Latest News

Showing posts with label Markus. Show all posts
Showing posts with label Markus. Show all posts

Tuesday, June 5, 2018

Harapan sebagai Sumber Kehidupan

Di dalam sebuah buku, The World Until Yesterday, karangan Jared Diamond, ia berargumentasi bahwa agama dilihat sebagian orang sebagai upaya manusia untuk menjelaskan hal-hal yang belum dapat dimengerti, dan untuk memberikan harapan serta kekuatan untuk menjalani hidup yang terkadang sangat berat. Karena argumen-argumen seperti ini, banyak orang kini menganggap agama hanya sebagai �kebohongan semata�, �kekuatan sugestif�, dan sebagainya. Artinya agama bukan bersumber dari yang mahakuasa, melainkan dari kita yang membutuhkan suatu pegangan hidup.

Benar atau tidaknya argumen itu akan tergantung dari bagaimana kita memiliki iman. Tapi faktanya adalah agama memberikan pemeluknya suatu harapan bahwa hidup di dunia ini singkat tapi sangat menentukan bagaimana kita nanti hidup kekal. Hidup benar saat ini, hidup seribu tahun yang menyenangkan di surga. Hidup sesat saat ini, hidup selamanya di dalam api sekam.

Bagi orang ateis, tidaklah mungkin ada kebangkitan. Begitu kita mati, maka kita akan lenyap. Bagi mereka, suatu ketiadaan kekal merupakan hal yang tidak perlu disesalkan, cukup lakukan yang terbaik di dalam umur kita yang singkat di dunia ini. Namun benarkah demikian? Ada banyak kasus bunuh diri karena mereka merasa penderitaannya di dunia terlalu berat, sehingga ketiadaan menjadi lebih baik daripada ada tapi sakit.

Orang yang tidak memiliki keyakinan akan kebangkitan, tidak memiliki pula makna hidup. Apa makna hidup kita di dunia ini? Ya, agar kita dibangkitkan pada hidup yang kekal dan melihat bahwa semua yang kita lakukan itu baik adanya. Ada harapan yang terkandung disitu. Maka berbahagialah kita yang percaya akan kebangkitan, karena dengan demikian, penderitaan kita di dunia ini menjadi bermakna.

---------------------
Bacaan Liturgi 06 Juni 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa IX
PF S. Norbertus, Uskup
Bacaan Pertama: 2Tim 1:1-3.6-12
Bacaan Injil: Mrk 12:18-27

Tuesday, May 29, 2018

Pemimpin yang Melayani


Suatu hari ketika kantor saya mengadakan outbound bersama, saya belajar arti menjadi seorang pemimpin yang melayani. Grup yang besar dibagi-bagi menjadi grup-grup kecil dan diutus untuk melakukan perjalanan yang cukup melelahkan secara fisik, naik turun bukit yang licin dan berbatu-batu. Kebetulan saya berada di dalam satu rombongan dengan seorang wanita yang kurang disukai semua orang di kantor karena kinerjanya dan sikapnya terhadap pekerjaan, sebut saja namanya Ines.

Ines selalu tertinggal dari kelompok, sehingga kami harus selalu menunggu dia. Tentunya karena dia bukan orang yang kami sukai, menungguinya kami lakukan dengan kesal hati. Di tengah perjalanan, ia mengeluh bahwa ia tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan. Semua anggota kelompok yang lain sepakat dengan cepat bahwa kita harus meninggalkannya di situ sendiri dan menyelesaikan permainan, lalu meminta orang untuk kembali ke situ dan menjemput dia.

Tapi ada satu orang yang tidak setuju. Ia memberikan usul bahwa ia akan menemani Ines di situ sampai pertolongan datang, atau kita semua akan menemani Ines dan memperlambat laju perjalanan kita. Orang ini masih muda, bahkan yang termuda dari antara kita, paling kuat, paling cepat dan lincah jalannya, dan disukai semua orang di kantor. Akhirnya kami semua sepakat untuk memperlambat laju perjalanan dan menyelesaikan permainan itu bersama-sama.

Hari itu saya menyadari, untuk menjadi seorang pemimpin, kita harus dapat mengenali siapa yang terlemah di antara kelompok kita. Dan karena kita bukan berasal dari �benih yang fana� melainkan �benih yang baka�, maka kita harus melayani yang terlemah itu dengan kasih persaudaraan yang tulus. Anak muda yang bahkan bukan orang Kristen itu telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk saya, dan semoga juga untuk Anda, tentang pemimpin yang melayani yang diajarkan oleh Yesus Kristus.


-------------------------

Bacaan Liturgi 30 Mei 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa VIII
Bacaan Pertama: 1Ptr 1:18-25
Bacaan Injil: Mrk 10:32-45

Tuesday, May 22, 2018

Kuasa Allah atas Kehidupan

Tentunya peristiwa pemboman gereja-gereja di Surabaya belum hilang dari ingatan kita. Setelah beberapa hari lewat dan berita-berita sudah mulai membicarakan latar belakang dan hal-hal yang tak kelihatan secara langsung, kita mulai mendengar beberapa kisah yang membuat kita merasa tak berdaya di hadapan Allah.

Seorang ibu yang meninggal dalam kejadian itu kebetulan bukan umat Surabaya, melainkan hanya datang ke Surabaya untuk suatu pameran. Karena ia mendengar bahwa gereja itu menarik secara arsitektur, maka ia memilih Gereja St. Maria Tak Bercela untuk Misa, padahal Katedral jauh lebih dekat dari hotelnya. Ketika ia sampai di gereja, ia tidak langsung masuk ke dalam, melainkan berjalan-jalan di dekat pintu gereja sampai bom itu meledak dan mengambil nyawanya. Sebaliknya seorang ibu lainnya yang biasa misa di gereja itu dan di jam itu, entah mengapa hari itu terlambat bangun dan terpaksa mengubah lokasi misanya ke gereja lain.

Allah berkuasa memberikan hidup yang lebih panjang dan berkuasa pula mengambilnya dalam sekejap. Ia berkuasa untuk memberikan keberhasilan semua usaha kita maupun menundanya. Ia berkuasa memberikan kuasa atas roh jahat kepada orang yang menurut kita tidak layak, berkuasa pula mengambil kuasa itu dalam sekejap. Mari kita merendahkan diri di hadapanNya.


-----------------------

Bacaan Liturgi 23 Mei 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa VII
Bacaan Pertama: Yak 4:13-17
Bacaan Injil: Mrk 9:38-40

Tuesday, April 24, 2018

St. Markus, Sang Singa yang Kuat

Santo Markus adalah salah satu dari 4 penulis Injil. Injilnya diyakini adalah yang paling tua dan menjadi salah satu sumber dari kedua Injil lainnya yaitu Matius dan Lukas. St.Markus digambarkan seekor singa. Richard Burridge dalam bukunya Empat Injil, Satu Yesus menggambarkan gaya menulis St. Markus seperti seekor singa yang berlari cepat menuju mangsanya, menjelajah padang yang luas dan memiliki kekuatan serta kecepatan yang mengagumkan. Demikianlah kita merasa bila kita membaca Injil Markus dengan komplit maka kita pun akan merasa bahwa kisah-kisah Yesus diceritakan secara singkat, menjelajah banyak  aspek, namun mengena pada sasaran.

St. Markus sungguh-sungguh menghayati pesan Yesus yang terakhir kepada pada murid-murid yaitu �Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.� Urgensi dari pesan ini sungguh tampak kepada bagaimana Markus menuliskan Injilnya. Ia mewartakan yang penting-penting. Dalam setiap pewartaannya ia menegaskan bahwa pesan itu harus dilaksanakan dengan cepat. Ia juga menegaskan bahwa sama seperti singa yang harus cepat menerkam mangsanya, yaitu memberitakan Injil ke seluruh dunia dan ke segala makhluk, kita pun dipersenjatai dengan kekuatan mengusir setan, berbicara dalam bahasa baru, minum racun namun tidak celaka dan kuasa menyembuhkan orang sakit.

Demikianlah kita perlu menangkap pesan-pesan ini dalam kehidupan kita. Marilah kita mewartakan Kristus� sekarang juga, di tempat ini juga, dengan kuasa yang telah dipercayakan kepada kita. Jangan sampai ketika Ia datang untuk kedua kalinya, Ia menemukan ada bagian dunia yang belum tersentuh oleh kabar gembiraNya.


-------------------------
Bacaan Liturgi 25 April 2018
Pesta St. Markus, Penulis Injil
Bacaan 1: 1Ptr 5:6b-14

Injil: Mrk 16:15-20

Tuesday, February 6, 2018

Najis atau Tidak?

Belakangan ini sangat santer berita tentang toko atau penyedia jasa yang menolak melayani beberapa pelanggannya, bahkan yang sudah bekerjasama bertahun-tahun, karena dianggap najis. Anggapan najis bisa karena pelanggan itu memiliki keyakinan lain, atau memiliki binatang yang dianggap haram, atau memilih cara hidup yang tidak sesuai dengan keyakinannya sendiri. Pertanyaan yang seharusnya muncul di benak kita adalah:pernahkah kita juga melakukan hal tersebut kepada sesama kita? Kita menolak melayani yang tidak kita sukai. Kita menghindari pelayanan yang tidak kita nikmati. Kita menolak mendekati orang lain karena takut akan disakiti baik hati maupun raganya.

Berbahagialah kita orang Kristiani karena Tuhan Yesus telah menyatakan secara jelas bahwa yang menajiskan kita bukanlah sesuatu yang dari luar. Bukan karena persentuhan kita secara badani dengan orang yang berbeda dengan kita. Bukan karena makanan yang kita makan dan minuman yang kita minum. Namun konsekuensi dari perkataan ini sebenarnya sangat berat karena Tuhan meneruskan: yang menajiskan adalah pikiran jahat, walaupun pikiran itu belum berbuah dalam tindakan; kesombongan, walaupun kita tidak pernah mengatakan sesuatu yang merendahkan. Lebih sulit untuk menjaga sesuatu yang muncul dari dalam hati ketimbang menghindari sesuatu yang dapat kita lihat dan rasakan.


Dan ketika kita telah dipenuhi oleh pikiran jahat, mampukah kita menjadi seperti Salomo, penuh hikmat dan kebenaran sehingga Ratu Syeba bertekuk lutut dan mengakui Allah? Bila Salomo menghindari orang yang berbeda keyakinan, maka sampai saat ini pun Ratu Syeba yang datang dari daerah di luar Israel takkan berkata: �Terpujilah Tuhan, Allahmu, yang telah berkenan kepadaku sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel!� Maka marilah kita selalu menguduskan hati dan pikiran kita melalui refleksi dan pengakuan dosa terus menerus, agar yang keluar dari kita adalah hikmat dan kebenaran dari Tuhan sendiri. 

---------------------
Bacaan Liturgi 07 Februari 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa V
Bacaan Pertama: 1Raj 10:1-10

Bacaan Injil: Mrk 7:14-23

Tuesday, January 30, 2018

Kesombongan yang Menjauhkan Rahmat

Kesombongan selalu membuat rahmat Tuhan jauh daripada kita. Raja Daud mengadakan sensus karena kesombongannya sendiri. Kegiatan sensus itu sendiri sebenarnya tidak menyebabkan dosa, karena Musa juga melakukan sensus atas perintah Allah. Namun Daud memiliki keinginan sendiri, yaitu untuk membandingkan dirinya sendiri sebagai raja atas sekian banyak orang, jauh lebih banyak daripada suku-suku lain di sekitarnya. Oleh sebab itulah ia kemudian merasa bersalah dan akhirnya Allah menyebabkan tulah bagi bangsa Israel, yaitu sampar.

Kesombongan pulalah yang telah membuat orang-orang di tempat asal Yesus tidak mengalami mukjizat sebanyak tempat lain yang dikunjungi Yesus. Kesombongan bahwa tidak mungkin seorang anak tukang kayu, anak Maria, dan yang saudara-saudaranya mereka kenal sebagai orang yang biasa-biasa saja, dapat menciptakan mukjizat seperti yang mereka telah dengar. Kesombongan itu membuat rahmat yang dibawa oleh Yesus tidak bekerja pada mereka.

Marilah kita merenungkan diri kita sendiri? Adakah kesombongan kita telah menjauhkan kita dari rahmat Tuhan? Adakah kita berpikir bahwa hal itu tidak mungkin karena  si pembawa rahmat adalah orang berdosa, orang yang kurang pintar dan kurang suci dibandingkan kita? Adakah kesombongan kita telah membuat mukjizat Tuhan tidak nyata, karena kita berpikir mukjizat itu seharusnya cukup besar untuk dilihat banyak orang, atau cukup signifikan dalam merubah hidup kita? Semoga kita mampu untuk mengalahkan kesombongan, melihat rahmat Tuhan dalam hal-hal kecil dalam hidup kita, yang dibawa oleh setiap orang yang bersentuhan dengan kehidupan kita. Karena Tuhan kita yang maha besar, mampu memberikan rahmatNya melalui setiap perkara dan setiap orang.

-----------------
Bacaan Liturgi 31 Januari 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa IV
PW S. Yohanes Bosko, Imam
Bacaan Pertama: 2Sam 24:2.9-17

Bacaan Injil: Mrk 6:1-6

Tuesday, January 23, 2018

St. Fransiskus dari Sales: Ambillah Hatiku Tuhan

Tiap tanggal 24 Januari Gereja memperingati salah satu orang kudusnya, yaitu St. Fransiskus dari Sales. Ia adalah uskup di Geneva, Swiss. Sebagai seorang uskup, ia tetap memperhatikan perkembangan iman umatnya. Banyak orang bertobat bukan karena kepintarannya sebagai uskup tetapi karena kebaikan hatinya. Fransiskus menulis: �Jika ada sesuatu yang lebih mulia dari pada kelemahlembutan dan kerendahan hati, tentunya Tuhan sudah mengajarkannya kepada kita. Tuhan justru mengajarkan dua hal kepada kita yakni kelemahlembutan dan kerendahan hati�.

Ia pernah menulis sebuah doa yang bagus yang menunjukkan bagaimana Ia memiliki devosi kepada Hati Kudus Yesus: �O, Juruselamat kita akan mengambil hati kita dan menggantikannya dengan Hati-Nya sendiri. Namun, bukankah dengan demikian membuat hati kita sepenuhnya menjadi Hati-Nya � milik Hati-Nya secara murni dan tak dapat diubah? O semoga Yesus kita yang manis melakukan ini! Aku menyebabkan timbulnya pikiran Yesus untuk melakukan ini oleh Hati-Nya dan oleh kasih yang ada dalam Hati-Nya itu, yaitu kasih di atas segala kasih. Seandainya Dia tidak melakukannya (tetapi tanpa ragu Dia akan melakukannya karena kita minta kepada-Nya), maka sedikitnya Dia tidak akan dapat mencegah kita untuk mengambil Hati-Nya, karena Dia masih mempunyai dada-Nya yang terbuka untuk ini; dan apabila kita harus merobek dada kita sendiri untuk menaruh Hati-Nya di dalamnya dan bukan hati kita, tidakkah kita akan melakukannya? Semoga Nama-Nya yang Kudus selamanya dipuji.�

Dengan doa ini marilah kita merenungkan bacaan pertama, di mana Raja Daud ingin membuat rumah bagi Allah. Kita pun seharusnya ingin membuat rumah bagi Allah. Namun rumah yang Allah inginkan bukanlah dari kayu aras, melainkan dalam hati kita. Allah sendiri pun berfirman kepada Natan: �Tidak pernah Aku diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman.� Apa artinya? Allah selalu mengembara bersama pengembaraan kita, bahkan sampai sekarang. Maka marilah kita bersama dengan St. Fransiskus dari Sales, menyerahkan hati kita untuk digantikan dengan Hati Kudus Yesus, agar Allah mempunyai kediaman di dalam hati kita selama-lamanya.

-----------------------
Bacaan Liturgi 24 Januari 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa III
PW S. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: 2Sam 7:4-17

Bacaan Injil: Mrk 4:1-20

Thursday, January 18, 2018

Dikelilingi Orang Kepercayaan

Seorang bijak pernah berkata: �Seorang tentara selalu siap untuk melawan musuh yang ada di depannya, tapi tidak pernah siap untuk menghadapi tembakan dari belakang.� Kita selalu mengandalkan orang-orang yang kita percaya untuk menjaga kita dari segala arah. Demikian pula Saul. Ia mengandalkan orang-orang di sekitarnya, dan ketika mereka memfitnah Daud, Saul pun percaya padanya. Bahkan Yesus pun tidak terkecuali dari hal itu. Di antara keduabelas muridNya yang dipilihNya sendiri, ada 1 orang yang mengkhianatiNya.

Setiap orang dapat mengkhianati kita. Mereka semua memiliki motivasinya sendiri-sendiri dalam mengikuti atau berteman dengan kita. Apakah dengan demikian kita harus mengembangkan ketidakpercayaan pada orang-orang di sekitar kita? Tidak. Marilah kita meneladan Yesus. Ia tahu bahwa di antara keduabelas itu akan ada yang mengkhianatiNya. Namun Ia tetap mengutus mereka, memberikan kuasa yang sama kepada mereka semua untuk mengusir setan. Walaupun demikian, kita harus tetap waspada supaya tidak seperti Saul yang terlalu mempercayai orang-orang terdekatnya dan buta terhadap kebaikan orang-orang lain.

Mari kita terus menerus mempertanyakan motivasi kita masing-masing dan dengan demikian kita lebih mudah melihat motivasi orang lain. Mari kita terus menerus mengelilingi diri kita dengan orang-orang yang memiliki motivasi tulus, rendah hati, dan takut pada Tuhan. Merekalah orang-orang yang tidak akan mengkhianati kita. Semoga usaha kita selalu diberkati oleh Tuhan.

-----------------------------------------
Bacaan Liturgi 19 Januari 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa II
Bacaan Pertama: 1Sam 24:3-21

Bacaan Injil: Mrk 3:13-19

Tuesday, January 16, 2018

Apatis = Hati Degil

Dengan kedua bacaan ini mari kita merenungkan tentang ketakutan yang menumbuhkan sikap apatis. Sikap apatis adalah sikap yang tidak mau bereaksi baik positif maupun negatif, baik ketika orang lain berbuat salah, yang penting dirinya sendiri tidak terpengaruh secara langsung. Sikap apatis tumbuh dari ketakutan, arogan, ketidakpedulian, atau ingin menyelamatkan diri sendiri.

Bangsa Israel pada bacaan pertama memiliki sikap ini. Mereka tidak bergerak untuk menyambut tantangan Goliat. Mereka menunggu dalam ketakutan, berharap orang lain yang akan datang menyelamatkan mereka. Demikian pula hal ini tampak di bacaan kedua pada orang-orang Farisi ketika Yesus menantang mereka. Mereka tidak berani menjawab, takut jawaban mereka tidak menyenangkan hati pihak lainnya. Mereka memilih untuk diam, lalu mengambil strategi untuk bersekongkol di belakang Yesus.

Kita pun sering menemui orang-orang dengan sikap apatis seperti ini. Orang-orang yang ketika diajak melayani, mengunjungi orang, mempersiapkan sesuatu, hanya diam saja. Tidak bilang ya ataupun tidak. Mereka tidak mau menempatkan diri mereka pada situasi yang mungkin tidak enak bagi mereka. Mereka tidak mau berkomitmen karena kuatir tidak mampu menjaga komitmen itu. Mereka tidak mau menjawab karena takut ditertawakan dan dihina.

Maka kini marilah kita mempertanyakan diri kita sendiri: mampukah kita menggeser sikap apatis kita, menantang diri kita untuk mampu berada di tempat yang tidak kita sukai, di luar zona nyaman kita. Mampukah kita mengatasi rasa takut, rasa malu, rasa arogan kita, agar sedikit demi sedikit kita menjadi tidak apatis lagi? Selamat berjuang.

-------------------
Bacaan Liturgi 17 Januari 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa II
PW S. Antonius, Abas
Bacaan Pertama: 1Sam 17:32-33.37.40-51

Bacaan Injil: Mrk 3:1-6

Thursday, January 11, 2018

Allah Raja Kita

Kedua bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa sering kali kita mendambakan seorang raja atau imam yang dapat dilihat, dapat dibandingkan dengan raja atau imam lainnya, dapat menjadi objek kita melimpahkan keluhan dan kesulitan kita. Kita sering memiliki harapan tertentu atas raja dan imam yang berkenan kita ikuti. Di dalam harapan itu kita sering kali melupakan bahwa Allah seharusnya yang menjadi raja dan imam sejati kita. Mari kita lihat bacaan pertama. Selama bertahun-tahun bangsa Israel tidak memiliki raja, melainkan hakim-hakim. Allah membangkitkan hakim-hakim sesuai dengan situasi yang dihadapi oleh bangsa Israel. Mereka memiliki kuasa yang datangnya dari Allah sendiri. Tapi apa yang terjadi? Bangsa Israel meminta seorang raja, walaupun Samuel telah memperingatkan mereka bahwa raja akan meminta dari mereka apa yang Allah tak pernah minta.

Sementara itu di bacaan kedua kita melihat bahwa ahli-ahli Taurat menganggap Yesus menghujat Allah dengan berkata: dosamu telah diampuni. Mereka mengharapkan seorang imam yang berkuasa, yang sesuai dengan harapan. Mereka tidak melihat harapan itu nyata dalam wujud Yesus, sehingga mereka merendahkanNya. Mereka mengharapkan suatu sosok imam yang agung karena mewakili sosok Allah yang perkasa. Namun mereka lupa bahwa Allah melampaui segala yang mereka  pikirkan.

Mari kita melihat diri kita masing-masing� apakah kita sering mengharapkan sosok pemimpin, sosok penyelamat, sosok raja dan imam yang hanya sesuai dengan harapan kita? Bagaimana bila Allah bekerja melalui para imam, para pastor, para pemimpin yang berbeda dengan bayangan kita? Bagaimana bila Ia mengutus imam-imam pemimpin yang sebenarnya kita butuhkan, namun tidak kita inginkan? Imam dan pemimpin yang terlihat terlalu lemah dalam pendiriannya, atau sebaliknya terlalu tegas di dalam perintah-perintahnya? Apakah karena mereka tidak sesuai dengan bayangan kita, lalu kita akan merendahkan mereka dalam hati dan mengabaikan petunjuk-petunjuknya? Ingatlah bahwa Allah memanggil orang-orang sesuai dengan rencanaNya, bukan rencana kita. Doakanlah para imam, dan doakanlah kita semua sebagai umatNya agar kita tetap berharap pada Allah, dan tidak meminta raja atau imam yang sesuai harapan kita.

-----------------------------------------
Bacaan Liturgi 12 Januari 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa I
Bacaan Pertama: 1Sam 8:4-7.10-22a
Bacaan Injil: Mrk 2:1-12

Tuesday, January 9, 2018

Dengarkah Kamu? Kamu Dipanggil...

Kita melihat pada hari ini tema mengenai panggilan. Bacaan pertama bercerita tentang panggilan Allah kepada Samuel yang tidak mengenal Allah walaupun tinggal di dalam Bait Allah. Mari kita merefleksikan hal ini dengan melihat di sekitar kita. Apakah anak-anak kita yang setiap minggu dibawa ke gereja untuk misa atau belajar di sana sungguh mengenal Allah? Jangan-jangan mereka seperti Samuel yang tidak pernah mendengar Sabda Allah. Apakah kita sebagai orang tua atau wali atau guru anak-anak itu bisa mengenal panggilan Allah kepada anak-anak kita itu seperti Eli? Apakah kita mendorong anak-anak kita untuk menjawab panggilan Allah sehingga Sabda Allah tidak ada yang gugur? Panggilan dalam bacaan pertama ini mengingatkan kita kepada panggilan awal kita. Benih-benih panggilan yang tumbuh di dalam hati kita dan anak-anak kita untuk melayani Tuhan dalam baitNya, sebagai imam dan nabiNya, dan kini sebagai klerus (imam) dan hidup bakti (biarawan dan biarawati). Mampukah kita menjawab panggilan ini dengan: �Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan."

Panggilan di bacaan kedua adalah suatu panggilan yang dewasa, panggilan yang menuntut suatu kedisiplinan diri untuk terus maju di dalam pelayanan kita. Tuhan Yesus telah menyembuhkan banyak orang dan dipuja di tempat itu. Akan tetapi di dalam situasi itu, Ia menemukan tujuan hidupNya kembali dalam doa yang hening di pagi hari, dan menemukan kekuatan untuk terus berjalan dalam panggilanNya yaitu �memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." Demikian pula kita dipanggil untuk terus memberitakan Injil, karena untuk itu kita sejak mula diperdengarkan Sabda Allah dan diberikan makanan rohani (Ekaristi).

Mampukah kita masing-masing menjawab panggilan-panggilan kita, baik panggilan secara umum untuk memberitakan Injil dalam situasi kita masing-masing, maupun panggilan khusus yaitu untuk menjadi imam dan biarawan/ti ataupun mendorong anak-anak kita menjawab panggilan-panggilan khusus tersebut? Semoga kita selalu terbuka terhadap panggilan Tuhan seperti Yesus dan Samuel.
-------------------
Bacaan Liturgi 10 Januari 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa I
Bacaan Pertama: 1Sam 3:1-10.19-20

Bacaan Injil: Mrk 1:29-39

Wednesday, November 29, 2017

Pilih Atheis atau Agama?

Kenapa saya memilih beragama dan tidak atheis? Kenapa saya mendorong orang muda untuk beragama dan tidak atheis? Ingat... atheis tidak sama dg agnostik (percaya sama Tuhan tapi gak mau pilih 1 agama)


Atheis, definisinya: tidak percaya akan adanya Tuhan. Faktor yang mendorong orang menjadi atheis itu ada bermacam-macam dan mungkin dapat dikelompokkan jd 4:
  1. Bingung mau pilih agama mana
  2. Pengalaman buruk dg salah 1 agama, biasanya dg pengikutnya
  3. Tidak dapat menyatukan antara agama dan ilmu pengetahuan yg dipelajarinya, misal katanya Tuhan menciptakan dunia dlm 7 hari, lalu kapan bigbang terjadi?
  4. Selalu mendebat secara filosofis: adakah Allah?

 
Nah kalau sudah begini apakah masih mau pilih jadi org beragama � terlepas agamanya yaaa---? Menurutku, alasan untuk melawan keinginan jadi atheis adalah begini:
  1. Semua agama itu benar � gak usah bingung-bingung dulu pilih agama mana. Pilih aja 1 dulu (kalau keluarganya tidak menganut 1 agama yg sama). Nanti dalam perjalanan mencari kebenaran dari agama itu, pasti hati dan kepalanya terbuka sendiri.
  2. Kalau pengalaman buruk, maka tanyakan dalam hati, apakah saya mau percaya sama orang yang sama-sama perlu beragama karena masih berdosa, atau percaya sama Tuhan yang di atas segalanya, termasuk di atas agama. �Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? (1 Kor 3:3)� Teguran seperti begini sudah ada sejak mulanya, artinya selama manusia masih ada di dalam dunia, selama itu pula sifat duniawinya ada dan dapat menyakiti dan memberikan pengalaman buruk pada sesama.
  3. Kitab Suci adalah buku iman, rangkuman iman umat Allah dari masa ke masa. Bila kita melihatnya demikian, maka kita dpt memaklumi bahwa yang tertulis disitu bukan buku geografi atau fisika atau matematika atau astronomi. Mereka cuma mau bilang �Allah-lah pencipta segalanya, termasuk manusia.� Tentu pertanyaan berikutnya adalah: kalau kita tidak bisa percaya mutlak bagian yang ini, kenapa saya harus percaya bagian yang itu? Demikianlah dibutuhkan suatu dewan yg terdiri atas orang-orang yang fokus pada panggilan Allah untuk melayani, untuk membantu menafsirkan ayat-ayat di dalam Kitab Suci ke dalam realitas dunia saat ini. Tujuannya agar penafsiran itu tidak menyimpang dari kebenaran asali, namun dapat terus dipahami oleh orang dari berbagai situasi.
  4. Adakah Allah? Kita harus percaya dulu, baru perasaan dan pemahaman atas adanya Allah itu muncul di hati. Demikianlah di dalam Kitab Suci tertulis: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (Mrk 9:24).  Kita percaya bahwa Allah yang mahakuasa dapat menimbulkan rasa percaya pada mereka yang tidak percaya. Ucapkan saja berkali-kali: �aku percaya�.... maka rasakan mujizat 2 kata itu dalam hati kita. 
Nah, sekarang kenapa kita harus mendorong orang muda agar beragama? Supaya mereka punya pegangan hidup dan komunitas di mana mereka dapat merebahkan kepala mereka ketika membawa beban berat. Manusia selalu mengalami kebingungan di dalam hidup mereka, terutama orang muda yang sedang berusaha memilih panggilan hidupnya. Oleh karena itu sangatlah baik apabila mereka di dalam kebingungan itu tetap dapat mencari opini-opini yang berbeda di luar keluarganya dengan aman. 

Tuesday, June 6, 2017

Menyerahkan Asa pada Allah yang Hidup

Ada sebuah hutan di Jepang yang bernama Aokigahara. Arti harafiahnya adalah �Lautan pohon� karena lebatnya. Namun hutan ini memiliki alias yang kurang menyenangkan, yaitu �hutan bunuh diri� karena tiap tahunnya ada paling tidak 100 kasus bunuh diri terjadi di sana. Di Jepang bunuh diri adalah suatu tindakan untuk menyelamatkan nama baik yang hilang.  Nama baik adalah harta terbesar orang Jepang. Tidak disangkal bahwa setiap orang di dunia ini yang kehilangan sesuatu yang berharga akan merasa lebih baik bunuh diri.  Di Indonesia, tingkat bunuh diri makin hari makin meningkat. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka bunuh diri di Indonesia pada 2010 adalah 1,8 per 100 ribu atau terjadi lima ribu kasus per tahun. Pada 2012, angka tersebut meningkat menjadi 4,3 per 100 ribu atau 10 ribu kasus bunuh diri per tahun.

Sara, dalam bacaan pertama, ingin membunuh dirinya karena merasa putus asa. Ia telah menikahi 7 orang jejaka yang meninggal sebelum Sara sempat bersetubuh dengan mereka. Namun, Sara mengurungkan niat itu dan menggantinya dengan doa agar ia mati. Terbalik dengan di Jepang, bunuh diri di mata orang Yahudi bukanlah suatu kehormatan, malahan nista bagi yang ditinggalkan. Mengapa demikian? Yesus memberikan jawaban ini di dalam Injil: �Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.� Bila Allah adalah Allah orang mati, maka jelas kita harus mati sebelum bertemu dengan Allah. Tapi Allah kita adalah Allah orang hidup. Ia menginginkan semua orang hidup. Maka bila ketika kesusahan hidup terasa berat, ketika tidak ada lagi yang rasanya dapat dipertahankan, dan rasanya kematian lebih baik daripada kehidupan, maka berdoalah seperti Tobit berdoa: �Ya Tuhan, suruhlah supaya aku lepas dari susah ini, biarlah aku lenyap menuju tempat abadi; janganlah wajah-Mu Kaupalingkan dari padaku, ya Tuhan. Sebab lebih bergunalah mati saja dari pada melihat banyak susah dalam hidupku.�

Dahulu Gereja Katolik sangat mengecam bunuh diri sampai pada level tidak akan memakamkan umatnya yang bunuh diri secara Katolik. Dalam perkembangan jaman, Gereja menyadari bahwa gejala ini tidak hanya disebabkan oleh karena kurangnya iman, melainkan juga karena faktor-faktor lainnya termasuk biologis dan psikologis. Kini pandangan Gereja lebih bersifat kasih, di mana Gereja terus mendoakan arwah-arwah akibat bunuh diri, namun tetap mengecam tindakan itu sendiri termasuk eutanasia. Gereja tetap memandang bahwa tindakan bunuh diri adalah berlawanan dengan tindakan kodrati mempertahankan kehidupan, melanggar cinta kasih sejati kepada diri sendiri dan kepada sesama, serta bertentangan dengan cinta kepada Allah yang hidup, kepada siapa kita berhutang kasih. Mari kita hidup bagi Yesus yang telah mati bagi kita.



----------------------------------
Rabu Biasa, 7 Juni 2017
Bacaan 1 : Tob 3:1-11a, 16-17a
Injil : Mrk 12:18-27
 

Saturday, April 15, 2017

Salibkan Yesus....! Lepaskan Barabas...!

Siapa yang tidak kenal Barabas, si pemberontak dan pembunuh (Luk 23:19) serta penyamun (Yoh 18:40). Secara sejarah kata, Barabas berasal dari kata Aram: Bar-Abbas yang secara harafiah berarti �anak bapa�. Jadi Barabas atau kadang ada yang menyebutnya Yesus Barabas sebagai nama lengkapnya, bukanlah nama yang sebenarnya dari tokoh itu. Akan tetapi memang tokoh tersebut ada, ditawarkan oleh Pontius Pilatus sebagai ganti Yesus untuk disalibkan, dan dipilih untuk dibebaskan.

Namun hari ini kita tidak hendak mempelajari tentang sejarah Barabas. Yang lebih penting adalah bagaimana Barabas itu penting di hati kita.... Lho... kok?

Yesus adalah seorang guru damai, bahkan mengajarkan damai kepada para penjajah bangsa Israel, yaitu Bangsa Romawi. Ketika Ia ditanya oleh orang-orang Israel: �Bolehkah kami membayar pajak kepada Kaisar,� maka Ia menjawab: �Berilah apa yang menjadi hak Kaisar kepada Kaisar.� Sebaliknya Barabas adalah seorang guru perang. Barabas diyakini merupakan seorang yang berasal dari sayap radikal golongan Zelot yang tengah mengangkat senjata melawan pendudukan Romawi. Ia adalah seorang pemimpin perjuangan pembebasan dari kekuasaan Romawi dengan cara-cara kekerasan.

Yesus adalah seorang pemberi. Ketika melihat orang lumpuh, buta, tuli, Ia memberikan kesembuhan kepada mereka. Ketika melihat sekumpulan domba yang hilang, Ia memberikan pengajaran kepada mereka. Ketika melihat umat yang lapar, Ia memberikan makanan kepada mereka. Sementara Barabas adalah seorang penyamun (pencuri). Ia menyamun sebagai salah satu taktik untuk melemahkan dan merusak perekonomian penguasa Romawi, khususnya kafilah-kafilah dagang yang merupakan mata rantai sistem perdagangan Romawi di Palestina.

Yesus adalah seorang pembawa kehidupan. Ketika Ia melihat kematian, hatinya tergerak dan Ia menghidupkan orang mati, seperti Lazarus dan pemuda di Nain. Sementara Barabas adalah seorang guru kematian. Ini tertulis di dalam Injil Markus di mana Barabas sedang dipenjara beberapa pemberontak lainnya karena telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan mereka.

Dalam kehidupan kita, kita sering dihadapkan pada dua pilihan tindakan. Sayangnya sering kali kita berteriak: �Salibkan Yesus....! Bebaskan Barabas...!� Dengan demikian kita sering memilih untuk menyerang, mencuri, membunuh, ketimbang mengikuti Yesus untuk menjadi pembawa damai dan pemberi kehidupan.


Bagaimana reaksi kita ketika kita menghadapi orang yang menyakiti hati kita? Apa pilihan kita ketika ada yang mengkhianati kita? Apa tindakan kita ketika ada orang yang meminta sesuatu kepada kita? Apa kata-kata kita kepada mereka yang kecil, miskin, lemah dan tersingkir? Semua pilihan kita menunjukkan pilihan awal kita: Yesus atau Barabaskah yang selama ini kita ikuti. Mari Paskah ini menjadi awal bagi kita untuk mengambil pilihan yang terbaik, yaitu yang kekal selamanya. 

Thursday, March 23, 2017

Cinta Tanpa Syarat

Di dalam dunia, cinta biasanya bersyarat. Syarat- syarat cinta misalnya: 
1. Material. Karena dia punya materi maka dia jadi sahabat, teman dan pasangan idaman. Alasannya karena adamateri yang bisa kita manfaatkan. Begitu materi hilang, habis pulalah cinta kita padanya. 
2. Perbuatan baik. Karena dia pernah berbuat baik maka kita mau mencintainya. Cinta tidak diarahkan kepada kepribadian  menyeluruh melainkan pada perbuatan baiknya saja. Belum tentu kita dapat mencintai kekurangan dan kelebihannya yang lain.
3. Sifat atau kepribadiannya. Cinta ini diarahkan hanya kepada satu hal tertentu saja, misalnya wajahnya yang cantik atau tampan atau sama-sama suka nonton film.


Cinta yang memiliki syarat adalah cinta yang egoistis. Di dalam bacaan Injil hari ini kita belajar cinta yang utuh, tidak bersyarat, baik kepada Allah maupun kepada orang lain. Yesus mengajarkan agar kita mencintai Allah dengan segenap hati,  segenap akal budi, segenap jiwa dan segenap kekuatan kita. Artinya kita tidak mencintai Allah ketika kita kuat, atau sehat atau pintar atau kaya, melainkan juga ketika kita sakit, lemah dan miskin. 

Kita juga diajarkan untuk mencintai sesama kita seperti kita mencintai diri sendiri. Bagaimana kita mencintai diri sendiri? Kita mencintai diri kita ketika kita sehat maupun sakit, ketika kaya maupun miskin. Kita mencintai diri kita secara utuh. Bila kita tidak mencintai sesama secara utuh maka sia-sialah kurban bakaran dan persembahan, dan sia-sia pula niat kita untuk mencintai Allah.

Dan yang terutama, Yesus mengajarkan bahwa mencintai berawal dari pendengaran. Itulah sebabnya Ia mengawali jawabanNya dengan: "Dengarlah, hai orang Israel...". Memang cinta tumbuh dari pendengaran. Seperti pada bacaan pertama ketika Allah yang mendengarkan permohonan orang Israel dan menjawab mereka, menyurutkan murkaNya dan kembali mengasihi orang Israel dengan lembut. Demikianlah kita perlu menghadirkan cinta tanpa syarat seperti yang telah diberikan Allah kepada sesama kita. Sama seperti jg dalam  bacaan injil, Yesus menekankan hal mendengarkan, krn mendengar berarti membuka semua unsur-unsur yang bisa dipakai untuk memahami kasih itu sendiri , mendengar berarti melakukan jg apa yang menjadi kehendakNya. Mari kita belajar mendengar seperti ahli taurat supaya kerajaan Allah slalu dekat pada kita, menghadirkan cinta Tuhan dalam hidup kita, melalui kasih pada sesama. 
---------------------------------------
Jumat 24 Maret 2017
Jumat Pekan prapaskah III
Bacaan 1:  Hos 14:2-10
Injil: Mrk 12:28b-34

Thursday, February 16, 2017

Jangan Dirikan Menara Babel di Hatimu

Selesai peristiwa air bah yang memusnahkan semua manusia berdosa terkecuali keluarga Nuh, membuat mereka hanya memiliki 1 bahasa dan 1 logat. Di akhir peristiwa air bah, Allah berjanji ada Nuh bahwa Ia takkan menghukum dunia lagi dengan air bah. Jadi keturunan Nuh adalah manusia yang selamat dan bebas dari pemusnahan.

Bisa jadi dalam pikiran mereka saat itu adalah kekuatiran karena Allah yang dahsyat bisa sewaktu-waktu memporakporandakan mereka bila mereka berbuat suatu kesalahan saja. Jadi mereka berhimpun mumpung sedang solid, karena kekuatiran bahwa Allah mungkin ingkar janji. Atau bisa jadi yang terpikir adalah kekuatiran kedua yang sebaliknya. Mereka merasa sebagai yang diselamatkan, sehingga mereka masuk golongan manusia super, golongan tak berdosa, golongan ayng aman dan tidak perlu Allah lagi.

Kedua alasan tersebut membuat 1 pemikiran yang sama: mereka tidak mau melibatkan Allah, bertanya pada Allah, berkomunikasi dengan Allah, dan berusaha keluar dari rencana Allah. Kasih yang semula mengalir karena hidup Nuh yang benar dirusak oleh keturunannya yang membangun Menara Babel sampai ke langit.

Bukan pembangunan kota dan menara yang ditentang Allah tapi tujuan kesombongan manusia untuk melawan Allah. Ketidaktaatan dan perasaan tidak perlu Allah, itulah yang ditentang Allah. Allah menyukai persatuan umat manusia, tapi Ia membenci persatuan yang dibuat untuk melakukan perbuatan berdosa.

Kita sering terjebak dalam mayoritas dan minoritas, baik dalam kelompok atau dalam pengambilan keputusan dalam organisasi, hanya untuk kepentingan dan kesenangan pribadi/ kelompok. Hati-hatilah jangan sampai kita masuk dalam jebakan kesombongan pribadi atau kelompok sehingga melupakan suara Tuhan yang berbicara lewat hati nurani kita. Mintalah selalu bimbingan Tuhan seperti teladan Nuh. Dalam masa kini, semua orang berusaha untuk disenangi orang dan diterima kelompok yang diingininya. Prinsip hidup yang baik dan benar dilawan hanya untuk mendapatkan pengakuan, hanya untuk diterima sebuah kelompok.

Apakah kita atau kelompok yang kita masuki itu membimbing ke arah yang baik, yang membuat kita semakin serupa dengan Yesus? Jika tidak, segera angkat kaki karena sebenarnya kita sedang mendirikan Menara Babel dalam hidup dan pelayanan kita. Adakah hal tersebut terjadi dalam hidup dan pelayanan kita?

---------------------
Jumat, 17 Februari 2017
Hari Biasa
Bacaan 1: Kej 11:1-9
Mrk: 8:34 � 9:1


Tuesday, February 14, 2017

Bagaimana Menjadi Kudus?

Pengalaman Nuh dan orang buta di Betsaida dalam bacaan hari ini pada dasarnya adalah sama: pertama-tama mereka tidak melihat. Nuh tidak bisa melihat sendiri apakah air sudah kering atau belum sehingga ia melepaskan burung gagak dan merpati. Orang di Betsaida itu jelas buta. Karena itu ada beberapa hal yang dapat dipetik dari bacaan ini.

Satu, proses dari buta menjadi melihat pertama-tama membutuhkan mata iman. Nuh dan orang buta di Betsaida pertama-tama melihat dengan mata iman. Nuh membangun perahu di tengah ejekan tetangganya dan percaya bahwa air akan surut. Ini hanya dapat dilakukan dengan mata iman. Orang buta di Betsaida bersedia dibawa keluar kampung (zona nyamannya) karena ia melihat dengan mata iman bahwa ia akan disembuhkan.

Dua, proses dari buta menjadi melihat yang jelas itu tidak mendadak, melainkan bertahap. Nuh membiarkan burung gagak dan merpati terbang bolak balik sebelum akhirnya ia keluar dan melihat bahwa bumi sudah kering. Orang buta itu disuruh mencoba melihat oleh Yesus 2 kali sebelum akhirnya matanya jelas. Artinya melihat sesuatu yang benar, termasuk Allah, harus melewati tahapan-tahapan.

Tiga, setelah melihat, mereka dikuduskan dan dikeluarkan dari tempat awalnya. Dikuduskan artinya dipisahkan dari yang bukan sesamanya. Nuh dikuduskan dalam arti semua orang jahat ditenggelamkan. Hanya dia sendirilah manusia yang selamat. Orang buta yang sudah melihat disuruh jangan masuk kampung, padahal tentu rumahnya di kampung itu.

Jadi proses menjadi kudus pertama-tama adalah melihat dengan percaya, tekun melewati tahapan, dan bersedia dipisahkan dari yang tidak kudus.

-------------------
Rabu, 15 Februari 2017
Hari Biasa (H)
Bacaan 1: Kej 8:6-13, 20-22
MT: Mzm 116:12 � 15, 18-19
Bacaan Injil: Mrk 8:22-26

Sesudah lewat empat puluh hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu. Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi. Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi. Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air; lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu dari bahtera; menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi. Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya. Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering. Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hatiNya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam." (Kej 8:6-13,20-22)

Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikanNya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umatNya. Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihiNya. akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umatNya, di pelataran rumah TUHAN, di tengah-tengahmu, ya Yerusalem! Haleluya! (Mzm 116:12-15,18-19)

Kemudian tibalah Yesus dan murid-muridNya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepadaNya, supaya Ia menjamah dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tanganNya atasnya, dan bertanya: "Sudahkah kaulihat sesuatu?" Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon." Yesus meletakkan lagi tanganNya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: "Jangan masuk ke kampung!"  (Mrk 8:22-26)

Monday, February 13, 2017

Sahabat Sampai Selamanya

Bulan Februari sering sekali dikaitkan dengan kasih sayang, karena di tanggal 14 bulan ini ada hari kasih sayang, yang sering disebut Hari Valentine. Memang pada kesempatan itu banyak sekali hadiah diberikan pada orang-orang terkasih, terutama pada pasangan kita. Tapi sebenarnya bukan hadiah dan banyaknya kata cinta yang membuat sepasang suami istri hidup tentram bersama, melainkan bagaimana cinta itu diungkapkan di dalam keseharian.

Ketika ia melamar istrinya ia mengatakan �Percayalah padaku, aku akan selalu membahagiakanmu.�
Ketika istrinya melahirkan putri pertamanya, �Menyusahkanmu, tapi aku bersamamu.�
Ketika putri mereka menikah, �Masih ada aku di sisimu.�
Ketika istrinya dalam kondisi kritis, �Aku disini, aku masih di sini, aku selalu disini.�
Ketika istrinya ke rumah Bapa, �Tunggu aku��

Tidakkah cinta ini adalah cinta yang membuat iri tiap pasangan? Suami atau istri bak seorang sahabat yang berjalan bersama baik dalam suka maupun duka. Penulis Sirakh mengatakan bahwa ia yang menemukan sahabat sejati adalah yang paling beruntung di dunia. Apalagi ketika sahabatnya itu juga adalah pasangan hidup yang disatukan oleh Allah sendiri. Mari kita menjadi sahabat bagi pasangan kita.

Thursday, February 9, 2017

Terbukalah terhadap Pilihan yang Benar

Situasi politik saat menjelang Pilkada ini sarat dengan bujukan dan hasutan yang membuat orang bimbang dalam menentukan pilihannya.Bujukan untuk saling membenci dan menjatuhkan tidak lagi malu-malu dan tersamar.  Bahkan pada saatnya memilih kita bisa jatuh dalam bujukan untuk tidak memilih. Saat-saat seperti inilah bila kita tidak hati-hati dalam menentukan pilihan kita bisa masuk ke dalam skenario iblis.

Ular membujuk Hawa dengan cerdik yaitu mengiming-imingi hadiah untuk menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. Satu hadiah yang mempengaruhi hati dan keinginan, dan akhirnya membiarkan telinga terbuka pada bujukan dan godaan. Bahkan akhirnya mengajak serta Adam untuk ikut jatuh ke dalam dosa. Dosa pertama yang mereka buat adalah tidak taat kepada perintah Allah, dan berambisi menjadi sama dengan Tuhan.

Iblis bisa memakai ular atau apapun di dunia ini untuk menggoda kita. Serangan dan godaan tidak hanya berhenti pada masa Adam dan Hawa namun terus berlangsung di kehidupan kita saat ini. Ia tidak datang dalam rupa asli. Taktiknya selalu dapat diterima oleh sang korban. Selalu menjanjikan hadiah yang menggoda dalam bermacam rupa: kedudukan, harta, wanita, kenikmatan dan sebagainya. Dan sama seperti Adam dan Hawa, jatuh dalam dosa adalah suatu keputusan pribadi, karena yang berkuasa menjawabnya adalah diri kita sendiri. Iblis hanya mampu menggoda, kita yang memutuskan mau jatuh atau tidak.

Tapi mungkin berbeda dengan Adam dan Hawa yang sudah �diperingatkan� terlebih dulu untuk tidak berbuat sesuatu, kita lebih mirip dengan si tuli. Kita tidak tahu mana yang boleh dipilih dan tidak dapat menyatakan kebenaran pada orang lain. Sama seperti pilkada, kita tidak benar-benar tahu manakah pasangan calon yang paling tepat karena bisa jadi kita ditulikan oleh suara-suara di sekitar kita. Bila demikian, datanglah pada Tuhan Yesus. Mintalah Ia untuk membukakan telinga kita. Efata artinya �terbukalah�, dan bila Tuhan Yesus berkenan menyatakannya pada kita, maka kita pun akan dibukakan pada pilihan yang benar dan sesuai dengan rencanaNya.
---------------------------
Jumat 10 Februari 2017
Pw S. Skolastika
Bacaan 1: Kej 3: 1- 8
Injil:Mrk 7:31-37


Tuesday, February 7, 2017

Jadi Kristen itu Gampang. Benarkah?

Kata orang jadi orang Kristen itu enak. Punya Allah yang esa dan mahakuasa, punya Yesus yang sudah menyelamatkan, punya Roh Kudus untuk membimbing, eh tambah lagi, tidak ada pantangan makan. Boleh makan babi, anjing, kura-kura, ular, dan semuanya. Tapi benarkah demikian? Apakah Yesus menyatakan hal ini hanya untuk membebaskan kita dari hal-hal duniawi? Tidak. Malah Tuhan Yesus menyatakan syarat yang sebenarnya lebih berat daripada sekadar makanan haram dan halal.

Sebelumnya jawab dulu pertanyaan ini secara jujur. Lebih mudah tidak makan coklat atau tidak membayangkan rasa coklat ketika melihat ada coklat nganggur di meja? Lebih mudah tidak buka buku novel atau belajar dengan tekun? Lebih mudah tidak pergi ke mall atau tidak belanja ketika sudah di mall? Lebih mudah diam seribu kata atau berkata-kata tanpa gosipin orang yang menurut kita aneh? Lebih mudah menghindari orang yang disebelin atau tersenyum tulus ketika ada orang yang disebelin di depan kita?

Yang pertama lebih mudah daripada yang kedua. Hal-hal yang sifatnya duniawi lebih mudah dihindari ketimbang menghindari pikiran yang jahat, kata-kata fitnah, dan keinginan akan hal yang bukan milik kita. Puasa hal-hal duniawi akan mendisiplinkan diri untuk menerima tantangan Yesus, yaitu yang lebih berat lagi. Jadi Yesus menantang kita untuk tidak hanya puasa makan, tetapi membantu orang yang kelaparan; tidak hanya tidak bekerja pada hari Sabat, tetapi menghindari gosip; tidak hanya tidak mencuri uang di atas meja, tapi mengembalikan hak orang miskin; tidak hanya puas dengan tidak membunuh, tapi menyemangati orang lain yang putus asa. Bisakah kita menerima tantangan Yesus? Selamat mencoba.

------------------------
Rabu, 8 Februari 2017
Hari Biasa (H)
Bacaan 1: Kej 2: 4b-9, 15 - 17
MT: Mzm 104:1-2a, 27-28, 29bc
Bacaan Injil: Mrk 7:14-23

Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, �belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu �ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkanNya manusia yang dibentukNya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."  (Kej 2:4-9,15-17)

Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu dan mencurahkan pengaduhannya ke hadapan TUHAN. TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepadaMu. Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan. Anak hamba-hambaMu akan diam dengan tenteram, dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapanMu. (Mzm 102:1-2,27-29)

Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepadaKu dan camkanlah. Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." [Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!] Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-muridNya bertanya kepadaNya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawabNya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. KataNya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."  (Mrk 7:14-23)

Recent Post