehingga sosok Allah menjadi sosok yang menakutkan. Seperti murid yangdiawasi guru, begitu salah berbuat segera menerima hukuman.

Berbeda dengan Lukas 12: 1-7  Yesus memberi penggambaran tentang Allah yang sedikit berbeda, walaupun kedua-duanya menuntut hal yang sama, yaitu ketaatan. Walau penggambaran tentang Allah sedikit berbeda dengan masa Abraham. Yesus memberikan gambaran tentang  Allah sebagai pribadi yang penuh kasih, penyabar, pengampun, penyayang dan sebagainya. Tetapi Allah gambaran Yesus ini punya tuntutan yang sama tadi, yaitu kita diminta untuk taat, dan itu menjadi pengajaran Yesus ygyang mengingatkan murid-muridNya, dan juga kita, supaya jangan terlena oleh kebaikanNya dan melupakan harapan Allah terhadap manusia yaitu;
- kita tetap dituntut sebagai pelaku firman yang tekun (firman tanpa perbuatan  adalah mati)
- Hidup kita menjadi cerminan dan gambaran Allah yang pengasih dan  penyayang dalam segala aspek kehidupan.
- kita dituntut untuk mampu menyangkal diri dan  pikul salib kehidupan.

Semua harapan itu memang sulit. Namun Yesus memberikan harapan baru agar kita tetap semangat bertekun dalam iman yaitu dengan mengatakan kalau burung saja yang dijual murah di dunia tetap dipelihara semuanya, apalagi manusia yang bahkan rambut kita saja dihitungnya. Kita berharga di mata Allah sehingga perhatian Allah hendaknya menimbulkan  kasih akan Tuhan juga, bukan ketakutan seperti masa Abraham.

Kasih akan Tuhan menimbulkan ketaatan iman.

(c) Katrin
----------------
Jumat 20 Okt 2017.
Rm 4: 1-8
Luk 12: 1-7

Wednesday, October 18, 2017

Pergilah ke tengah-tengah Serigala

�Pergilah!
Camkanlah, Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.�

Mari kita hari ini merenungkan perintah ini dan peringatan yang menyertainya. Tuhan Yesus mengutus murid-muridnya, termasuk kita, untuk pergi ke tengah-tengah serigala. Berapa banyak dari kita yang tidak mau mengutus orang yang dikasihi untuk pergi ke tengah-tengah bahaya? Orangtua tidak mau membiarkan anaknya pergi ke daerah misi karena kuatir tidak akan kembali, suami atau istri tidak mau membiarkan pasangannya untuk berteman dengan lain jenis karena kuatir akan jatuh ke dalam godaan. Makin mengkuatirkan lagi adalah orangtua yang terlalu kuatir anaknya makan makanan yang tidak steril, bermain di lumpur karena takut sakit, dan kuatir anaknya jadi tidak pe-de (percaya diri) kalau nilainya tidak bagus. Dampaknya adalah hubungan yang rentan, saling tidak percaya, rapuh yang terjalin di antara kedua pihak.

Psikologi jaman sekarang telah mulai menganjurkan peralihan kepada pendekatan baru dalam pengasuhan anak (parenting). Menurut teori psikologi yang sekarang, memberikan tantangan kepada anak-anak adalah penting. Anak-anak Jepang adalah anak yang tangguh karena mereka ditantang untuk membersihkan sekolahnya sendiri, menyiapkan makanannya sendiri, mengerjakan pekerjaannya sendiri. Sementara anak-anak Indonesia adalah anak yang terbiasa untuk berteriak: �mama, papa, mbak� untuk mencuci pakaiannya dan mengerjakan PR-nya.

Tuhan Yesus memberikan kita tantangan. Ia tetap mengutus kita walaupun Ia tahu bahwa di hadapan para serigala, anak domba bisa menjadi makanan empuk. Dari situ Ia bisa melihat anak-anak domba mana yang tetap setia kepadaNya, dan yang mana yang akan menjadi anak serigala. Dan seperti orangtua, Ia akan tetap melindungi ketika tantangan itu terlalu berat bagi kita. Toh apa yang dijanjikanNya bukanlah kehidupan di dunia ini, melainkan kehidupan kekal bersamaNya di surga. Mari kita pergi ke tengah-tengah serigala, dan mewartakan bahwa ada kehidupan penuh sukacita ketika kita menjadi anak domba.

---------------
Bacaan Liturgi 18 Oktober 2017
Pesta S. Lukas, Pengarang Injil
Bacaan Pertama: 2Tim 4:10-17a
Bacaan Injil: Luk 10:1-9

Tuesday, October 17, 2017

Menjadi Domba di Antara Serigala

Lama tinggal di Jakarta, sulit rasanya untuk tidak merasa curiga kepada sesama. Kunci mobil dan motor dengan hati-hati tidak dibiarkan menggantung. Dompet sering disentuh karena takut kecopetan. Ketika sedang bertransaksi, kita tidak akan membiarkan pihak lawan pergi sendirian membawa uang kita walaupun dengan alasan akan menukar uang untuk kembalian.

Tapi waktu kami ke Bali, tepatnya ke Pelabuhan Sanur untuk berlayar ke Nusa Penida, kami menyaksikan suatu kejadian yang mengagumkan. Kasir perahu kami tidak mengenal pemandu wisata kami di Nusa Penida yang ternyata tidak mem-booking kursi untuk kami. Tapi dengan senang hati ia membiarkan kami naik perahu hanya dengan berbekal nomor HP yang kami berikan. Bahkan ia menolak uang yang kami serahkan untuk membeli tiket, dengan alasan: �kasihan pemandu wisatanya kalau dia sudah dititipkan uang.� Sekali lagi kami terkaget-kaget karena di Nusa Penida, motor-motor sewaan ditinggalkan di teras rumah dengan kunci masih menggantung di badannya. Pada saat itu saya merasa seperti serigala yang dapat memikirkan berbagai hal untuk menipu para domba ini.

Berapa dari kita yang mau membantu orang yang kesusahan? Tidakkah kita takut orang yang kita bantu di tengah jalan akan berbalik merampok kita? Berapa dari kita yang mau membiarkan tunawisma sakit menginap di kamar kita? Tidakkah kita takut tengah malam ia akan merampok kita dan pergi begitu saja? Bisakah kita seperti Rasul Paulus yang ditinggalkan saat pembelaan dan dijahati oleh Aleksander, namun ia tetap bertahan, tidak mendendam, dan bergantung pada Tuhan (2Tim 4:10-17a).

Demikianlah kita diutus oleh Tuhan Yesus, sebagai domba di antara para serigala. Kita membantu dengan tulus, menjadi sasaran empuk para penipu dan perampok, namun bertahan dalam ketulusan karena iman kepada Tuhan Yesus sambil terus berseru: 'Kerajaan Allah sudah dekat padamu.' (Luk 10:1-9)

Recent Post