Latest News

Showing posts with label Kisah Para Rasul. Show all posts
Showing posts with label Kisah Para Rasul. Show all posts

Tuesday, May 8, 2018

Siapakah Allah yang Kamu Sembah?

Belakangan ini muncul trend pacaran dengan orang yang dikenal lewat sosmed seperti Facebook. Trend ini juga menyambar teman saya. Ia kenal dengan seorang lelaki berkebangsaan Amerika yang mengaku pebisnis sukses. Setelah beberapa lama chatting lewat medsos, si lelaki akhirnya mengatakan akan mengunjungi Indonesia dan melamarnya. Ketika akhirnya bertemu dan berkenalan secara langsung barulah teman saya mengetahui bahwa lelaki itu penipu dan ingin memperalatnya supaya bisa beroleh kewarganegaraan Indonesia.





Kita tentu pernah mendengar pepatah: tak kenal maka tak sayang. Demikianlah banyak orang puas dengan menyembah Allah yang tak dikenal. Mereka takut pada Allah yang mereka ciptakan dalam pikiran mereka sendiri. Demikianlah latar belakang yang ditemui Paulus dulu, bahkan yang kita temui pada saat ini. Kalau kita bertanya: �Siapakah Allah yang kamu sembah?� apa kira-kira jawaban orang? Dapatkah mereka menjelaskan dengan penuh iman Allah mereka?

Demikianlah kita tiap saat harus berdoa agar Roh Kudus selalu memberitakan kepada kita tentang Allah yang kita sembah. Kaa-kata tidak cukup untuk mendeskripsikan Allah. Tetapi bila Roh Kudus bersabda, maka kita memahami dan makin dekat dengan Allah.


-----------------------

Bacaan Liturgi 09 Mei 2018
Hari Biasa Pekan Paskah VI
Bacaan Pertama: Kis 17:15.22-18:1
Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

Tuesday, May 1, 2018

Beranikah Kita Memperjuangkan Kebenaran?

Hari ini kita akan berbicara tentang keberanian mengungkapkan kebenaran. St. Paulus dan St. Barnabas di dalam bacaan pertama menunjukkan keberanian mereka menentang banyak umat Yahudi yang percaya Kristus namun tetap menitikberatkan sunat sebagai kriteria utama keselamatan. Mereka berdua berjuang sampai ke Yerusalem untuk mempertahankan pendapat mereka itu. Hasilnya adalah kita semua yang kini membaca tulisan ini, menikmati hasil dari perjuangan mereka, yaitu dimana iman pada Yesus berada di atas ketaatan pada sunat.

Hari ini juga kita merayakan Perayaan Wajib St. Athanasius, uskup dan pujangga agung Gereja. Ia pernah disebut �Athanasius melawan dunia� karena kesohorannya mempertahankan ajaran bahwa keselamatan hanya berasal dalam Yesus Kristus. Ia diperhadapkan pada tuduhan-tuduhan dari pihak Yahudi dan kafir, bahwa inkarnasi dan penyaliban Anak Allah tidak pantas dan mengurangi martabat-Nya. Namun, dengan tegas ia mengatakan bahwa "dunia yang diciptakan melalui Dia hanya dapat dipulihkan oleh Dia". Pemulihan ini tidak bisa terjadi, kecuali melalui salib. Ia juga terkenal sebagai lawan tangguh ajaran sesat Arianisme yang mengajarkan bahwa seseorang yang datang kepada kita yaitu, Kristus Yesus bukanlah Tuhan yang sesungguhnya melainkan makhluk yang diciptakan oleh Allah. Athanasius-lah yang memperjuangkan bahwa Kristus Yesus sungguh Allah.

Di masa kini pun kita terus menerus ditantang untuk memperjuangkan kebenaran di dalam nama Yesus. Perjuangan itu mungkin akan membawa kita menjadi kurang disukai oleh teman-teman kita bahkan di dalam gereja sendiri. Perjuangan kita mungkin membuat kita dijuluki �perusuh� karena kita mengambil posisi yang berbeda dengan para pemimpin kita, termasuk pemimpin gereja. Namun selama kita memperjuangkan kebenaran dengan hati tulus, rendah hati dan membungkusnya di dalam doa dan iman, maka perjuangan kita takkan sia-sia. Hasilnya mungkin tidak dapat kita lihat dalam sisa usia kita, namun seperti Yesus katakan di dalam InjilNya: �Barangsiapa tinggal di dalam Aku, ia berbuah banyak.� Selamat memperjuangkan kebenaran.


---------------------------
Bacaan Liturgi 02 Mei 2018
Hari Biasa Pekan Paskah V
PW S. Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: Kis 15:1-6

Bacaan Injil: Yoh 15:1-8

Tuesday, April 17, 2018

Ekaristi, Sungguh Roti Kehidupan

Akulah roti hidup, kata Yesus. Seringkali kita mengabaikan betapa dahsyatnya kata-kata itu, dan bagaimana kata-kata itu sungguh nyata di dalam Ekaristi. Banyak kesaksian orang-orang kudus yang tidak dapat menyambut komuni karena keadaannya, memohon dengan sangat pada Allah, dan menyambutnya dari tangan Malaikat. Rosalie Put misalnya, seorang biarawati, jatuh sakit di umur 17 tahun dan terbaring di tempat tidurnya selama 25 tahun. Ia sangat menderita dan tidak dapat menghadiri Misa Kudus. Maka, seorang Malaikat Agung akan datang tiap malam untuk memberi dia Komuni Kudus. Kehadiran Malaikat ini ditandai oleh bunyi sebuah lonceng kecil dan kadang dapat didengar orang lain.

Seorang kudus lainnya, St. Nicholas dari Flue memohon pada Tuhan agar dia diijinkan hidup tanpa makan dan minum. Permohonan ini dikabulkan. Selama 20 tahun ia hidup di sebuah kamar kecil dari kayu, hanya hidup dari makan Komuni Kudus. Para penduduk mengagumi kesuciannya dan nasihatnya yang membawa perdamaian di antara kota-kota yang berperang.

Ekaristi adalah sungguh-sungguh Roti Hidup. Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan lapar dan haus lagi, dan akan beroleh hidup yang kekal. Mari kita pada masa Paskah ini merenungkan, sekuat apakah iman kita pada 1 kalimat itu: Akulah Roti Hidup.

----------------
Bacaan Liturgi, 18 April 2018
Hari Biasa Pekan Paskah III
Bacaan 1: Kis 8:1b-8

Injil: Yoh 6:35-40

Tuesday, April 10, 2018

Di Mana dan Kapan Kita Memberitakan Yesus?

Dimanakah tempat yang tepat untuk memberitakan Injil? Kapankah saat yang tepat untuk menyerukan Nama Yesus? Mungkin banyak orang bertanya-tanya tentang hal ini, sama seperti saya, terutama yang tinggal di komunitas yang majemuk dengan mayoritas non Kristiani, dan sebagian masyarakatnya mulai menunjukkan sikap bermusuhan dengan umat Kristiani. Dengan terpaksa walaupun harus menelan ludah kuatir, saya terpaksa menjawab: di mana-mana dan setiap saat, walaupun itu berarti mendekatkan saya pada kehidupan yang tidak enak, kematian yang menyakitkan, kehilangan yang memedihkan.

Bacaan pertama memberikan kita contoh bahwa para rasul dimasukkan ke dalam penjara kota karena iri hati orang-orang Saduki. Namun Malaikat datang, membebaskan mereka secara ajaib tanpa merusakkan pintu penjara, dan membawa mereka ke Bait Allah supaya mereka kembali bisa mengajar tentang Yesus. Pada akhirnya toh mereka ditangkap lagi, disiksa sampai mati kecuali Yohanes yang berhasil mati tua walaupun sempat disiksa. Injil mengingatkan kita bahwa orang yang percaya padaNya takkan binasa, walaupun dibunuh dan mati di mata dunia.

Kita juga dikuatkan dengan kesaksian para kudus yang hidup tidak lama dari masa kehidupan kita sekarang. St. Maximillian dari Kolbe yang menyerahkan dirinya untuk menggantikan salah satu terpenjara zaman Nazi (1941), dan tetap menghibur teman-teman satu sel yang dihukum mati dengan kabar gembira Tuhan. Pastur Beda Chang wafat sebagai martir (1951) karena ia terus merayakan misa di negara China yang melarang kegiatan religius apapun. Luisa Guidotti Mistrali wafat tahun 1979 setelah sebuah peluru menembus lehernya karena ia terus melaksanakan misi dan karya penyembuhannya di Zimbabwe yang sedang perang saudara. Beranikah kita seperti mereka, membela iman kita tanpa menyerang? Mari kita di masa Paskah ini dikuatkan bahwa orang dapat menyiksa dan membunuh badan kita, namun tak bisa mengambil jiwa kita, karena kita milikNya. Semoga dengan iman ini, kita dapat berdiri tegak menghadapi orang-orang yang ingin menjauhkan kita dari Yesus yang termanis.

-----------------
Bacaan Liturgi, 11 April 2018
PW S. Stanislaus, Uskup dan Martir
Hari Biasa Pekan Paskah II
Bacaan 1: Kis 5:17 - 26

Injil: Yoh 3:16 - 21

Tuesday, April 3, 2018

Hati Penuh Syukur

Henri Nouwen dalam bukunya Hati Penuh Syukur merenungkan kisah perjalanan ke Emaus yang hari ini kita dengar lewat Bacaan Injil. Ia membaginya menjadi 5 bagian yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari manusia. Pertama-tama kita datang dengan rasa kehilangan, sama seperti kedua murid yang kehilangan guru, harapan dan tujuan hidup mereka. Kita pun sering merasa kehilangan waktu, teman, keluarga, kebebasan, atau apa saja. Dengan hati hancur diremukkan oleh kehilangan, kita datang ke hadapan Allah.

Lalu kita bertemu seorang asing yang membuat hati kita mulai berkobar-kobar. Yesus menampakkan diri di hadapan kedua murid, dan mulailah mereka menceritakan rasa itu. Demikianlah kita mengungkapkan diri kita dan hati kita yang hancur kepada Allah melalui Tuhan Kasihanilah Kami. Sebagaimana Yesus harus diundang ke dalam rumah kedua murid agar mereka nantinya dapat �melihat� siapa Yesus, demikian pula kita mengungkapkan undangan kita didalam Aku Percaya. Bila orang asing yang luar biasa tak kita undang ke dalam rumah kita, maka ia tetap menjadi orang asing. Tapi begitu kita makan bersama, maka jadilah ia �seorang dari kita�, atau sering dikatakan orang Palembang �wong kito galo.�

Ketika kita makan bersama, mulailah diri �orang asing� itu nampak menjadi Yesus. Kita pun akan mengetahui secara jelas bahwa �itu Tuhan� pada saat hosti diangkat. Dan ketika kedua orang murid itu menyambut roti dari Yesus, Yesus hilang dari pandangan mereka. Yesus di dalam Ekaristi secara ajaib menghilang dari pandangan kita sekaligus menyatu di dalam kita, dan menjadikan kita seperti dia. Sejak itu, maka kita pun diutus menjadi Dia di dalam kehidupan sehari-hari seperti Petrus dan Yohanes yang bersaksi tentang Yesus. Sebagaimana Yesus berkuasa dalam DiriNya sendiri, kita pun menjadi berkuasa karena Yesus ada di dalam diri kita. Maka bila kita percaya sungguh, maka seperti Petrus dan Yohanes, kuasa-kuasa termasuk kuasa penyembuhan dapat terjadi. Mari kita bersukacita dan memuji Allah karena kuasaNya yang begitu besar yang dipercayakanNya pada kita.

-------------------
Bacaan Liturgi, 4 April 2018
PF S. Isidorus, Uskup dan Pujangga Gereja
Hari Rabu dalam Oktaf Paskah
Bacaan 1: Kis 3:1-10

Injil: Luk 24:13-35

Wednesday, September 27, 2017

Pancasila, Gotong Royong dan Semangat Kasih

































Pancasila, Gotong Royong dan Semangat Kasih


Tahukah Anda bahwa Soekarno pernah menyatakan bahwa bila Pancasila harus diperas menjadi hanya 1 sila, atau Ekasila, maka hasilnya adalah GOTONG ROYONG?

Kenapa Gotong Royong? Karena di seluruh penjuru Indonesia, gotong royong telah merakyat dan mendarahdaging. Gotongroyong mengandung arti bahwa hidup tolong menolong dalam tradisi masyarakat Indonesia, tidak hanya merupakan wujud keterikatan sosial antar satu dengan yang lain, tetapi lebih dari itu memiliki makna religius spiritual yang sakral. Prinsip gotong royong dapat ditemukan di semua kearifan lokal: di Madura -Song-Osong Lombhung-, di Bali -Ngayah-, di Papua -Helem Foi Kenambai Umbai-, di Sulawesi Selatan -Ammossi-, di Sulawesi Utara -Mapalus-, di Kalimantan Timur -Paleo-, di Sumatera Barat -Hoyak Tabuik-, di Sumatera Utara -Siadapari-, di Ambon -Masohi-, di Sumbada -Pawonda-, di Aceh -Alang Tulung-, di Riau -Batobo-, di Kepri -Beganjal-, di Jambi -Pelarian-, di Babel -Nganggung-. Bahkan di Jawa ada berbagai istilah untuk menunjuk prinsip itu: -Gugur Gunung- (Jawa Tengah), -Sabiruyangan- (Sunda), -Sambatan- (Jawa Timur), -Soyo- atau -Kudur- (Nganjuk).

Apa yang mendasari prinsip gotong royong ini? Tentu adalah semangat kasih. Kasih yang seperti apa? Kasih kepada Tuhan yang mahaesa, kasih yang membangkitkan semangat keadilan dan keberadaban, kasih yang menyatukan, kasih yang mendorong kepemimpinan oleh hikmah kebijaksanaan dalam pemusyawaratan perwakilan, dan kasih yang menghasilkan keadilan sosial yang merata. Bila direnungi maka setiap sila dalam Pancasila selalu mengimplisitkan -kebersamaan-, yang pada prinsipnya adalah dasar dari gotong royong.

Bagaimana orang Katolik memahami dasar negara ini? Dengan sangat jelas, karena Kitab Suci sendiri pun telah mengajarkan:
Sila 1: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Mat 22:37)

Dan untuk sila-sila lainnya, Yesus meneruskan: -Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.- Ini diuraikan dalam keempat sila lainnya.
Sila 2: Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. (Im 19:13)
Sila 3: Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. (1Kor 1:10)
Sila 4: Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. (Kis 15:1-10_
Sila 5: Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. (Mat 20:1-16).


Dan gotong royong secara jelas muncul sebagai faktor maupun sebagai hasil dari implementasi sila-sila tersebut. Kita beruntung hidup di dalam negara di mana dasar ideologinya sangat dekat dengan ajaran Yesus sendiri. Oleh karena itu marilah kita mengamalkan Pancasila baik di dalam hati kita maupun di dalam praksis kehidupan kita. 


Source : http://renunganimankatholik.blogspot.com/

Thursday, June 1, 2017

Jujur.... lah padaKu

Ada 4 mahasiswa telat ikut ujian. Krn bingung kesiangan, mrk kompak sepakat saat memberi alasan sama saat dosen bertanya, dengan harapan dosen percaya dan berbaik hati dan mereka diberi kesempatan ujian susulan. Demikian kata mereka:
Mahasiswa A: pak, maaf kami terlambat
Mahasiswa B: iy pak, kami berempat naik angkot yangsama dan bannya meletus
Mahasiswa C: kami kasihan dengan sopir tersebut, jadi kami bantu dia pasang ban baru.
Mahasiswa D: oleh karena itu kami mohon kebaikan dan kemurahhatian bapak agar kami diperbolehkan ujian susulan.

Dosen berpikir sejenak, dan akhirnya keempatnya diijinkan ikut ujian tapi dalam 4 ruang yang berbeda. Ahhh mungkin biar kita tidak nyontek pikir mahasiswa itu.  Soal pertama dengan bobot nilai 10, dapat mereka kerjakan dengan senyum gembira. Tetapi... untuk soal nomor 2 dengan bobot nilai 90  membuat mereka keringat dingin bercucuran, karena soal kedua begitu jelas menguji kejujuran mereka:
"Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus?".

Sebagai orang yang pertama kali mendengar cerita ini, mungkin anda tertawa atau tersenyum mendengar cerita ini. Tetapi sesungguhnya pertanyaan tentang kejujuran sering kita hadapi juga. Demikian juga Simon Petrus, mengalami hal yang sama ketika kejujurannya dipertanyakan Yesus yang notabene adalah gurunya sendiri. Mahasiswa-mahasiswa tadi memang tidak diragukan mereka paham ilmu yang diajarkan oleh sang dosen. Tapi soal kejujuran sang dosen meragukannya. Dosen tadi mungkin sekedar mengira-ngira bahwa mahasiswanya tidak jujur, tetapi dalam kisah Yoh 21: 15-19 Yesus bukan lagi mengira-ngira, Ia sungguh tahu apa yang ada di hati Simon, sampai akhirnya Simon menyadari makna pertanyaan Yesus tersebut.

Mengapa Yesus perlu bertanya sampai berulang-ulang kepada Simon "Apakah engkau mengasihi Aku?� Bukankah Simon Petrus adalah seorang murid beriman yang mengasihi Yesus? Yang waktu malam perjamuan sebelum Yesus ditangkap dengan berani berikrar "Tuhan aku bersedia masuk penjara atau mati bersama Engkau?" dan waktu Yesus ditangkap, ia berani memotong telinga hamba Imam besar? Apakah masih ada yang kurang dalam dirinya? Adakah yang salah dengan penghayatan akan iman dan kasihnya?

Ya, Yesus melihat apa yang dilakukan Simon bukanlah pemahaman kasih yang sesungguhnya, karena dalam diri sang murid ada harapan-harapan yang juga sering kita tiru tanpa sadar, yaitu nama besar, kepopuleran, selalu jadi yg utama, kesombongan, ingin menonjol. Yesus tidak suka itu semua karena semua itu adalah sumber kesombongan, sumber kehancuran seorang pelayan Tuhan. Dan itu terbukti sampai ketika ayam jago berkokok menyadarkan dia kembali.
Pertanyaan pada Simon adalah upaya pembaharuan iman dan kasih muridnya tersebut sebagai dasar motivasi mengasihi yang benar.

Bila kita amati baik-baik motivasi yang keliru yang dipandang Yesus sebagai batu sandungan pelayanannya adalah:

1. Sikap pamrih tentang siapa yang terbesar yang dilontarkan murid-muridNya yang dengan lantang mengatakan "Aku bersedia masuk penjara dan mati bersama Engkau" sebagai pembuktian. Kalimat itu dalam bayangannya akan membuka peluang tempat dan kedudukan. Itu tak disukai Yesus.

2. Kasih yang dilakukan karena prestise, demi gengsi, martabat, nama baik. Yesus sudah tahu, bahwa sejak saat Simon Petrus mengatakan "Biarpun semua org terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.�  Padahal semua akhirnya terbukti ketika dia menyangkal sebelum ayam berkokok.

 "Simon  anak Yohanes, apakah Engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka?
Ini adalah pertanyaan yang mengarah supaya Petrus melepaskan penonjolan dirinya di antara murid lainnya, untuk kembali pada pembaharuan iman kasihnya.

Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi aku? (Tanpa kalimat: "lebih dr pd mereka ini?), dengan cara lebih lunak Yesus bertanya. Dan itu menyadarkan Petrus, menyengat dia untuk lebih rendah hati.   Kehalusan kata telah merobek kesombongannya.

 Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Pertanyaan ke-3 meminta kejujurannya bahwa iman dan kasih adalah 2 hal yang harus dipertanggungjawabkan karena kelak akan menerima konsekwensinya. Meluruskan motivasi dan kesadaran akan pelayanannya. Dan akhirnya ia berani menjawab: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau".  Sikap baru yang rendah hati yang juga harus dimiliki oleh kita semua sebagai pelayan Tuhan, sebagai teladan penggembalaan. Sikap yang penuh kasih, jujur setia dalam iman kasih pelayanan.

Tuhan memberkati.
-----------------
Yoh 21: 15-19
Kis 25: 13-21

Thursday, May 25, 2017

Mariana de Paredes dari Quito dan Paulus di Korintus

Mariana de Paredes dari Quito adalah putri  seorang bangsawan Ekuador. Sejak kecil ia ditinggal mati orangtuanya dan hidup bersama saudaranya. Yang menarik dari Mariana adalah minatnya yang besar pada hal-hal rohani dan hidup bakti pada Tuhan dan karena itu ia juga mendapat kesempata n untuk menerima komuni suci pada usia dini.   Niatnya mulia, yaitu ingin membentuk perkumpulan untuk mempertobatkan bangsa Jepang yag masih belum menjadi Katolik, walaupun sayangnya gagal. 

Namun baginya kegagalan adalah hanya masalah perbedaan rencananya dengan rencana Allah.
Semangat kemiskinan,  mati raga dan hidup dlm doa kemudian dijalaninya. Hari-hari dan waktu hidupnya hanya dipakai untuk Kristus. Demi mengalami itu semua ia seringkali merantai dirinya tanpa makan, hanya tidur sehari  dalam 3 jam saja. Dan ia sering juga mendapat hinaan atas apa yang dibuatnya itu.  Rupanya itu sebab Allah melimpahkan padanya karunia meramal dan melakukan mujizat.

Pada suatu saat, gempa dahsyat serta wabah menular melanda daerah Quito. Mariana memberikan  dirinya bagi Tuhan demi keselamatan  Quito.  Rupanya doanya diterima dan Maria jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia dalam usia 25 tahun. Karena kesalehan  hidupnya ia diberi gelar Bunga lili dari Quito dan mendapat gelar kudus pada tahun 1950.

Apa yg dilakukan Mariana berbeda dgn apa yg dilakukan Paulus di Korintus (Kis 25:13-21). Paulus sering mendapat ancaman dan intimidasi. Firman Tuhan yang sampai pada Paulus dalam penglihatannya merupakan sumber kekuatan dalam menjalankan hari-harinya.

Paulus dan Mariana memiliki pendekatan dengan Allah yang berbeda. Paulus lebih banyak melakukan semua perjuangannya dengan menunggu Kristus berbicara padanya. Sementara Mariana berinisiatif langsung dgn tindak lakunya. Namun walau berbeda mereka memiliki kesamaan yaitu sama-sama dipilih Tuhan  untuk menyatakan Kebenaran tentang Kristus.

Dalam hidup, kita sebagai orang Kristen juga sama-sama dipanggil Tuhan, namun cara-caranya berbeda.. ada yang langsung digerakkan oleh Tuhan , ada yg berkehendak bebas berinisiatif melakukannya. Mengapa demikian?  Ya, karena pada dasarnya kita semua dipilih Allah. Panggilan itu melekat kuat dalam diri kita sejak kita lahir. Tinggal kita mau atau tidak untuk menjalankannya. 
Sama spt Paulus mungkin  dalam melaksanakan karya panggilan tersebut, kita mengalami berbagai tekanan dan intimidasi, baik yang jelas maupun tersamar. Hal itu sering mengecilkan dan menyurutkan hati dan akhirnya lebih baik memilih diam menyembunyikan jati diri dan kekristenan kita. Seperti Paulus dan Mariana marilah kita yakin pada Allah yang menjaga dan melindungi kita. Jerih payah Paulus menjadi contoh bahwa apa yg ia lakukan bukan kesia-siaan karena terbukti akhirnya daerah Korintus menjadi salah satu gereja yang kuat. Demikian juga Mariana, pengorbanannya memberikan pemulihan kota Quito. Allah menjaga dan membuahkan apa yang kita sampaikan dan lakukan. Tak akan ada yg sia-sia sampai nanti waktunya tiba.

 --------------
Jumat, 26 Mei 2017
Jumat Pekan Paskah VI
Peringatan Wajib S. Filipus Neri, Imam
Bacaan 1: Kis 18:9-18
Bacaan Injil: Yoh 16:20-23a

Tuesday, May 23, 2017

Nasihat yang Jitu

Sepasang suami istri sedang mengadakan perjalanan dengan menunggang keledai mereka. Di tengah jalan seseorang berteriak: �lihat 2 orang tua itu, tega sekali mereka menunggangi keledai itu berdua. Kan berat untuk si keledai.� Maka si istri turun dan membiarkan si suami di atas keledai. Tak berapa lama mereka bertemu orang yang berkata, �lihat suami bodoh, enak saja dia menunggang keledai sementara istrinya disuruh jalan kaki.� Maka kedua suami istri itu bertukar tempat.  Baru berjalan sebentar, ada orang lain lagi berteriak, �tega sekali istri itu membiarkan suami yang sudah bekerja mencari nafkah masih harus jalan kaki.� Mendengar itu maka si suami pun turun dan keduanya meneruskan dengan berjalan kaki sambil menggiring si keledai. Namun tak lama beberapa orang mengetawai mereka sambil berkata: �bodoh sekali orang-orang tua itu, punya keledai tapi tak ditunggangi.�

Mendengarkan dan memberikan nasihat itu susah-susah gampang. Orang keras hati tidak akan mendengarkan nasihat dan memilih jalan yang sudah direncanakannya sendiri. Sementara orang yang rendah diri selalu mendengarkan nasihat dan kemudian bingung mana nasihat yang baik dan yang kurang baik. Sementara pemberi nasihat sering juga memberikan nasihat yang umumnya baik tapi tanpa melihat situasi unik dari si penerima nasihat. Pemberi nasihat juga tidak imun terhadap pengalaman dan ketakutannya sendiri. Lalu bagaimana  nasihat yang baik, yang tidak hanya seperti kata pepatah: �masuk kuping kiri keluar kuping kanan.�

Nasihat kadang cukup dinyatakan sekali dan sudah efektif. Namun ada nasihat- nasihat yang harus berkali-kali dikumandangkan agar efeknya terasa. Tapi nasihat paling jitu apabila diberikan bilamana diberikan bersamaan dengan roh kebenaran. Lihat contoh Paulus. Dia memberikan nasihat agar menyembah Allah yang dikenal dan yang berkuasa. Walaupun dari sisi kita yang percaya nasihat itu sangat jitu dan tak sulit dilaksanakan, toh sedikit saja yang mengikutinya. Dan lihatnya Yesus yang memiliki banyak amanat namun mempercayakan penyampaiannya kepada Roh Kebenaran. Berefleksi dari kedua bacaan ini kita perlu belajar bahwa ketika hendak menyampaikan nasihat pada siapapun, baiklah kita awali dengan doa pribadi agar Roh Kudus menyertai kata-kata nasihat tersebut.



----------------------
Rabu, 24 Mei 2017
Bacaan Pertama: Kis 17:15.22-18:1
Mazmur: Mzm 148:1-2.11-12b.12c-14a.14bcd
Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

Thursday, May 18, 2017

Kenaikan Pangkat dari Kristus

Sewaktu bertemu dengan seorang pastor Indonesia yang bertugas di Taiwan, kami mendapatkan kisah-kisah mengharukan dari para tenaga kerja Indonesia (TKI) di sana. Beberapa memang ada yang memilukan seperti kasus penyiksaan oleh majikannya. Namun ada beberapa TKI yang beruntung mendapatkan majikan yang sangat baik. Begitu baiknya, ketika majikan itu akhirnya meninggal, ia meninggalkan sebagian hartanya bagi si TKI yang telah membantunya selama ini. Para TKI ini kemudian bisa pulang ke Indonesia dan membuka usaha di sini. Seorang hamba yang menjadi sahabat, itulah para TKI.


Apakah sang TKI mengetahui bahwa mereka telah menjadi sahabat terbaik sang majikan di saat-saat akhir hidupnya? Tidak. Karenanya banyak dari mereka merasa terkejut mendapatkan harta warisan tersebut. Namun orang Kristen mengetahui dengan pasti bahwa mereka telah dinaikkan martabatnya oleh Kristus menjadi sahabatNya. Bukan lagi hamba, melainkan sahabat. Artinya kita mendapat bagian dalam kesukacitaanNya, dalam warisanNya, dalam kekuasaanNya.


Apakah �kenaikan pangkat� disebabkan oleh kerja keras para TKI, atau oleh kebaikan hati sang majikan? Tentu karena kebaikan hati sang majikan.  Demikian pula perlu kita sadari bahwa hanya karena kebaikan hati Allah-lah, kita boleh menjadi sahabat Kristus. Ini yang perlu kita syukuri. Salah satu bentuk dari syukur itu adalah dengan tidak memberatkan orang lain dengan beban yang tidak perlu, sebagaimana yang disebutkan di dalam bacaan Kisah Para Rasul. Para rasul mensyukuri rahmat �kenaikan pangkat� menjadi sahabat Kristus, dan karenanya mereka tidak menanggungkan lebih banyak beban kepada orang-orang Antiokhia, yaitu mereka yang tidak lahir sebagai orang Yahudi. Mari kita syukuri rahmat �kenaikan pangkat� kita dan selalu berusaha untuk tidak pernah memberikan beban bagi orang lain. 

-------------------------
Jumat, 19 Mei 2017
Bacaan 1              : Kis 15: 22-31
Bacaan Injil         : Yoh 15: 12-17

Sahabat Sejati


Di abad 5 SM hidup 2 sahabat sejak kecil dan tak terpisahkan, Damon dan Phytias. Setelah dewasa, berlayarlah mereka  ke Italia daerah Siracusa. Tak disangka, suatu saat Phytias menyinggung penguasa Dionisius I yang diktator. Maka ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati karena dianggap menghina. Damon mendengar kabar itu dan bersegeralah ia untuk memohon keringanan hukuman bagi sahabatnya, tetapi sia-sia.

Suatu hari tercetuslah kesedihan Phytias yang ingin berpamitan dengan ibunya. Damon pun kembali menghadap pemerintah memohon untuk menggantikan posisi sementara supaya Phytias bisa pamit dengan ibunya. Sebagai jaminan, maka Damon dipenjara. Bila Phytias tidak kembali pada waktunya, Damonlah yang akan dieksekusi.

Tapi sayang, setelah Phytias menemui ibunya, ia dirampok dan disiksa kemudian diikat. Phytias tidak merasakan lukanya. Ia hanya ingat pada janjinya pada Damon. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan diri dan melompat ke sungai. Ia berenang sekuat tenaga dan akhirnya sampai ke tempat Damon dipenjara.
Di Siracusa, Dionisius I, terus mencemooh kebodohan Damon. Katanya, Phytias pasti sudah melupakannya, dan Damon akan mati sia-sia. Damon tetap teguh, ia yakin sahabatnya pasti akan memegang janjinya.

Hari mulai gelap dan eksekusi akan segera dilaksanakan.  Damon dibawa dan akan dieksekusi di depan ratusan orang yang mencemooh dan mentertawakan dia. Tiba-tiba Phytias datang dengan tubuh penuh luka dan peluh. Lalu ia menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan dua sahabat itu pun berpelukan.

Dionisius I yang tiran itu mendengar juga dan tersentuh hatinya akan persahabatan itu. Ia tak percaya kalau tidak melihat dengan mata sendiri bahwa ada orang yang rela mati bagi sahabatnya. Saking terharunya, ia membebaskan kedua sahabat ini dari eksekusi karena mereka telah menunjukkan sesuatu yang sulit didapat di dunia: Persahabatan Sejati.


Seorang Dionisius bisa luluh karena persahabatan 2 orang manusia. Kenapa?  Karena mencari sahabat sejati semakin sulit, apalagi masa kini. Tetapi tawaran persahabatan sejati yang diberikan Yesus pada muridNya juga ditawarkanNya pada kita. Bayangkan Tuhan kita menawarkan persahabatan. Bahkan kita bisa mengklaim bahwa Yesus adalah sahabat sejati yang juga telah menyerahkan nyawaNya bagi kita, sebagai tindakan tertinggi dari kasih setiaNya pada kita.

Kata,"Kita bukan lagi hamba melainkan sahabat", adalah petunjuk bahwa orang yang percaya bukan lagi manusia rendahan. Kita memiliki posisi yang setara, yang sama. Dan kesetaraan itu makin dikuatkan Kristus dengan pemberian hak untuk tahu segala sesuatu yang telah Kristus dengar dari BapaNya. Ini membuat kita dilimpahi Roh Kudus untuk bisa memahami dan bertanggung jawab akan kehidupan yang dilimpahkan Allah bagi kita dan memahami Yesus sebagai sahabat sejati.


Kita adalah pilihan Kristus. Ini adalah anugerah besar. Bukan karena kepintaran, kegagahan, kekayaan, namun semata karena kita dipilih Kristus. Bukan kita yang memilih Dia, tapi Dia yang memilih kita. Maka kita harus menghasilkan buah limpah dalam rupa kesaksian hidup yang nyata, seperti Phytias dan Damon terhadap Dionisius I.
--------------------
Jumat, 19 Mei 2017
Bacaan 1: Kis 15:22-31
Bacaan Injil: Yoh 15: 15b

Tuesday, May 16, 2017

Melekat pada Sumber, Berbuah Banyak dan Aneka

Pernahkah anda makan masakan khas provinsi tertentu, misalnya sate Madura atau rica-rica Manado? Bagaimana rasanya? Satu restoran berbeda rasa dengan restoran lainnya, yang satu lebih manis yang lain lebih gurih. Ada yang memilih memakai bahan tertentu, ada yang menggantikannya dengan lainnya. Tapi kekhasannya tetap ada, gudeg dengan nangka mudanya dan rica-rica dengan kepedasannya. Tapi cobalah makan makanan tersebut di tempat yang jauh, misalnya di Belanda. Tentu rasanya berbeda jauh  walaupun penyajiannya kurang lebih sama, dimana sate adalah daging ditusuk dan diberi bumbu sementara rica adalah lauk dengan banyak cabai.


Kenapa begitu? Makanan yang dekat dengan sumbernya memiliki banyak variasi tapi tidak kehilangan ciri khasnya. Koki di pusat makanan itu memahami ciri khas itu sehingga tidak kuatir bereksperimen dengan rasa lainnya. Sementara  koki di Belanda hanya belajar dari resep-resep yang ada atau dari youtube, tapi tidak memahami rasa-rasa apa saja yang tidak boleh hilang dari masakan itu. Hasilnya, mereka tidak mampu berkreasi terlalu jauh karena kuatir makanan mereka tidak lagi disebut Sate Madura atau Rica Manado.

Sama dengan orang Farisi di bacaan pertama. Ia tidak melekat kepada sumber kehidupan yaitu Yesus. Ia kuatir kehilangan kekhasan yang akan membuatnya masuk ke Kerajaan Surga. Oleh karenanya ia hanya bertahan kepada apa yang telah diketahuinya: hukum Taurat dan kewajiban bersunat. Sementara Paulus dan Barnabas adalah orang-orang yang melekat pada Yesus seperti ranting anggur dan pokoknya. Mereka tidak kuatir tentang hal-hal teknis itu. Fokus mereka adalah pewartaan kabar sukacita di mana pun mereka berada. Demikianlah kita perlu seperti Paulus dan Barnabas, melekat erat pada sang Pokok Anggur sejati, agar kita tidak kuatir pada hal-hal tambahan, melainkan fokus pada yang utama: Kerajaan Allah bagi seluruh manusia.



-------------------
Rabu, 17 Mei 2017
Rabu Pekan Paskah V
Bacaan Pertama:Kis 15:1-6
Mazmur: Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5
Bacaan Injil: Yoh 15:1-8

Thursday, May 11, 2017

Mendapat Peta Jalan yang Benar

Kalau kita melakukan perjalanan ke tempat yang belum kita kenal, maka kita akan mencari sebanyak-banyaknya petunjuk yang bisa mengarahkan kita untuk bisa sampai pada akhirnya ke tempat tujuan kita itu. Jika salah-salah petunjuk, kita bisa tersesat bahkan bisa semakin jauh sampai tempat tujuan.

Demikian pula tujuan hidup kita pada akhirnya yaitu untuk bisa sampai pada Rumah Bapa di surga. Itulah tujuan perjalanan hidup rohani kita. Sama seperti ketika kita mencari jalan untuk bisa menemukan tempat tujuan kita yang belum kita kenal itu, maka kita perlu mencari sebanyak-banyaknya petunjuk jalan. Maka, untuk sampai ke rumah Bapa di surga, kita juga harus mencari petunjuk sebanyak-banyaknya, dan kitab suci adalah sumber penunjuk jalan kita, sebagai kompas kita sehingga kita mendapat petunjuk dalam melakukan perbuatan  hal-hal yg dibenarkan oleh Bapa, sebagai pembuka jalan.


Benar kata pepatah, banyak jalan menuju Roma ketika kita mencari jalan dan alamat di dunia, tetapi untuk bisa sampai kepada kehidupan kekal, hanyalah melalui Tuhan Yesus sendiri. Karena dengan tegas Yesus mengatakan bahwa, hanya Dialah jalan kebenaran dan hidup untuk bisa sampai ke rumah Bapa di surga. Jadi, berhati-hatilah dalam mencari  jalan hidup yang benar. Tuhan memberkati.
--------------------------
Sabtu, 12 Mei 2017
Sabtu Pekan Biasa
Bacaan 1: Kis 13: 26-33
Bacaan Injil: Yoh 14: 6

Tuesday, May 9, 2017

Menunaikan Tugas Sebagai Pewarta

Setiap orang yang hidup tentu mempunyai tugas. Tugas anak-anak adalah belajar. Tugas kepala keluarga adalah menafkahi keluarga dan memberikan keamanan jiwa dan raga. Tugas seorang istri adalah menghormati suaminya dan menjadikan rumahnya tempat yang nyaman. Tugas orangtua adalah mendidik anaknya. Tugas bawahan adalah melaksanakan pekerjaannya, dan tugas atasan adalah memimpin dengan teladan. Selain dari tugas-tugas duniawi ini kita pun memiliki tugas sebagai anak Allah yakni memberitakan FirmanNya. Tugas setiap orang didefinisikan oleh orang lain yang memiliki otoritas. Tugas anak didefinisikan/ ditentukan oleh orangtuanya. Tugas orangtua ditentukan oleh lingkungannya. Dan tugas sebagai anak Allah ditentukan oleh Allah sendiri.

Kita lihat di dalam Bacaan pertama dan Bacaan Injil, Saulus, Barnabas, bahkan Yesus sendiri memiliki tugas yang sama di dunia, yakni mewartakan Firman Allah. Caranya dan tempatnya memang berbeda. Saulus dan Barnabas ditugaskan merasul di tempat-tempat yang jauh, sementara Yesus mewarta dengan fokus kepada bangsa Israel di sekitar Yerusalem dan Galilea. Ada banyak perbedaan antara cara Yesus dan Saulus dan Barnabas dalam melaksanakan tugas pewartaan yang dapat dipelajari lebih lanjut di dalam Kitab Suci. Namun untuk renungan ini cukuplah kita memahami bahwa tugas pewartaan dapat dilaksanakan dalam berbagai cara, di berbagai tempat, kepada berbagai orang.

Suatu tugas tentunya memiliki hasil yang diharapkan dari pelaksanaan tugas itu. Ketika tugas kita adalah belajar, tentu yang diharapkan adalah kelulusan. Sebagai orang tua yang mendidik anak, tentu diharapkan anak yang dewasa dengan baik dan dapat berkarya bagi Tuhan dan negara. Ketika kita bekerja, tentu kita ingin agar pekerjaan kita berhasil. Dan seterusnya. Bagaimana dengan tugas pewartaan? Tentu kita ingin agar pewartaan kita didengar orang dan orang beriman karena pewartaan kita. Namun Yesus mengingatkan bahwa tugas kita adalah mewartakan, namun orang menjadi percaya bukan karena kita melainkan karena Dia yang mengutus kita. Bila mereka tidak percaya kepada pewartaan kita, maka bukan kita yang boleh menghakimi melainkan Firman Allah. Bila mereka tidak mendengarkan, kita pun tidak dihakimi karena hasil dari tugas kita adalah kita yang melaksanakan. Dalam perikop Saulus dan Barnabas, tidak dikisahkan mengenai perubahan iman  orang di daerah Salamis. Artinya penulis tidak kuatir tentang hal itu, namun penulis mengisahkan bahwa Saulus dan Barnabas langsung berangkat setelah diutus Roh Kudus dan didoakan jemaat.

Marilah kita merenung akan hidup kita sendiri dan tugas yang telah ditentukan Allah bagi kita. Apakah kita sedang mewartakan Firman Allah? Bagaimana kita mewartakannya? Kepada siapa kita mewartakannya? Di mana kita mewartakannya? Apakah kita kecewa dengan hasil yang rasanya sedikit sekali? Apakah kita berlambat-lambat dalam melaksanakan tugas kita? Apakah Roh Kudus memiliki tugas khusus bagi kita? Apakah kita telah melaksanakan tugas  itu, bila belum mengapa? Mari melaksanakan tugas perutusan kita sebagai anak Allah.


-----------------------
Rabu, 10 Mei 2017
Rabu Pekan Paskah IV
Bacaan Pertama: Kis 12:24-13:5a
Mzm 67:2-3.5.6.8
Bacaan Injil: Yoh 12:44-50

Tuesday, April 25, 2017

Ngapain Takut Kalau Gak Punya Salah...

Kita tentu belum melupakan masa-masa sebelum Pilkada, di mana begitu banyak isu-isu beredar. Salah satunya adalah Sidang Ahok yang menghadirkan bukti komunikasi antara 2 pihak yang dicurigai bekerjasama untuk menjatuhkan Ahok, gubernur petahana DKI Jakarta. Bukti tersebut langsung menyengat salah satu pihak yang dicurigai dan pihak tersebut langsung bereaksi ketakutan dan defensif. Sementara itu ditayangkan pula saat Jokowi ketika menjadi gubernur dan ada isu bahwa kantornya disadap. Saat itu reaksi Jokowi sangat berlawanan, ia santai saja bahkan mengatakan �ah kasian orang yang nyadap, pulang dengan tangan kosong.�


Sidang Ahok serta keterbukaan Jokowi menjadi contoh jelas betapa orang benar masih selalu dilindungi Tuhan. Mereka tidak dibiarkan terpenjara baik dalam hal kebebasan berbicara dan menduduki posisi, bahkan melalui orang-orang yang berusaha menjahati, mereka membuka kebenaran bagi semua orang.


Di dalam kehidupan sehari-hari kita, masih adakah hal yang masih kita rahasiakan? Rahasia dimaksud tidak saja perbuatan jahat, melainkan juga keraguan akan kebenaran. Kita meragukan Tuhan dan keberadaanNya, dan keraguan itu kita sembunyikan. Kita meragukan berbagai hal yang belum tentu benar, seperti ketulusan seseorang. Itu pun adalah sebuah kejahatan karena dengan demikian kita terpenjara olehnya. Akukanlah hal itu, dan berjalanlah untuk mendapatkan jawaban dan solusinya, karena Tuhan mengutus Anaknya bukan untuk menghakimi kejahatan dan keraguan kita, melainkan menyelamatkan kita. Maukah kita menghampiriNya?
----------------------------
Hari Biasa Pekan II Ppaskah
Bacaan 1: Kis 5:17 - 26
MT: Mzm 34: 2-9
Bacaan Injil:Yoh 3:16-21

Thursday, April 20, 2017

Iman Mencari Pengertian

Iman Mencari Pengertian (Fides Quaerens Intellectum). Ini adalah karya St. Anselmus yang hari ini kita rayakan. Ia juga berpegang pada moto St. Augustinus: �Saya percaya agar dapat mengerti.� Tema ini sangatlah cocok dengan bacaan pada hari ini ketika orang-orang Saduki yang tidak percaya pada kebangkitan, marah kepada para rasul yang mengajarkan bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Ketidakpercayaan orang Saduki membuat mereka tidak mampu memahami kebangkitan Yesus, padahal mereka pasti telah mendengar kubur kosong dan kesaksian orang-orang yang telah melihat Yesus dalam tubuh kemuliaanNya. 

Bandingkan hal ini dengan para rasul di pantai danau Tiberias. Mereka tadinya pun ragu bahwa Yesus sudah bangkit. Namun ketika Yesus membuat mereka berhasil menangkap ikan banyak, mereka langsung tahu bahwa �itu Tuhan.� Mereka percaya walaupun belum mengerti bagaimana Yesus bangkit. Para Rasul yang percaya itu baru �mengerti� jauh setelah Yesus naik ke surga, dan akhirnya mereka mampu bersaksi di depan sidang sebagaimana dikisahkan di Kisah Para Rasul. 

Proses yang sama terjadi pada kita sampai sekarang ini. Banyak orang berusaha mengerti keAllahan dan kebangkitan Yesus. Mereka meneliti kain kafan dari Turin. Mereka meneliti kubur kosong. Mereka meneliti berbagai kemungkinan yang ada. Bisa jadi kita merupakan dua org  yg sedang meneliti  keberadaan Yesus . Pribadi  yang pertama percaya Yesus dan yang kedua tidak. Keduanya melakukan  penelitian yang sama. Yg terjadi yang pertama makin kuat imannya, sementara yg kedua berusaha mencari penjelasan lain yang masuk di akal dan tdk pernah membiarkan imannya bekerja. 
Pengetahuan tidak mampu memberikan pengertian. Hanya iman yang memberikan pengertian.

Karena itu dalam mencari Dia, selalu jadikanlah Dia sebagai batu penjuru supaya apa yg tak terbatas dan sulit dipahami akal manusia yang terbatas,  menjadi  iman yang sederhana dan mudah dipahami  yaitu dengan percaya penuh.
-----------------------------------
Jumat, 21 April 2017
Pw. St. Anselmus
Bacaan 1: Kis 4:1-12
Injil: Yoh 21: 1- 14

Tuesday, April 18, 2017

Kagum pada Yesus

Ketika saya mengagumi seseorang, maka saya akan mulai berlaku seperti dia. Mulai dari bagaimana gaya bicaranya,  apa yang akan dikatakannya dalam segala situasi, gayanya bergerak, aksennya, makanan kesukaannya, warna favoritnya, dan sebagainya. Ini bukan terjadi hanya pada anak kecil, tetapi juga orang dewasa yang mengagumi orang lain. Berusaha seperti dia yang dikagumi.


Yesus pun ingin murid-muridNya mengagumi Dia. Makanya Ia mengundang mereka tinggal bersama-sama Dia, mengikuti Dia, bukan hanya menghadiri kelas-kelasNya. Dengan mengikuti Dia berarti murid-muridNya pun mengikuti hatiNya yang cepat tergerak oleh belas kasihan, imanNya yang kuat dan menyelamatkan, tujuanNya yang pasti yaitu mewartakan Injil. Demikianlah yang dilakukan Petrus dan Yohanes ketika mereka bertemu dengan si lumpuh di Gerbang Bait Allah. Mereka digerakkan hatinya oleh belas kasihan si lumpuh yang mengemis pada mereka, dan dengan iman mereka kepada Yesus, mereka menyembuhkan si lumpuh. Melalui belas kasihan dan iman itu, mereka mewartakan Yesus pada semua orang yang sedang berkumpul di Bait Allah.


Demikian pula murid-murid Yesus di Emaus. Yesus tinggal bersama mereka dan menjelaskan segala sesuatu kepada mereka. Sebenarnya mereka mengagumi Yesus ketika Yesus belum disalib. Tapi kekaguman itu memudar ketika Yesus menyerahkan diri dan ada gosip tentang kebangkitanNya. Namun ketika Yesus berhasil memulihkan kekaguman mereka kepadaNya melalui Ekaristi (pemecahan roti), maka mereka langsung berangkat kembali ke Yerusalem dan mewartakan kabar sukacita itu sebagaimana yang juga dilakukan Yesus semasa hidupNya. Apakah kita cukup mengagumi Yesus sehingga kita mengikuti Dia dengan semangat dan tekun? Mari kita renungkan bersama-sama.
-------------------------------
Hari Rabu dalam Oktaf Paskah
Bacaan 1: Kis 3:1-10
MT: Mzm 105:1-4, 6-9
Bacaan Injil: Luk 24:13 - 35 

Tuesday, January 24, 2017

Yuk Berdoa bagi Para Saulus Baru

Siapakah Saulus yang kemudian menjadi Paulus? Mengapa ia menganiayai murid Yesus sedemikian hebat? Ada 2 kata yang dapat digunakan: Fanatik dan Fundamentalis. Fanatik menurut kamus adalah teramat kuat kepercayaan (keyakinan) terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Fundamentalis adalah penganut gerakan keagamaan yang bersifat kolot dan reaksioner yang selalu merasa perlu kembali ke ajaran agama yang asli seperti yang tersurat di dalam kitab suci.  Saulus tidak merasa salah ketika ia menghukum para pengikut Kristus, karena ia percaya bahwa ia sedang membawa mereka kepada jalan kebenaran.


Perkembangan saat ini sedang memunculkan Saulus-Saulus baru. Mereka yang taat dan setia pada kitab suci agamanya sampai sekecil-kecilnya. Mereka tidak bersedia mengampuni, dan terus menghukum di dalam nama Allah yang maha pengampun.  Mereka yang tidak mau berbelas kasih namun berdoa kepada Allah yang maha rahim. Mereka adalah kita, bila kita tidak waspada.


Marilah kita berdoa bagi diri sendiri agar kita tidak menjadi Saulus yang menganiaya Tubuh Kristus, serta menjadi pewarta kabar sukacita yang sesungguhnya di tengah masyarakat kita. Dan marilah kita berdoa bagi mereka yang masih terjebak di dalam faham-faham fanatisme dan fundamentalisme, agar mereka, seperti Paulus, diselamatkan dan menjadi rasul Tuhan.

-----------------------
Rabu, 25 Januari 2017
Pesta Bertobatnya S. Paulus Rasul (P)
Bacaan 1: Kis 22:3-16 atau Kis 9:1-22
MT: Mzm 117:1,2B
Bacaan injil:Mrk 16:15-18

"Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-Tua dapat memberi kesaksian. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum. Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah dekat Damsyik, yaitu waktu tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku. Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Jawabku: Siapakah Engkau, Tuhan? KataNya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu. Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar. Maka kataku: Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu. Dan karena aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik. Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan melihatlah! Dan seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendakNya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulutNya. Sebab engkau harus menjadi saksiNya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!  (Kis 22:3-16)

Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasihNya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya! (Mzm 117:1-2)

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."  (Mrk 16:15-18)

Saturday, October 22, 2016

Gulungan Laut Mati: Isi (Tulisan Kedua)

Apa saja isi dari kesebelas gua di Qumran? Apakah semuanya ada di dalam Kitab Suci? Ternyata tidak. Ada beberapa teks tidak ada di dalam Kitab Suci kita.  Mari kita lihat satu persatu.


Gua
Biblikal
Non Biblikal
1.        
         Kitab Yesaya

         Aturan Masyarakat
         Gulungan Perang
         Nyanyian Syukur
         Apokrif Kejadian
         Komentari Kitab Habakuk
2.        
         Kitab-kitab Taurat
         Kitab Yeremia
         Kitab Mazmur
         Kitab Ayub
         Kitab Rut
         Kitab Yesus bin Sirakh
         Kitab Yobel
         Apokrif Musa
         Apokrif Daud
         Nubuat Apokrif
         Yerusalem Baru
         Teks Yuridis
         Kitab tentang Raksasa dari Kitab Henokh
3.        
         Kitab Yehezkiel
         Kitab Mazmur
         Kitab Ratapan
          
         Kitab Yobel
         Wasiat Yehuda
         Gulungan Tembaga
         Komentari Kitab Yesaya
          
4.        
         Kitab-kitab Taurat
         Kitab Daniel
         Kitab Yosua
         Kitab Ratapan
         Kitab Tobit
          

         Berbagai Tefilin*
         Targum** Kitab Imamat
         Targum Kitab Ayub
         Komentari Kitab Yesaya
         Komentari Kitab Kidung Agung
         Komentari Kitab Hosea
         Komentari Kitab Nahum
         Kitab Henokh
         Wasiat Dua Belas Leluhur
         Wasiat Naftali
         Naskah Anak Allah
         Peraturan Komunitas
         Dokumen Damaskus
         Peraturan Perang
         Karya Sapiential A
         Mazmur Apokrif
         Miqsat Ma'ase Ha-Torah atau Beberapa Aturan Hukum atau Surat Halakhik
         Kidung Persembahan Sabat atau Liturgi Angelik
         Kidung untuk Raja Yonatan atau "Gulungan Doa untuk Raja Yonatan" (Mzm 154)
         Kidung orang Bijak (Songs of the Sage)
         Apokalips Mesianik
         Wasiat Yusuf
         Wasiat Lewi
         Yerusalem Baru
5.        
         Kitab Ulangan
         Kitab 1 Raja-raja
         Apokrif Maleakhi
         Peraturan Komunitas
         Dokumen Damaskus
         Peraturan
         Kutukan-kutukan
         Yerusalem Baru
6.        
         Kitab Kejadian
         Kitab Imamat
         Kitab Ulangan
         Kitab 1 dan 2 Raja-raja
         Kitab Kidung Agung
         Kitab Daniel
         Kitab Amsal
         Kitab Raksasa dari Kitab Henokh
         Apokrif Samuel � Raja-raja
         Alegori Anggur
         Nubuat Apokrif
         Nubuat Imamat
         Dokumen Damaskus
         Benediction
         Dokumen Calendrical
         Himne
          
7.        
         Kitab Keluaran
         Kitab Yeremia
         Surat 1 Timotius
         Injil Markus (diduga)
         Kisah Para Rasul (diduga)
         Surat Yakobus (diduga)
         Henokh
          
8.        
         Kitab Kejadian
         Kitab Ulangan
         Kitab Mazmur
         Kitab Keluaran
          
9.       ***
          
          
10.    
          
         Dua surat yang ditulis di atas potongan periuk/ Ostrakon
11.    
         Kitab Imamat
         Kitab Ulangan
         Kitab Yehezkiel
         Kitab Mazmur
          
         Targum Kitab Ayub
         Apokrif Kitab Mazmur
         Kitab Yobel
         Pangeran Sorgawi Melkisedek
         Kitab Perang
         Kidung Upacara Pengorbanan Sabat
         Yerusalem Baru
         Gulungan Bait Allah

Walaupun dikatakan ditemukan suatu kitab, bukan berarti seluruh kitab ditemukan secara lengkap. Mengingat kondisinya yang sangat rusak, dan mengingat pula bagaimana Kitab Suci disusun, maka banyak dari teks-teks tersebut hanya dapat dikaitkan kepada beberapa bagian dari teks kitab yang dimaksud.  
Di dalam beberapa gua ada pula teks-teks yang tidak teridentifikasi.

* Tefilin adalah sepasang kotak kulit hitam berisi gulungan perkamen dengan tulisan ayat Alkitab di dalamnya. Tefillin-tangan atau shel-yed dipakai oleh orang Yahudi untuk dililitkan di sekeliling lengan, tangan, dan jari mereka, sedangkan Tefillin-kepala atau shel-rosh diletakkan di atas dahi. Torah meyebutkan Tefillin harus digunakan untuk pelayanan sebagai "tanda" dan "pengingat" bahwa Tuhan membawa anak-anak Israel keluar dari Mesir.
** Targum adalah penjelasan, parafrasa dan pengembangan lisan mengenai Alkitab Ibrani yang diberikan oleh para rabbi dalam bahasa sehari-hari kepada para pendengarnya pada periode di mana bahasa yang dipakai adalah bahasa Aram. Hal ini diperlukan karena menjelang akhir abad menjelang munculnya Kekristenan, bahasa umum sedang mengalami transisi, yaitu bahasa Ibrani yang merupakan bahasa asli Alkitab Ibrani tidak lagi dipakai secara umum dan hanya dalam rangka acara keagamaan.

*** di gua nomor 9 hanya ada teks-teks yang tak teridentifikasi

Recent Post