Latest News

Showing posts with label Pendalaman Kitab Suci. Show all posts
Showing posts with label Pendalaman Kitab Suci. Show all posts

Sunday, July 2, 2017

Kain dan Habel, Perseteruan Saudara

Kain dan Habel adalah saudara kandung, putra-putra Adam. Kain adalah petani dan Habel gembala kambing domba. Kain sebagai petani merupakan gambaran dari masyarakat yang sudah mapan, tidak mengembara lagi, memiliki rumah dan kehidupan sosial yang terstruktur. Sementara Habel adalah gambaran masyarakat nomaden, yang bergantung kepada kebaikan alam untuk kehidupan mereka.

Keduanya mempersembahkan sebagian hasil tanah kepada Tuhan, namun Tuhan hanya berkenan pada persembahan Habel. Irihati karenanya, Kain membunuh Habel. Ketika Tuhan bertanya �dimanakah adikmu?� Kain menjawab: �Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?� Lalu Tuhan menjatuhkan hukuman pada Kain, membuangnya jauh, memberikan tanda  agar ia jangan dibunuh.

Ensiklik Injil Kehidupan (Evangelium Vitae) mengambil kisah ini untuk meng-highlight betapa pentingnya kehidupan dan bagaimana kita harus saling menjaga kehidupan satu sama lain.

Ada berbagai pertanyaan di seputar kisah ini, dan di bawah ini adalah sebagian kecilnya saja.
�         Kenapa Allah tidak berkenan pada persembahan Kain? Apakah Tuhan mencobai Kain dengan tidak menerima persembahannya?
Ketika dihubungkan dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci, TUHAN menerima persembahan Habel karena dia menghampiri Allah dengan iman yang benar dan pengabdian kepada kebenaran (Bdk. Ibrani 11 : 4; 1 Yohanes 3 : 12; Bdk. Yohanes 4 : 23-24). Persembahan Kain ditolak karena ia tidak memiliki iman yang taat dan perbuatannya jahat (ayat Kejadian 4 : 6-7; 1 Yohanes 3 : 12). Allah berkenan atas persembahan dan ucapan syukur hanya apabila kita sungguh-sungguh berusaha hidup benar sesuai dengan kehendak-Nya

Namun tidak ada yang tahu pastik mengapa kurban Kain tidak diterima dan bagaimana Kain tahu korbannya tidak berkenan kepada Allah. Pusat perhatian bacaan ada pada reaksi Kain, yaitu akibat dari pembunuhan atas saudara laki-lakinya dan pada hukuman Allah kepada Kain.

Mengenai apakah TUHAN mencobai kita, kita melihat pada Kitab Suci. Pada satu sisi kita percaya bahwa TUHAN tidak mencobai kita (Yakobus 1 : 13), namun pada sisi lain kita dapat melihat bahwa TUHAN memang menguji kita (seperti pada kasus Abraham dan Musa). Namun, TUHAN tidak pernah mencobai atau lebih tepatnya menguji kita agar kita terjatuh (seperti setan
mencobai kita), tetapi hanya untuk memberikan pada kita sesuatu yang lebih baik, untuk maksud membuat kita lebih kudus, melalui kesetiaan kita dalam menghadapi ujian tersebut.
Jadi, TUHAN memperbolehkan cobaan terjadi dalam hidup kita untuk alasan yang lebih baik: untuk pertobatan dan pengudusan. Sebaliknya, setan mencobai kita sehingga kita berdosa dan
mengarahkan diri ke neraka.

�         Siapakah istri Kain?
Adam dan Hawa sendiri punya banyak anak selain Kain dan Habil. Hanya tidak tertulis nama-namanya di Kitab Suci. Di Kejadian 5:4 dikatakan kalau Adam punya banyak putera dan puteri selain Kain, Habil dan Seth.Tidak dijelaskan di Kitab Suci, apakah ada manusia lain selain Adam dan Hawa. Karena memang maksud penulis Kejadian ingin menggambarkan Kisah Penciptaan dari sisi iman yang sempurna oleh Allah. Bukan ingin menjelaskan tentang kronologis historisnya meskipun itu benar adanya.

Jadi Kain dan Habil mungkin saja menikahi adik-adik mereka. Inilah yang terjadi. Hal ini sampai dengan jaman Israel masih berlangsung pernikahan antar saudara.

�         Apakah Tanda Kain?
Tanda di dahi Kain akan membuat orang bijak menyingkir dari Kain untuk membiarkan hukuman Allah tetap bekerja pada Kain.

Nama "Kain" (bahasa Ibrani qayin, berarti tombak), identik dengan nama Keni (juga qayin dalam Ibrani). Beberapa sarjana berspekulasi bahwa kutukan Kain mungkin timbul sebagai penghukuman atas bangsa Keni. Selain itu ada berbagai versi lainnya tentang tanda Kain. Ada yang mengatakan bahwa tanda itu adalah sebuah huruf Ibrani, entah di muka atau di lengan, namun tidak diketahui huruf yang mana. Ada pula yang mengusulkan bahwa tanda itu adalah kulit yang berubah hitam seperti batu bara, mungkin ini pula yang menjadi sumber ketakutan kepada orang berkulit hitam. Bahkan ada pula yang mengusulkan bahwa tanda itu adalah tanduk yang tumbuh di kepala serta bahwa Allah memberi Kain seekor anjing sebagai tandanya.

�         Allah pada kisah ini digambarkan sebagai Allah yang kejam dan pemarah. Mengapa?
Banyak dari antara kita yang terkejut atau kaget setelah membaca KSPL (Kitab Suci Perjanjian Lama) karena menemukan gambaran Allah yang kejam, mudah marah, menghukum, memusnahkan dan sebagainya. Bahkan beberapa orang dulu  tidak sanggup lagi membaca KSPL karena gambaran Allah dan bangsa Israel sangat kejam.

Pertanyaan mengapa Allah digambarkan demikian? Dalam pengajaran sebelumnya, saya sampaikan bahwa KS kita tidak jatuh dari langit melainkan refleksi penulis atas situasi yang
dihadapi jemaat.Allah digambarkan sangat kejam karena Israel akan membangun lagi sebagai bangsa baru setelah peristiwa pembuangan di Babel. Sebagaiamana umum terjadi dalam hidup bersama kita, untuk memulai sesuatu memang harus tegas dan keras, tidak banyak toleransi. Demikian juga yang dilakukan bangsa Israel: Allah digambarkan sangat keras, menuntut kesetiaan mutlak, tidak boleh bercampur dengan bangsa lain, keras, mudah marah, dan sebagainya.

�         Lamekh ingin dihukum 77 kali lipat, sementara Kain hanya 7 kali. Mengapa?
Lamekh dan Kain tidak bisa diiperbandingkan. Jika Kain mati akan dibalaskan 7 kali lipat. Angka 7 adalah angka kesempurnaan. Allah memasang tanda di dahi Kain, yang artinya jika Kain melakukan kesalahan, orang tidak akan membunuhnya, karena Kain sudah dihukum TUHAN. Tanda di dahi Kain akan membuat orang bijak menyingkir dari Kain untuk membiarkan hukuman Allah tetap bekerja pada Kain.

Sedangkan pada Lamekh, walaupun ia orang pertama yang melakukan poligami dan sombong, karena tidak membutuhkan perlindungan Allah, Lamekh tidak melakukan kesalahan yang membuat Allah murka.

�         Kain maupun Set (anak Adam setelah Habel) sama-sama memiliki keturunan bernama Lamekh dan Henokh.
Kain memiliki anak bernama Henokh dan membangun kota yang dinamai sama. Kain dikatakan �terpaksa� membangun kota karena ia dikutuk sehingga tidak dapat mengusahakan tanah yang telah menelan darah Habel. Daftar keturunan Kain yang menyebutkan Lamekh dan Henokh adalah: Kain � Henokh � Irad � Mehuyael � Metusael � Lamekh � Yabal, Yubal dan Tubal-Kain.
Sementara keturunan Set adalah: Set � Enos � Kenan � Mahalaleel � Yared � Henokh � Metusalah � Lamekh � Nuh.

�         Henokh diangkat kemana? Mengapa Henokh diangkat?
Setelah berusia 365 tahun (yang angkanya sama dengan jumlah hari dalam setahun dan menunjukkan kepenuhan), Henokh diangkat oleh Allah. Ayat ini dan ayat yang sejenis sering diangap yang menunjukkan bahwa baik Henokh diangkat ke surga.Tetapi kita juga membaca ayat yang lain dalam Injil Yohanes , yang mengatakan: " Tidak ada seorangpun yang telah naik ke surga selain dari pada Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia (Yoh,3:13)
Ayat ini mengindikasikan bahwa tidak ada seorangpun yang telah naik ke surga sebelum Kristus, sehingga dengan demikian tidak pula Henokh.

Lalu Henokh diangkat kemana? Kemungkinan Henokh tidak diangkat ke surga dalam artian tempat kediaman Allah dan para malaikat-malaikatNya, namun ke tempat Penantian, dimana jiwa- jiwa orang orang benar menantikan kedatangan Kristus Sang Mesias untuk membawa mereka ke surga tempat mereka bersatu sempurna dengan Allah (Lukas 16, 19- 31)

Mengapa Henokh diangkat? Karena kesalehan yang murni dan pemahamannya akan hikmat Ilahi, maka Henokh terangkat dari bumi untuk melanjutkan hidupnya di wilayah yang suci disana.Pengangkatan Henokh yang tiba-tiba ini sama sekali tidak diumumkan sebelumnya.Septuaginta menulis bahwa Henokh tidak dapat ditemukan, sebab Allah telah mengangkatnya."Karena iman Henokh terangkat," kata penulis Surat Ibrani, "Supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan karena Allah telah mengangkatnya." (Ibrani 11 : 5)Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. (Ibrani 11 : 5)

�         Dimanakah Tanah Nod, di mana Kain menetap setelah ia pergi dari hadapan Tuhan?
Nama adalah sama dalam bentuk infinitif kata kerja nud (nwd), 'bergerak ke sana ke mari, berkeliling-keliling'. Jadi mungkin berarti Kain tidak pernah menetap melainkan nomaden.

�         Mengapa manusia waktu itu hidup dengan usia panjang sampai dengan ratusan tahun?

Umur panjang di anggap sebagai berkat. Mereka berumur panjang krn masih dekat dengan manusia pertama yang diciptakan baik adanya. Semakin lama semakin berdosa maka umur makin pendek.

----------------------
Kej 4 � 5

Friday, June 30, 2017

Nuh dan Bahtera Ketaatan

Nuh adalah orang yang berkenan pada Allah yang hidup di tengah orang-orang yang sudah melupakanNya. Karena Allah menyesal telah menjadikan manusia-manusia yang tidak taat itu, maka Allah berniat menghukum manusia dengan air bah. Namun Allah mengingat ketaatan Nuh dan bermaksud melepaskannya. Karenanya, Allah menyuruh Nuh membangun bahtera dengan ukuran yang mendetail, di tengah cemoohan orang lain, dan mengajak binatang-binatang ke dalam bahteranya.

Setelah hujan 40 hari dan 150 hari bumi tergenang air, Allah mengingat Nuh dan mendaratkan bahteranya ke gunung Ararat. Di sana Nuh mengirim burung gagak dan merpati sampai mendapatkan bukti bahwa bumi sudah kering. Nuh dan keluarganya mendirikan mezbah dan memuji Allah. Sementara itu Allah berjanji tidak akan ada lagi air bah. Janji itu muncul dalam bentuk pelangi.

Kisah ini sangat memukau, dan secara kebetulan sangat mirip dengan kisah Gilgamesh yang ditemukan di reruntuhan Niniwe, sampai kepada jenis burung yang dikirim dan pendaratan di gunung. Oleh karena itu para ahli percaya bahwa bangsa Israel mengadopsi kisah rakyat ini dengan iman yang dimilikinya kepada Allah.

Di dalam kisah ini, yang tidak jelas apakah ada fakta historis di dalamnya, ada berbagai pertanyaan. Di bawah ini adalah beberapa di antaranya.
�         Siapakah anak-anak Allah dan anak-anak manusia di dalam Kej 6:2?
Bisa ditafsirkan bahwa anak-anak Allah adalah bangsa Israel, sementara anak-anak manusia adalah bangsa non Israel. Perlu diingat bahwa kitab ini ditulis ketika bangsa Israel sebenarnya sudah terbentuk dan di dalam pembuangan. Jadi bukan pada saat Nuh sendiri yang merupakan nenek moyang dari Abraham dan Yakub, bapa bangsa Israel. Memahami perbedaan waktu ini menjadi vital ketika memahami istilah anak-anak Allah dan anak-anak manusia ini.

Namun bisa juga terjadi bahwa cerita ini  diambil dari mitos yang dipersingkat tanpa memperhatikan secara detail logika cerita itu sendiri. Menurut mitos kuno, anak-anak Allah dianggap sebagai anggota dewan surgawi, dewa-dewa yang sedikit lebih rendah yang mengabdi kepada dewa yang tinggi. Yang mau disampaikan di sini adalah untuk melukiskan betapa luas jangkauan dosa, sampai-sampai ia melewati batas dunia surga dan alam.

�         Apa yang dimaksud dengan Tuhan menyesal?
Ada 2 pengertian penyesalan Tuhan. Pertama adalah Tuhan sedih, sebagaimana yang tampak pada kisah ini. Tuhan sedih karena telah menciptakan manusia yang akhirnya tidak taat kepadaNya. Kedua adalah Tuhan menahan murka dan hukumanNya terhadap manusia.

�         Apakah Tuhan kejam karena menghukum manusia dengan demikian luar biasa?
Ketetapan Allah untuk menghancurkan apa yang telah diciptakan adalah jawaban Allah atas perilaku manusia. Itu bukanlah keputusan yang sewenang-wenang. Banjir memang merupakan bentuk pengadilan Allah terhadap manusia, tetapi pengadilan yang disertai dengan kehendak untuk menyelamatkan. Kehendak Allah untuk menyelamatkan tampak pada keselamatan Nuh dan keluarganya.

�         Mengapa ada berbagai silsilah yang begitu rumit?
Kitab Kejadian ditulis menurut beberapa tradisi yaitu tradisi Imam (P), tradisi Yahwis (Y), tradisi Elohim (E) serta tradisi Deuteronomis (D). Silsilah muncul dalam tradisi Imam sementara tradisi Yahwis lebih sering menggunakan gaya cerita rakyat.

�         Mengapa Tuhan berfirman dalam hatiNya dalam Kej 8:21? Apakah firman dalam hati berbeda dengan firman-firman biasanya?
Artinya bahwa Tuhan berjanji kepada diriNya sendiri, demi diriNya sendiri. Dan karena ia maha setia, Ia juga akan menepati janjiNya itu.


 ---------
Kej 6 � 10

Wednesday, June 28, 2017

Manusia Pertama Jatuh ke Dalam Dosa

Kita mempelajari bahwa manusia pertama yang diciptakan menurut Alkitab bernama Adam dan Hawa, yang kemudian jatuh ke dalam dosa. Dari merekalah kita mendapatkan warisan dosa asal yang kemudian dihapus ketika kita dibaptis dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Di dalam liturgi Malam Paskah dimadahkan Pujian Paskah yang salah satu liriknya adalah: �Sungguh perlu dosa Adam, yang telah dilebur oleh wafat Kristus. O dosa yang menguntungkan sebab mendatangkan Penebus semulia ini.O malam bahagia, yang menghubungkan kembali surga dengan dunia, Allah dengan umat manusia.� Jadi menurut Gereja Katolik, dosa Adam bukanlah dosa yang harus disesali namun dosa yang membahagiakan karena membuat kita mengenal cinta Allah yang demikian besar melalui Tuhan Yesus.

Tapi apakah benar ada 1 manusia pertama yang kemudian melahirkan manusia-manusia lainnya? Sampai sekarang sains sedang mencari manusia pertama ini dan belum sampai kepada kesimpulan akhir.  Charles Darwin menyatakan bahwa kita semua bukan diciptakan dari debu tanah melainkan dari evolusi yang berakar kepada monyet. Pada suatu titik seekor monyet ber-evolusi menjadi yang kita kenal sebagai Homo Sapiens karena tuntutan lingkungannya. Namun di pihak lain juga sains kebingungan karena bila demikian tampaknya bukti menunjukkan bahwa evolusi kepada manusia ini terjadi di beberapa tempat sekaligus dengan perbedaan anatomi yang mencolok. Bukti akan hal ini adalah adanya Homo Floresiensis yang ditemukan di Flores, yaitu manusia kerdil yang hidup bersamaan dengan Homo Neanderthal yang ditemukan di Eropa.

Kajian Kitab Suci sendiri pada saat ini mengarah kepada kesimpulan bahwa Adam yang dimaksud bukanlah 1 orang (Single person), melainkan jamak. Kata Adam berasal dari �Adamu� yang berarti manusia.

Ada banyak pertanyaan di seputar manusia pertama ini, di bawah ini hanyalah beberapanya saja:

�         Apakah ada manusia sebelum Adam? Ini implisit di Kej 1:26-27 ketika Allah menciptakan sekaligus laki-laki dan perempuan.
Ada beberapa pendapat mengenai hal ini, tapi benar ada manusia sebelum Adam. Yang membedakan sebelum Adam adalah Adam dipilih oleh TUHAN sendiri, dengan segala pertimbangannya untuk menjadi  Orang Pilihan-Nya dan dihembuskan-Nya nafas kehidupan. Disini  Penulis ingin menekankan tentang Penciptaan itu sendiri, manusia yang serupa dan segambar dengan TUHAN.

Sebelum Adam, manusia hanya dinamakan "Manusia", belum memiliki nama satu persatu seperti halnya makhluk ciptaan yang lain juga tidak mempunya nama. Allah menciptakan "Sapi", "Ayam", "Anjing", "Gajah", tanpa memiliki nama sendiri-sendiri. Akan tetapi kemudian setelah 1 manusia dipilih, diberi nafas Roh yang Hidup, di tempatkan di Taman Eden, diberi nama Adam. Setelah itu baru ada nama-nama manusia secara spesifik.

Kata yang digunakan dalam Penciptaan manusia dalam Kejadian 1 : 27 adalah CREATE / MENCIPTAKAN (Ingat : Creation), diciptakan dari yang belum ada. Tetapi dalam Kejadian 2 : 7 digunakan kata FORM / MEMBENTUK (Ingat : Information) yang berarti dibentuk dari yang sudah ada.

�         Dimanakah Taman Eden dan sungainya?
Karena dari Eden mengalir sebuah sungai yang dua cabangnya adalah Tigris dan Efrat, maka secara tradisional orang percaya Taman Eden berlokasi di suatu tempat di daerah Mesopotamia (daerah sekitar Irak sekarang). Beberapa teori lain mengatakan bahwa Taman Eden berada di Ethiopia, Jawa, Seychelles, Brabant dan Bristol, Florida. Yang lainnya menunjuk bahwa dunia pada masa Eden telah dihancurkan dalam banjir besar pada masa Nuh dan karena itu tidak mungkin untuk melokalisir Taman itu di manapun juga dalam geografi pasca-banjir. Ada pula usaha untuk menghubungkannya dengan tanah mistis yang tenggelam di Atlantis.

Banyak teolog Kristen percaya bahwa Taman ini tidak pernah ada di muka bumi, melainkan berada di dekat surga sehingga ia diidentikkan dengan Firdaus.

�         Mengapa ular menjadi lambang penggoda?
Simbol ular sangat penting di dalam kepercayaan Mesir Kuno, Kanaan, Mesopotamia dan Yunani. Ular adalah simbol kekacauan dan kuasa, sekaligus simbol kesuburan, hidup dan penyembuhan. Nachash, kata Ibrani untuk ular, berhubungan dengan keilahian melalui meramal nasib. Di dalam Epos Gilgamesh, Gilgamesh kehilangan imortalitasnya karena dicuri oleh ular. Sementara itu Ouroboros adalah ular yang memakan ekornya sendiri sebagai lambang keabadian (perpetualitas).

Jadi mungkin ular dipilih karena binatang ini sering dipuja sebagai dewa yang penting sebagai pembawa hidup. Ini bertentangan dengan iman bahwa Allah-lah sumber hidup.

�         Apa yang dimaksudkan dengan ular meremukkan tumit keturunan perempuan?
Tumit melambangkan sifat kemanusiaan. Jadi keturunan perempuan itu (yaitu Yesus) datang untuk meremukkan kepalanya, artinya Dia akan menghancurkan seluruh tipu muslihat dan kekuasaannya, dan meluluhlantakkan seluruh kerajaan dan kepentingannya. Sebaliknya iblis meremukkan tumit-Nya yaitu sifat kemanusiaan-Nya.

Tumit Kristus diremukkan ketika kakinya ditembus dan dipakukan pada salib, dan penderitaan Kristus berlanjut dalam penderitaan orang-orang kudus demi nama-Nya. Iblis mencobai mereka, membuang mereka ke dalam penjara, menganiaya dan membunuh mereka, dan dengan demikian meremukkan tumit Kristus, yang menderita dalam penderitaan mereka. Namun, sementara tumit diremukkan di bumi, syukurlah bahwa kepala dalam keadaan selamat di sorga.

�         Mengapa tulang rusuk yang dipilih?
Perempuan pertama itu dinamai ishah (= "perempuan, wanita") dengan penjelasan bahwa ia diambil dari ish (= "laki-laki"). Tradisi eksegetika yang bertahan lama menafsirkan bahwa penggunaan rusuk dari sisi seorang laki-laki menekankan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai derajat yang sama, karena perempuan diciptakan dari bahan yang sama dengan laki-laki, dan diberi kehidupan dengan cara yang sama dengan laki-laki.  Sesungguhnya kata yang diterjemahkan sebagai "rusuk" dapat pula diterjemahkan sebagai "sisi", "kamar" atau "tiang penyangga".

Di kemudian hari, setelah kisah taman Eden berakhir, perempuan itu mendapat nama "Hawa" (Hawwah), yang dalam bahasa Ibrani berarti "hidup", dari akar kata yang juga berarti "ular".

�         Kenapa Allah tidak memeriksa ular dulu melainkan langsung menghukumnya?
Pertama, karena dia sudah terbukti bersalah atas pemberontakan terhadap Allah, dan kebencian dan kejahatannya sudah terkenal, bukan ditemukan melalui penyelidikan rahasia, melainkan diakui dan dinyatakan secara terbuka.

Kedua, karena dia akan diasingkan selamanya dari segala harapan pengampunan. Bila demikian mengapa harus mengatakan sesuatu untuk menginsafkan dan membuat rendah hati dia yang tidak akan bertobat? Lukanya tidak dicari, karena tidak akan disembuhkan. Beberapa orang beranggapan bahwa kondisi malaikat-malaikat yang jatuh belum dinyatakan tanpa harapan dan tidak tertolong sampai pada waktu itu setelah mereka membujuk manusia untuk memberontak.

Ketiga, Hukuman yang diberikan kepada si penggoda dapat dianggap sebagai penerangan tentang si ular, makhluk liar yang Iblis manfaatkan. Seperti makhluk-makhluk lainnya, ular diciptakan untuk melayani manusia, tetapi saat itu disalahgunakan untuk mencelakakannya. Oleh karena itu, untuk menyatakan kebencian terhadap dosa, dan kecemburuan karena kehormatan Adam dan Hawa dicemarkan, Allah mengikatkan kutuk dan kecaman kepada si ular, dan membuatnya mengeluh karena dibebani. Lihatlah Roma 8:20. Alat-alat Iblis harus ikut merasakan hukuman bagi Iblis. Jadi tubuh pelaku kejahatan, walaupun hanya alat ketidakadilan, akan ambil bagian dalam siksaan kekal dengan jiwa, si pelaku utama.


-------------------
Kej 1:26-30 dan 2:5 � 3

Tuesday, June 27, 2017

Riwayat langit dan bumi (Kej 1 � 2:4)

Membaca kisah penciptaan rasanya seperti membaca kisah anak-anak, bahwa dunia diciptakan dalam 6 hari saja dan hari ke-7 Allah beristirahat. Tapi kita harus ingat bahwa Kitab Suci bukanlah kitab pengetahuan atau kitab sejarah yang dapat diperdebatkan bersama dengan buku-buku sains lainnya. Kitab Suci adalah buku iman, iman yang diturunkan dari generasi ke generasi sampai kepada kita, penganut agama Katolik Roma ini. Oleh karena itu dalam cahaya iman itulah kita perlu memahami kisah penciptaan ini, yaitu iman yang teguh bahwa Allahlah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Sebelum penciptaan itu maka tidak ada apa-apa.


Kitab Kejadian ini ditulis pada abad 7 SM sewaktu bangsa Israel dibuang ke Babel. Tujuan penulisan ini adalah menguatkan iman bangsa yang sedang runtuh karena pembuangan ini. Penulis kitab ini tentunya bukan Nabi Musa walaupun termasuk Kitab Taurat, karena Nabi Musa saat itu sudah wafat. Bahan dari tulisan ini adalah iman yang diturunkan secara lisan bahwa Allah pencipta dan pemelihara semuanya, maka Allah akan mampu pula untuk membebaskan bangsa Israel dari tangan penjajahnya. Untuk �membuktikan� iman inilah, maka si penulis menuliskan kisah penciptaan yang luar biasa ini.

Namun tak lepas pula kita memiliki pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai hal di dalam kisah ini. Karenanya kita ingin menggali berbagai pertanyaan yang sering diajukan tentang bagian ini:
�         Apa yang dimaksud dengan �Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ke....?�
Bangsa Yahudi, sampai sekarang, selalu menganggap bahwa petang, ketika matahari sudah tenggelam, adalah awal suatu hari. Frase �jadilah petang dan jadilah pagi� merupakan ungkapan yang dipakai orang pada era Alkitab untuk menggambarkan satu periode hari, sama ketika orang modern mengatakan �siang dan malam�. Pembaca pada jaman itu tahu ketika frase �petang dan pagi� muncul, itu merupakan ungkapan yang menyatakan satu hari (entah yang dimaksud 24 jam atau satu periode waktu tertentu).

Istilah �petang� yang dipakai, yaitu ereB, berasal dari ungkapan yang merujuk pada �tenggelamnya matahari� (sunset). Sedangkan istilah �pagi�, B�qer, secara literal berarti pagi saat matahari mulai terbit di timur. Namun sekali lagi, walau �petang� yang dimaksud adalah seperti saat matahari tenggelam dan �pagi� yang dimaksud adalah saat matahari mulai terbit, penggunaan gabungan 2 kata ini tidak dapat dipahami secara literal. Frase ini berfungsi seperti sebuah idiom bagi orang jaman itu.

Banyak orang percaya bahwa hari-hari penciptaan merupakan hari dalam arti 24 jam karena digambarkan sebagai terdiri atas "petang" dan "pagi". Yang lain percaya bahwa "petang" dan "pagi" hanya berarti bahwa suatu petang mengakhiri tahap penciptaan tersebut dan keesokan paginya merupakan awal yang baru lagi. Ingat bahwa matahari dan bulan belum diciptakan sampai hari keempat, maka tidak mungkin bahwa petang dan pagi bisa muncul, bila diartikan secara harafiah, pada hari yang pertama.

�         Ketika Allah beristirahat, apakah yang proses penciptaan berhenti?
Tidak. Penciptaan masih terus berjalan sampai saat ini. Gereja Katolik menyebut bahwa melalui Sakramen Perkawinan, Allah mengizinkan manusia untuk secara khusus ikut serta dalam karya penciptaanNya sendiri. (KGK 1652)

Pada sastra Timur Dekat kuno, istirahat ilahi diperoleh dalam kuil pemujaan sebagai hasil munculnya tatanan (order) di atas kekacauan (chaos). Istirahat dapat dipandang sebagai suatu "pelepasan" (disengagement), setelah pekerjaan penciptaan sudah selesai, tetapi juga suatu "pengikatan" (engagement), karena Allah sekarang hadir dalam bait-Nya untuk memelihara suatu alam semesta yang kokoh dan tertata.

Selain itu perbuatan Allah adalah contoh untuk perbuatan manusia. Allah berhenti dan beristirahat, maka manusia juga harus berhenti dan beristirahat. Hari ketujuh yang nantinya disebut hari Sabat, menghentikan sebentar pekerjaan sehari-hari dan memberi istirahat. Itulah hari protest terhadap kerja paksa dan pendewaan uang. (KGK 2172)


�         Darimanakah bahan-bahan kisah penciptaan ini diambil?
Bangsa Israel adalah bangsa yang terus menerus bersinggungan dengan bangsa lain, dan karenanya berbagai mitologi dan kisah-kisah rakyat berbagai bangsa diadopsi dan dibentuk sesuai dengan imannya. Kisah penciptaan ini memiliki kesamaan dengan Kisah Enuma Elish dari Babilonia di mana pada awalnya kondisi bumi kacau dan tidak ada apa-apa kecuali Apsu bapa mereka dan Tiamat ia yang melahirkan, serta air (Kej 1:2 � Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air).

Kisah ini juga mirip dengan mitos di bangsa Mesir di mana Allah mencipta dengan firman, sama seperti Dewa Ptah yang mencipta kota Memphis dengan perkataan. Allah mencipta manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas, sementara Dewa Ea mencipta manusia dari Darah Qingu.

Dan sama dengan kedua mitos itu, manusia juga diberi tugas untuk memelihara dan menjaga semua ciptaan, melestarikan alam dan bumi.

�         Apa artinya manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah?
Manusia diciptakan menurut gambar Allah (b?-tse-lem Elohim; di mana "b?" adalah kata depan "menurut", "tselem" berarti "gambar"). Pada bagian awal ayat 27 tertulis b?-?al-mow yang berati "menurut gambarnya". Frasa ini dapat ditafsirkan bermacam-macam, termasuk:
o   Mempunyai kualitas spiritual Allah seperti intelek, kehendak, dan sebagainya;
o   Mempunyai bentuk fisik Allah;
o   Kombinasi dua hal di atas;
o   Merupakan perwujudan Allah di dunia dan dapat menjalin hubungan dengan-Nya;
o   Merupakan wakil Allah di bumi.

�         Bagaimana urutan penciptaan itu ditentukan?
Bila diperhatikan maka penciptaan dapat dibagi menjadi 2, yaitu hari 1 � 3 dan hari 4 � 6. Pada hari 1 � 3 Allah menciptakan landasan penciptaan dengan urutan langit (terang-gelap), laut (cakrawala memisahkan air di atas dan di bawah) dan bumi (memisahkan daratan dan lautan serta tanaman. Pada hari 4 � 6, Allah menciptakan isinya dengan urutan yang sama yaitu langit (matahari dan bulan), laut (mahluk air dan burung yang melintasi cakrawala) serta bumi (binatang darat dan manusia).
Menurut catatan ini tidak digunakan kata "menciptakan" atau "membuat" bagi tumbuh-tumbuhan, melainkan hanya ada perintah bagi tanah untuk menumbuhkan mereka. Ada tafsiran teologi yang melihat bahwa Allah telah memberikan kemampuan bagi tanah (atau bumi) yang asalnya gersang, untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan setelah diperintahkan oleh Allah, kemampuan itu dinyatakan.
�         Kenapa tidak disebut matahari dan bulan melainkan benda-benda penerang besar dan kecil?
Menurut Victor Hamilton, kebanyakan sarjana setuju bahwa penggunaan pilihan kata "benda penerang yang lebih besar" and "benda penerang yang lebih kecil" daripada istilah yang lebih eksplisit "matahari" dan "bulan", merupakan suatu retorik anti-mitologi yang dimaksudkan untuk melawan kepercayaan yang meluas zaman dahulu bahwa matahari dan bulan sendiri adalah dewa-dewa.

�         Siapa �KITA� dalam ayat 1:26, ketika Allah menjadikan manusia?
Ada sejumlah teori di mana dua yang paling menonjol adalah "Kita" di sini adalah kata ganti jamak keagungan untuk raja-raja (majestic plural), atau mencerminkan suatu "dewan ilahi" di mana Allah bertahta sebagai raja dan mengusulkan penciptaan manusia kepada para ilahi yang lebih rendah kedudukannya, biasanya dipahami sebagai para malaikat.

Pendapat Yahudi Rabbinik adalah: Allah sedang berbicara kepada para malaikat yang ada di sekeliling-Nya. Parafrasa Targum Yonatan menulis, "Dan Allah berkata kepada malaikat malaikat yang melayani yang sudah diciptakan-Nya pada hari kedua dari penciptaan alam semesta, 'Mari KITA jadikan manusia'. Sementara pendapat Yahudi Messianik adalah: Allah sedang berbicara kepada pribadi-Nya sendiri karena pribadi Allah itu kompleks, di sana ada firman-Nya, Roh-Nya, kehendak-Nya, dan lain-lain.

Adapula pendapat Kristen Trinitarian yaitu: Bapa sedang berbicara kepada Anak, dan kepada Roh Kudus. St. Barnabas mengatakan: �Sebab Kitab Suci berbicara tentang kita, ketika Ia [Allah] berkata kepada Putera-Nya, �Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita� (Lih. St. Barnabas, Epistle of Barnabas, Ch. VI).� St. Yustinus Martir mengatakan: �perkataan, �Baiklah Kita menjadikan�� kita dapat dengan tiada ragu mengetahui bahwa Allah bercakap dengan Seseorang Pribadi yang lain�� (St. Justin Martyr, Dialogue with Trypho, a Jew: Ch. LXII).


St Ireneus berkata: �Maka bukan para malaikat, yang menciptakan kita, ataupun membentuk kita, juga para malaikat tidak mempunyai kuasa untuk membuat/ mencipta sebuah gambar rupa Allah. Tidak seorangpun, tidak ada kuasa apapun yang terpisah dari Bapa segala sesuatu, selain daripada Sang Firman Allah [yang mencipta]. Sebab Allah tidak memerlukan para malaikat ini, untuk menyelesaikan apa yang telah ditentukan-Nya sejak semula, seolah Ia tidak memiliki tangan-Nya sendiri. Sebab pada-Nya selalu hadir Sang Firman dan Kebijaksanaan, Sang Putera dan Roh Kudus, yang dengan Keduanya dan di dalam Keduanya.. Ia [Allah] menciptakan segala sesuatu; yang kepada Keduanya Ia berkata, �Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.� (St. Irenaeus, Against Heresies, 4:20:1).

Recent Post