Latest News

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, October 31, 2018

Sukacita ini membuat kita bebas — Paus Fransiskus



“Kalian yang hadir di Misa, apakah kalian memuji Allah atau apakah kalian hanya mengajukan permohonan kepada Allah…? Apakah kalian memuji Allah?…. 

Jika kalian tidak memuji Allah, kalian tidak akan pernah tahu rasa tanpa pamrih, dari menghabiskan waktu untuk memuji Allah. 

Misa [akan terasa] panjang dan lama! Tetapi jika kalian datang dengan sikap sukacita, sikap memuji Allah ini, Misa itu indah! 

Inilah yang akan terjadi dalam kekekalan: 
memberikan pujian kepada Allah! 
Dan itu tidak akan membosankan: ini indah! 
Sukacita ini membuat kita bebas.” — Paus Fransiskus (Homili, 31 Mei 2013)

Tuesday, July 10, 2018

Tobat: Bagaimana dan Ke Depannya

Pewartaan tentang pertobatan adalah pewartaan yang tak pernah berhenti. Pertanyaannya adalah seputar: bertobat dari apa, bagaimana caranya bertobat, setelah saya berhasil lalu apa?

Setiap orang memiliki pertobatannya masing-masing. Tidak ada seorang pun dapat memberikan saran yang 100% pas, melainkan saran-saran umum saja. Pertobatanku yang pertama adalah dari kesombongan. Namun tak seorang pun pernah menyarankan hal itu kepadaku karena mereka tidak melihat aku sombong. Tapi kesombonganku adalah kesombongan dalam diam, dimana aku melihat orang lain dan merasa bangga pada diriku sendiri. Jadi untuk mengetahui apa yang harus dipertobatkan, tiap orang harus mendalami dirinya sendiri melalui refleksi diri tiap hari.

Pertanyaan kedua: bagaimana cara bertobat? Pertobatan dimulai dari suatu kesadaran diri yang diutarakan di dalam bentuk komitmen untuk berubah. Sarana yang paling baik adalah dengan Sakramen Tobat. Penyesalan sekaligus komitmen untuk berubah dinyatakan di depan Tuhan dan Gereja, sehingga ada rasa yang tumbuh di dalam diri untuk bertahan pada komitmen tersebut, bahkan ketika terkadang kita tergelincir ke dosa yang sama. Selanjutnya komitmen untuk dihidupi dengan cara hidup yang baru. Perbaruan cara hidup membutuhkan disiplin, bahkan terkadang membutuhkan orang lain untuk mengingatkan. Misalnya ingin makin dekat pada Tuhan dinyatakan di dalam doa sebelum makan dan tidur. Pertama-tama tentu sulit, namun lama kelamaan akan menjadi suatu kebiasaan yang tak perlu dipikirkan lagi, alias cara hidup yang baru.

Pertanyaan terakhir, lalu apa? Orang cenderung berpikir bahwa dosanya hanya satu. Orang malas berdoa berpikir dosanya adalah kurang dekat pada Tuhan. Orang suka gosip  berpikir dosanya itu saja. Namun ketika kita akan segera menyadari ada bagian-bagian hidup kita yang masih perlu diubah selain dosa-dosa �utama� itu, sehingga kita akan selalu kembali kepada pertanyaan pertama: apa lagi yang perlu diubah di dalam hidup kita agar kita makin sempurna? Selamat berubah.

----------------------------
Bacaan Liturgi 11 Juli 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa XIV
PW S. Benediktus, Abas
Bacaan Pertama: Hos  10:1-3.7-8.12
Bacaan Injil: Mat 10:1-7

Tuesday, July 3, 2018

St. Elisabet dari Portugal: Cermin Kesederhanaan dan Ketaatan

Hari ini adalah hari pesta St. Elisabet dari Portugal. Dua hal yang dapat kita pelajari dari dirinya yang juga merupakan tema bacaan pada hari ini. Satu, Tuhan menginginkan kebenaran dan keadilan yang terbungkus di dalam kesederhanaan. Kedua, setiap hal ada waktunya yang telah ditentukan oleh Tuhan sendiri.

St. Elisabet adalah seorang putri bangsawan yang menikah dengan raja Portugal. Ia merupakan moyang dari raja-raja di daerah sekitar. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat kesederhanaan dan belas kasihnya. Ia tetap membantu orang miskin, meringankan penderitaan orang lain, walaupun sempat menjadi topik percakapan dan sumber niat buruk bagi komunitas kerajaannya. Ia beberapa kali menjadi sarana perdamaian bagi 2 pihak yang hampir berperang, termasuk antara suami dan anaknya sendiri. Sungguh, ia adalah teladan di dalam kesederhanaan namun tetap menjunjung kebenaran dan keadilan, sama seperti yang difirmankan Tuhan kepada Amos pada bacaan pertama, dimana Tuhan merendahkan perkumpulan raya dan kurban persembahan yang diadakan oleh orang yang hatinya tidak tertuju padaNya.

Dalam bacaan Injil kita mendengar bahwa roh-roh jahat bertanya pada Yesus apakah Ia akan menyiksa mereka �sebelum waktunya.� Secara tersirat kita dapat menyimpulkan bahwa mereka tahu bahwa ada waktu tertentu yang telah direncanakan Tuhan bagi mereka, dan tentunya bagi kita juga. St. Elisabet menjalani hidupnya dengan waktu yang direncanakan Tuhan. Ia dengan sabar tetap melaksanakan kebaikan hatinya di saat ia menjadi ratu. Ia berperan aktif di dalam kerajaan suaminya sebagai negosiator dan mediator. Ia menjadi teladan bagi keluarganya sehingga suaminya bertobat dari lakunya yang jahat. Dan ketika suaminya meninggal, ia melepaskan seluruh privilesenya dan masuk ke biara, sebagaimana yang telah lama diimpikannya.

-------------------------
Bacaan Liturgi 04 Juli 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa XIII
PF S. Elisabet dari Portugal
Bacaan Pertama: Am 5:14-15.21-24
Bacaan Injil: Mat 8:28-34

Wednesday, June 27, 2018

Menatap Tuhan Lewat Orang Lain

Ada orang pernah memberikan pernyataan ini: �Kita bisa belajar tentang Tuhan di mana saja termasuk dari media online seperti youtube dan website-website yang sudah sangat banyak dan rasanya sudah lengkap.� Pernyataan itu benar ketika kita ingin mendalami bagaimana kemahakuasaan Tuhan di dalam alam semesta. Kita bisa belajar tentang alam semesta yang sangat luas, kedalaman dan kekayaan laut yang belum sepenuhnya terselami, dan hal-hal lain yang sifatnya masih menunggu penjelajahan indera kita.

Namun, pernyataan itu benar-benar salah ketika kita ingin mengetahui bagaimana Tuhan bekerja di dalam dan melalui manusia. Kita mengenali Tuhan yang bekerja di dalam manusia hanya melalui kontak langsung dengan manusia itu. Ada orang yang membuat video tentang Tuhan secara luar biasa, namun di dalam kehidupan pribadinya ia sangat kasar terhadap orang lain. Ada orang yang sederhana saja hidupnya, namun cintanya pada orang lain begitu luar biasa. Pada orang-orang yang disebutkan terakhir itulah kita sungguh melihat Tuhan yang bekerja, bukan hanya Tuhan yang mahakuasa.

Dalam bacaan pertama kita melihat Tuhan bekerja di dalam hati Raja Yosia yang ketika menemukan kitab Tuhan, ia langsung memerintahkan bangsanya untuk mematuhi Tuhan. Kenapa rakyatnya langsung melakukan perintahnya itu? Salah satunya karena rakyatnya melihat langsung apa yang dilakukan oleh sang raja: membacakan kitab dan berdiri di dekat tiang, sehingga kita bisa menggambarkannya berdiri di tengah-tengah rakyatnya. Pertemuan-pertemuan personal seperti ini menggetarkan hati: dahulu maupun sekarang. Mari kita, sesama umat Tuhan, berkumpul dan saling menguatkan, karena melalui satu sama lain, kita bertemu dengan Tuhan yang kita imani.

----------------
Bacaan Liturgi 27 Juni 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa XII
PF S. Sirilus dari Aleksandaria, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: 2Raj 22:8-13;23:1-3
Bacaan Injil: Mat 7:15-20


Tuesday, June 19, 2018

Melayani Dalam Rendah Hati & Penuh Sukacita


Di dalam pelayanan kita akan menemui banyak orang yang juga melayani, namun menurut pendapat kita, pelayanan mereka adalah untuk dirinya sendiri. Ciri-cirinya adalah mereka bangga terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka seakan-akan menuntut pujian dan balasan atas apa yang mereka lakukan. Pertemuan intensif dengan para pelayan seperti ini dapat menggoyahkan ketulusan kita, membuat kita malas melayani atau malah terpengaruh dengan mereka untuk ikut berbangga dengan diri sendiri. Terkadang godaan untuk melakukan keduanya begitu kuat sehingga kita perlu teman sepelayanan atau sebuah retret yang baik untuk mengembalikan kita kepada kesadaran pelayanan kita yang sejati.



Perasaan seperti ini lazim dan wajar terjadi karena para pelayan yang bangga pada diri sendiri biasanya adalah orang-orang yang vokal, terdengar suaranya, terlihat pekerjaannya. Karena mendengar dan melihat ini, kita menjadi sering menyisihkan para pelayan lain yang sebenarnya jumlahnya lebih banyak, yaitu mereka yang mengerjakan segala sesuatunya di dalam diam, tiba lebih dahulu di dalam suatu acara dan pulang terakhir. Mereka tidak tampil di depan, tapi tanpa mereka banyak hal menjadi terlantar. Merekalah yang para pelayan yang mengharapkan upah Bapa di surga, bukan upah manusia.



Mari kita lebih optimis terhadap rekan-rekan sepelayanan kita. Kita yakin dan berusaha mengajak semua pelayan untuk menemukan pelayanan yang sejati, yang ditunjukkan oleh Nabi Elisa dalam bacaan pertama dan diajarkan Yesus dalam bacaan kedua. Nabi Elisa turut dengan gurunya, Nabi Elia sampai kepada kesudahannya. Ia meminta hanya sebagian dari apa yang dimiliki oleh gurunya, ia percaya apa yang diyakini oleh gurunya. Imannya bertumbuh dari iman seorang murid, menjadi iman seorang nabi baru, dan Tuhan menyertainya selalu.



---------------------

Bacaan Liturgi 20 Juni 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa XI
Bacaan Pertama: 2Raj 2:1.6-14
Bacaan Injil: Mat 6:1-6.16-18

Tuesday, June 5, 2018

Harapan sebagai Sumber Kehidupan

Di dalam sebuah buku, The World Until Yesterday, karangan Jared Diamond, ia berargumentasi bahwa agama dilihat sebagian orang sebagai upaya manusia untuk menjelaskan hal-hal yang belum dapat dimengerti, dan untuk memberikan harapan serta kekuatan untuk menjalani hidup yang terkadang sangat berat. Karena argumen-argumen seperti ini, banyak orang kini menganggap agama hanya sebagai �kebohongan semata�, �kekuatan sugestif�, dan sebagainya. Artinya agama bukan bersumber dari yang mahakuasa, melainkan dari kita yang membutuhkan suatu pegangan hidup.

Benar atau tidaknya argumen itu akan tergantung dari bagaimana kita memiliki iman. Tapi faktanya adalah agama memberikan pemeluknya suatu harapan bahwa hidup di dunia ini singkat tapi sangat menentukan bagaimana kita nanti hidup kekal. Hidup benar saat ini, hidup seribu tahun yang menyenangkan di surga. Hidup sesat saat ini, hidup selamanya di dalam api sekam.

Bagi orang ateis, tidaklah mungkin ada kebangkitan. Begitu kita mati, maka kita akan lenyap. Bagi mereka, suatu ketiadaan kekal merupakan hal yang tidak perlu disesalkan, cukup lakukan yang terbaik di dalam umur kita yang singkat di dunia ini. Namun benarkah demikian? Ada banyak kasus bunuh diri karena mereka merasa penderitaannya di dunia terlalu berat, sehingga ketiadaan menjadi lebih baik daripada ada tapi sakit.

Orang yang tidak memiliki keyakinan akan kebangkitan, tidak memiliki pula makna hidup. Apa makna hidup kita di dunia ini? Ya, agar kita dibangkitkan pada hidup yang kekal dan melihat bahwa semua yang kita lakukan itu baik adanya. Ada harapan yang terkandung disitu. Maka berbahagialah kita yang percaya akan kebangkitan, karena dengan demikian, penderitaan kita di dunia ini menjadi bermakna.

---------------------
Bacaan Liturgi 06 Juni 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa IX
PF S. Norbertus, Uskup
Bacaan Pertama: 2Tim 1:1-3.6-12
Bacaan Injil: Mrk 12:18-27

Tuesday, May 29, 2018

Pemimpin yang Melayani


Suatu hari ketika kantor saya mengadakan outbound bersama, saya belajar arti menjadi seorang pemimpin yang melayani. Grup yang besar dibagi-bagi menjadi grup-grup kecil dan diutus untuk melakukan perjalanan yang cukup melelahkan secara fisik, naik turun bukit yang licin dan berbatu-batu. Kebetulan saya berada di dalam satu rombongan dengan seorang wanita yang kurang disukai semua orang di kantor karena kinerjanya dan sikapnya terhadap pekerjaan, sebut saja namanya Ines.

Ines selalu tertinggal dari kelompok, sehingga kami harus selalu menunggu dia. Tentunya karena dia bukan orang yang kami sukai, menungguinya kami lakukan dengan kesal hati. Di tengah perjalanan, ia mengeluh bahwa ia tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan. Semua anggota kelompok yang lain sepakat dengan cepat bahwa kita harus meninggalkannya di situ sendiri dan menyelesaikan permainan, lalu meminta orang untuk kembali ke situ dan menjemput dia.

Tapi ada satu orang yang tidak setuju. Ia memberikan usul bahwa ia akan menemani Ines di situ sampai pertolongan datang, atau kita semua akan menemani Ines dan memperlambat laju perjalanan kita. Orang ini masih muda, bahkan yang termuda dari antara kita, paling kuat, paling cepat dan lincah jalannya, dan disukai semua orang di kantor. Akhirnya kami semua sepakat untuk memperlambat laju perjalanan dan menyelesaikan permainan itu bersama-sama.

Hari itu saya menyadari, untuk menjadi seorang pemimpin, kita harus dapat mengenali siapa yang terlemah di antara kelompok kita. Dan karena kita bukan berasal dari �benih yang fana� melainkan �benih yang baka�, maka kita harus melayani yang terlemah itu dengan kasih persaudaraan yang tulus. Anak muda yang bahkan bukan orang Kristen itu telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk saya, dan semoga juga untuk Anda, tentang pemimpin yang melayani yang diajarkan oleh Yesus Kristus.


-------------------------

Bacaan Liturgi 30 Mei 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa VIII
Bacaan Pertama: 1Ptr 1:18-25
Bacaan Injil: Mrk 10:32-45

Tuesday, May 22, 2018

Kuasa Allah atas Kehidupan

Tentunya peristiwa pemboman gereja-gereja di Surabaya belum hilang dari ingatan kita. Setelah beberapa hari lewat dan berita-berita sudah mulai membicarakan latar belakang dan hal-hal yang tak kelihatan secara langsung, kita mulai mendengar beberapa kisah yang membuat kita merasa tak berdaya di hadapan Allah.

Seorang ibu yang meninggal dalam kejadian itu kebetulan bukan umat Surabaya, melainkan hanya datang ke Surabaya untuk suatu pameran. Karena ia mendengar bahwa gereja itu menarik secara arsitektur, maka ia memilih Gereja St. Maria Tak Bercela untuk Misa, padahal Katedral jauh lebih dekat dari hotelnya. Ketika ia sampai di gereja, ia tidak langsung masuk ke dalam, melainkan berjalan-jalan di dekat pintu gereja sampai bom itu meledak dan mengambil nyawanya. Sebaliknya seorang ibu lainnya yang biasa misa di gereja itu dan di jam itu, entah mengapa hari itu terlambat bangun dan terpaksa mengubah lokasi misanya ke gereja lain.

Allah berkuasa memberikan hidup yang lebih panjang dan berkuasa pula mengambilnya dalam sekejap. Ia berkuasa untuk memberikan keberhasilan semua usaha kita maupun menundanya. Ia berkuasa memberikan kuasa atas roh jahat kepada orang yang menurut kita tidak layak, berkuasa pula mengambil kuasa itu dalam sekejap. Mari kita merendahkan diri di hadapanNya.


-----------------------

Bacaan Liturgi 23 Mei 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa VII
Bacaan Pertama: Yak 4:13-17
Bacaan Injil: Mrk 9:38-40

Tuesday, May 8, 2018

Siapakah Allah yang Kamu Sembah?

Belakangan ini muncul trend pacaran dengan orang yang dikenal lewat sosmed seperti Facebook. Trend ini juga menyambar teman saya. Ia kenal dengan seorang lelaki berkebangsaan Amerika yang mengaku pebisnis sukses. Setelah beberapa lama chatting lewat medsos, si lelaki akhirnya mengatakan akan mengunjungi Indonesia dan melamarnya. Ketika akhirnya bertemu dan berkenalan secara langsung barulah teman saya mengetahui bahwa lelaki itu penipu dan ingin memperalatnya supaya bisa beroleh kewarganegaraan Indonesia.





Kita tentu pernah mendengar pepatah: tak kenal maka tak sayang. Demikianlah banyak orang puas dengan menyembah Allah yang tak dikenal. Mereka takut pada Allah yang mereka ciptakan dalam pikiran mereka sendiri. Demikianlah latar belakang yang ditemui Paulus dulu, bahkan yang kita temui pada saat ini. Kalau kita bertanya: �Siapakah Allah yang kamu sembah?� apa kira-kira jawaban orang? Dapatkah mereka menjelaskan dengan penuh iman Allah mereka?

Demikianlah kita tiap saat harus berdoa agar Roh Kudus selalu memberitakan kepada kita tentang Allah yang kita sembah. Kaa-kata tidak cukup untuk mendeskripsikan Allah. Tetapi bila Roh Kudus bersabda, maka kita memahami dan makin dekat dengan Allah.


-----------------------

Bacaan Liturgi 09 Mei 2018
Hari Biasa Pekan Paskah VI
Bacaan Pertama: Kis 17:15.22-18:1
Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

Tuesday, May 1, 2018

Beranikah Kita Memperjuangkan Kebenaran?

Hari ini kita akan berbicara tentang keberanian mengungkapkan kebenaran. St. Paulus dan St. Barnabas di dalam bacaan pertama menunjukkan keberanian mereka menentang banyak umat Yahudi yang percaya Kristus namun tetap menitikberatkan sunat sebagai kriteria utama keselamatan. Mereka berdua berjuang sampai ke Yerusalem untuk mempertahankan pendapat mereka itu. Hasilnya adalah kita semua yang kini membaca tulisan ini, menikmati hasil dari perjuangan mereka, yaitu dimana iman pada Yesus berada di atas ketaatan pada sunat.

Hari ini juga kita merayakan Perayaan Wajib St. Athanasius, uskup dan pujangga agung Gereja. Ia pernah disebut �Athanasius melawan dunia� karena kesohorannya mempertahankan ajaran bahwa keselamatan hanya berasal dalam Yesus Kristus. Ia diperhadapkan pada tuduhan-tuduhan dari pihak Yahudi dan kafir, bahwa inkarnasi dan penyaliban Anak Allah tidak pantas dan mengurangi martabat-Nya. Namun, dengan tegas ia mengatakan bahwa "dunia yang diciptakan melalui Dia hanya dapat dipulihkan oleh Dia". Pemulihan ini tidak bisa terjadi, kecuali melalui salib. Ia juga terkenal sebagai lawan tangguh ajaran sesat Arianisme yang mengajarkan bahwa seseorang yang datang kepada kita yaitu, Kristus Yesus bukanlah Tuhan yang sesungguhnya melainkan makhluk yang diciptakan oleh Allah. Athanasius-lah yang memperjuangkan bahwa Kristus Yesus sungguh Allah.

Di masa kini pun kita terus menerus ditantang untuk memperjuangkan kebenaran di dalam nama Yesus. Perjuangan itu mungkin akan membawa kita menjadi kurang disukai oleh teman-teman kita bahkan di dalam gereja sendiri. Perjuangan kita mungkin membuat kita dijuluki �perusuh� karena kita mengambil posisi yang berbeda dengan para pemimpin kita, termasuk pemimpin gereja. Namun selama kita memperjuangkan kebenaran dengan hati tulus, rendah hati dan membungkusnya di dalam doa dan iman, maka perjuangan kita takkan sia-sia. Hasilnya mungkin tidak dapat kita lihat dalam sisa usia kita, namun seperti Yesus katakan di dalam InjilNya: �Barangsiapa tinggal di dalam Aku, ia berbuah banyak.� Selamat memperjuangkan kebenaran.


---------------------------
Bacaan Liturgi 02 Mei 2018
Hari Biasa Pekan Paskah V
PW S. Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: Kis 15:1-6

Bacaan Injil: Yoh 15:1-8

Tuesday, April 24, 2018

St. Markus, Sang Singa yang Kuat

Santo Markus adalah salah satu dari 4 penulis Injil. Injilnya diyakini adalah yang paling tua dan menjadi salah satu sumber dari kedua Injil lainnya yaitu Matius dan Lukas. St.Markus digambarkan seekor singa. Richard Burridge dalam bukunya Empat Injil, Satu Yesus menggambarkan gaya menulis St. Markus seperti seekor singa yang berlari cepat menuju mangsanya, menjelajah padang yang luas dan memiliki kekuatan serta kecepatan yang mengagumkan. Demikianlah kita merasa bila kita membaca Injil Markus dengan komplit maka kita pun akan merasa bahwa kisah-kisah Yesus diceritakan secara singkat, menjelajah banyak  aspek, namun mengena pada sasaran.

St. Markus sungguh-sungguh menghayati pesan Yesus yang terakhir kepada pada murid-murid yaitu �Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.� Urgensi dari pesan ini sungguh tampak kepada bagaimana Markus menuliskan Injilnya. Ia mewartakan yang penting-penting. Dalam setiap pewartaannya ia menegaskan bahwa pesan itu harus dilaksanakan dengan cepat. Ia juga menegaskan bahwa sama seperti singa yang harus cepat menerkam mangsanya, yaitu memberitakan Injil ke seluruh dunia dan ke segala makhluk, kita pun dipersenjatai dengan kekuatan mengusir setan, berbicara dalam bahasa baru, minum racun namun tidak celaka dan kuasa menyembuhkan orang sakit.

Demikianlah kita perlu menangkap pesan-pesan ini dalam kehidupan kita. Marilah kita mewartakan Kristus� sekarang juga, di tempat ini juga, dengan kuasa yang telah dipercayakan kepada kita. Jangan sampai ketika Ia datang untuk kedua kalinya, Ia menemukan ada bagian dunia yang belum tersentuh oleh kabar gembiraNya.


-------------------------
Bacaan Liturgi 25 April 2018
Pesta St. Markus, Penulis Injil
Bacaan 1: 1Ptr 5:6b-14

Injil: Mrk 16:15-20

Tuesday, April 17, 2018

Ekaristi, Sungguh Roti Kehidupan

Akulah roti hidup, kata Yesus. Seringkali kita mengabaikan betapa dahsyatnya kata-kata itu, dan bagaimana kata-kata itu sungguh nyata di dalam Ekaristi. Banyak kesaksian orang-orang kudus yang tidak dapat menyambut komuni karena keadaannya, memohon dengan sangat pada Allah, dan menyambutnya dari tangan Malaikat. Rosalie Put misalnya, seorang biarawati, jatuh sakit di umur 17 tahun dan terbaring di tempat tidurnya selama 25 tahun. Ia sangat menderita dan tidak dapat menghadiri Misa Kudus. Maka, seorang Malaikat Agung akan datang tiap malam untuk memberi dia Komuni Kudus. Kehadiran Malaikat ini ditandai oleh bunyi sebuah lonceng kecil dan kadang dapat didengar orang lain.

Seorang kudus lainnya, St. Nicholas dari Flue memohon pada Tuhan agar dia diijinkan hidup tanpa makan dan minum. Permohonan ini dikabulkan. Selama 20 tahun ia hidup di sebuah kamar kecil dari kayu, hanya hidup dari makan Komuni Kudus. Para penduduk mengagumi kesuciannya dan nasihatnya yang membawa perdamaian di antara kota-kota yang berperang.

Ekaristi adalah sungguh-sungguh Roti Hidup. Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan lapar dan haus lagi, dan akan beroleh hidup yang kekal. Mari kita pada masa Paskah ini merenungkan, sekuat apakah iman kita pada 1 kalimat itu: Akulah Roti Hidup.

----------------
Bacaan Liturgi, 18 April 2018
Hari Biasa Pekan Paskah III
Bacaan 1: Kis 8:1b-8

Injil: Yoh 6:35-40

Tuesday, April 10, 2018

Di Mana dan Kapan Kita Memberitakan Yesus?

Dimanakah tempat yang tepat untuk memberitakan Injil? Kapankah saat yang tepat untuk menyerukan Nama Yesus? Mungkin banyak orang bertanya-tanya tentang hal ini, sama seperti saya, terutama yang tinggal di komunitas yang majemuk dengan mayoritas non Kristiani, dan sebagian masyarakatnya mulai menunjukkan sikap bermusuhan dengan umat Kristiani. Dengan terpaksa walaupun harus menelan ludah kuatir, saya terpaksa menjawab: di mana-mana dan setiap saat, walaupun itu berarti mendekatkan saya pada kehidupan yang tidak enak, kematian yang menyakitkan, kehilangan yang memedihkan.

Bacaan pertama memberikan kita contoh bahwa para rasul dimasukkan ke dalam penjara kota karena iri hati orang-orang Saduki. Namun Malaikat datang, membebaskan mereka secara ajaib tanpa merusakkan pintu penjara, dan membawa mereka ke Bait Allah supaya mereka kembali bisa mengajar tentang Yesus. Pada akhirnya toh mereka ditangkap lagi, disiksa sampai mati kecuali Yohanes yang berhasil mati tua walaupun sempat disiksa. Injil mengingatkan kita bahwa orang yang percaya padaNya takkan binasa, walaupun dibunuh dan mati di mata dunia.

Kita juga dikuatkan dengan kesaksian para kudus yang hidup tidak lama dari masa kehidupan kita sekarang. St. Maximillian dari Kolbe yang menyerahkan dirinya untuk menggantikan salah satu terpenjara zaman Nazi (1941), dan tetap menghibur teman-teman satu sel yang dihukum mati dengan kabar gembira Tuhan. Pastur Beda Chang wafat sebagai martir (1951) karena ia terus merayakan misa di negara China yang melarang kegiatan religius apapun. Luisa Guidotti Mistrali wafat tahun 1979 setelah sebuah peluru menembus lehernya karena ia terus melaksanakan misi dan karya penyembuhannya di Zimbabwe yang sedang perang saudara. Beranikah kita seperti mereka, membela iman kita tanpa menyerang? Mari kita di masa Paskah ini dikuatkan bahwa orang dapat menyiksa dan membunuh badan kita, namun tak bisa mengambil jiwa kita, karena kita milikNya. Semoga dengan iman ini, kita dapat berdiri tegak menghadapi orang-orang yang ingin menjauhkan kita dari Yesus yang termanis.

-----------------
Bacaan Liturgi, 11 April 2018
PW S. Stanislaus, Uskup dan Martir
Hari Biasa Pekan Paskah II
Bacaan 1: Kis 5:17 - 26

Injil: Yoh 3:16 - 21

Tuesday, April 3, 2018

Hati Penuh Syukur

Henri Nouwen dalam bukunya Hati Penuh Syukur merenungkan kisah perjalanan ke Emaus yang hari ini kita dengar lewat Bacaan Injil. Ia membaginya menjadi 5 bagian yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari manusia. Pertama-tama kita datang dengan rasa kehilangan, sama seperti kedua murid yang kehilangan guru, harapan dan tujuan hidup mereka. Kita pun sering merasa kehilangan waktu, teman, keluarga, kebebasan, atau apa saja. Dengan hati hancur diremukkan oleh kehilangan, kita datang ke hadapan Allah.

Lalu kita bertemu seorang asing yang membuat hati kita mulai berkobar-kobar. Yesus menampakkan diri di hadapan kedua murid, dan mulailah mereka menceritakan rasa itu. Demikianlah kita mengungkapkan diri kita dan hati kita yang hancur kepada Allah melalui Tuhan Kasihanilah Kami. Sebagaimana Yesus harus diundang ke dalam rumah kedua murid agar mereka nantinya dapat �melihat� siapa Yesus, demikian pula kita mengungkapkan undangan kita didalam Aku Percaya. Bila orang asing yang luar biasa tak kita undang ke dalam rumah kita, maka ia tetap menjadi orang asing. Tapi begitu kita makan bersama, maka jadilah ia �seorang dari kita�, atau sering dikatakan orang Palembang �wong kito galo.�

Ketika kita makan bersama, mulailah diri �orang asing� itu nampak menjadi Yesus. Kita pun akan mengetahui secara jelas bahwa �itu Tuhan� pada saat hosti diangkat. Dan ketika kedua orang murid itu menyambut roti dari Yesus, Yesus hilang dari pandangan mereka. Yesus di dalam Ekaristi secara ajaib menghilang dari pandangan kita sekaligus menyatu di dalam kita, dan menjadikan kita seperti dia. Sejak itu, maka kita pun diutus menjadi Dia di dalam kehidupan sehari-hari seperti Petrus dan Yohanes yang bersaksi tentang Yesus. Sebagaimana Yesus berkuasa dalam DiriNya sendiri, kita pun menjadi berkuasa karena Yesus ada di dalam diri kita. Maka bila kita percaya sungguh, maka seperti Petrus dan Yohanes, kuasa-kuasa termasuk kuasa penyembuhan dapat terjadi. Mari kita bersukacita dan memuji Allah karena kuasaNya yang begitu besar yang dipercayakanNya pada kita.

-------------------
Bacaan Liturgi, 4 April 2018
PF S. Isidorus, Uskup dan Pujangga Gereja
Hari Rabu dalam Oktaf Paskah
Bacaan 1: Kis 3:1-10

Injil: Luk 24:13-35

Tuesday, March 27, 2018

Manusia dan Kemauan Bebas

Di suatu rumah sakit jiwa ada seorang pasien yang menyanyikan 10 lagu Koes Plus dengan hafal dan lancar, tapi dengan tengkurap. Setelah selesai, ia berbalik arah menjadi telentang, dan menyanyikan 10 lagu Koes Plus yang lain, juga dengan hafal dan lancar. Seorang dokter yang mengamati tingkahnya bertanya: �kenapa kamu nyanyikan 10 lagu pertama dengan tengkurap dan 10 lagu kedua dengan telentang?� Jawab pasien itu: �kan yang 10 lagu pertama itu di Side A, yang kedua di Side B.�

Manusia diciptakan dengan  kemauan bebas. Ia bebas untuk dibentuk Allah dengan tidak memberontak seperti Yesaya pada bacaan pertama. Ia juga bebas untuk mengkhianati Guru dan Tuhannya seperti Yudas di dalam bacaan Injil. Tidak seperti pasien rumah sakit jiwa yang tidak memiliki pemahaman mana yang benar dan salah, kemauan bebas itu diperlengkapi dengan akal budi. Karena kemauan  bebas itu, setiap nafas manusia dipenuhi dengan pengambilan keputusan dan pertentangan yang baik dan yang jahat.

Selama masa prapaskah ini, kita diajak untuk terus menerus berefleksi tentang bagaimana kita mengambil keputusan di dalam hari-hari hidup kita. Apa yang kita temukan di dalam refleksi itu? Apakah lebih banyak yang baik daripada yang jahat? Apakah di dalam keputusan-keputusan yang tampak baik ada motivasi-motivasi jahat yang menemaninya? Bila kita sungguh-sungguh merenungkan, maka tidaklah mungkin kita melewati hari-hari ini tanpa mengambil satupun keputusan yang jahat. Oleh sebab itu marilah kita menantikan kebangkitan Tuhan kita, yang bersamaNya, kita dibebaskan dari dosa-dosa kita.

------------------
Bacaan Liturgi Rabu 28 Maret 2018
Hari Rabu dalam Pekan Suci
Yes 50:4-9a

Mat 26:14-25

Tuesday, March 20, 2018

Berdoa kepada Malaikat Pelindung

Beato Gerardus Cagnoli adalah seorang yang sangat suci sering kali terlihat didampingi oleh para malaikat. Pada suatu Hari Raya Paskah, juru masak biara jatuh sakit, maka pastor kepala meminta Beato Gerardus untuk menyiapkan makan siang. Beato taat walau tidak tahu bagaimana caranya. Ia berdoa saat itu juga. Waktu makan siang, api kompor pun belum dinyalakan. Pastor kepala menegurnya, tapi Beato berkata �Bapa, jangan kuatir, para saudara akan mendapatkan makanan!� Tiba-tiba datanglah seorang Malaikat dengan wujud pemuda rupawan menyiapkan berbagai makanan di atas meja lalu menghilang. Para saudara berkata bahwa mereka tidak pernah makan makanan selezat itu.

Malaikat pelindung adalah malaikat yang ditugaskan untuk menjaga kita secara khusus, sementara ribuan bahkan jutaan malaikat sebenarnya ditugaskan untuk menjaga umat manusia. Namun sering kali kita tidak tahu keberadaannya dan mungkin juga tidak peduli. Buku Malaikat dan Iblis di Balik Orang Kudus memberikan gambaran tentang penampakan-penampakan dan pengalaman orang-orang kudus tentang para Malaikat dan bagaimana mereka membantu kita dalam peperangan melawan Iblis.

Bacaan pada hari ini juga bercerita tentang penampakan Malaikat yang disaksikan Raja Nebukadnezar sedang melindungi hamba-hamba Allah: Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Malaikat, yang dikatakan rupanya seperti anak dewa, diutus Allah karena teman-teman Daniel itu hanya percaya kepada Allah. Demikian pula Yesus mengajar supaya kita tetap dalam firmanNya, agar kita menjadi anak-anak merdeka. Api atau Iblis, takkan mampu membuat kita terpenjara lagi. Maka marilah dalam masa Prapaskah ini kita merenungkan apakah kita sungguh-sungguh telah percaya pada firmanNya?

--------------------
Bacaan Liturgi Rabu, 21 Maret 2018
Hari Biasa Pekan Prapaskah V
Dan 3:14-20.24-25.28
Yoh 8:31-42

Tuesday, March 13, 2018

Menjadi Penggerak Perubahan

Greg Smith adalah seorang pemuda yang bekerja di Goldman Sachs (GS),
sebuah firma finansial terkemuka di Amerika. Ia sangat bangga dengan pekerjaan
dan tempatnya bekerja. Baginya, budaya yang dipelihara di GS sangat mulia,
di mana kepentingan klien dijunjung, kode etik dipelihara, kesejahteraan pegawai
diperhatikan. Budaya itu menjadi pembeda dibandingkan firma-firma lainnya di
negara itu sampai- Suatu hari terjadilah krisis di dunia finansial global.
Pada gelombang krisis pertama, GS adalah salah satu yang bertahan.
Namun sesuatu berubah: banyak orang dipecat, yang bertahan harus terus
membuktikan diri termasuk para bos. Saat itu semua orang menjadi tidak
peduli dengan sesamanya, mereka tidak peduli dengan kliennya, yang
penting bagaimana mendapatkan lebih banyak uang. Reputasi hancur,
dan orang-orang idealis seperti dirinya terjepit.  Hal itu makin diperparah
dengan munculnya gelombang krisis kedua yang membuat GS terpaksa
menerima bantuan pemerintah dan digabung dengan firma lain.

Akhirnya Greg keluar dari GS, menulis suatu editorial yang sangat kontroversial
dan membuka wawasan orang di luar dunia finansial. Isi dari editorial tersebut
adalah buruknya sistem kerja di dunia finansial, bagaimana seharusnya dan
ajakan yang tulus untuk memperbaiki sistem tersebut. Berdasarkan editorial itu,
dunia finansial dipaksa oleh pemerintah dan publik untuk mengubah cara
kerjanya. Orang-orang yang dahulu beranggapan situasi itu normal,
menjadi bergerak untuk menuju pembaharuan.

Satu orang, satu kelompok, dapat menjadi penggerak perubahan.
Demikianlah yang direncanakan Allah bagi bangsa Israel. Bangsa Israel
selalu dibimbing, dilindungi, diberi kesuburan, agar bangsa-bangsa lain
dapat melihat keselamatan yang terpancar. Dan ketika bangsa Israel
gagal mencerminkan keselamatan dari Allah, gagal untuk taat kepada
suara firman Allah, Yesus datang sebagai suara yang menegaskan
keselamatan itu. Dan siapa yang mendengar dan percaya akan suara
Yesus itu akan diselamatkan. Mari kita mendengar dan percaya kepada
pesan-pesan Yesus dan menjadi pewarta keselamatan bagi orang lain.

------------------
Bacaan Liturgi Rabu, 14 Maret 2018
Hari Biasa Pekan Prapaskah IV
Yes 49: 8 - 15
Yoh 5: 17 - 30

Tuesday, March 6, 2018

Menjadi Suara Keselamatan

Greg Smith adalah seorang pemuda yang bekerja di Goldman Sachs (GS),
sebuah firma finansial terkemuka di Amerika. Ia sangat bangga dengan
pekerjaan dan tempatnya bekerja. Baginya, budaya yang dipelihara di GS
sangat mulia, di mana kepentingan klien dijunjung, kode etik dipelihara,
kesejahteraan pegawai diperhatikan. Budaya itu menjadi pembeda
dibandingkan firma-firma lainnya di negara itu sampai- Suatu hari
terjadilah krisis di dunia finansial global. Pada gelombang krisis pertama,
GS adalah salah satu yang bertahan. Namun sesuatu berubah: banyak
orang dipecat, yang bertahan harus terus membuktikan diri termasuk para
bos. Saat itu semua orang menjadi tidak peduli dengan sesamanya,
mereka tidak peduli dengan kliennya, yang penting bagaimana mendapatkan
lebih banyak uang. Reputasi hancur, dan orang-orang idealis seperti dirinya
terjepit.  Hal itu makin diperparah dengan munculnya gelombang krisis kedua
yang membuat GS terpaksa menerima bantuan pemerintah dan digabung
dengan firma lain.

Akhirnya Greg keluar dari GS, menulis suatu editorial yang sangat
kontroversial dan membuka wawasan orang di luar dunia finansial.
Isi dari editorial tersebut adalah buruknya sistem kerja di dunia finansial,
bagaimana seharusnya dan ajakan yang tulus untuk memperbaiki
sistem tersebut. Berdasarkan editorial itu, dunia finansial dipaksa
oleh pemerintah dan publik untuk mengubah cara kerjanya. Orang-
orang yang dahulu beranggapan situasi itu normal, menjadi bergerak
untuk menuju pembaharuan.

Satu orang, satu kelompok, dapat menjadi penggerak perubahan.
Demikianlah yang direncanakan Allah bagi bangsa Israel. Bangsa
Israel selalu dibimbing, dilindungi, diberi kesuburan, agar bangsa-bangsa
lain dapat melihat keselamatan yang terpancar. Dan ketika bangsa Israel
gagal mencerminkan keselamatan dari Allah, gagal untuk taat kepada
suara firman Allah, Yesus datang sebagai suara yang menegaskan
keselamatan itu. Dan siapa yang mendengar dan percaya akan suara
Yesus itu akan diselamatkan. Mari kita mendengar dan percaya kepada
pesan-pesan Yesus dan menjadi pewarta keselamatan bagi orang lain.

---------------------------
Bacaan Liturgi Rabu, 14 Maret 2018
Yes 49: 8 - 15
Yoh 5: 17 - 30

Recent Post