Latest News

Showing posts with label Matius. Show all posts
Showing posts with label Matius. Show all posts

Tuesday, July 10, 2018

Tobat: Bagaimana dan Ke Depannya

Pewartaan tentang pertobatan adalah pewartaan yang tak pernah berhenti. Pertanyaannya adalah seputar: bertobat dari apa, bagaimana caranya bertobat, setelah saya berhasil lalu apa?

Setiap orang memiliki pertobatannya masing-masing. Tidak ada seorang pun dapat memberikan saran yang 100% pas, melainkan saran-saran umum saja. Pertobatanku yang pertama adalah dari kesombongan. Namun tak seorang pun pernah menyarankan hal itu kepadaku karena mereka tidak melihat aku sombong. Tapi kesombonganku adalah kesombongan dalam diam, dimana aku melihat orang lain dan merasa bangga pada diriku sendiri. Jadi untuk mengetahui apa yang harus dipertobatkan, tiap orang harus mendalami dirinya sendiri melalui refleksi diri tiap hari.

Pertanyaan kedua: bagaimana cara bertobat? Pertobatan dimulai dari suatu kesadaran diri yang diutarakan di dalam bentuk komitmen untuk berubah. Sarana yang paling baik adalah dengan Sakramen Tobat. Penyesalan sekaligus komitmen untuk berubah dinyatakan di depan Tuhan dan Gereja, sehingga ada rasa yang tumbuh di dalam diri untuk bertahan pada komitmen tersebut, bahkan ketika terkadang kita tergelincir ke dosa yang sama. Selanjutnya komitmen untuk dihidupi dengan cara hidup yang baru. Perbaruan cara hidup membutuhkan disiplin, bahkan terkadang membutuhkan orang lain untuk mengingatkan. Misalnya ingin makin dekat pada Tuhan dinyatakan di dalam doa sebelum makan dan tidur. Pertama-tama tentu sulit, namun lama kelamaan akan menjadi suatu kebiasaan yang tak perlu dipikirkan lagi, alias cara hidup yang baru.

Pertanyaan terakhir, lalu apa? Orang cenderung berpikir bahwa dosanya hanya satu. Orang malas berdoa berpikir dosanya adalah kurang dekat pada Tuhan. Orang suka gosip  berpikir dosanya itu saja. Namun ketika kita akan segera menyadari ada bagian-bagian hidup kita yang masih perlu diubah selain dosa-dosa �utama� itu, sehingga kita akan selalu kembali kepada pertanyaan pertama: apa lagi yang perlu diubah di dalam hidup kita agar kita makin sempurna? Selamat berubah.

----------------------------
Bacaan Liturgi 11 Juli 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa XIV
PW S. Benediktus, Abas
Bacaan Pertama: Hos  10:1-3.7-8.12
Bacaan Injil: Mat 10:1-7

Tuesday, July 3, 2018

St. Elisabet dari Portugal: Cermin Kesederhanaan dan Ketaatan

Hari ini adalah hari pesta St. Elisabet dari Portugal. Dua hal yang dapat kita pelajari dari dirinya yang juga merupakan tema bacaan pada hari ini. Satu, Tuhan menginginkan kebenaran dan keadilan yang terbungkus di dalam kesederhanaan. Kedua, setiap hal ada waktunya yang telah ditentukan oleh Tuhan sendiri.

St. Elisabet adalah seorang putri bangsawan yang menikah dengan raja Portugal. Ia merupakan moyang dari raja-raja di daerah sekitar. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat kesederhanaan dan belas kasihnya. Ia tetap membantu orang miskin, meringankan penderitaan orang lain, walaupun sempat menjadi topik percakapan dan sumber niat buruk bagi komunitas kerajaannya. Ia beberapa kali menjadi sarana perdamaian bagi 2 pihak yang hampir berperang, termasuk antara suami dan anaknya sendiri. Sungguh, ia adalah teladan di dalam kesederhanaan namun tetap menjunjung kebenaran dan keadilan, sama seperti yang difirmankan Tuhan kepada Amos pada bacaan pertama, dimana Tuhan merendahkan perkumpulan raya dan kurban persembahan yang diadakan oleh orang yang hatinya tidak tertuju padaNya.

Dalam bacaan Injil kita mendengar bahwa roh-roh jahat bertanya pada Yesus apakah Ia akan menyiksa mereka �sebelum waktunya.� Secara tersirat kita dapat menyimpulkan bahwa mereka tahu bahwa ada waktu tertentu yang telah direncanakan Tuhan bagi mereka, dan tentunya bagi kita juga. St. Elisabet menjalani hidupnya dengan waktu yang direncanakan Tuhan. Ia dengan sabar tetap melaksanakan kebaikan hatinya di saat ia menjadi ratu. Ia berperan aktif di dalam kerajaan suaminya sebagai negosiator dan mediator. Ia menjadi teladan bagi keluarganya sehingga suaminya bertobat dari lakunya yang jahat. Dan ketika suaminya meninggal, ia melepaskan seluruh privilesenya dan masuk ke biara, sebagaimana yang telah lama diimpikannya.

-------------------------
Bacaan Liturgi 04 Juli 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa XIII
PF S. Elisabet dari Portugal
Bacaan Pertama: Am 5:14-15.21-24
Bacaan Injil: Mat 8:28-34

Wednesday, June 27, 2018

Menatap Tuhan Lewat Orang Lain

Ada orang pernah memberikan pernyataan ini: �Kita bisa belajar tentang Tuhan di mana saja termasuk dari media online seperti youtube dan website-website yang sudah sangat banyak dan rasanya sudah lengkap.� Pernyataan itu benar ketika kita ingin mendalami bagaimana kemahakuasaan Tuhan di dalam alam semesta. Kita bisa belajar tentang alam semesta yang sangat luas, kedalaman dan kekayaan laut yang belum sepenuhnya terselami, dan hal-hal lain yang sifatnya masih menunggu penjelajahan indera kita.

Namun, pernyataan itu benar-benar salah ketika kita ingin mengetahui bagaimana Tuhan bekerja di dalam dan melalui manusia. Kita mengenali Tuhan yang bekerja di dalam manusia hanya melalui kontak langsung dengan manusia itu. Ada orang yang membuat video tentang Tuhan secara luar biasa, namun di dalam kehidupan pribadinya ia sangat kasar terhadap orang lain. Ada orang yang sederhana saja hidupnya, namun cintanya pada orang lain begitu luar biasa. Pada orang-orang yang disebutkan terakhir itulah kita sungguh melihat Tuhan yang bekerja, bukan hanya Tuhan yang mahakuasa.

Dalam bacaan pertama kita melihat Tuhan bekerja di dalam hati Raja Yosia yang ketika menemukan kitab Tuhan, ia langsung memerintahkan bangsanya untuk mematuhi Tuhan. Kenapa rakyatnya langsung melakukan perintahnya itu? Salah satunya karena rakyatnya melihat langsung apa yang dilakukan oleh sang raja: membacakan kitab dan berdiri di dekat tiang, sehingga kita bisa menggambarkannya berdiri di tengah-tengah rakyatnya. Pertemuan-pertemuan personal seperti ini menggetarkan hati: dahulu maupun sekarang. Mari kita, sesama umat Tuhan, berkumpul dan saling menguatkan, karena melalui satu sama lain, kita bertemu dengan Tuhan yang kita imani.

----------------
Bacaan Liturgi 27 Juni 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa XII
PF S. Sirilus dari Aleksandaria, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: 2Raj 22:8-13;23:1-3
Bacaan Injil: Mat 7:15-20


Tuesday, June 19, 2018

Melayani Dalam Rendah Hati & Penuh Sukacita


Di dalam pelayanan kita akan menemui banyak orang yang juga melayani, namun menurut pendapat kita, pelayanan mereka adalah untuk dirinya sendiri. Ciri-cirinya adalah mereka bangga terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka seakan-akan menuntut pujian dan balasan atas apa yang mereka lakukan. Pertemuan intensif dengan para pelayan seperti ini dapat menggoyahkan ketulusan kita, membuat kita malas melayani atau malah terpengaruh dengan mereka untuk ikut berbangga dengan diri sendiri. Terkadang godaan untuk melakukan keduanya begitu kuat sehingga kita perlu teman sepelayanan atau sebuah retret yang baik untuk mengembalikan kita kepada kesadaran pelayanan kita yang sejati.



Perasaan seperti ini lazim dan wajar terjadi karena para pelayan yang bangga pada diri sendiri biasanya adalah orang-orang yang vokal, terdengar suaranya, terlihat pekerjaannya. Karena mendengar dan melihat ini, kita menjadi sering menyisihkan para pelayan lain yang sebenarnya jumlahnya lebih banyak, yaitu mereka yang mengerjakan segala sesuatunya di dalam diam, tiba lebih dahulu di dalam suatu acara dan pulang terakhir. Mereka tidak tampil di depan, tapi tanpa mereka banyak hal menjadi terlantar. Merekalah yang para pelayan yang mengharapkan upah Bapa di surga, bukan upah manusia.



Mari kita lebih optimis terhadap rekan-rekan sepelayanan kita. Kita yakin dan berusaha mengajak semua pelayan untuk menemukan pelayanan yang sejati, yang ditunjukkan oleh Nabi Elisa dalam bacaan pertama dan diajarkan Yesus dalam bacaan kedua. Nabi Elisa turut dengan gurunya, Nabi Elia sampai kepada kesudahannya. Ia meminta hanya sebagian dari apa yang dimiliki oleh gurunya, ia percaya apa yang diyakini oleh gurunya. Imannya bertumbuh dari iman seorang murid, menjadi iman seorang nabi baru, dan Tuhan menyertainya selalu.



---------------------

Bacaan Liturgi 20 Juni 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa XI
Bacaan Pertama: 2Raj 2:1.6-14
Bacaan Injil: Mat 6:1-6.16-18

Tuesday, March 27, 2018

Manusia dan Kemauan Bebas

Di suatu rumah sakit jiwa ada seorang pasien yang menyanyikan 10 lagu Koes Plus dengan hafal dan lancar, tapi dengan tengkurap. Setelah selesai, ia berbalik arah menjadi telentang, dan menyanyikan 10 lagu Koes Plus yang lain, juga dengan hafal dan lancar. Seorang dokter yang mengamati tingkahnya bertanya: �kenapa kamu nyanyikan 10 lagu pertama dengan tengkurap dan 10 lagu kedua dengan telentang?� Jawab pasien itu: �kan yang 10 lagu pertama itu di Side A, yang kedua di Side B.�

Manusia diciptakan dengan  kemauan bebas. Ia bebas untuk dibentuk Allah dengan tidak memberontak seperti Yesaya pada bacaan pertama. Ia juga bebas untuk mengkhianati Guru dan Tuhannya seperti Yudas di dalam bacaan Injil. Tidak seperti pasien rumah sakit jiwa yang tidak memiliki pemahaman mana yang benar dan salah, kemauan bebas itu diperlengkapi dengan akal budi. Karena kemauan  bebas itu, setiap nafas manusia dipenuhi dengan pengambilan keputusan dan pertentangan yang baik dan yang jahat.

Selama masa prapaskah ini, kita diajak untuk terus menerus berefleksi tentang bagaimana kita mengambil keputusan di dalam hari-hari hidup kita. Apa yang kita temukan di dalam refleksi itu? Apakah lebih banyak yang baik daripada yang jahat? Apakah di dalam keputusan-keputusan yang tampak baik ada motivasi-motivasi jahat yang menemaninya? Bila kita sungguh-sungguh merenungkan, maka tidaklah mungkin kita melewati hari-hari ini tanpa mengambil satupun keputusan yang jahat. Oleh sebab itu marilah kita menantikan kebangkitan Tuhan kita, yang bersamaNya, kita dibebaskan dari dosa-dosa kita.

------------------
Bacaan Liturgi Rabu 28 Maret 2018
Hari Rabu dalam Pekan Suci
Yes 50:4-9a

Mat 26:14-25

Tuesday, February 27, 2018

Ambisi dan Cita-cita

Ambisi, adalah keinginan yang besar untuk mencapai sesuatu cita-cita. Ambisi adalah energi yang diperlukan untuk mencapai cita-cita pribadi. Namun ambisi juga memiliki konotasi bahwa seseorang akan melakukan apapun untuk mencapai cita-cita pribadi itu.

Kita melihat di bacaan pertama dan Injil hari ini adalah orang-orang yang ambisius, yang berani melakukan apa saja untuk mencapai cita-citanya. Di bacaan pertama tampillah para lawan Nabi Yeremia yang bersedia untuk menutup diri terhadap perkataan-perkataan nabi. Di bacaan Injil tampillah ibu dari anak-anak Zebedeus dan kedua anaknya yang ingin duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus.


Di dalam kehidupan kita juga kita menemukan berbagai macam orang dengan berbagai macam ambisi seperti ini. Ada yang ingin jadi pemimpin di kantor, ada yang ingin menjadi penguasa di kota, ada yang ingin jadi ternama. Realita ini tidak pupus ketika kita melihat di dalam kehidupan pelayanan menggereja. Ada yang ingin menjadi ketua, baik ketua seksi ataupun ketua lingkungan, ada yang ingin menjadi anggota dewan paroki. Kita sendiri mungkin terjebak di dalam ambisi pribadi kita.


Cita-cita kita mungkin luhur: mengatur sehingga menjadi baik, memimpin ke arah yang benar, melayani sebanyak-banyaknya orang. Ini pun terjadi seperti lawan Nabi Yeremia yang mungkin berpikir mereka sedang menguji keabsahan nabi Yeremia sebagai seorang nabi Tuhan. Demikian juga mungkin kedua murid Yesus tidak menyadari bahwa di dalam perjuangannya menjadi murid yang baik, mereka telah menumbuhkan api ambisi yang negatif. Demikian pula kita, ketika kita tidak terus menerus mempertanyakan motivasi kita di hadapan Allah, kita akan terbawa ke dalam ambisi yang negatif. Karena itu di dalam setiap pekerjaan dan pelayanan kita, marilah senantiasa kita persembahkan pada Allah, agar niat yang tulus tetap memperoleh jalan yang benar. 

-----------------------------
Bacaan Liturgi 28 Februari 2018
Hari Biasa Pekan Prapaskah II
Bacaan Pertama: Yer 18:18-20

Bacaan Injil: Mat 20:17-28

Tuesday, February 13, 2018

Jangan Nengok Ke Belakang Terus....

Kecepatan lari rusa mencapai 90 km/jam. Kecepatan lari singa cuma 58 km/jam. Selisih kecepatan kedua binatang ini jauh sekali sehingga kita pasti mengira rusa selalu akan menang kalau dikejar singa. Tapi faktanya kita sering melihat bahwa rusa tertangkap oleh singa. Kok Bisa? Ketika mengetahui seekor Singa mengintai & memburunya, seekor Rusa berlari secepat angin untuk menyelamatkan dirinya.Namun dalam waktu yang bersamaan rusa merasa lemah dan ia yakin betul bahwa singa akan memangsanya sehingga ia sering melihat ke belakang. Pantauan ke belakang ini menyebabkan  lari rusa semakin lambat & membuat singa semakin mendekatinya.Andai saja rusa tidak sering2 melihat ke belakang, niscaya kecepatannya akan stabil dan sudah pasti singa tidak dapat memangsanya.Kalau saja rusa mengerti betul titik KEKUATAN nya ada pada KECEPATAN nya, niscaya dia akan selamat dari cengkraman singa.

Di dalam Injil, Yesus berkata, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat.Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Kita harus yakin bahwa KEKUATAN kita adalah pada ALLAH YANG ADA DI MANA-MANA walaupun Ia tidak nampak. Kekuatan kita bukan pada pujian orang lain. Maka sama seperti rusa, tidak perlu melakukan kewajiban agama dengan terus menerus melihat ke �belakang�. Hal itu hanya akan memperlemah kekuatan imanmu dan tidak menambah apa-apa terhadap kekudusanmu. Namun sama seperti rusa, kita harus yakin bahwa  Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.


Mari kita menyambut masa Prapaskah ini dengan berdoa dan berpuasa pantang dengan tekun dan setia sambil menantikan keselamatan yang akan datang dari Allah kita melalui Tuhan Yesus Kristus. 

---------------------------
Bacaan Liturgi 14 Februari 2018
Hari Rabu Abu
Bacaan Pertama: Yl 2:12-18
Bacaan Kedua: 2Kor 5:20-6:2

Bacaan Injil: Mat 6:1-6.16-18

Friday, February 9, 2018

Taati Hukum dengan Cina

Belakangan ini beredar kisah tentang seorang ibu di negeri China yang melahirkan 12 orang bayi. Pemerintah negara China memberi waktu pada orangtua ke-12 bayi itu 1 minggu untuk memilih 1 orang bayi saja untuk dibesarkan oleh mereka. Sisanya yang 11 akan diambil oleh negara. Di tempat lain di negeri China juga, bayi-bayi dikabarkan dijual di pasar gelap untuk dimutilasi. Bagian tubuh yang sehat bisa dijual sebagai donor organ, dan yang tidak bisa didonasikan akan dijadikan makanan. Benar tidaknya kabar-kabar itu sulit dipastikan. Yang pasti, kisah-kisah semacam itu membuat hati kita tersentak karena rasanya sulit menerima bahwa hal-hal itu masih ada di dunia saat ini.

Tak lama sebelum ini, seorang teman berkomentar: �jangan bangga dengan kemanusiawian kita, jangan meremehkan orang-orang yang bagi kita tidak mengindahkan Hak Asasi Manusia (HAM), karena dunia yang kita kenal saat ini masih muda. Hanya beberapa abad yang lalu, kita masih barbar.�

Ketika kita merenungkan hal-hal di atsa, kita diajak juga untuk merenungkan situasi bangsa Israel ketika menerima hukum Taurat. Dengan hukum itu, bangsa Israel menjadi bangsa yang lebih manusiawi dibandingkan bangsa-bangsa lain jaman itu (lihat Ul 4:8). Dahulu ketika persembahan bayi lazim dilakukan, Tuhan mengharamkannya bagi Israel. Waktu orang asing biasa dibunuh dan disiksa, Tuhan bersabda untuk melindungi mereka. Pada zaman itu, menaati hukum Taurat sama sulitnya dengan membawa konsep HAM ke negeri China.

Yesus datang di jaman di mana semua bangsa di luar bangsa Israel sudah menerapkan sebagian hukum Taurat. Apa yang dianggap wajar di zaman Perjanjian Lama, tidak lagi dipraktekkan. Namun situasi tidak manusiawi tetap terjadi dengan bentuk yang berbeda: pemaksaan aturan, ketidakpedulian terhadap orang lain, obsesi untuk menyucikan diri sendiri walaupun dengan mematikan orang lain. Pada situasi inilah Yesus datang, tidak untuk menghapus hukum Taurat, tapi untuk menggenapinya:

�Lakukanlah hal-hal baik ini [Hukum Taurat]...... berdasarkan cinta kasih [Hukum Cinta Yesus].�

Maka mari kita taat pada hukum dan melaksanakannya dengan penuh cinta.

----------------
Bacaan Liturgi Rabu, 7 Maret 2018
PW St. Perpetua dan Felisitas
Ul 4:1.5-9

Mat 5:17 - 19

Friday, December 15, 2017

Anggota "Angkatan Ini"-kah Kita?

Seorang teman pernah berkata: �orang malas itu kreatif mencari alasan.� Tidak bisa tidak hal itu benar adanya. Kita melihat lampu lalu lintas sudah berubah merah, tapi kita malah menginjak gas dan berkata: �ah kan cuma sedetik saja bedanya.� Di perempatan berikutnya ketika lampu di depan kita berubah hijau, seorang pengemudi motor dari sisi kanan menyeberang walaupun pasti lampu di sisinya sudah merah, dan kita berteriak, �@!#$!#, gak lihat apa tuh lampu merah?!?!?!� Padahal baru semenit yang lalu kita berada di posisi yang sama. Tapi ketika diingatkan, apa kata kita? �Ya bedalah, aku kan �cuma' sekali.�

Alasan. Selalu ada alasan untuk tidak berdoa, tidak berlaku adil dengan sesama, tidak memikirkan orang lain, tidak memberi pada orang lapar, tidak menjenguk orang sakit. Alasannya adalah di seputar: macet, capek, kemalaman, sibuk, dan tidak cukup uang. Namun celakanya, kepada orang yang beralasan, kita pun menggerutu: �gimana sih kok alasannya itu lagi, itu lagi. Bosan.�

Tuhan Yesus memperingatkan angkatan �ini�, yaitu angkatan yang selalu mencari alasan untuk menyalahkan orang lain demi menghindari kewajibannya sendiri, yaitu menuruti perintah Allah. Jangan sampai angkatan �ini� adalah kita sendiri, karena bila demikian kita akan kehilangan janji-janji Allah yaitu damai sejahtera yang seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaan yang terus berlimpah.

----------------
Bacaan Liturgi 15 Desember 2017
Jumat Pekan Adven II
Bacaan Pertama: Yes 48:17-19
Bacaan Injil: Mat 11:16-19

Tuesday, December 12, 2017

Allah Bisa?

Seorang anak laki-laki berusaha mengambil balon dan botol minumnya sekaligus. Dengan kesusahan kedua benda itu jatuh dan jatuh lagi. Aku membungkuk untuk membantunya, namun ibunya mencegahku. �Biarkan saja,� katanya. Maka aku pun mengurungkan niat dan melihatnya berjuang sendiri sampai ia tersenyum ketika kedua barang itu selamat di tangannya. Ibunya tidak meninggalkannya, melainkan tetap mengawasinya sampai ia mampu melakukannya sendiri.



Kita sering-sering lupa bahwa Allah kita juga seperti ibu di atas. Bukan berarti ibu itu tidak bisa membantu si anak, tapi karena si ibu ingin membuat anak itu lebih kuat dan lebih bersemangat. Demikian juga Allah. Bukan berarti Ia tidak bisa membantu kita secara langsung, misalnya menurunkan hujan duit ketika kita terjepit kesulitan finansial atau menciptakan helikopter ketika kita sedang terjebak macet. Tapi karena Ia ingin agar kita makin kuat dan bersemangat.

Untuk itu kita juga terus diingatkan bahwa Yesus sudah datang agar hati kita tenang dan kita juga makin dikuatkan karena sebenarnya beban kita ringan. Kuk yang berat sudah diangkat dan diambil sendiri oleh Yesus. Oleh karena itu marilah kita bersukacita dan bersemangat di dalam kehidupan kita.


----------------
Bacaan Liturgi 13 Desember 2017
Rabu Pekan Adven II
PW S. Lusia, Perawan dan Martir
Bacaan Pertama: Yes 40:25-31

Bacaan Injil: Mat 11:28-30

Tuesday, December 5, 2017

Sukacita dan Pengharapan adalah Obat Termanjur

Seorang sopir turun dari mobil mewah di depan tempat pemakaman umum. Ia berjalan menuju pos penjaga kuburan & berkata: �Pak, tolong temui nyonya di mobil itu, karena tak lama lagi ia akan meninggal!� Dengan tergesa gesa penjaga kuburan itu segera berjalan menghampiri sang nyonya.Seorang perempuan lemah, berwajah sedih membuka pintu mobilnya, dan berkata: �Saya....Nyonya Stefanus yang selama ini mengirim uang tiap dua minggu sekali agar Anda dapat membeli seikat bunga & menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan & kebaikan hati Anda.�

�O..., jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Maaf Nyonya, memang uang yang dikirimkan itu selalu saya belikan bunga,  tetapi saya tidak pernah menaruh bunga itu di pusara anak Nyonya.� jawab si penjaga kuburan itu. �Ya nyonya, karena menurut saya, orang yang sudah meninggal tidak akan pernah melihat keindahan bunga tersebut.Karena itu setiap bunga yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit,
orang miskin yang saya jumpai, atau saya berikan kepada mereka yang sedang bersedih. Orang2 yang masih hiduplah yang dapat menikmati keindahan & keharuman bunga2 itu, Nyonya,� jawab pria itu.

Nyonya itu terdiam dan pulang. Beberapa bulan kemudian ia datang lagi, namun sudah jauh lebih sehat dan ceria. �Selamat pagi, apakah masih ingat saya ? ......Saya Nyonya Stefanus.
Saya berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Ketika saya secara langsung mengantarkan bunga2 itu ke Rumah sakit atau panti jompo, org org yg sedang susah  bunga-bunga itu tidak hanya membuat mereka Bahagia, .........tetapi .........
saya juga  turut Bahagia,� katanya sambil tersenyum.  �Sampai saat ini dokter2 tidak tahu mengapa saya bisa sembuh,  tetapi saya benar-benar yakin. bahwa ........sukacita & pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!�

Bahagia adalah kata yang mudah diucapkan namun sulit dirasakan. Namun Allah sudah menjanjikan kebahagiaan kekal di mana tidak ada dukacita. Dan apakah Allah sungguh dapat menepati janji itu? Bila ragu, maka lihatlah Yesus yang telah berhasil menghapus sebagian dukacita yang ada di dunia: kesakitan dan kelaparan. Bahkan di perikop lainnya kita tahu Yesus pun telah berhasil menghapus dukacita kematian. Melihat itu semua, masihkah kita ragu akan janji kebahagiaan kekal Allah bagi kita yang setia padaNya?


------------------
Bacaan Liturgi 06 Desember 2017
Rabu Pekan Adven I
PF S. Nikolaus, Uskup
Bacaan Pertama: Yes 25:6-10a

Bacaan Injil: Mat 15:29-37

Tuesday, October 31, 2017

Resep Kebahagiaan

Apa resep kebahagiaan? Seorang jurnalis bernama Eric Weiner di dalam bukunya berjudul The Geography of Bliss mengunjungi 10 negara di seluruh dunia untuk mencari tempat yang paling berbahagia di dunia. Pertanyaannya hanya satu: apa yang membuat orang berbahagia? Apakah ketika bebas mengisap mariyuana seperti di Belanda? Atau ketika semuanya tertib seperti di Singapura? Atau karena banyak uang seperti di Qatar? Atau ketika banyak kreativitas di udara seperti di Skandinavia? Setelah berkeliling dan meneliti, ia sampai kepada satu kesimpulan: �sumber kebahagiaan terbesar adalah orang lain.�

Cocokkah kesimpulan ini dengan Sabda Bahagia Tuhan Yesus? Mari kita tilik lebih dalam. Orang miskin dan orang kaya manakah yang lebih membutuhkan orang lain? Tentu orang miskin. Orang lapar dan orang kenyang, manakah yang lebih mengharapkan ada orang lain? Tentu orang lapar�. Orang kenyang cukup membutuhkan tempat tidurnya. Orang berdukacita dan bersukacita, manakah yang lebih membutuhkan orang lain? Tentu orang berdukacita karena ada keinginan untuk dihibur. Orang yang murah hati dan kikir, manakah yang lebih mudah untuk didekati? Tentu orang murah hati. Mereka yang disebut Yesus sebagai pemilik Kerajaan Surga adalah orang-orang yang membutuhkan dan dibutuhkan orang lain. Mereka berbahagia karena di dalam hidupnya selalu ada orang lain, atau paling tidak 1 orang yang mereka tahu akan selalu bersama mereka, yaitu Tuhan Yesus sendiri.

Pada hari ini kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus dimana Gereja mengingatkan kita semua bahwa kita adalah satu kesatuan di dalam Tubuh Kristus. Hal ini makin membuat kesimpulan di atas menjadi benar, yaitu kita umat beriman di dalam Kristus adalah orang paling berbahagia di dunia karena kita tidak pernah sendirian. Kita selalu dikelilingi oleh satu kumpulan orang kudus baik yang masih berziarah di dunia maupun yang sudah berada di surga. Kita selalu memiliki orang lain di dalam hidup kita. Mari kita menyadari bahwa sumber kebahagiaan kita sudah berada di sini, di tempat ini, pada saat ini, bersama dengan Tuhan dan seluruh orang kudusnya.

-----------------------
Bacaan Liturgi 01 November 2017
HR Semua Orang Kudus
Bacaan Pertama: Why 7:2-4.9-14
Mazmur:Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6
Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-3
Bacaan Injil:Mat 5:1-12a

Wednesday, September 27, 2017

Pancasila, Gotong Royong dan Semangat Kasih

































Pancasila, Gotong Royong dan Semangat Kasih


Tahukah Anda bahwa Soekarno pernah menyatakan bahwa bila Pancasila harus diperas menjadi hanya 1 sila, atau Ekasila, maka hasilnya adalah GOTONG ROYONG?

Kenapa Gotong Royong? Karena di seluruh penjuru Indonesia, gotong royong telah merakyat dan mendarahdaging. Gotongroyong mengandung arti bahwa hidup tolong menolong dalam tradisi masyarakat Indonesia, tidak hanya merupakan wujud keterikatan sosial antar satu dengan yang lain, tetapi lebih dari itu memiliki makna religius spiritual yang sakral. Prinsip gotong royong dapat ditemukan di semua kearifan lokal: di Madura -Song-Osong Lombhung-, di Bali -Ngayah-, di Papua -Helem Foi Kenambai Umbai-, di Sulawesi Selatan -Ammossi-, di Sulawesi Utara -Mapalus-, di Kalimantan Timur -Paleo-, di Sumatera Barat -Hoyak Tabuik-, di Sumatera Utara -Siadapari-, di Ambon -Masohi-, di Sumbada -Pawonda-, di Aceh -Alang Tulung-, di Riau -Batobo-, di Kepri -Beganjal-, di Jambi -Pelarian-, di Babel -Nganggung-. Bahkan di Jawa ada berbagai istilah untuk menunjuk prinsip itu: -Gugur Gunung- (Jawa Tengah), -Sabiruyangan- (Sunda), -Sambatan- (Jawa Timur), -Soyo- atau -Kudur- (Nganjuk).

Apa yang mendasari prinsip gotong royong ini? Tentu adalah semangat kasih. Kasih yang seperti apa? Kasih kepada Tuhan yang mahaesa, kasih yang membangkitkan semangat keadilan dan keberadaban, kasih yang menyatukan, kasih yang mendorong kepemimpinan oleh hikmah kebijaksanaan dalam pemusyawaratan perwakilan, dan kasih yang menghasilkan keadilan sosial yang merata. Bila direnungi maka setiap sila dalam Pancasila selalu mengimplisitkan -kebersamaan-, yang pada prinsipnya adalah dasar dari gotong royong.

Bagaimana orang Katolik memahami dasar negara ini? Dengan sangat jelas, karena Kitab Suci sendiri pun telah mengajarkan:
Sila 1: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Mat 22:37)

Dan untuk sila-sila lainnya, Yesus meneruskan: -Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.- Ini diuraikan dalam keempat sila lainnya.
Sila 2: Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. (Im 19:13)
Sila 3: Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. (1Kor 1:10)
Sila 4: Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. (Kis 15:1-10_
Sila 5: Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. (Mat 20:1-16).


Dan gotong royong secara jelas muncul sebagai faktor maupun sebagai hasil dari implementasi sila-sila tersebut. Kita beruntung hidup di dalam negara di mana dasar ideologinya sangat dekat dengan ajaran Yesus sendiri. Oleh karena itu marilah kita mengamalkan Pancasila baik di dalam hati kita maupun di dalam praksis kehidupan kita. 


Source : http://renunganimankatholik.blogspot.com/

Monday, September 25, 2017

Ketika Iman adalah Pasti

Kenapa kita beriman? Blaise Pascal adalah seorang matematikawan yang hidup pada tahun 1600an dan terkenal dengan Segitiga Pascal yang dapat menghitung kombinasi kemungkinan yang muncul dari pelemparan dadu sampai kemenangan piala dunia. Pascal, lahir sebagai jenius matematika terutama dalam bidang probabilitas (kemungkinan-kemungkinan), akhirnya meninggalkan dunia itu dan menjadi biarawan. Ia meninggalkan suatu teori yang dikenal dengan nama Pascal�s Wager (Pertaruhan Pascal). Di sini ia bertanya apakah Tuhan itu ada, atau tidak ada. (Sumber: Against the Gods, The Remarkable Story of Risk oleh Peter L. Bernstein)

Pertama-tama dinyatakan bahwa kemungkinan bahwa Tuhan ada dan tidak ada adalah 50:50. Artinya kedua kemungkinan tersebut sama besarnya hanya karena kita tidak mampu untuk membuktikan secara lebih pasti antara ada tidaknya Tuhan. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa kita percaya Tuhan ada dan tidak ada sama besarnya dengan melempar mata uang dan bertaruh akan keluar angka atau gambar. Namun Pascal tidak berhenti di situ. Ia menjelaskan bahwa konsekuensi dari pilihan itu berbeda jauh. Apabila kita percaya ada Tuhan, namun ternyata Tuhan itu tidak ada, maka kita hanya akan menemukan ketiadaan. Kematian hanya menjadi sekedar kematian, hilang dari dunia. Sebaliknya bila kita memilih tidak percaya, namun ternyata Tuhan itu ada, maka konsekuensinya adalah kita akan dibuang ke tempat di mana hanya ada kertak gigi. Oleh karena itu, sang ahli matematika memutuskan untuk melihat semua ilmu di dunia termasuk matematika yang pernah begitu dicintainya, menjadi hal yang sia-sia belaka, dan mengejar Tuhan di biara.

Alasan kita beriman dapat juga dijelaskan dengan teori opsi dalam dunia finansial. Opsi adalah instrumen di mana si pembeli opsi dapat membatasi kerugian dari investasinya sebesar harga opsi yang dibayarnya bila harga underlying assetnya jatuh, namun berpotensi mendapatkan keuntungan tak terhingga bila harga underlying assetnya naik. Sebuah opsi seharga Rp50.000 dibeli untuk menjual underlying asset berupa emas. Harga penjualan emas yang disepakati di opsi adalah Rp1.000.000.  Bila saat kontrak opsi selesai dan harga emas Rp800.000, maka pembeli opsi berhak menjual emas dengan harga Rp1.000.000, membuatnya tidak rugi apa-apa kecuali harga opsi semula yaitu Rp50.000. Sebaliknya bila saat kontrak selesai, harga emas sudah Rp1.200.000, ia bisa menjual emas dengan harga tersebut dan membuang kontrak opsinya.

Percaya pada Tuhan dan melakukan kehendaknya di dunia bisa seperti membeli kontrak opsi. Bila ternyata Tuhan ada dan Ia memberikan upah kepada yang percaya kepadaNyya, maka kita akan mendapat keuntungan yang tak terhingga, yaitu bersama denganNya di kerajaan kekal. Sebaliknya bila Tuhan ternyata tidak ada, maka kerugian kita hanyalah sementara, yaitu kerja keras di dunia.

Tentu saja ini adalah suatu alasan kuat untuk beriman, yaitu di mana ilmu tertinggi di dunia yaitu matematika, menunjukkan jalan benar kepada kita, yaitu: Percayalah kepada Tuhan. Namun matematika Tuhan masih lebih tinggi lagi daripada matematika kita. Ini ditunjukkan pada Mat 20:1-16a. Kata Yesus: �Hal Kerajaan Surga itu sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya��Ambillah bagianmu dan pergilah! Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu�. Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?�

Matematika Tuhan ini mungkin membingungkan bagi kita, terutama bagi yang biasa berbisnis dan berurusan dengan para pekerja. Tapi dalam hal matematika, hal ini dimungkinkan. Bila bekerja 1 jam diberi upah 1 dinar dan bekerja 2 jam diberi upah 2 dinar, maka 1 tidak sama dengan 2, betul kan? Salah. Lihat saja pembuktian di bawah ini:
?
Nah demikianlah Tuhan telah menunjukkan kepada kita bahwa Percaya padaNya adalah jalan yang paling menguntungkan dan perhitunganNya adalah benar adanya. Semuanya terbukti lewat matematika. Tuhan memberkati.

Tuesday, August 29, 2017

Hidup Saleh itu Sulit

Midah Simanis Bergigi Emas, Pramoedya Ananta Toer
Hidup saleh itu sulit. Dalam novelnya, Midah Simanis Bergigi Emas, Pramoedya Ananta Toer berkisah tentang si Midah yang berusaha hidup suci di tengah kehidupan yang ganas di kota Jakarta. Midah berupaya untuk menangkis semua ajakan lelaki untuk tidur dengannya, walaupun dengan risiko kelaparan. Midah melakukan ini semua karena takutnya akan Allah yang dikenalnya sejak kecil lewat bapaknya yang haji. Tapi pada akhirnya Midah terpaksa kalah terhadap roda kehidupan karena ia tidak mau menjadi beban bagi nama baik bapaknya yang  haji. Ia ingin agar dosa-dosa itu dibebankan hanya kepadanya sendiri, dan tidak kepada keluarganya maupun anaknya.

Membaca novel ini kita bisa merenungkan betapa motivasi baik dan usaha yang keras kadang-kadang memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan. Demikianlah yang dihadapi oleh setiap pelayan Tuhan di dalam setiap panggilannya. Godaan demi godaan, baik dari sisi ekonomi maupun moralitas, terus menggedor pintu panggilan. Tidak salahlah kata Paulus dalam bacaan pertama ketika ia mengingatkan akan jerih payah usaha mereka ketika memberitakan Injil. Terkadang urusan ekonomi bisa menjadi batu sandungan untuk menerima Injil yang diberitakan, misalnya pada orang-orang yang bergantung hidup kepada pewartaan sebagai sumber nafkahnya.


Oleh karena itu janganlah kita jadi seperti orang-orang munafik yang melabur sisi luar dengan cat putih bersih tapi dalamnya penuh dengan tengkorak (Bacaan Injil). Jangan berprasangka buruk dengan orang lain karena kita semua memiliki cacat. Jangan berpikir bahwa hal buruk tidak dapat terjadi pada diri kita. Jangan bergosip tentang keburukan orang lain. Mari kita berpikir yang baik, mengatakan yang baik, melakukan yang baik.


------------------
Bacaan Liturgi 30 Agustus 2017
Rabu Pekan Biasa XXI
Bacaan Pertama: 1Tes 2:9-13

Bacaan Injil: Mat 23:27-32

Tuesday, August 22, 2017

Ambisi Kita = Harimau Kita

Seorang guru memerintahkan murid-muridnya untuk berjalan melewati padang penuh bunga. Ia menyuruh murid-muridnya untuk mengambil satu bunga yang paling cantik di padang itu. Syaratnya si murid tidak boleh berpaling ke belakang untuk mengambil bunga yang telah dilewatinya. Murid-murid itu melaksanakan perintah itu dan menemui gurunya dengan tangan kosong. Mengapa demikian? Sang murid berharap bahwa di depan sana akan ada bunga yang lebih cantik. Dan akhirnya mereka tidak mendapatkan apapun.

Ambisi dan keserakahan adalah dua penghalang utama menuju kebahagiaan. Pernahkah melihat orang yang ambisius dan serakah berbahagia? Mereka tidak pernah merasa puas dengan dirinya. Posisinya sekarang hanya dilihat sebagai batu loncatan menuju posisi yang lebih baik. Harta yang dimilikinya sekarang dirasa belum cukup untuk membahagiakannya.


Di bacaan pertama pohon-pohon yang diminta untuk menjadi raja atas segala pohon pada dasarnya menolak. Mereka bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan hasilkan saat ini. Pohon zaitun merasa beruntung karena minyaknya, pohon ara karena manisan dan buah-buahnya, dan pohon anggur karena airnya. Bahkan pohon semak yang tidak menghasilkan apa-apa memberikan syarat sulit agar ia mau diangkat raja. Sebaliknya dalam bacaan Injil tampak ambisi dan keserakahan manusia yang mau mendapat lebih daripada teman-temannya. Padahal awalnya mereka pun tidak memiliki apa-apa sampai ditawari kerja oleh si tuan rumah. Marilah kita meninggalkan segala ambisi dan keserakahan kita, dan kita melayani Tuhan dan sesama dengan setulus hati, sekuat tenaga dan dengan seluruh talenta kita.


------------------------------
Bacaan Liturgi 23 Agustus 2017
Rabu Pekan Biasa
Bacaan Pertama: Hak 9:6-15

Bacaan Injil: Mat 20:1-16a

Wednesday, August 16, 2017

Yesus Sang Pengantara Agung

Pengantara. Kita sudah sering mendengar bahwa Tuhan Yesus adalah pengantara kita kepada Allah Bapa. Tapi apa arti dari pengantara? Di kantor, saya adalah orang yang tidak memiliki bawahan, tapi memiliki atasan. Atasan saya membawahi beberapa orang yang mendapat perintah langsung darinya. Karena atasan saya adalah orang yang keras, maka banyak bawahannya tidak berani langsung berbicara dengannya baik tentang masalah pekerjaan maupun pribadi. Seringkali mereka memintaku untuk berbicara dengan atasan tersebut. Kenapa si atasan mendengarkanku padahal statusku adalah bawahan? Ini terkait dengan struktur organisasi di mana aku memiliki posisi yang spesial di kantor. Aku adalah pengantara atasanku dan bawahannya. Mempertahankan posisi sebagai pengantara adalah hal yang sulit. Aku harus belajar mendengarkan kedua belah pihak, memahami cara pandang mereka, memberikan mereka pemahaman cara pandang pihak lainnya, dan akhirnya dengan lembut mendorong keduanya untuk mendapatkan sebuah penyelesaian yang dihormati kedua belah pihak.

Musa adalah pengantara bangsa Israel sebelum Yesus datang. Musa memohon kepada Allah agar diberikan seseorang yang dapat menggantikannya sebagai kepala umat agar umat Tuhan tidak seperti domba-domba yang tak bergembala. Musa memiliki posisi yang spesial, sebagaimana disebutkan di ayat �Tetapi tiada lagi seorang nabi yang bangkit di antara orang Israel seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka.� Posisi ini spesial karena diberikan Allah kepadanya secara khusus. Dan ketika bangsa Israel berusaha berbicara langsung pada Allah, maka mereka takut dan gemetar (Kel 20:18-19).

Yesus adalah pengantara umat manusia. Ia datang dengan posisinya yang jauh lebih spesial daripada posisi Musa: Anak Allah. Dan berbeda dengan Musa yang setelah kematiannya tidak memilih seorang pengantara kepada Allah, Yesus menunjuk kita semua secara bersama-sama menjadi pengantara kepada Yesus dan Yesus akan mengantarai kita kepada Bapa. Itulah sebabnya Ia berkata: �Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga.�


Posisi perantara adalah spesial. Ia mampu memberikan pesan kepada kedua belah pihak dengan cara yang khusus untuk setiap pihak. Maukah kamu menjadi pengantara saudaramu kepada Yesus, pengantara agung kita? Posisi kita spesial karena kita beriman pada Yesus. Tapi tidak cukup demikian, kita pun harus belajar terus mendekatkan diri pada Yesus di dalam persekutuan, agar kita dapat memahami apa yang diinginkanNya buat kamu dan saudaramu. Marilah kita terus berdoa agar kita pun dapat menjadi pangantara permohonan sebagaimana yang dipercayakan Yesus kepada kita.


-----------------
Bacaan Liturgi 16 Agustus 2017
Rabu Pekan Biasa XIX
PF S. Stefanus dari Hungaria
Bacaan Pertama: Ul 34:1-12

Bacaan Injil:  Mat 18:15-20

Tuesday, August 8, 2017

Kalah Takut dengan Iman

Takut adalah perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Kadang takut itu tidak rasional dan tidak terbendung. Pada waktu kecil saya pernah diajak naik sebuah wahana permainan yang berputar-putar. Karena tidak menyangka, maka sepanjang permainan saya berteriak ketakutan dan gemetar pada saat keluar. Rasa takut itu masih menyangkut di diri saya sampai dewasa, dimana saya tidak berani naik roller coaster, bahkan wahana yang tidak terlalu menakutkan seperti wahana Niagara (dengan perahu terjun ke air). Dengan sadar saya bertekad untuk mengalahkan ketakutan saya supaya bisa bermain seperti orang lain. Tapi kesadaran itu tidaklah cukup. Saya keluar dari wahana tetap dengan badan gemetar dan wajah pucat, bahkan ketika wahana itu hanyalah simulasi 3D dari roller coaster.


Kenapa rasa takut itu muncul? Menurut pakar psikologi, takut muncul karena adanya ketidakpercayaan terhadap kesanggupan diri untuk mengatasi masalah yang muncul. Saya tidak yakin  sanggup untuk mengatasi apa yang terjadi apabila ada hal yang tidak terduga keluar dari wahana yang saya naiki. Kesepuluh utusan Israel tidak yakin sanggup untuk mengatasi bangsa-bangsa raksasa di Kanaan. Celakanya, mereka juga tidak yakin bahwa Allah yang telah berjanji memberikan tanah itu kepada mereka sanggup dan mau untuk membantu mereka merebut tanah itu. Seorang pegawai takut kepada bosnya karena merasa tidak sanggup untuk menghadapi konsekuensi kemarahannya. Anak yang dibully tidak yakin sanggup untuk berkelahi melawan anak yang lebih besar atau lebih senior. Remaja yang bunuh diri tidak yakin sanggup menghadapi dunia tanpa teman yang menyayanginya apa adanya.


Dan apa obat dari rasa takut? Iman. Lihatlah apa yang dikatakan oleh ibu yang memohon pertolongan dari Yesus. Walaupun Yesus mengatai dia seakan-akan anjing, tapi ibu itu beriman bahwa Tuhan mampu dan sanggup untuk menolong dia, bahkan hanya dengan remah-remah berkat saja. Ibu itu yakin bahwa remah-remah berkat Tuhan, setelah dibagikan pada anak-anak Israel, masih cukup untuk menyembuhkan anaknya. Kaleb dan Yosua beriman bahwa Allah yang telah berjani memberikan Kanaan pada Israel, mau dan sanggup untuk menaklukkan raksasa-raksasa yang kini mendiami tanah itu. Bagaimana iman kita sendiri? Sudah sanggupkah iman kita mengalahkan rasa takut, takut akan masa depan, takut akan sakit penyakit tak terobati, takut akan kehidupan anak-anak kita, takut akan besarnya utang kita, dan semua ketakutan yang ada.


--------------
Bacaan Liturgi 09 Agustus 2017
Rabu Pekan Biasa XVIII
Bacaan Pertama: Bil 13:1-2a.25-14:1.26-29.34-35

Bacaan Injil: Mat 15:21-28

Wednesday, August 2, 2017

Menjadi Nabi yang Dihormati di Rumahnya

Kita sering mendengar umat yang aktif di gereja yang berkata: �Yesus juga bilang nabi tidak dihormati di rumahnya sendiri.� (Mat. 13:54-58)  Ini menjadi suatu �alasan� bagi orang untuk menjauh dari rumahnya dan mencari apresiasi di luar rumahnya, yaitu di gereja. Di gereja, mereka menjadi orang yang dihormati, diangkat menjadi ketua seksi, dicari orang, didengarkan pendapatnya. Sementara di rumah, mereka tetap di-�cuekin�, anak-anaknya tidak mencari dia untuk �curhat�, pasangannya tidak mendengarkan opininya.

Hati-hati, ini mungkin disebabkan oleh komunikasi dan kasih sayang di dalam rumah tidak dijaga sedemikian rupa. Apakah anda sudah menjadi teladan di rumah anda? Apakah anda masih merokok? Apakah anda ngomel berkepanjangan? Apakah anda mencari kesenangan di luar rumah? Apakah anda berani memprioritaskan keluarga anda ketimbang hal lainnya? Apakah anda pernah mengorbankan waktu dan keinginan anda untuk menghadiri acara yang penting bagi anggota keluarga anda atau membelikan sesuatu yang sangat diinginkan oleh mereka?


Yesus berkata demikian karena Ia ditolak walaupun telah berusaha sekuat tenaga. Apakah demikian pula dengan anda? Mari kita merefleksikan hal-hal yang telah kita lakukan dan tidak kita lakukan. Mungkin di dalamnya ada pertobatan yang menunggu untuk dilakukan. Mari kita menjadi nabi yang dihormati di rumah maupun di masyarakat. Tuhan Yesus memberkati. 

Tuesday, August 1, 2017

Menyinarkan Cahaya Allah

Bila sering membaca buku, buku apa saja, tentu sering diceritakan bahwa ada saatnya wajah orang bercahaya, bersinar-sinar, atau berbinar-binar. Sering kali kondisi ini disandingkan dengan saat ketika orang tersebut bahagia, mendapatkan sesuatu yang tak diduga-duga atau yang sudah lama didambakan, atau setelah bertapa (biasanya ini kalau di buku silat jaman dulu). Tentu para pembaca tidak menanggapi ini secara harafiah sehingga menaruh orang tersebut di dalam ruang gelap untuk menguji apakah sungguh ia bercahaya seperti lampu atau lilin. Tapi hal ini untuk menggambarkan ada sesuatu pada dirinya yang berbeda dan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Pengaruh itu dapat begitu hebatnya sehingga ada orang yang menjadi ikut sukacita, tapi ada pula yang kemudian menjadi takut.

Inilah yang terjadi pada Musa ketika ia habis berbicara dengan Allah. Di dalam dirinya terdapat suatu perbedaan yang sungguh dapat dirasakan oleh orang-orang sekitarnya, walaupun Musa sendiri tidak menyadari hal itu. Dan ketika ia menyadarinya, ia berusaha menyelubunginya supaya orang tidak takut dan lalu gagal fokus terhadap pesan yang ingin disampaikannya. Tapi mengapa wajah Musa bersinar-sinar setelah ia berbicara dengan Tuhan? Tidak lain tidak bukan karena Tuhan adalah sumber kebahagiaan dan sumber cahaya, jauh melebihi emas, mutiara, bahkan harta terpendam. Kebahagiaan dari Allah terpancar dari diri Musa. Musa memandang kedekatan dengan Allah lebih daripada harta, dan oleh karenanya ia dianugerahi kedekatan dengan Allah yang tak seorangpun nikmati Bila kita tidak berdosa, maka kita akan ikut bahagia karena pancaran itu. Tapi karena orang Israel merasa berdosa, maka mereka merasa takut.

Sebaliknya sering pula kita membaca bahwa ada orang-orang yang memancarkan kegelapan. Semua orang yang mendekatinya merasa takut, gelisah, gemetar. Berbicara dengannya memberikan tekanan tersendiri bagi orang-orang lain. Biasanya orang-orang ini digambarkan sebagai orang-orang jahat, mereka yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri dan bahkan untuk kematian banyak orang.


Menjadi orang seperti apakah yang aku dan kamu inginkan? Apakah menjadi orang yang memancarkan cahaya dan kebahagiaan pada orang lain, atau memancarkan ketakutan? Bila yang pertama yang dipilih, maka berbuatlah seperti Musa, memandang bahwa kedekatan dengan Allah lebih indah daripada harta terpendam dan mutiara, selalu berusaha mendekat pada Allah dalam doa dan mendengarkan pesanNya dengan baik. Semoga kita pun memancarkan cahaya yang dianugerahkan Allah pada setiap anakNya.

------------
Bacaan Liturgi 02 Agustus 2017
Rabu Pekan Biasa XVII
PF S. Eusebius Vercelli, Uskup
Bacaan Pertama: Kel 34:29-35

Bacaan Injil: Mat  13:44-46

Recent Post