Friday, April 26, 2019

Apa yang terjadi di Sri Lanka? Kesaksian seorang misionaris SSPX


Apa yang terjadi di Sri Lanka? Kesaksian seorang misionaris SSPX

Banyak dari Anda telah menyatakan keprihatinan dan mendukung kami dalam doa-doa mereka setelah serangan terhadap gereja yang terjadi pada hari Paskah pagi. Saya ingin mengucapkan terima kasih setulusnya atas perhatian Anda dan dengan artikel ini saya ingin memberi tahu Anda tentang situasinya. Ketika kami mengetahui tentang serangan bom yang menyerang dua gereja Katolik (satu gereja Protestan juga terkena) pada hari kita merayakan Kebangkitan Tuhan kita, komunitas Katolik menjadi risau, terutama karena serangan itu sama sekali tidak terduga.

Kehadiran Katolik

Di Sri Lanka, meskipun negaranya mayoritas beragama Budha, Gereja adalah institusi yang dihargai oleh otoritas publik tertinggi. Gereja Katolik dihargai karena keunggulannya dalam menyelenggarakan sekolah, rumah sakit, dan semua lembaga amal lainnya. Di wilayah Sri Lanka, Gereja Katolik dibagi menjadi 12 keuskupan dengan sekitar 1,2 juta umat Katolik mewakili sekitar 6,1% dari total populasi menurut sensus 2012. Gereja Katolik menikmati kebebasan beribadah dan bertumbuh secara teratur dengan menyambut para pemeluk baru, membuka paroki-paroki baru, membangun gereja, membuka sekolah-sekolah baru dan rumah biara baru setiap tahun.

Kehidupan katolik

Bagi seorang imam, Sri Lanka adalah salah satu tempat terbaik di dunia. Pastoran Serikat St. Pius X terletak di kota Negombo, salah satu kota paling Katolik di negara itu, yang memungkinkan para rohaniwan serikat kita mengalami sesuatu yang langka: hidup dalam masyarakat yang sangat Kristiani, yang merupakan suatu keistimewaan yang hampir menghilang dari muka bumi di zaman kita ini.

Saat mengemudi di jalan yang membentang di sepanjang pantai barat negara itu, dari Kolombo (ibukota) ke kota Chilaw, orang dapat melihat rumah-rumah doa atau patung Orang Kudus di hampir setiap persimpangan jalan. Negombo sangat terkenal untuk hal itu; bahkan ada patung Kristus Raja, setinggi tiga meter, di balai kota untuk menunjukkan bahwa Negombo adalah kota Katolik. Dua tahun lalu, pemerintah kota meresmikan patung Bunda Maria di puncak menara jam yang ada di pusat kota, yang di bawahnya ada layar elektronik menyambut para pengunjung di Roma Kecil, nama julukan Negombo.

Selama masa Natal, umat Katolik Negombo mendirikan tempat singgah tradisional di jalan-jalan dengan patung-patung indah dan dekorasi yang penuh cita rasa. Tidak seperti apa yang akan terjadi di Eropa, tidak ada yang berani merusak ungkapan iman seperti itu.

Imam di tengah masyarakat

Imam Katolik sangat dihormati di Sri Lanka, sebagaimana dibuktikan oleh fakta bahwa ia tidak pernah mengantri untuk urusan administrasi atau bank. Kami memperhatikannya begitu dia masuk. Di dalam bis, jika semua kursi penuh, seseorang akan segera memberikan tempatnya kepada imam yang naik ke kendaraan.

Sebagai seorang imam, Anda sungguh-sungguh mengalami bahwa Sri Lanka berbeda bahkan sebelum datang ke negara itu. Misalnya, setelah naik pesawat dari maskapai nasional Srilankan Airlines, kru akan memperlakukan Anda dengan penuh perhatian. Seringkali Anda akan disajikan minuman sebelum lepas landas, bahkan jika Anda berada di kelas ekonomi, dan begitu makanan akan disajikan, seorang pramugari akan membawakannya kepada Anda sebelum orang lain. Pada saat kedatangan, di bandara Kolombo, Anda tidak akan mengantri di bea cukai, karena seorang agen akan menjemput Anda untuk mencap paspor Anda sebelum pelancong lain.

Saat meninggalkan negara, di bandara Kolombo, hal yang sama terjadi. Di terminal, ada kursi khusus untuk para rohaniwan (Budha dan Katolik) dan di gate, seorang anggota staf akan mempersilahkan imam untuk naik pesawat terlebih dahulu, bersamaan dengan pengusaha bahkan jika sang imam berada di kelas ekonomi sekalipun. Kemurahan hati staf Srilankan Airlines terjadi pada 2010 ketika relikwi St. Antonius dari Padua berkunjung ke Sri Lanka. Relikwi tersebut dibawa dengan pesawat Srilankan Airlines. Pada kesempatan itu, maskapai memilih dua orang Katolik sebagai pilot dan co-pilot. Hal yang lebih menyentuh lagi, relikwi itu tidak diletakkan di bagasi pesawat, tetapi di kursi di kelas bisnis. Ketika relikwi itu tiba di bandara, ia disambut bagaikan kepala negara. Di luar bandara, relikwi St. Antonius ditempatkan di atas kendaraan resmi dengan pengawalan tentara dan polisi ke Kolombo.

Jadi mengapa ada pengeboman?

Serangan pada hari Minggu Paskah benar-benar dimaksudkan untuk melukai komunitas Katolik secara mendalam. Pertama, pemboman itu terjadi pada hari pesta terbesar setiap tahun, kedua, dua orang suci paling populer di Sri Lanka adalah St. Antonius dari Padua dan St. Sebastian. Para teroris tidak memilih target mereka secara acak. Mereka menargetkan Tempat Suci Santo Antonius di Kolombo dan Gereja San Sebastián di Negombo, dua gereja teramai. Polisi sibuk berusaha mencari tahu siapa yang berada di balik serangan itu, tetapi banyak orang di sini sudah memiliki dugaan atas jawabannya.

Apakah Serikat aman?

Seperti halnya semua gereja di negara ini, kita harus waspada. Gereja kita harus tetap terkunci kecuali untuk Misa. Dianjurkan untuk menghindari gerakan yang tidak perlu. Jam malam berlaku mulai jam 6 sore sampai 6 pagi. Pastoran kami bukanlah tempat penting, jadi tidak mungkin akan menjadi target operasi kriminal, tetapi siapa tahu? Salah satu gereja yang diserang hanya berjarak dua kilometer dari tempat kami berada. Doa dan dukungan Anda karenanya sangat berharga bagi kami. Berdoalah terutama untuk negara yang indah ini, yang memiliki begitu banyak hal untuk ditawarkan, sehingga dapat dengan cepat mengatasi cobaan ini dan tetap menjadi tempat yang damai demi berkuasanya kerukunan sosial dan relijius bagi kebaikan masyarakat yang lebih besar.

Pater Fabrice Loschi, SSPX

Sumber: FSSPX.NEWS

No comments:

Post a Comment

Recent Post