Latest News

Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Tuesday, June 5, 2018

Harapan sebagai Sumber Kehidupan

Di dalam sebuah buku, The World Until Yesterday, karangan Jared Diamond, ia berargumentasi bahwa agama dilihat sebagian orang sebagai upaya manusia untuk menjelaskan hal-hal yang belum dapat dimengerti, dan untuk memberikan harapan serta kekuatan untuk menjalani hidup yang terkadang sangat berat. Karena argumen-argumen seperti ini, banyak orang kini menganggap agama hanya sebagai �kebohongan semata�, �kekuatan sugestif�, dan sebagainya. Artinya agama bukan bersumber dari yang mahakuasa, melainkan dari kita yang membutuhkan suatu pegangan hidup.

Benar atau tidaknya argumen itu akan tergantung dari bagaimana kita memiliki iman. Tapi faktanya adalah agama memberikan pemeluknya suatu harapan bahwa hidup di dunia ini singkat tapi sangat menentukan bagaimana kita nanti hidup kekal. Hidup benar saat ini, hidup seribu tahun yang menyenangkan di surga. Hidup sesat saat ini, hidup selamanya di dalam api sekam.

Bagi orang ateis, tidaklah mungkin ada kebangkitan. Begitu kita mati, maka kita akan lenyap. Bagi mereka, suatu ketiadaan kekal merupakan hal yang tidak perlu disesalkan, cukup lakukan yang terbaik di dalam umur kita yang singkat di dunia ini. Namun benarkah demikian? Ada banyak kasus bunuh diri karena mereka merasa penderitaannya di dunia terlalu berat, sehingga ketiadaan menjadi lebih baik daripada ada tapi sakit.

Orang yang tidak memiliki keyakinan akan kebangkitan, tidak memiliki pula makna hidup. Apa makna hidup kita di dunia ini? Ya, agar kita dibangkitkan pada hidup yang kekal dan melihat bahwa semua yang kita lakukan itu baik adanya. Ada harapan yang terkandung disitu. Maka berbahagialah kita yang percaya akan kebangkitan, karena dengan demikian, penderitaan kita di dunia ini menjadi bermakna.

---------------------
Bacaan Liturgi 06 Juni 2018
Hari Biasa, Pekan Biasa IX
PF S. Norbertus, Uskup
Bacaan Pertama: 2Tim 1:1-3.6-12
Bacaan Injil: Mrk 12:18-27

Tuesday, April 24, 2018

St. Markus, Sang Singa yang Kuat

Santo Markus adalah salah satu dari 4 penulis Injil. Injilnya diyakini adalah yang paling tua dan menjadi salah satu sumber dari kedua Injil lainnya yaitu Matius dan Lukas. St.Markus digambarkan seekor singa. Richard Burridge dalam bukunya Empat Injil, Satu Yesus menggambarkan gaya menulis St. Markus seperti seekor singa yang berlari cepat menuju mangsanya, menjelajah padang yang luas dan memiliki kekuatan serta kecepatan yang mengagumkan. Demikianlah kita merasa bila kita membaca Injil Markus dengan komplit maka kita pun akan merasa bahwa kisah-kisah Yesus diceritakan secara singkat, menjelajah banyak  aspek, namun mengena pada sasaran.

St. Markus sungguh-sungguh menghayati pesan Yesus yang terakhir kepada pada murid-murid yaitu �Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.� Urgensi dari pesan ini sungguh tampak kepada bagaimana Markus menuliskan Injilnya. Ia mewartakan yang penting-penting. Dalam setiap pewartaannya ia menegaskan bahwa pesan itu harus dilaksanakan dengan cepat. Ia juga menegaskan bahwa sama seperti singa yang harus cepat menerkam mangsanya, yaitu memberitakan Injil ke seluruh dunia dan ke segala makhluk, kita pun dipersenjatai dengan kekuatan mengusir setan, berbicara dalam bahasa baru, minum racun namun tidak celaka dan kuasa menyembuhkan orang sakit.

Demikianlah kita perlu menangkap pesan-pesan ini dalam kehidupan kita. Marilah kita mewartakan Kristus� sekarang juga, di tempat ini juga, dengan kuasa yang telah dipercayakan kepada kita. Jangan sampai ketika Ia datang untuk kedua kalinya, Ia menemukan ada bagian dunia yang belum tersentuh oleh kabar gembiraNya.


-------------------------
Bacaan Liturgi 25 April 2018
Pesta St. Markus, Penulis Injil
Bacaan 1: 1Ptr 5:6b-14

Injil: Mrk 16:15-20

Tuesday, April 17, 2018

Ekaristi, Sungguh Roti Kehidupan

Akulah roti hidup, kata Yesus. Seringkali kita mengabaikan betapa dahsyatnya kata-kata itu, dan bagaimana kata-kata itu sungguh nyata di dalam Ekaristi. Banyak kesaksian orang-orang kudus yang tidak dapat menyambut komuni karena keadaannya, memohon dengan sangat pada Allah, dan menyambutnya dari tangan Malaikat. Rosalie Put misalnya, seorang biarawati, jatuh sakit di umur 17 tahun dan terbaring di tempat tidurnya selama 25 tahun. Ia sangat menderita dan tidak dapat menghadiri Misa Kudus. Maka, seorang Malaikat Agung akan datang tiap malam untuk memberi dia Komuni Kudus. Kehadiran Malaikat ini ditandai oleh bunyi sebuah lonceng kecil dan kadang dapat didengar orang lain.

Seorang kudus lainnya, St. Nicholas dari Flue memohon pada Tuhan agar dia diijinkan hidup tanpa makan dan minum. Permohonan ini dikabulkan. Selama 20 tahun ia hidup di sebuah kamar kecil dari kayu, hanya hidup dari makan Komuni Kudus. Para penduduk mengagumi kesuciannya dan nasihatnya yang membawa perdamaian di antara kota-kota yang berperang.

Ekaristi adalah sungguh-sungguh Roti Hidup. Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan lapar dan haus lagi, dan akan beroleh hidup yang kekal. Mari kita pada masa Paskah ini merenungkan, sekuat apakah iman kita pada 1 kalimat itu: Akulah Roti Hidup.

----------------
Bacaan Liturgi, 18 April 2018
Hari Biasa Pekan Paskah III
Bacaan 1: Kis 8:1b-8

Injil: Yoh 6:35-40

Tuesday, April 3, 2018

Hati Penuh Syukur

Henri Nouwen dalam bukunya Hati Penuh Syukur merenungkan kisah perjalanan ke Emaus yang hari ini kita dengar lewat Bacaan Injil. Ia membaginya menjadi 5 bagian yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari manusia. Pertama-tama kita datang dengan rasa kehilangan, sama seperti kedua murid yang kehilangan guru, harapan dan tujuan hidup mereka. Kita pun sering merasa kehilangan waktu, teman, keluarga, kebebasan, atau apa saja. Dengan hati hancur diremukkan oleh kehilangan, kita datang ke hadapan Allah.

Lalu kita bertemu seorang asing yang membuat hati kita mulai berkobar-kobar. Yesus menampakkan diri di hadapan kedua murid, dan mulailah mereka menceritakan rasa itu. Demikianlah kita mengungkapkan diri kita dan hati kita yang hancur kepada Allah melalui Tuhan Kasihanilah Kami. Sebagaimana Yesus harus diundang ke dalam rumah kedua murid agar mereka nantinya dapat �melihat� siapa Yesus, demikian pula kita mengungkapkan undangan kita didalam Aku Percaya. Bila orang asing yang luar biasa tak kita undang ke dalam rumah kita, maka ia tetap menjadi orang asing. Tapi begitu kita makan bersama, maka jadilah ia �seorang dari kita�, atau sering dikatakan orang Palembang �wong kito galo.�

Ketika kita makan bersama, mulailah diri �orang asing� itu nampak menjadi Yesus. Kita pun akan mengetahui secara jelas bahwa �itu Tuhan� pada saat hosti diangkat. Dan ketika kedua orang murid itu menyambut roti dari Yesus, Yesus hilang dari pandangan mereka. Yesus di dalam Ekaristi secara ajaib menghilang dari pandangan kita sekaligus menyatu di dalam kita, dan menjadikan kita seperti dia. Sejak itu, maka kita pun diutus menjadi Dia di dalam kehidupan sehari-hari seperti Petrus dan Yohanes yang bersaksi tentang Yesus. Sebagaimana Yesus berkuasa dalam DiriNya sendiri, kita pun menjadi berkuasa karena Yesus ada di dalam diri kita. Maka bila kita percaya sungguh, maka seperti Petrus dan Yohanes, kuasa-kuasa termasuk kuasa penyembuhan dapat terjadi. Mari kita bersukacita dan memuji Allah karena kuasaNya yang begitu besar yang dipercayakanNya pada kita.

-------------------
Bacaan Liturgi, 4 April 2018
PF S. Isidorus, Uskup dan Pujangga Gereja
Hari Rabu dalam Oktaf Paskah
Bacaan 1: Kis 3:1-10

Injil: Luk 24:13-35

Tuesday, March 20, 2018

Berdoa kepada Malaikat Pelindung

Beato Gerardus Cagnoli adalah seorang yang sangat suci sering kali terlihat didampingi oleh para malaikat. Pada suatu Hari Raya Paskah, juru masak biara jatuh sakit, maka pastor kepala meminta Beato Gerardus untuk menyiapkan makan siang. Beato taat walau tidak tahu bagaimana caranya. Ia berdoa saat itu juga. Waktu makan siang, api kompor pun belum dinyalakan. Pastor kepala menegurnya, tapi Beato berkata �Bapa, jangan kuatir, para saudara akan mendapatkan makanan!� Tiba-tiba datanglah seorang Malaikat dengan wujud pemuda rupawan menyiapkan berbagai makanan di atas meja lalu menghilang. Para saudara berkata bahwa mereka tidak pernah makan makanan selezat itu.

Malaikat pelindung adalah malaikat yang ditugaskan untuk menjaga kita secara khusus, sementara ribuan bahkan jutaan malaikat sebenarnya ditugaskan untuk menjaga umat manusia. Namun sering kali kita tidak tahu keberadaannya dan mungkin juga tidak peduli. Buku Malaikat dan Iblis di Balik Orang Kudus memberikan gambaran tentang penampakan-penampakan dan pengalaman orang-orang kudus tentang para Malaikat dan bagaimana mereka membantu kita dalam peperangan melawan Iblis.

Bacaan pada hari ini juga bercerita tentang penampakan Malaikat yang disaksikan Raja Nebukadnezar sedang melindungi hamba-hamba Allah: Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Malaikat, yang dikatakan rupanya seperti anak dewa, diutus Allah karena teman-teman Daniel itu hanya percaya kepada Allah. Demikian pula Yesus mengajar supaya kita tetap dalam firmanNya, agar kita menjadi anak-anak merdeka. Api atau Iblis, takkan mampu membuat kita terpenjara lagi. Maka marilah dalam masa Prapaskah ini kita merenungkan apakah kita sungguh-sungguh telah percaya pada firmanNya?

--------------------
Bacaan Liturgi Rabu, 21 Maret 2018
Hari Biasa Pekan Prapaskah V
Dan 3:14-20.24-25.28
Yoh 8:31-42

Tuesday, March 13, 2018

Menjadi Penggerak Perubahan

Greg Smith adalah seorang pemuda yang bekerja di Goldman Sachs (GS),
sebuah firma finansial terkemuka di Amerika. Ia sangat bangga dengan pekerjaan
dan tempatnya bekerja. Baginya, budaya yang dipelihara di GS sangat mulia,
di mana kepentingan klien dijunjung, kode etik dipelihara, kesejahteraan pegawai
diperhatikan. Budaya itu menjadi pembeda dibandingkan firma-firma lainnya di
negara itu sampai- Suatu hari terjadilah krisis di dunia finansial global.
Pada gelombang krisis pertama, GS adalah salah satu yang bertahan.
Namun sesuatu berubah: banyak orang dipecat, yang bertahan harus terus
membuktikan diri termasuk para bos. Saat itu semua orang menjadi tidak
peduli dengan sesamanya, mereka tidak peduli dengan kliennya, yang
penting bagaimana mendapatkan lebih banyak uang. Reputasi hancur,
dan orang-orang idealis seperti dirinya terjepit.  Hal itu makin diperparah
dengan munculnya gelombang krisis kedua yang membuat GS terpaksa
menerima bantuan pemerintah dan digabung dengan firma lain.

Akhirnya Greg keluar dari GS, menulis suatu editorial yang sangat kontroversial
dan membuka wawasan orang di luar dunia finansial. Isi dari editorial tersebut
adalah buruknya sistem kerja di dunia finansial, bagaimana seharusnya dan
ajakan yang tulus untuk memperbaiki sistem tersebut. Berdasarkan editorial itu,
dunia finansial dipaksa oleh pemerintah dan publik untuk mengubah cara
kerjanya. Orang-orang yang dahulu beranggapan situasi itu normal,
menjadi bergerak untuk menuju pembaharuan.

Satu orang, satu kelompok, dapat menjadi penggerak perubahan.
Demikianlah yang direncanakan Allah bagi bangsa Israel. Bangsa Israel
selalu dibimbing, dilindungi, diberi kesuburan, agar bangsa-bangsa lain
dapat melihat keselamatan yang terpancar. Dan ketika bangsa Israel
gagal mencerminkan keselamatan dari Allah, gagal untuk taat kepada
suara firman Allah, Yesus datang sebagai suara yang menegaskan
keselamatan itu. Dan siapa yang mendengar dan percaya akan suara
Yesus itu akan diselamatkan. Mari kita mendengar dan percaya kepada
pesan-pesan Yesus dan menjadi pewarta keselamatan bagi orang lain.

------------------
Bacaan Liturgi Rabu, 14 Maret 2018
Hari Biasa Pekan Prapaskah IV
Yes 49: 8 - 15
Yoh 5: 17 - 30

Tuesday, March 6, 2018

Menjadi Suara Keselamatan

Greg Smith adalah seorang pemuda yang bekerja di Goldman Sachs (GS),
sebuah firma finansial terkemuka di Amerika. Ia sangat bangga dengan
pekerjaan dan tempatnya bekerja. Baginya, budaya yang dipelihara di GS
sangat mulia, di mana kepentingan klien dijunjung, kode etik dipelihara,
kesejahteraan pegawai diperhatikan. Budaya itu menjadi pembeda
dibandingkan firma-firma lainnya di negara itu sampai- Suatu hari
terjadilah krisis di dunia finansial global. Pada gelombang krisis pertama,
GS adalah salah satu yang bertahan. Namun sesuatu berubah: banyak
orang dipecat, yang bertahan harus terus membuktikan diri termasuk para
bos. Saat itu semua orang menjadi tidak peduli dengan sesamanya,
mereka tidak peduli dengan kliennya, yang penting bagaimana mendapatkan
lebih banyak uang. Reputasi hancur, dan orang-orang idealis seperti dirinya
terjepit.  Hal itu makin diperparah dengan munculnya gelombang krisis kedua
yang membuat GS terpaksa menerima bantuan pemerintah dan digabung
dengan firma lain.

Akhirnya Greg keluar dari GS, menulis suatu editorial yang sangat
kontroversial dan membuka wawasan orang di luar dunia finansial.
Isi dari editorial tersebut adalah buruknya sistem kerja di dunia finansial,
bagaimana seharusnya dan ajakan yang tulus untuk memperbaiki
sistem tersebut. Berdasarkan editorial itu, dunia finansial dipaksa
oleh pemerintah dan publik untuk mengubah cara kerjanya. Orang-
orang yang dahulu beranggapan situasi itu normal, menjadi bergerak
untuk menuju pembaharuan.

Satu orang, satu kelompok, dapat menjadi penggerak perubahan.
Demikianlah yang direncanakan Allah bagi bangsa Israel. Bangsa
Israel selalu dibimbing, dilindungi, diberi kesuburan, agar bangsa-bangsa
lain dapat melihat keselamatan yang terpancar. Dan ketika bangsa Israel
gagal mencerminkan keselamatan dari Allah, gagal untuk taat kepada
suara firman Allah, Yesus datang sebagai suara yang menegaskan
keselamatan itu. Dan siapa yang mendengar dan percaya akan suara
Yesus itu akan diselamatkan. Mari kita mendengar dan percaya kepada
pesan-pesan Yesus dan menjadi pewarta keselamatan bagi orang lain.

---------------------------
Bacaan Liturgi Rabu, 14 Maret 2018
Yes 49: 8 - 15
Yoh 5: 17 - 30

Sunday, November 19, 2017

Jangan Mengkotak-kotakkan

Sebagai seorang keturunan Cina yang tinggal di Jakarta pada tahun 2017 ini, kita merasa dikelasduakan. Pilkada yang memenangkan Anies Baswedan mengusung ide bahwa orang non pribumi, terutama Cina, tidak bisa menjadi pemimpin. Alasannya adalah pada saat penjajahan Belanda, kita memihak Belanda. Namun buku Batavia Kota Hantu, karangan Alwi Shihab menggambarkan hal yang berbeda. Simaklah cuplikan buku itu:

�[Sebuah rumah sakit Cina dibangun di antara Jl. Tiang Bendera 1 dan 5], dibangun oleh masyarakat Cina di Batavia secara gotong royong atas inisiatif Kapiten ke-2 Cina, Phoa Beng Gam, seorang tauke kaya yang memiliki tanah perkebunan luas di Tanah Abang. [Karena usahanya] ia memerlukan banyak kuli yang direkrut dari luar Batavia bersama keluarganya. Banyak di antara mereka yang terkena penyakit malaria. Sementara itu warga Tionghoa juga semakin banyak datang dari daratan Cina ke Batavia. Maka, Kapiten Phoa merencanakan pembangunan sebuah rumah sakit umum. Rumah sakit China ini sangat lengkap, bahkan dikatakan lebih baik dari rumah sakit yang dibangun Belanda. Nasib rumah sakit Cina ini kemudian buruk sekali karena dibongkar oleh gemeente (dewan kota) Belanda. Menurut sejarawan Tionghoa, Prof. James Dananjaya, mungkin Pemerintah Kolonial Belanda tidak mau disaingi dalam hal pembinaan kesehatan rakyat Batavia. Pada peristiwa pembantaian warga Cina pada Oktober 1740, para pasien di rumah sakit ini dibantai olehVOC, termasuk orang tua, wanita dan anak-anak.�

Jelas bahwa Cina tidak di bawah lindungan sayap Belanda, ataupun memihak Belanda. Namun pengkotakan telah terjadi. Yang bermata sipit, berkulit kuning, disebut Cina. Yg putih, mancung disebut Arab. Yang coklat disebut pribumi. Ini dilakukan baik oleh penjajah Belanda, maupun oleh orang Indonesia sendiri yang sudah merdeka.

Namun di mata Tuhan, ini semua tidak ada. �Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu,� kata Rasul Paulus dalam Kolose 3:11. Maka jangan lagi orang Kristen mengkotakkan orang lain dan mengatainya kafir, barbar, pribumi, cina, arab, dll. Namun, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembuutan dan kesabaran (Kol 3:12b).

Friday, November 17, 2017

Kebahagiaan Seorang Budak yang Merdeka

Kata budak sering kali kita temui di Alkitab. Rasul Paulus menyatakan dengan gembira bahwa, �Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: Ya Abba, Ya Bapa.� (Roma 8:15)

Sistem perbudakan yang dikenal jaman dahulu mungkin sulit kita temukan lagi kini, walaupun masih ada jejak-jejaknya bila kita teliti mengamati kehidupan k. ita sekarang ini. Untuk mengilustrasikan betapa susahnya menjadi seorang budak, Alwi Shihab dalam buku Batavia Kota Hantu, menggambarkan dengan jelas kejadian yang sungguh terjadi di kota Jakarta ini. Walaupun namanya berganti dari budak menjadi kuli kontrak, kita akan dapat membayangkan sulitnya kehidupan mereka.  

�Pada tahun 1814, atau menjelang perbudakan hendak dihapuskan, di Batavia masih terdapat 14.239 budak...Pada tahun 1880, pemerintah mengeluarkan Koelie Ordonantie. Maka dimulailah era Kuli Kontrak. Di samping masalah upah, para kuli kontrak, mereka dipekerjakan di tempat-tempat yang mudah terserang malaria, tidak pernah dirawat di rumah sakit. Adanya sanksi yang berisi hukuman bagi kuli kontrak makin menambah terpuruknya hidup mereka. Para pengusaha dapat bertindak sewenang-wenang kepada [kuli kontrak] yang mencoba melawan atau kabur. Gaji mereka dipotong dan uang yang mereka kumpulkan dengan susah payah di rantau habis untuk ongkos pulang. Ada yang sudah bekerja selama 7 tahun dan tiap bulan gajinya dipotong 2,50 Gulden. Ketika hendak pulang, justru dia harus mengeluarkan uang 90 Gulden untuk ongkos kapal.�

Dengan membayangkan hal ini, kita makin dapat merasakan betapa sukacitanya kita yang telah dibebaskan dari perbudakan, yang tak perlu lagi merasa takut pada tuan kita yaitu Tuhan, bahkan boleh memanggilnya Bapa. Semoga kita makin mencintai rahmat pembaptisan kita dan mewujudkan syukur kita di dalam pelayanan kita.

Jangan Terbuai dengan Keindahan tapi Melupakan Penciptanya

Secara alamiah kita berpikir bahwa makin banyak informasi yang kita miliki, makin tepat keputusan yang akan kita ambil. Kenyataannya sains telah membuktikan bahwa hal tersebut tidak terjadi. Sebaliknya, makin banyak informasi yang kita miliki, keputusan kita akan makin terdistorsi (kabur). Malcolm Gladwell dalam bukunya Blink menuliskan bahwa keputusan yang kita ambil dalam waktu 2 detik, sama benarnya bahkan sering kali lebih benar daripada keputusan yang diambil setelah riset mendalam. Contoh yang ia sajikan adalah ketika sebuah patung yang terjual dengan harga 10 juta dolar kepada museum yang telah menelitinya selama 14 bulan, ternyata palsu. Kepalsuan itu ditunjukkan oleh seorang pakar yang melihatnya dalam waktu sebentar saja. �Ada sesuatu yang salah�. tapi saya tidak bisa mengungkapkannya,� kata pakar tersebut.


Bacaan pertama mengingatkan kita akan hal tersebut. Kita sering meneliti alam sekitar kita. Kita mampu mengetahui bahwa profil kromosom Y bapak akan terus diwariskan kepada anak lelakinya, kita tahu bahwa energi itu adalah massa kali kecepatan cahaya, dan sebagainya. Namun kenapa pertanyaan siapa pencipta semuanya itu tak bisa kita jawab dengan mudah? Perlukah kita mengetahui jawaban dari segala sesuatu yang ada di alam sebelum kita bisa menjawab bahwa penciptanya adalah Allah? Tidakkah dengan melihat pelangi, kita secara intuitif langsung menyebut penciptanya yang agung?


Kita menyibukkan diri dengan berbagai upaya untuk memperpanjang usia, mengelakkan diri dari kematian dan melihat masa depan. Namun kita lupa bahwa yang memiliki hidup itu adalah Allah. Tidak perlu kita mencari bentuk sel darah putih atau penyebab kanker sebelum kita mengimani Allahlah yang memberi hidup dan bila Ia mau, Ia dapat mengambilnya dari kita. Oleh karena itu marilah kita jangan berusaha memelihara nyawa kita, melainkan serahkanlah pada yang empunya kehidupan. Semoga kita pada harinya nanti diangkat dari kehidupan ini dan diberikan hidup yang kekal.
------------------------
Bacaan Liturgi 17 November 2017
Jumat Pekan Biasa XXXII
PW S. Elisabet dari Hungaria, Biarawati
Bacaan Pertama: Keb 13:1-9
Bacaan Injil: Luk 17:26-37

Tuesday, November 7, 2017

A House in the Sky (Rumah Di Atas Langit)

Di dalam bukunya, A House in the Sky, Amanda LIndhout bercerita tentang kisahnya diculik oleh pemberontak Somalia yang kemudian menuntut tebusan. Ia ditawan sampai 16 bulan. Di dalam masa penawanannya itu, ia dengan keras berusaha untuk  melihat para penawannya sebagai manusia yang baik, terutama kepada para tentara yang masih remaja. Ia mendengarkan cerita tentara itu tentang kekasihnya. Ia mendengarkan bagaimana para tentara itu berusaha untuk belajar berkomunikasi dalam bahasa inggris. Ia mendengarkan cita-cita beberapa tentara itu untuk membantu keluarganya. Upayanya itu berhasil membuat hatinya tetap lembut dan baik paska penawanannya sehingga ia mampu untuk membentuk suatu organisasi nirlaba untuk membantu penduduk Somalia.

Inilah yang dituntut oleh Yesus: melepaskan diri dari segala miliknya dan menjadi murid Yesus. Amanda telah berhasil melepaskan diri dari kebencian kepada penawan bahkan pemerkosanya. Ia telah berhasil melepaskan diri dari hartanya bahkan tubuhnya sendiri. Ini bukan proses yang mudah karena beberapa tahun setelahnya ia masih mengalami mimpi buruk, sebagaimana diakuinya sendiri. Namun proses yang sulit ini tidak menghalanginya untuk mengasihi orang lain.

Mampukah kita untuk melakukan hal yang sama? Mampukah kita menjawab tantangan Yesus untuk melepaskan diri dari segala miliknya, bahkan nyawanya sendiri, untuk mengasihi orang lain seperti Ia telah mengasihi kita?


-------------------
Bacaan Liturgi 08 November 2017
Rabu Pekan Biasa XXXI
Bacaan Pertama: Rom 13:8-10
Bacaan Injil: Luk 14:25-33

Tuesday, October 31, 2017

Resep Kebahagiaan

Apa resep kebahagiaan? Seorang jurnalis bernama Eric Weiner di dalam bukunya berjudul The Geography of Bliss mengunjungi 10 negara di seluruh dunia untuk mencari tempat yang paling berbahagia di dunia. Pertanyaannya hanya satu: apa yang membuat orang berbahagia? Apakah ketika bebas mengisap mariyuana seperti di Belanda? Atau ketika semuanya tertib seperti di Singapura? Atau karena banyak uang seperti di Qatar? Atau ketika banyak kreativitas di udara seperti di Skandinavia? Setelah berkeliling dan meneliti, ia sampai kepada satu kesimpulan: �sumber kebahagiaan terbesar adalah orang lain.�

Cocokkah kesimpulan ini dengan Sabda Bahagia Tuhan Yesus? Mari kita tilik lebih dalam. Orang miskin dan orang kaya manakah yang lebih membutuhkan orang lain? Tentu orang miskin. Orang lapar dan orang kenyang, manakah yang lebih mengharapkan ada orang lain? Tentu orang lapar�. Orang kenyang cukup membutuhkan tempat tidurnya. Orang berdukacita dan bersukacita, manakah yang lebih membutuhkan orang lain? Tentu orang berdukacita karena ada keinginan untuk dihibur. Orang yang murah hati dan kikir, manakah yang lebih mudah untuk didekati? Tentu orang murah hati. Mereka yang disebut Yesus sebagai pemilik Kerajaan Surga adalah orang-orang yang membutuhkan dan dibutuhkan orang lain. Mereka berbahagia karena di dalam hidupnya selalu ada orang lain, atau paling tidak 1 orang yang mereka tahu akan selalu bersama mereka, yaitu Tuhan Yesus sendiri.

Pada hari ini kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus dimana Gereja mengingatkan kita semua bahwa kita adalah satu kesatuan di dalam Tubuh Kristus. Hal ini makin membuat kesimpulan di atas menjadi benar, yaitu kita umat beriman di dalam Kristus adalah orang paling berbahagia di dunia karena kita tidak pernah sendirian. Kita selalu dikelilingi oleh satu kumpulan orang kudus baik yang masih berziarah di dunia maupun yang sudah berada di surga. Kita selalu memiliki orang lain di dalam hidup kita. Mari kita menyadari bahwa sumber kebahagiaan kita sudah berada di sini, di tempat ini, pada saat ini, bersama dengan Tuhan dan seluruh orang kudusnya.

-----------------------
Bacaan Liturgi 01 November 2017
HR Semua Orang Kudus
Bacaan Pertama: Why 7:2-4.9-14
Mazmur:Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6
Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-3
Bacaan Injil:Mat 5:1-12a

Monday, September 25, 2017

Ketika Iman adalah Pasti

Kenapa kita beriman? Blaise Pascal adalah seorang matematikawan yang hidup pada tahun 1600an dan terkenal dengan Segitiga Pascal yang dapat menghitung kombinasi kemungkinan yang muncul dari pelemparan dadu sampai kemenangan piala dunia. Pascal, lahir sebagai jenius matematika terutama dalam bidang probabilitas (kemungkinan-kemungkinan), akhirnya meninggalkan dunia itu dan menjadi biarawan. Ia meninggalkan suatu teori yang dikenal dengan nama Pascal�s Wager (Pertaruhan Pascal). Di sini ia bertanya apakah Tuhan itu ada, atau tidak ada. (Sumber: Against the Gods, The Remarkable Story of Risk oleh Peter L. Bernstein)

Pertama-tama dinyatakan bahwa kemungkinan bahwa Tuhan ada dan tidak ada adalah 50:50. Artinya kedua kemungkinan tersebut sama besarnya hanya karena kita tidak mampu untuk membuktikan secara lebih pasti antara ada tidaknya Tuhan. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa kita percaya Tuhan ada dan tidak ada sama besarnya dengan melempar mata uang dan bertaruh akan keluar angka atau gambar. Namun Pascal tidak berhenti di situ. Ia menjelaskan bahwa konsekuensi dari pilihan itu berbeda jauh. Apabila kita percaya ada Tuhan, namun ternyata Tuhan itu tidak ada, maka kita hanya akan menemukan ketiadaan. Kematian hanya menjadi sekedar kematian, hilang dari dunia. Sebaliknya bila kita memilih tidak percaya, namun ternyata Tuhan itu ada, maka konsekuensinya adalah kita akan dibuang ke tempat di mana hanya ada kertak gigi. Oleh karena itu, sang ahli matematika memutuskan untuk melihat semua ilmu di dunia termasuk matematika yang pernah begitu dicintainya, menjadi hal yang sia-sia belaka, dan mengejar Tuhan di biara.

Alasan kita beriman dapat juga dijelaskan dengan teori opsi dalam dunia finansial. Opsi adalah instrumen di mana si pembeli opsi dapat membatasi kerugian dari investasinya sebesar harga opsi yang dibayarnya bila harga underlying assetnya jatuh, namun berpotensi mendapatkan keuntungan tak terhingga bila harga underlying assetnya naik. Sebuah opsi seharga Rp50.000 dibeli untuk menjual underlying asset berupa emas. Harga penjualan emas yang disepakati di opsi adalah Rp1.000.000.  Bila saat kontrak opsi selesai dan harga emas Rp800.000, maka pembeli opsi berhak menjual emas dengan harga Rp1.000.000, membuatnya tidak rugi apa-apa kecuali harga opsi semula yaitu Rp50.000. Sebaliknya bila saat kontrak selesai, harga emas sudah Rp1.200.000, ia bisa menjual emas dengan harga tersebut dan membuang kontrak opsinya.

Percaya pada Tuhan dan melakukan kehendaknya di dunia bisa seperti membeli kontrak opsi. Bila ternyata Tuhan ada dan Ia memberikan upah kepada yang percaya kepadaNyya, maka kita akan mendapat keuntungan yang tak terhingga, yaitu bersama denganNya di kerajaan kekal. Sebaliknya bila Tuhan ternyata tidak ada, maka kerugian kita hanyalah sementara, yaitu kerja keras di dunia.

Tentu saja ini adalah suatu alasan kuat untuk beriman, yaitu di mana ilmu tertinggi di dunia yaitu matematika, menunjukkan jalan benar kepada kita, yaitu: Percayalah kepada Tuhan. Namun matematika Tuhan masih lebih tinggi lagi daripada matematika kita. Ini ditunjukkan pada Mat 20:1-16a. Kata Yesus: �Hal Kerajaan Surga itu sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya��Ambillah bagianmu dan pergilah! Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu�. Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?�

Matematika Tuhan ini mungkin membingungkan bagi kita, terutama bagi yang biasa berbisnis dan berurusan dengan para pekerja. Tapi dalam hal matematika, hal ini dimungkinkan. Bila bekerja 1 jam diberi upah 1 dinar dan bekerja 2 jam diberi upah 2 dinar, maka 1 tidak sama dengan 2, betul kan? Salah. Lihat saja pembuktian di bawah ini:
?
Nah demikianlah Tuhan telah menunjukkan kepada kita bahwa Percaya padaNya adalah jalan yang paling menguntungkan dan perhitunganNya adalah benar adanya. Semuanya terbukti lewat matematika. Tuhan memberkati.

Tuesday, August 29, 2017

Hidup Saleh itu Sulit

Midah Simanis Bergigi Emas, Pramoedya Ananta Toer
Hidup saleh itu sulit. Dalam novelnya, Midah Simanis Bergigi Emas, Pramoedya Ananta Toer berkisah tentang si Midah yang berusaha hidup suci di tengah kehidupan yang ganas di kota Jakarta. Midah berupaya untuk menangkis semua ajakan lelaki untuk tidur dengannya, walaupun dengan risiko kelaparan. Midah melakukan ini semua karena takutnya akan Allah yang dikenalnya sejak kecil lewat bapaknya yang haji. Tapi pada akhirnya Midah terpaksa kalah terhadap roda kehidupan karena ia tidak mau menjadi beban bagi nama baik bapaknya yang  haji. Ia ingin agar dosa-dosa itu dibebankan hanya kepadanya sendiri, dan tidak kepada keluarganya maupun anaknya.

Membaca novel ini kita bisa merenungkan betapa motivasi baik dan usaha yang keras kadang-kadang memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan. Demikianlah yang dihadapi oleh setiap pelayan Tuhan di dalam setiap panggilannya. Godaan demi godaan, baik dari sisi ekonomi maupun moralitas, terus menggedor pintu panggilan. Tidak salahlah kata Paulus dalam bacaan pertama ketika ia mengingatkan akan jerih payah usaha mereka ketika memberitakan Injil. Terkadang urusan ekonomi bisa menjadi batu sandungan untuk menerima Injil yang diberitakan, misalnya pada orang-orang yang bergantung hidup kepada pewartaan sebagai sumber nafkahnya.


Oleh karena itu janganlah kita jadi seperti orang-orang munafik yang melabur sisi luar dengan cat putih bersih tapi dalamnya penuh dengan tengkorak (Bacaan Injil). Jangan berprasangka buruk dengan orang lain karena kita semua memiliki cacat. Jangan berpikir bahwa hal buruk tidak dapat terjadi pada diri kita. Jangan bergosip tentang keburukan orang lain. Mari kita berpikir yang baik, mengatakan yang baik, melakukan yang baik.


------------------
Bacaan Liturgi 30 Agustus 2017
Rabu Pekan Biasa XXI
Bacaan Pertama: 1Tes 2:9-13

Bacaan Injil: Mat 23:27-32

Thursday, August 3, 2017

Iman Kristiani di Dalam Budaya

Kristiani sering kali disamakan dengan budaya Barat. Pengantin Kristen berpakaian putih. Orang Kristen minum anggur (wine). Pakaian orang Kristen jas dan dasi. Rock n Roll itu Kristen. Orang Kristen yang sakit harus dibawa ke kedokteran ala Barat. Anak-anak Kristen harus masuk pendidikan ala Barat.


Itu semua tidak benar. Kalau kita melihat di berbagai tempat di Indonesia, banyak orang Kristen tidak dapat dibedakan secara kasat mata dengan orang-orang lainnya di budaya yang sama. Percaya Yesus tidak sama dengan percaya bahwa semua yang berasal dari Barat adalah baik. Bahwa kebetulan itu ada lebih dikarenakan agama Kristen dibawa oleh saudara-saudara dari Barat (Portugis, Belanda dan Inggris).

Yesus, yang ajaranNya dilanjutkan oleh para rasulNya dan gerejaNya yang satu, kudus, katolik dan apostolik, tidak mengajarkan bahwa budaya Yahudi adalah yang terbenar. Tapi bahwa Yesus adalah orang Yahudi dan karenanya caraNya mengajar dipengaruhi oleh bagaimana orang Yahudi berpikir, itu benar. Kalau tidak bagaimana kita dapat mengajar dengan efektif ketika kita tidak masuk kepada dunia berpikir murid-murid kita?

Contoh yang paling mudah adalah ketika Yesus bertemu dengan perempuan Samaria. Orang Samaria beribadah di Gunung Gerizim, sementara orang Yahudi beribadah di Yerusalem. Namun Yesus tidak mempermasalahkan hal tersebut, bahkan Ia berkata bahwa kita akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Sementara contoh yang termudah dari bagaimana Gereja Perdana meneruskan hal tersebut adalah tentang masalah sunat. Sunat adalah budaya khas Israel yang tidak diikuti oleh orang-orang Kristen non Yahudi di masa itu, walaupun Yesus pasti bersunat.

Sejak jaman konsili Vatikan II kita melihat bahwa Gereja Katolik Roma makin melebarkan pandangannya dalam hal budaya. Gereja Katolik makin menerima bahwa budaya-budaya di seluruh dunia hadir sebagai persiapan atas datangnya iman Kristiani. Budaya-budaya itu memang tidak sempurna, tapi tidak dilihat sebagai suatu kejahatan. Hal ini tertuang dalam dokumen Konsili Vatikan II yang berjudul Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral Gereja di Dunia Dewasa Ini): �Sebab Allah, yang mewahyukan Dirinya sepenuhnya dalam Putera-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman.� Dari pernyataan ini jelas bahwa Gereja Katolik menganggap budaya-budaya yang ada mengandung pewahyuan Allah.

Lebih jauh Nostra Aetate (Hubungan Gereja dengan Agama-agama Bukan Kristiani) menyatakan: �Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini diantara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya-kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan  terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam. Adapun agama-agama, yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan. Demikianlah dalam hinduisme manusia menyelidiki misteri ilahi dan mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta dengan usaha-usaha filsafah yang mendalam.�

Dari sini tampak bahwa iman pada Yesus mengatasi budaya. Orang Kristiani harus dapat menyesuaikan diri pada budaya tempat ia hidup, sekaligus mengubah budaya itu menjadi sumber dan lahan pewartaan iman yang subur.

Di Indonesia kita memiliki seorang tokoh yang sudah memahami hal ini luar dalam. Dia adalah Uskup Soegijapranata yang terkenal dengan kata-katanya: �100% Katolik, 100% Indonesia.�


Saya merefleksikan ini di dalam kebudayaan tanah Tapanuli. Disana rumah-rumah memiliki pintu yang pendek sehingga semua orang harus membungkuk untuk masuk ke dalamnya. Falsafah yang saya tangkap dari pemandu saya waktu itu adalah: �Seorang Raja pun harus membungkuk ketika masuk ke dalam rumah.� Ini sangatlah tepat pada konteks iman dan budaya, di mana Raja Yesus pun akan membungkuk kepada budaya di mana Ia tinggal, akan tetapi toh Dia tetap raja. Demikian pula kita sebagai murid-muridNya, kita harus menghormati budaya di mana kita tinggal dan orang-orang yang menganut budaya itu. Tapi toh kita tidak boleh terlena dengan budaya, melainkan terus mengubah budaya tersebut menjadi iman yang sempurna pada Yesus. 

Sunday, July 2, 2017

Kain dan Habel, Perseteruan Saudara

Kain dan Habel adalah saudara kandung, putra-putra Adam. Kain adalah petani dan Habel gembala kambing domba. Kain sebagai petani merupakan gambaran dari masyarakat yang sudah mapan, tidak mengembara lagi, memiliki rumah dan kehidupan sosial yang terstruktur. Sementara Habel adalah gambaran masyarakat nomaden, yang bergantung kepada kebaikan alam untuk kehidupan mereka.

Keduanya mempersembahkan sebagian hasil tanah kepada Tuhan, namun Tuhan hanya berkenan pada persembahan Habel. Irihati karenanya, Kain membunuh Habel. Ketika Tuhan bertanya �dimanakah adikmu?� Kain menjawab: �Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?� Lalu Tuhan menjatuhkan hukuman pada Kain, membuangnya jauh, memberikan tanda  agar ia jangan dibunuh.

Ensiklik Injil Kehidupan (Evangelium Vitae) mengambil kisah ini untuk meng-highlight betapa pentingnya kehidupan dan bagaimana kita harus saling menjaga kehidupan satu sama lain.

Ada berbagai pertanyaan di seputar kisah ini, dan di bawah ini adalah sebagian kecilnya saja.
�         Kenapa Allah tidak berkenan pada persembahan Kain? Apakah Tuhan mencobai Kain dengan tidak menerima persembahannya?
Ketika dihubungkan dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci, TUHAN menerima persembahan Habel karena dia menghampiri Allah dengan iman yang benar dan pengabdian kepada kebenaran (Bdk. Ibrani 11 : 4; 1 Yohanes 3 : 12; Bdk. Yohanes 4 : 23-24). Persembahan Kain ditolak karena ia tidak memiliki iman yang taat dan perbuatannya jahat (ayat Kejadian 4 : 6-7; 1 Yohanes 3 : 12). Allah berkenan atas persembahan dan ucapan syukur hanya apabila kita sungguh-sungguh berusaha hidup benar sesuai dengan kehendak-Nya

Namun tidak ada yang tahu pastik mengapa kurban Kain tidak diterima dan bagaimana Kain tahu korbannya tidak berkenan kepada Allah. Pusat perhatian bacaan ada pada reaksi Kain, yaitu akibat dari pembunuhan atas saudara laki-lakinya dan pada hukuman Allah kepada Kain.

Mengenai apakah TUHAN mencobai kita, kita melihat pada Kitab Suci. Pada satu sisi kita percaya bahwa TUHAN tidak mencobai kita (Yakobus 1 : 13), namun pada sisi lain kita dapat melihat bahwa TUHAN memang menguji kita (seperti pada kasus Abraham dan Musa). Namun, TUHAN tidak pernah mencobai atau lebih tepatnya menguji kita agar kita terjatuh (seperti setan
mencobai kita), tetapi hanya untuk memberikan pada kita sesuatu yang lebih baik, untuk maksud membuat kita lebih kudus, melalui kesetiaan kita dalam menghadapi ujian tersebut.
Jadi, TUHAN memperbolehkan cobaan terjadi dalam hidup kita untuk alasan yang lebih baik: untuk pertobatan dan pengudusan. Sebaliknya, setan mencobai kita sehingga kita berdosa dan
mengarahkan diri ke neraka.

�         Siapakah istri Kain?
Adam dan Hawa sendiri punya banyak anak selain Kain dan Habil. Hanya tidak tertulis nama-namanya di Kitab Suci. Di Kejadian 5:4 dikatakan kalau Adam punya banyak putera dan puteri selain Kain, Habil dan Seth.Tidak dijelaskan di Kitab Suci, apakah ada manusia lain selain Adam dan Hawa. Karena memang maksud penulis Kejadian ingin menggambarkan Kisah Penciptaan dari sisi iman yang sempurna oleh Allah. Bukan ingin menjelaskan tentang kronologis historisnya meskipun itu benar adanya.

Jadi Kain dan Habil mungkin saja menikahi adik-adik mereka. Inilah yang terjadi. Hal ini sampai dengan jaman Israel masih berlangsung pernikahan antar saudara.

�         Apakah Tanda Kain?
Tanda di dahi Kain akan membuat orang bijak menyingkir dari Kain untuk membiarkan hukuman Allah tetap bekerja pada Kain.

Nama "Kain" (bahasa Ibrani qayin, berarti tombak), identik dengan nama Keni (juga qayin dalam Ibrani). Beberapa sarjana berspekulasi bahwa kutukan Kain mungkin timbul sebagai penghukuman atas bangsa Keni. Selain itu ada berbagai versi lainnya tentang tanda Kain. Ada yang mengatakan bahwa tanda itu adalah sebuah huruf Ibrani, entah di muka atau di lengan, namun tidak diketahui huruf yang mana. Ada pula yang mengusulkan bahwa tanda itu adalah kulit yang berubah hitam seperti batu bara, mungkin ini pula yang menjadi sumber ketakutan kepada orang berkulit hitam. Bahkan ada pula yang mengusulkan bahwa tanda itu adalah tanduk yang tumbuh di kepala serta bahwa Allah memberi Kain seekor anjing sebagai tandanya.

�         Allah pada kisah ini digambarkan sebagai Allah yang kejam dan pemarah. Mengapa?
Banyak dari antara kita yang terkejut atau kaget setelah membaca KSPL (Kitab Suci Perjanjian Lama) karena menemukan gambaran Allah yang kejam, mudah marah, menghukum, memusnahkan dan sebagainya. Bahkan beberapa orang dulu  tidak sanggup lagi membaca KSPL karena gambaran Allah dan bangsa Israel sangat kejam.

Pertanyaan mengapa Allah digambarkan demikian? Dalam pengajaran sebelumnya, saya sampaikan bahwa KS kita tidak jatuh dari langit melainkan refleksi penulis atas situasi yang
dihadapi jemaat.Allah digambarkan sangat kejam karena Israel akan membangun lagi sebagai bangsa baru setelah peristiwa pembuangan di Babel. Sebagaiamana umum terjadi dalam hidup bersama kita, untuk memulai sesuatu memang harus tegas dan keras, tidak banyak toleransi. Demikian juga yang dilakukan bangsa Israel: Allah digambarkan sangat keras, menuntut kesetiaan mutlak, tidak boleh bercampur dengan bangsa lain, keras, mudah marah, dan sebagainya.

�         Lamekh ingin dihukum 77 kali lipat, sementara Kain hanya 7 kali. Mengapa?
Lamekh dan Kain tidak bisa diiperbandingkan. Jika Kain mati akan dibalaskan 7 kali lipat. Angka 7 adalah angka kesempurnaan. Allah memasang tanda di dahi Kain, yang artinya jika Kain melakukan kesalahan, orang tidak akan membunuhnya, karena Kain sudah dihukum TUHAN. Tanda di dahi Kain akan membuat orang bijak menyingkir dari Kain untuk membiarkan hukuman Allah tetap bekerja pada Kain.

Sedangkan pada Lamekh, walaupun ia orang pertama yang melakukan poligami dan sombong, karena tidak membutuhkan perlindungan Allah, Lamekh tidak melakukan kesalahan yang membuat Allah murka.

�         Kain maupun Set (anak Adam setelah Habel) sama-sama memiliki keturunan bernama Lamekh dan Henokh.
Kain memiliki anak bernama Henokh dan membangun kota yang dinamai sama. Kain dikatakan �terpaksa� membangun kota karena ia dikutuk sehingga tidak dapat mengusahakan tanah yang telah menelan darah Habel. Daftar keturunan Kain yang menyebutkan Lamekh dan Henokh adalah: Kain � Henokh � Irad � Mehuyael � Metusael � Lamekh � Yabal, Yubal dan Tubal-Kain.
Sementara keturunan Set adalah: Set � Enos � Kenan � Mahalaleel � Yared � Henokh � Metusalah � Lamekh � Nuh.

�         Henokh diangkat kemana? Mengapa Henokh diangkat?
Setelah berusia 365 tahun (yang angkanya sama dengan jumlah hari dalam setahun dan menunjukkan kepenuhan), Henokh diangkat oleh Allah. Ayat ini dan ayat yang sejenis sering diangap yang menunjukkan bahwa baik Henokh diangkat ke surga.Tetapi kita juga membaca ayat yang lain dalam Injil Yohanes , yang mengatakan: " Tidak ada seorangpun yang telah naik ke surga selain dari pada Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia (Yoh,3:13)
Ayat ini mengindikasikan bahwa tidak ada seorangpun yang telah naik ke surga sebelum Kristus, sehingga dengan demikian tidak pula Henokh.

Lalu Henokh diangkat kemana? Kemungkinan Henokh tidak diangkat ke surga dalam artian tempat kediaman Allah dan para malaikat-malaikatNya, namun ke tempat Penantian, dimana jiwa- jiwa orang orang benar menantikan kedatangan Kristus Sang Mesias untuk membawa mereka ke surga tempat mereka bersatu sempurna dengan Allah (Lukas 16, 19- 31)

Mengapa Henokh diangkat? Karena kesalehan yang murni dan pemahamannya akan hikmat Ilahi, maka Henokh terangkat dari bumi untuk melanjutkan hidupnya di wilayah yang suci disana.Pengangkatan Henokh yang tiba-tiba ini sama sekali tidak diumumkan sebelumnya.Septuaginta menulis bahwa Henokh tidak dapat ditemukan, sebab Allah telah mengangkatnya."Karena iman Henokh terangkat," kata penulis Surat Ibrani, "Supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan karena Allah telah mengangkatnya." (Ibrani 11 : 5)Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. (Ibrani 11 : 5)

�         Dimanakah Tanah Nod, di mana Kain menetap setelah ia pergi dari hadapan Tuhan?
Nama adalah sama dalam bentuk infinitif kata kerja nud (nwd), 'bergerak ke sana ke mari, berkeliling-keliling'. Jadi mungkin berarti Kain tidak pernah menetap melainkan nomaden.

�         Mengapa manusia waktu itu hidup dengan usia panjang sampai dengan ratusan tahun?

Umur panjang di anggap sebagai berkat. Mereka berumur panjang krn masih dekat dengan manusia pertama yang diciptakan baik adanya. Semakin lama semakin berdosa maka umur makin pendek.

----------------------
Kej 4 � 5

Recent Post